Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
56) Sikap dingin Steven


__ADS_3

Tak menunggu lama akupun sudah menyusul mereka semua di tempat parkir mobil.


Dengan cepat kak Steven mengantarkan kami pulang.


Sepanjang perjalanan, suasana terasa begitu sunyi dan sepi.


Sepertinya kak Steven sedang mengantuk,


aku coba mengajaknya mengobrol saja agar bisa mengurangi sedikit rasa kantuknya.


Kak, apa kakak tidak apa-apa?


Tidak apa-apa? Maksudnya Na?


Ya soal kejadian tadi di lobi rumah sakit.


Apa kakak tidak mau meminta penjelasan dariku?


Kak Steven nampak begitu gelisah dan seperti sedang menahan amarahnya di depanku.


Astaga, mengapa aku memilih topik pembicaraan seperti ini.


Justru dengan topik ini jelas akan semakin membuat amarahnya meledak-ledak.


Apa yang harus kulakukan sekarang???


Ma .. maaf kak ..


Kita ganti topik pembicaraan saja ya.


Na, kita bisa membahasnya nanti.


Sekarang ini bukanlah waktu dan tempat yang tepat membicarakannya di sini.


Mendengar jawabannya, akupun langsung tertunduk dan diam seribu bahasa.


Sepertinya dia memang marah kali ini.


Ya sudahlah, nanti di rumah akan kujelaskan semuanya.


Agar tidak ada kesalahpahaman di antara kita.


Vid - Nes, apa kalian sudah merasa lapar?


Tak ada jawaban apapun dari mereka.


Vid - Nes ..


panggilku sambil menoleh ke belakang


Ternyata mereka sudah tertidur.


Tak lama kemudian, kak Steven menghentikan mobilnya di sebuah tempat makan.


Na, kamu tunggu sebentar di sini.


Aku segera kembali.


Iya kak.


Huh, sikapnya yang seperti ini benar-benar membuatku takut.


Selang beberapa menit, kak Steven keluar dari rumah makan itu dengan membawa beberapa bungkus makanan di tangannya.


Kemudian dia menaruhnya di kabin belakang mobil.


Tak ada pembicaraan apapun di antara kami sampai tak terasa kami sudah berada di depan rumah.


Dengan segera aku membuka pagar dan pintu rumah.


Setelah itu aku membangunkan adik-adikku dan meminta mereka untuk berterimakasih pada kak Steven atas tumpangannya tadi.


Namun yang berhasil kubangunkan hanyalah David.


Sedangkan Agnes sudah tertidur pulas.

__ADS_1


Mau tak mau, akupun menggendongnya sampai ke kamarnya.


Selesai menidurkan Agnes di kamarnya,


aku segera turun untuk melihat apakah kak Steven sudah pergi atau belum.


Betapa terkejutnya aku melihat kak Steven sudah duduk di ruang tamu sambil melihat beberapa piring makanan di meja.


Mungkin itu adalah makanan yang di beli nya tadi saat kami berhenti di depan sebuah rumah makan itu.


Te .. te .. terima kasih ya kak sudah menemanin keluargaku seharian ini dan juga terima kasih atas tumpangannya tadi.


Tak ada balasan apapun dari kak Steven.


Dia hanya diam dan menatapku tajam.


Eh .. eh .. David di mana kak?


Apa sudah di kamarnya?


Dia hanya mengangguk dan tetap tak mengatakan apapun.


Oh ..


Kalau gitu aku juga ke kamar dulu ya kak.


Aku mau mandi dan ganti baju.


Karna seragamku ini sudah tidak beraturan bentuk dan bau nya.


Kamu makan saja dulu Na baru mandi supaya tidak masuk angin.


Aku gak mau sampai wanitaku sakit karna gak makan.


Astaga, sejak kapak kak Steven menjadi orang yang otoriter begitu???


gumamku dalam hati


Ma .. ma .. maaf kak sebaiknya aku mandi dulu ya.


Karna aku sudah merasa gerah ..


Setelah masuk ke dalam kamar,


aku mengunci pintu kamarku rapat-rapat.


Kemudian aku mengambil satu setel pakaian favoritku dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Byur .. byur .. byur ..


Ahh .. segar sekali rasanya ..


Berrr .. berrr .. berrr ..


Sepertinya air ini sudah semakin dingin.


Aku harus segera menyelesaikan mandiku ini.


Ku usap semua bagian badanku dengan handuk,


kemudian aku memakai baju yang sudah ku siapkan tadi.


Selesai mandi, kurebahkan tubuhku di tempat tidur yang bagiku ini adalah tempat ternyaman sedunia.


Saat akan menutup kedua mataku ini ..


Ups, aku lupa kalau kak Steven masih menungguku di bawah.


Dengan cepat aku berlari turun ke bawah untuk menghampiri kak Steven.


Sudah selesai mandi nya???


Iya kak sudah.


Apa kak Steven juga mau membersihkan diri di sini?

__ADS_1


Aku siapkan handuk dan bajunya ya?


Sementara aku ambilkan handuk dan baju papa,


semoga pas dengan tubuh kak Steven.


Na, sudah jangan repot-repot.


Aku hanya sebentar saja di sini.


Sekarang duduk di sampingku dan makanlah.


Setelah selesai melihatmu makan,


aku akan langsung pergi.


Iii .. ii .. iya kak.


Tanpa berfikir panjang akupun mengikuti perintahnya.


Kakak gak makan juga kah?


Tanpa menghiraukan ucapanku,


ia langsung mengambil piring yang sudah berisi nasi goreng dan memakannya dengan cepat.


Akupun memakan makananku.


Tetapi makananku bukan nasi goreng,


melainkan bakmie goreng.


Selang beberapa menit kamipun sudah selesai makan.


Na, aku pulang dulu.


Kamu kunci pintu rapat-rapat.


Kalau kamu perlu sesuatu, langsung telepon aku saja.


Ini kartu namaku.


Juga di meja makan sudah aku belikan beberapa jenis makanan untuk kamu dan adik-adikmu sarapan besok.


Jangan lupa kamu masukkan lemari pendingin dan besok pagi di panaskan dulu sebelum di makan.


Baik kak.


Terima kasih banyak.


Oh ya, untuk penjelasannya saat ada waktu dan tempat yang tepat kita akan membahasnya lagi.


Kamu juga jangan tidur terlalu malam.


Iya kak ..


Kemudian kak Steven pergi meninggalkan rumahku.


Dan akupun segera melakukan semua pesannya tadi.


Setelah selesai semuanya, aku memasukkan nomor handphone kak Steven di handphone baruku ini.


Agar aku tak lama mencarinya di kontakku,


jadi nomornya ku beri nama :


'My Future Husband'


Kemudian ku tekan tombol 'oke'


Sudah beres.


Nomor telah tersimpan.


Hoam ..

__ADS_1


Aku sudah mengantuk.


Ku pakai selimut dan menutup kedua mataku.


__ADS_2