Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
94) Saingan baru


__ADS_3

Keesokan paginya Nana sudah sangat siap untuk pergi ke rumah sakit tanpa memberitahukannya pada Steven.


Setelah sarapan dan berpamitan pada keluarganya,


Nana bergegas menuju ke rumah sakit dengan memesan ojek online.


Selang beberap menit Nana sudah sampai di depan rumah sakit dan segera membayar tagihan ojek onlinenya.


"Hm .. semoga penyamaranku ini tidak ketahuan oleh kak Steven.


Jika tidak, aku tak tahu apa yang akan ia lakukan padaku nanti."


gumam Nana.


Saat memasuki pintu masuk rumah sakit,


seperti biasanya satpam yang berjaga di depan pintu selalu membukakan pintu untuk semua orang dengan ramah.


"Selamat pagi."


sapa satpam itu.


"Selamat pagi pak."


sahut Nana.


Brak ..


Tiba-tiba seseorang telah menabrak Nana dari arah belakang.


"Hei, hati-hati dong kalau jalan."


teriak Nana jutek.


"Maaf .. maaf .. tadi saya sedang terburu-buru."


sahutnya.


"Astaga .. dia adalah kak Steven.


Aku harus cepat-cepat kabur nih."


ucap Nana dalam hati.


Dengan bergegas Nana pergi dan berpura-pura masuk ke ruangan poli gigi.


"Sepertinya aku mengenal suara perempuan tadi."


Hm, sudahlah aku tidak ada waktu untuk memikirkannya.


Aku harus cepat mengambil hasil CT scan Nana dan kemudian pergi ke kantor."


ucap Steven.


Kemudian Steven kembali berjalan masuk menuju ke ruangan dokter Edo.


"Syukurlah ia tidak mengenaliku tadi."


ucap Nana lega.


Setelah itu dengan diam-diam Nana mengikuti Steven.


Tok .. tok .. tok ..


"Pagi dok.


Apakah saya boleh masuk?"


tanya Steven sopan.


"Selamat pagi.


Mari silahkan masuk."


sahut dokter Edo.


"Apakah hasil CT scan Nana sudah bisa saya ambil sekarang?"


tanya Steven tanpa basa-basi.


"Hasil CT scannya akan di antar ke sini sepuluh menit lagi.


Sambil menunggu bagaimana kalau kita berbincang dulu."


sahut dokter Edo.


"Sebenarnya apa yang ingin dokter tanyakan pada saya?"


tanya Steven.


"Jangan terlalu formal begitu.


Panggil saja aku, Edo.


Aku hanya ingin mengajakmu berbincang tentang Nana.


Apakah kalian sudah lama saling mengenal?"


ucap dokter Edo.


"Kami sudah lama saling kenal dan pertunangan kami akan di lakukan beberapa minggu lagi.


Dan tentu anda akan kami undang.


Untuk undangannya nanti akan saya kirimkan juga untuk anda."

__ADS_1


jawab Steven.


"Santai saja, (menepuk pundak Steven).


Apakah kamu ini sedang menganggapku sebagai sainganmu?"


goda dokter Edo.


"Terserah apa tanggapan anda.


Tetapi apapun yang terjadi, saya tidak akan membiarkan Nana di rebut oleh siapapun."


ucap Steven tegas.


Plok .. plok .. plok ..


"Sangat menarik.


Kalau begitu kamu juga bisa menganggapku sebagai saingan terberat untukmu.


Karna aku juga akan berusaha untuk mendapatkan cintanya Nana."


sahut dokter Edo.


"Tidak perlu repot-repot untuk mendapatkan cinta dari Nana,


karna aku sudah mendapatkannya."


bentak Steven.


"Jangan terburu-buru.


Pemenangnya belum bisa di tentukan sekarang.


Kita lihat saja nanti hasil akhirnya."


ucap dokter Edo.


"Apa maksud anda sebenarnya?!!"


sahut Steven kesal.


Tok .. tok .. tok ..


"Permisi dok, ini hasil CT scan yang anda minta tadi,"


ucap seorang suster sambil memberikan sebuah amplop coklat pada dokter Edo.


"Terima kasih sus."


sahut dokter Edo.


"Sama-sama dok.


Kalau tidak ada hal lain lagi,


pamit suster itu.


Dokter Edo hanya menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah suster itu.


Kemudian suster itu meninggalkan ruangan dokter Edo dan sekarang hanya tinggal mereka berdua di sana.


Sedangkan Nana juga baru saja sampai di depan ruangan dokter Edo.


Jadi percakapan dokter Edo dan Steven tadi,


Nana belum sempat mendengarnya.


