Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
51) Perjanjian Nana dan Steven


__ADS_3

Semua sudah mulai sarapan di ruang makan ini.


Namun aku dan kak Steven hanya saling bertatapan karna kami tadi sudah sarapan terlebih dahulu.


Kemudian aku iseng mencoba menengok jam tanganku yang berwarna coklat muda ini,


yang aku dapatkan saat membeli handphone baru kemarin.


Betapa terkejutnya aku bahwa jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi.


Pa, ma, Nana pamit berangkat sekolah dulu ya.


Waktunya sudah mepet soalnya.


Maaf Nana gak bisa bantu mama cuci piring pagi ini.


Iya sayang tidak apa.


Berangkatnya sama nak Steven kan?


Tentu tante.


Saya siap mengantarkan nona cantik ini ke sekolahnya dengan selamat.


Setelah kak Steven mengatakan hal itu,


wajahku langsung berubah menjadi merah dan


seketika semua orang tertawa sambil melihat ke arahku.


Astaga, lagi-lagi kak Steven menggodaku di depan semua orang. Aku kan jadi malu sekarang.


Meskipun aku sebenarnya memang suka diperhatikan dan diperlakukan seperti ini olehnya,


namun aku masih sedikit merasa risih dengan rayuan-rayuannya ini.


Tetapi aku harus tetap menerima semuanya.


Karna kelak dialah yang akan menjadi pendamping hidupku selamanya.


Aku harus bersedia menerima apapun tentang dirinya.


Udah yuk kak kita berangkat sekarang.


Pa, ma, Nana berangkat dulu ya.


(sambil mencium pipi kanan papa dan mama)


Iya sayang hati-hati di jalan.


Nak Steven, titip anak paman dan tante ya.


Tolong antarkan ke sekolah, jangan di ajak bolos ya.


Siap paman.


jawab Steven sopan


Vid, Nes, kakak berangkat dulu ya.


(sambil melambaikan tangan)


Bye kakak ..


Paman, tante, saya pamit dulu.


Terima kasih sarapannya tadi.


Iya nak sama-sama.


Bye David dan Agnes.


Bye kak Steven ..


Selesai berpamitan pada semua orang,


kak Steven bergegas membukakan pintu mobilnya untukku.


Terima kasih kak.


Sama-sama sayang.


Tuh kan, panggilan sayang untukku sepertinya selalu ia lontarkan saat hanya berdua denganku.


Tak lama kemudian kak Steven langsung menyalakan mobilnya dan melaju menuju ke arah sekolahku.


Saat dalam perjalanan,


tak lupa kami berbincang-bincang.


Kak, apakah sebutan 'sayang' tadi gak bisa di ganti saja dengan namaku?


Lho, memangnya kenapa sayang?


Apa kamu merasa kurang nyaman?


Hm, sebenarnya sih aku agak sedikit risih aja dengan sebutan 'sayang'.


Karna dari dulu tidak ada yang memanggilku seperti itu kecuali kedua orangtuaku.


Tenang aja sayang,


lama-lama kamu pasti terbiasa dengan sebutan itu.


sahut kak Steven sambil mengelus kepalaku


Iya deh terserah kakak aja.


jawabku sambil sedikit cemberut

__ADS_1


Lho, kok jadi cemberut gitu sih sayang?


Kan panggilan sayang itu untuk menunjukkan pada semua orang bahwa kamu itu adalah kekasihku sekaligus calon istriku satu-satunya.


Ya .. ya .. ya ..


Ciiit ..


Tiba-tiba kak Steven memberhentikan mobilnya di tepi jalan.


Kenapa berhenti di sini kak?


Kan sekolahku masih di sebelah sana?


Oh, aku tahu kak Steven ingin aku turun di sini ya?


Oke, aku turun sekarang.


Saat aku akan membuka pintu,


tiba-tiba kak Steven menarik tanganku.


Jangan keluar Na, please ..


Aku akan panggil namamu saja asal kamu gak cemberut lagi ya.


Buft .. hahahahahahaha


Kenapa tertawa Na???


Yeyeye .. aku berhasil ..


Ternyata aku berhasil mengerjai kak Steven ..


hahahahahahaha


Muach ..


Tiba-tiba kak Steven mencium pipi kananku.


Itu hukuman kecil karna sudah mengerjaiku barusan.


Lain kali kalau kamu mengerjaiku lagi,


hukumannya akan lebih dari itu.


(sambil mengedipkan matanya ke arahku)


Seketika aku langsung terdiam dan tak berani mengatakan apa-apa lagi.


