Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
76) Keberangkatan Nana ke luar negeri


__ADS_3

Setelah beberapa menit aku mencoba semua gaun yang di bawa oleh Okta,


akupun akhirnya menyerah karna sudah merasa kelelahan.


Namun ternyata tidak bagi Okta,


ia masih saja terus memaksaku untuk mencoba gaun lain nya lagi dan lagi.


" Ta, udah'an ya. Aku capek banget nih.


Oh ya, kamu temui orangtuaku dulu aja buat minta ijin pergi nanti malam gimana? "


ucapku dengan lemas


" Hm, ya udah deh kalau gitu.


Ayo kita turun ke bawah. "


sahut Okta


Tak .. tak .. tak ..


Kamipun dengan terburu-buru turun ke bawah menuju ruang tamu.


" Pa, ma, apa bisa bicara sebentar? "


tanyaku kikuk


" Hai sayang, sini duduk di sebelah papa.


Mau bicara apa sayang? "


sahut papa sambil menarik tanganku


" Hm, jadi gini pa, sebenarnya Nana mau minta ijin untuk pergi dengan Okta nanti malam dan pulang besok sore.


Apa boleh pa, ma? "


tanyaku sambil menundukkan kepala


" Emangnya kalian mau pergi ke mana sih kok sampai harus menginap begitu?


Kakakmu Yonathan 'kan baru saja pulang,


masa langsung kamu tinggal pergi?


Gak mau ngobrol-ngobrol dulukah sama kakakmu itu?


Karna jarang-jarang kita bisa berkumpul dengan formasi lengkap seperti ini. "


ucap papa dengan tegas


" Kak Yonathan 'kan masih lama pa di sini,


sedangkan kepergian kami ini tidak bisa di tunda lagi.


Karna kami mau datang ke acara pertunangan sepupunya Okta yang ada di luar negeri.


Jadi mau gak mau kita harus berangkat malam ini dan menginap di sana semalam baru besok sorenya kita pulang.


Boleh ya pa, please .. "


ucapku dengan memelas


" Iya om, tolong ijin'in Nana ya om.


Kami janji gak akan berbuat macam-macam di negeri orang.


Setelah acara pertunangannya selesai,


kami pasti langsung pulang ke kota ini lagi.


Please, boleh ya om .. "


sahut Okta dengan memelas


" Tapi kalian berangkat sama siapa?


Apa cuma berdua aja? "


tanya mama cemas


" Gak kok tan, nanti kita berangkatnya sama orangtua Okta.


Tadi orangtua Okta sudah menelepon Okta untuk memberitahukan jam penerbangannya nanti malam. "


ucap Okta


" Oh, begitu ..


Gimana pa? Apa papa boleh'in Nana pergi? "


tanya mama sambil melihat ke arah papa


" Hm .. boleh sih boleh, tapi kamu juga harus meminta ijin calon suamimu dulu.


Supaya nantinya tidak ada salah paham di antara kalian. "


sahut papa


" Iya pa, nanti Nana pasti minta ijin kak Steven juga. "


ucapku sambil tersenyum

__ADS_1


" Ini bearti Nana di boleh'in untuk pergi menemani Okta ya om-tante? "


tanya Okta sekali lagi untuk memastikan


Kemudian papa dan mama mengangguk bersamaan tanda menyetujui keberangkatan kami nanti malam.


" Asyik .. makasih ya pa, makasih ya ma. "


ucapku sambil memeluk mereka satu persatu


" Makasih banyak ya om - tante.


Okta janji bakal jaga Nana dengan baik di sana. "


ucap Okta sambil memeluk kedua orangtuaku


Tak menunggu lama, akhirnya aku dan Okta kembali ke kamar untuk segera packing barang-barang bawaanku nanti.


" Ta, apa kamu sudah selesai berkemas?


Kenapa kamu tadi datang ke sini sore banget?


Apa sempat setelah ini kamu berkemas dulu di rumah? "


tanyaku heran


" Haish, aku tuh berkemasnya cepat tahu.


Tadi pagi sebelum berangkat sekolah sudah selesai aku packing semua.


Gak seperti kamu yang lambat seperti siput.


Udah yuk ah, kita berangkat sekarang.


Kasihan tuh si Felix nunggu'in kita di dalam mobil dari tadi.


Mungkin sekarang dia sudah jamuran di dalam sana. "


Hahahahahahaha


ucap Okta sambil tertawa keras


" Oke, ayo berangkat .. "


sahutku dengan bersemangat


" Yakin gak ada yang ketinggalan Na? "


tanya Okta


" Hm, sepertinya sih gak ada Ta. "


ucapku sambil memandang sekeliling kamar


tanya Okta sambil menyodorkan kabel charger dan ponsel di depanku


" Astaga, kenapa aku sampai bisa lupa dengan ponselku ini ya?