"Fiuh .. akhirnya ketemu juga ruangannya.


Kak Steven tadi jalannya sangat cepat.


Aku jadi kewalahan mengejarnya.


Untung saja aku datang tepat waktu saat mereka hendak membicarakan hasil CT scanku."


ucap Nana dengan nafas terengah-engah.


Dengan posisi duduk yang tegap,


dokter Edo mengamati hasil CT scan itu dengan sangat serius.


"Ini tidak mungkin!!!"


ucap dokter Edo kaget.


"Apa yang tidak mungkin???


Bagaimana hasil CT scannya?"


tanya Steven bingung.


"Hasil CT scan ini menunjukkan Nana sudah positif terkena tumor otak.


Tapi aku masih tidak percaya dengan hasil CT scan ini.


Bagaimana kalau kita melakukan CT scan ulang?"


pinta dokter Edo.


"Apa??? Positif tumor otak?


Tiidak .. Itu tidak mungkin ..


Aku masih tidak percaya dengan hasil CT scan ini.

__ADS_1


Lebih baik Nana aku bawa ke rumah sakit lain untuk melakukan pemeriksaan.


Jika sampai rumah sakit ini salah memberikan laporan hasil CT scan,


maka saya tidak akan segan-segan untuk membawa masalah ini ke jalur hukum."


sahut Steven dengan penuh emosi.


"Apa? Aku terkena tumor otak?


Bagaimana bisa???"


ucap Nana pelan dari balik pintu luar ruangan dokter Edo.


"Terserah apa yang ingin kamu lakukan.


Sekarang aku akan mencoba untuk meneliti hasil CT scan ini.


Silahkan kamu bawa satu dan salinannya biar aku yang bawa,"


ucap dokter Edo sambil memberikan amplop coklat berisi hasil CT scan Nana.


Dengan penuh emosi Steven segera mengambil amplop tersebut dan pergi meninggalkan dokter Edo yang masih duduk terpaku di sana.


Melihat Steven telah beranjak dari tempat duduknya,


Nanapun dengan sigap berbalik badan dan bersembunyi di balik tembok yang berada sebelah ruangan dokter Edo.


"Apa yang harus kukatakan pada Nana dengan hasil CT scan ini?"


Jika aku berkata jujur, tidak akan menjamin Nana bisa menerima kenyataan pahit ini.


Apa sebaiknya aku ajak Nana melakukan pemeriksaan di rumah sakit lain saja ya?"


ucap Steven pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba ..


Bruak ..


"Bukankah itu Lily?


Sedang apa ia di sini?


Sengaja menabrak kak Steven lagi!!!


Apa jangan-jangan ia sedang menarik perhatian kak Steven?"


ucap Nana dari arah belakang Steven.


"Ups, sori - sori ..


Tadi aku benar-benar gak sengaja nabrak kamu,"


ucap Lily sambil mengelap jas yang dikenakan oleh Steven.


"Tidak apa."


sahut Steven singkat.


"Sekali lagi sori ya ..


Oh ya, bagaimana kalau aku bawa jas ini sebentar untuk ku bilas dengan air bersih di kamar mandi?"


pinta Lily.


"Tidak .. tidak perlu.


Aku masih bisa membersihkannya sendiri."


sahut Steven singkat.


"Karna kamu tidak mau aku bantu bersihkan,


ini aku kasih kamu kartu namaku.


Nanti kamu bisa meneleponku dan memberitahuku nomor rekeningmu untuk ku trasfer sebagai biaya ganti rugi jas ini."


ucap Lily sambil menyodorkan kartu namanya.


Karna malas meladeni Lily,


Steven bergegas pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.


Dan kartu nama yang di berikan Lily juga tak di hiraukan oleh Steven.


"Hei tunggu .. !!!


Kita bahkan belum kenalan,


tapi kamu langsung aja pergi meninggalkanku seperti ini."


gerutu Lily.


Nana yang melihat sikap dingin Steven,


hanya bisa diam dan tak dapat berkomentar apapun.


Ia tak menyangka kalau Steven bisa bersikap dingin seperti itu.


Tak menunggu lama Nana juga pergi mengikuti Steven dan mau tak mau ia berpapasan dengan Lily.


Terlihat jelas di raut muka Lily bahwa ia memang memiliki niat terselubung untuk menarik perhatian Steven dan perlahan ingin merebutnya dari Nana.


Setelah Nana melihat Steven pergi meninggalkan rumah sakit,

__ADS_1


ia juga bergegas pulang ke rumahnya.


Agar Steven tidak curiga pada dirinya yang dari tadi tidak berkomunikasi dengannya.


__ADS_2