Kemudian kak Steven kembali melajukan mobilnya dan tak menunggu lama akhirnya kami sudah sampai di pintu gerbang sekolahku.


Terima kasih ya kak sudah mengantarku.


Na ..


panggilnya sambil memegang tangan kananku


Na, maaf ya tadi aku tiba-tiba mencium pipimu.


Kamu jangan marah ya ..


Aku janji lain kali aku akan meminta ijinmu dulu sebelum menciummu.


Saat ia meminta maaf,


seakan semua kemarahanku sudah reda dan


aku tak bisa mengacuhkannya lagi.


Iya kak, tapi janji ya gak akan menciumku sebelum aku mengijinkannya.


Sebab mungkin bagi kakak itu hal yang wajar,


tapi aku tidak terbiasa dengan sebutan sayang dan di cium seperti itu.


Tolong kak Steven mengerti maksudku ini.


Oke Na.


Aku janji ..


Tapi sebelum kamu turun,


bisakah kamu tersenyum sebentar untukku?


Sebagai bukti kalau kamu sudah tidak marah padaku lagi.


Akupun menuruti permintaannya.


Sebab pikirku permintaannya hanya untuk sekedar tersenyum dan setelah itu aku bisa segera masuk ke dalam sekolah.


Nah gitu dong, kalau kamu tersenyum kan jadi makin cantik.


Terima kasih ya Na.


Akupun menganggukkan kepala dan segera turun dari mobilnya.


Tanpa menoleh ke belakang,


aku segera melangkahkan kakiku memasuki pintu gerbang sekolah.


Dor !!!


Pagi-pagi sudah melamun.


Eh, kamu Ta.


Aku kira siapa tadi.

__ADS_1


Iyalah ini aku, memangnya kamu kira siapa tadi?


Dari tadi aku telpon kamu tapi gak kamu angkat-angkat.


Untungnya Felix jemput aku tadi,


kalau tidak aku bisa telat nunggu kabar dari kamu Na.


Iya sori Ta, handphone nya aku mode silent dari semalam.


Lupa ku nonaktifkan tadi.


Oh ya Ta, si Felix mana kok gak kelihatan?


Oh, Felix sedang memarkir mobilnya tuh.


Huh .. (menghela nafas panjang)


Astaga Na, handphone mu kenapa harus di silent sih?


Iya Ta gak apa-apa.


Hm, jangan-jangan kamu udah gak mau terima teleponku lagi ya?


Iiih, apa'an sih Ta?


Mana mungkin aku gak mau terima teleponmu?


(sambil mencubit pipi kanan Okta)


Aduh, sakit tahu Na.


Jangan sering-sering dong cubit pipiku,


ini kan investasi masa depan.


Hihihihihihihihi


Sori deh Ta.


Eh Na, tadi siapa tuh yang nganter kamu?


Kok aku gak pernah melihat mobil itu?


Itu .. itu ..


Itu siapa Na?


Kok kamu ngomongnya gagap gitu?


Itu mobil tunanganku Ta.


Apa???


Sejak kapan kamu punya tunangan Na?


Ceritanya panjang Ta.


Intinya aku dan dia akan bertunangan dalam waktu dekat ini.


Terus apa kalian juga akan segera menikah?


Apa kamu sudah bosan sekolah Na,


sampai-sampai kamu memilih menikah daripada sekolah?


Astaga Okta ..


(sambil menepuk keningku)


Kenapa Na?


Omonganku benarkan?


Gak Ta, kamu salah.


Untuk pertunanganya memang sebentar lagi,


tapi aku meminta padanya untuk menyelesaikan sekolahku dulu sebelum kita menikah.


Fiuh, untunglah Na kalau gitu.


Tenang aja Ta,


aku gak akan menikah duluan sebelum kamu menikah sama Felix.


Apa'an sih Na.


Mulai sebut-sebut nama Felix lagi.


Lho memangnya kenapa?


Apa kalian mau pacaran terus tapi gak mau menikah?


Itu .. itu ..


Ah, sudahlah jangan bahas itu lagi.


Yuk masuk ke kelas aja sekarang.


Ayolah Ta jangan gitu.


Cerita dong kenapa kamu gak mau bahas tentang pernikahanmu dengan Felix?


Huts, itu adalah ...


RAHASIA ...


jawab Okta sambil berlari ke dalam kelas

__ADS_1


Okta ..


teriakku sambil mengejarnya


__ADS_2