
Malam telah tiba ..
Setelah lelah seharian beraktivitas aku merasa tubuhku perlu beristirahat.
Aku bergegas masuk ke kamar setelah mengantarkan adik-adikku ke kamarnya masing-masing.
Saat di kamar, aku melihat Okta telah tertidur dengan pulas.
Dengan rasa lelah dan penat,
ku baringkan tubuhku ini di tempat tidur kesayanganku ini.
Saat ku lihat lemari di samping tempat tidurku ini,
tiba-tiba aku kembali teringat apa yang sudah kak Steven lakukan padaku kemarin.
Seketika air mata ini mengalir dengan derasnya,
namun aku berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun agar adik-adikku dan Okta tidak mendengar isak tangisku ini.
Mengapa kamu begitu jahat kak Steven ..
Apakah sebegitu hinanya aku di matamu???
Sampai kamu berani melakukan itu untuk menghancurkan masa depanku???
Hiks .. hiks .. hiks .. hiks ..
Ku tutup mulutku dengan bantal untuk menahan isak tangisku ini.
Meskipun kamu adalah calon tunanganku,
tetapi apakah kamu berhak memaksaku untuk memuaskan nafsumu dengan kasar seperti kemarin?
Untunglah Tuhan menyayangiku dan menyelamatkanku dari nafsu berahimu.
Kalau tidak, aku sendiri tak tahu akan jadi seperti apa diriku saat ini.
Diriku semakin terpuruk saat melihat undangan yang di bawa oleh Andika tadi.
Apakah di dunia ini tidak ada lelaki yang benar-benar tulus untuk menyayangiku???
Mengapa mereka semua seolah-olah tidak memikirkan perasaanku sama sekali.
Bruak ..
Ku lempar undangan itu tepat di depan lemari.
Aku harus kuat ..
Aku tidak boleh jadi seorang perempuan yang lemah
agar tidak lagi di remehkan oleh para lelaki !!!
Merasa terlalu lelah karna menangis,
tanpa sadar akupun sudah tertidur.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Keesokan paginya ..
" Na ..ayo bangun Na .. Na .. "
teriak Okta di sampingku
" Ehm .. masih ngantuk nih Ta.
Nanti aja ya Ta banguninnya. "
" Benaran nih kamu gak mau bangun?
Gak pingin tahu kah siapa yang ada di ruang tamu sekarang? "
ucap Okta yang berusaha membujukku
" Itu pasti Felix kan?
Kan kita udah janjian mau berangkat bareng buat jemput papa.
Jadi kenapa kamu kaget kalau Felix datang ke sini? "
jawabku perlahan
" Justru itu Na, yang datang bukan Felix.
Tapi .. ehm .. lebih baik kamu lihat sendiri aja deh.
Aku malas menyebut namanya. "
sahut Okta
" Siapa sih Ta? "
tanyaku penasaran
" Udah deh, lebih baik sekarang kami bangun terus mandi.
Setelah itu kita sama-sama turun ke bawah supaya kamu tahu siapa yang datang. "
" Iya deh aku bangun sekarang.
Kamu tungguin aku mandi ya Ta.
Jangan ke mana-mana lho. "
" Iya .. iya .. dasar cerewet.
Cepat mandi sana. "
Dengan masih mengantuk dan rasa malas,
akupun masuk ke kamar mandi dan segera mandi.
Setelah selesai mandi,
Okta bergegas menarik tanganku untuk turun ke ruang tamu.
Betapa terkejutnya aku ..
Yang sedang berada di ruang tamu adalah papa dan mamaku.
__ADS_1
Seakan masih tak percaya,
akupun mengusap-usap kedua mataku.
Ternyata yang kulihat ini memang kenyataan dan bukan mimpi.
Dengan perasaan senang akupun berlari ke arah papa dan mamaku.
" Pa .. ma .. kalian sudah pulang?
Kenapa gak nunggu Nana jemput aja di rumah sakit?
Tadi rencananya Nana mau ke rumah sakit sama Okta dan Felix.
Tapi ternyata papa sama mama sudah ada di rumah. "
" Iya sayang maafin papa sama mama
yang pulang tanpa menelpon terlebih dahulu. "
ucap papa sambil mengelus kepalaku
" Iya pa gak apa-apa.
Yang penting sekarang kita sekeluarga bisa berkumpul bersama lagi.
sahutku bahagia
" Iya sayang. "
ucap papa dan mama bersamaan
" Selamat pagi om - tante. "
sapa Okta sambil mencium tangan papa dan mama
" Selamat pagi nak Okta. "
sahut papa dan mama
" Oh ya, papa sama mama belum makankan?
Nana masakin sebentar ya buat sarapan.
Ta, tolong bantuin aku di dapur ya. "
ucapku sambil menarik tangan Okta
" Oke Na. "
jawab Okta
Sampai di dapur, aku melihat adik-adikku sudah duduk di kursinya masing-masing.
Seakan mereka sudah siap untuk sarapan.