Kalau gak bawa ponselku ini, nanti gimana aku mau meminta ijin ke kak Steven coba?


Makasih ya Ta udah inget'in aku. "


sahutku sambil mengambil kabel charger dan ponselku di tangan Okta


" Iya Na sama-sama.


Tapi gaun yang aku siapkan untuk kamu tadi gak lupa kamu bawa juga 'kan Na? "


tanya Okta cemas


" Sudah sayang.


Ini coba lihat isi koperku. "


sahutku sambil membuka sedikit koper ini


" Oke deh. Lets' go .. "


ucap Okta dengan senangnya


Kemudian kamipun berpamitan dengan kedua orangtuaku dan segera masuk ke dalam mobil Okta.


Saat akan berangkat tiba-tiba Felix memberikanku sebuah passport dan visa milikku.


" Astaga Lix, ini beneran passport dan visaku?


Sejak kapan kalian menyiapkan ini semua?


Aku aja sampai gak kepikiran untuk bawa passport dan visa ini.


Boro-boro mau bawa, mau ngurus aja gak ada waktu. "


Hahahahahaha


" Sebenarnya bukan aku yang bantu kamu bikin passport dan visa itu Na,


tapi Okta yang bantu kamu. "


sahut Felix sambil tersenyum


" Ya ampun, aku benar-benar beruntung punya sahabat sepertimu Ta.


Kamu memang sahabat terbaikku. "

__ADS_1


ucapku sambil memeluk Okta


" Heem .. hm .. mm ..


Jadi aku gak di peluk juga nih Na?


'Kan aku yang bantu bawa'in passport dan visa itu buat kamu. "


goda Felix


" Oh, jadi kamu juga mau di peluk ya Lix?


Boleh .. boleh .. tapi kamu harus merasakan tinju superku ini dulu gimana? "


sahut Okta dengan muka cemberut


" Sudah - sudah, jangan bertengkar lagi.


Ayo kita berangkat sekarang supaya tidak ketinggalan pesawat. "


ucapku sambil tersenyum


" Oke .. Let's go .. "


sahut Okta dan Felix bersamaan


💫💫💫💫💫💫💫


Setelah satu jam, akhirnya kami sampai di bandara.


Tak menunggu lama,


kamipun segera melakukan check-in


(pendaftaran calon penumpang yang telah memiliki tiket sebelum keberangkatan, sekaligus untuk menentukan nomer kursi penumpang di atas pesawat).


Kemudian kami masih harus menunggu pesawat yang akan tumpangi sekitar 30 menit lagi.


Sambil menunggu di ruang tunggu,


aku mencoba untuk menelepon kak Steven.


Tut .. tut .. tut ..


Mengapa teleponku tidak di angkat ya?


Coba aku telepon sekali lagi.


Tut .. tut .. tut ..


Masih sama saja, tidak di angkat.


Apa dia sesibuk itu sampai tidak bisa mengangkat teleponku?


Hm, ya sudahlah aku kirim pesan singkat saja kalau begitu.


" Sayang, apa kamu masih sibuk kerja?


Aku sudah mencoba meneleponmu berkali-kali namun tidak ada jawaban.


Oh ya sayang, aku cuma ingin meminta ijinmu kalau malam ini aku bersama dengan Okta akan berangkat ke luar negeri dan besok sore baru kami akan pulang.


Aku janji di luar negeri nanti gak bakal cari pria lain,


karna hanya kamulah yang ada di hatiku sampai kapanpun. Love you .. " 😘


Kirim ~> klik


Ah, pesanku sudah terkirim.


Biarkan dia melihat pesanku saat tidak sibuk bekerja nantinya.


Tapi, tunggu .. sepertinya aku ada notif sebuah pesan baru yang belum aku baca tadi.


Buka ~> klik


" Na, besok adalah hari pertunanganku dengan Melisa.


Aku harap kamu besok bisa datang dan memberikan doa restu untuk kami.


Dan makasih juga karna kamu masih mau menerimaku sebagai temanmu.


Sampai ketemu besok ya Na. See u tomorrow " 😊


Astaga, ternyata ini adalah pesan dari Andika.


Aku harus balas apa ya pesan ini????


Saat aku ingin membalas pesan singkat Andika,


tiba-tiba Okta menarik tanganku untuk segera bergegas masuk ke dalam pesawat.


Akhirnya akupun tak sempat untuk membalas pesan singkat dari Andika tadi.


Karna pesawat akan segera lepas landas,


maka kami semua di haruskan untuk mengaktifkan mode pesawat di ponsel kami masing-masing agar tidak mengganggu penerbangan ini.


💫💫💫💫💫💫💫


Bagaimana kisah Nana selanjutnya???


Di tunggu episode berikutnya ya 😉👍

__ADS_1


__ADS_2