Tapi, sepertinya ada seseorang lagi di depan kompor yang sedang memasak.
Siapa ya?
tanyaku dalam hati
" Hai kak selamat pagi. "
" Pagi adik-adikku. "
jawabku pada mereka
Tiba-tiba seseorang itu berbalik dan menyapaku juga.
" Hai, selamat pagi. "
" Kak .. kak Steven??? "
ucapku ragu-ragu
" Maaf ya sayang, papa sama mama juga lupa memberitahumu kalau tadi yang menjemput papa di rumah sakit adalah nak Steven.
Nak Steven sengaja ingin memberimu kejutan. "
sahut papa sambil menepuk pundakku
" Iiii .. ii .. iya pa. "
sahutku dengan gemetaran
" Kamu kenapa nak?
Kenapa gemetaran begitu?
Apa ada sesuatu yang papa tidak tahu? "
tanya papa cemas
" Sebenarnya Nana takut melihat .. "
" Ta .. "
panggilku sambil memegang tangannya untuk menghentikan perkataannya barusan.
" Kamu takut apa sayang? "
tanya papa
" Tidak ada pa, sebenarnya tadi Okta mau bilang kalau Nana takut melihat David dan Agnes kelaparan karna belum sempat memasak tadi.
Tapi untunglah kak Steven sudah memasak untuk mereka.
Benar begitu kan Ta? "
" Iya om, begitu maksud Okta tadi. "
" Oh .. ternyata begitu.
Papa pikir ada sesuatu yang kamu sembunyikan sama papa tadi. "
sahut papa sambil melihat ke arahku
" Sudah jangan mengobrol terus,
kita makan sekarang ya.
__ADS_1
Kalau tidak nanti makanannya keburu dingin dan sia-sia dong nak Steven memasaknya. "
jawab mama sambil menarik kursi untuk papa duduk
" Ayo duduk semuanya. Kita makan sekarang. "
ajak papa pada kami semua
" Selamat makan. "
ucap kami bersamaan
Bagaimana ini ..
Aku masih merasa takut dan canggung di depan kak Steven.
Dan untung saja aku berhasil menghentikan Okta tadi.
Kalau tidak, kondisi papa akan drop lagi.
Hah .. (menghela nafas)
" Sayang, kenapa kamu menghela nafas begitu?
Apakah kamu sakit? "
tanya mama cemas
" Gak ma, Nana baik-baik saja.
Hm, Nana sudah kenyang ma.
Nana ke halaman depan sebentar ya ma .. pa ..
Mau menyiram bunga di sana. "
pamitku sambil menundukkan kepala
Meskipun aku merasa bahagia dapat berkumpul bersama keluargaku lagi,
tapi aku juga merasa sesak karna ada kak Steven di tengah-tengah kami saat ini.
Melihat mukanya seakan mengingatkanku akan kejadian buruk kemarin.
Itulah mengapa aku bergegas meninggalkan ruang makan tadi.
Syut .. syut ...
Aku menyiram bunga-bunga ini sambil melamun seorang diri.
Na ..
panggil seseorang dari arah belakangku namun tak kuhiraukan karna aku masih asyik melamun.
" Na .. "
panggilnya sambil menepuk pundakku
Karna terkejut akupun menoleh ke belakang dan menyiramnya dengan air yang ada di tanganku ini.
" Ups .. maaf .. maaf ya .. "
sahutku sambil mencoba membersihkan bajunya
" Na .. "
Aku benar-benar minta maaf atas sikapku kemarin.
Aku mohon jangan membenciku ..
ucapnya sambil memegang tanganku
" Kak .. kak .. kak Steven???
Aku tidak membencimu dan juga sudah memaafkanmu.
Tetapi ada sesuatu yang ingin kutanyakan. "
sahutku sambil melepaskan tangannya
" Apapun yang ingin kamu tahu.
Aku akan menjawabnya dengan jujur.
Katakan Na, apa yang ingin kamu tanyakan. "
" Sebenarnya kak Steven melakukan 'hal itu' kemarin karna lebih mempercayai perkataan kak Bagus kan?
Mengapa kak Steven tidak menanyakannya secara langsung padaku?
Aku .. aku .. sudahlah lupakan kak. "
ucapku sambil berlari pergi meninggalkannya
" Na .. "
panggil kak Steven
Tanpa menoleh ke belakang aku berlari masuk ke dalam kamar.
Ku tutup pintu kamarku dan menguncinya.
Kemudian akupun bersujud sambil menangis sejadi-jadinya.
" Na .. apa kamu tidak apa-apa?"
tanya Okta sambil menepuk bahuku
" Okta .. maafkan aku ..
Hiks .. hiks ..
Aku tidak bisa menahan air mataku ini .. "
sahutku sambil memeluknya erat
" Tak apa Na.
Aku mengerti kesedihanmu.
Menangislah sepuasmu di pundakku ini. "
__ADS_1
jawab Okta untuk menenangkanku