Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
63) PoV Andika - menjadi pegawai magang


__ADS_3

Ndika sayang, papa berencana mau memberikan semua saham perusahaan papa ini buat kamu dan adikmu.


Tapi untuk adikmu terlalu dini untuk mengerti dunia saham ini.


Jadi untuk sementara kamu yang akan mengelolah semua saham ini.


Surat-surat yang diperlukan sudah papa siapkan semua nya.


Lho .. mengapa mendadak sekali seperti ini pa?


Apa ini artinya papa memberikan warisan untukku dan Karin?


Tidak pa, Andika belum siap dengan ini semua.


Andika masih ingin bebas menikmati masa muda ini sebelum terkekang oleh peliknya saham-saham di perusahaan papa.


Ndika, tolong hargai keputusan papa ini.


Kamu adalah anak lelaki satu-satunya di keluarga ini.


Kalau bukan kamu yang meneruskan mengelolah perusahaan papa, lalu siapa?


Tenang saja, besok pagi teman baik papa akan datang.


Dan beliau akan mulai mengajarimu bagaimana cara mengelolah perusahaan dengan baik dan benar.


Besok kamu siap-siap ya.


Tapi pa ..


Tidak ada tapi-tapi'an.


Keputusan papa ini tidak dapat di ganggu gugat.


Papa masuk ke kamar dulu ya Ndika.


Selamat malam ..


Se .. selamat malam pa.


Setelah papa meninggalkan ku sendirian,


serasa aku ingin berteriak saja saat ini.


Aku belum siap dengan ini semua.


Terlebih lagi sebenarnya aku ingin kembali ke kota N untuk menemui Nana dan menjelaskan alasan kepergiaanku.


Aku sudah terlalu rindu pada dirinya.


Tapi karna tanggungjawab yang di berikan oleh papa ini, seakan membuatku tak bisa meninggalkan Negara ini dengan mudah.


Aarrrggghhh .. si**


Apa yang harus kulakukan sekarang !!!


Ku acak-acak rambutku ini sebagai pelampiasan kekesalanku.


☕☕☕☕☕☕☕


~> Keesokan harinya <~


Tok .. tok ..


Kak Ndika ..


Ayo bangun, di suruh papa datang ke ruang kerjanya sekarang.


teriak Karin dari depan pintu kamarku


Nanti aja ya Kar, sekarang kakak masih ngantuk nih.


Gak bisa kak. Harus sekarang !!!


Karna teman baiknya papa sudah datang.


Cepat buruan ke sana.


Kalau enggak nanti aku bakalan di marahi papa karna gak bisa bangunin kakak.


Apa kakak mau adik tersayang kakak ini kena marah papa???


Hm .. mmm .. iya deh adikku sayang.


Tapi kakak mandi-mandi dulu ya.


Setelah itu kakak pasti langsung ke ruang kerjanya papa.


Oke kak.


Fiuh ..


Aku mencoba untuk menghindari ini,


ternyata semakin tidak bisa ku hindari.


Ya sudahlah ..


Coba kulihat dulu bagaimana situasinya nanti.


Setelah itu aku akan memikirkan cara lain untuk bisa segera menemui Nana.


Tunggu aku ya Na ..

__ADS_1


Aku pasti datang untuk menemuimu.


Kucium bingkai foto Nana ini yang selalu ku simpan di dalam laci mejaku.


Selesai mandi, aku langsung melangkah menuju ruang kerja papa.


Tok .. tok ..


Permisi pa, ini Andika.


Apa Andika boleh masuk?


Iya nak masuklah.


Kriek ..


Ku buka pintu dengan perlahan dan papa langsung memintaku untuk duduk di sebelahnya.


Nah Pak Andi, kenalkan ini Andika putra pertama saya.


Andika, ini teman baik papa namanya Pak Andi.


Beliau juga yang selalu membantu papa saat perusahaan papa sedang goyah dulu.


Halo om, saya Andika.


Salam kenal dan mohon bimbingannya.


sapaku sambil mengulurkan tangan kanan


Hai Nak.


Tidak perlu sungkan begitu,


jika ada yang tidak mengerti pasti om bantu ke depannya.


sahut Om Andi sambil menjabat tangan kananku


Perkenalan sudah ya.


Sekarang kamu ikut Pak Andi ke perusahaannya.


Mulai dari hari ini sampai 2 minggu ke depan kamu akan jadi pegawai magang di sana.


Ini adalah training untukmu sebelum benar-benar mengelolah perusahaan papa.


Mari nak Andika.


ajak Om Andi


Iya om.


jawabku sopan


✨✨✨✨✨✨✨


Sesampainya di perusahaan Om Andi,


kami langsung masuk menuju ruang kerja Om Andi.


Tak menunggu waktu lama,


beliau langsung mengajariku cara-cara mengelolah perusahaan dengan baik dan benar.


Walaupun statusku hanya sebagai seorang pegawai magang, tapi aku merasa jabatanku di sini cukup tinggi dibandingkan dengan pegawai magang lainnya.


Terlebih lagi, Om Andi yang terjun langsung untuk mengajariku.


Tak terasa sekarang sudah jam makan siang.


Saat aku hendak berpamitan untuk beristirahat dengan pegawai magang lainnya,


tiba-tiba Om Andi menahanku untuk tetap tinggal di dalam ruangannya.


Aku sempat terkejut di buatnya.


Apakah aku tidak memiliki jam istirahat di sini?


Begitu gumamku dalam hati.


Om Andi yang sepertinya sudah mengerti apa yang kupikirkan, langsung menepuk pundakku dan berkata:


" Tenang nak, om tidak sekejam itu untuk tidak memperbolehkanmu makan siang.


Sebentar lagi anak om akan datang membawakan makan siang untuk kita berdua. "


ucap Om Andi sambil tersenyum ke arahku


Aku yang masih canggung dengan situasi ini hanya mengangguk tanda mengiyakan perkataannya.


Tok .. tok ..


Nah itu anak om sudah datang.


Masuklah sayang.


Papa ..


sapa gadis yang ada di depan kami


Nak Andi, kenalkan ini anak om.


Namanya Melisa.

__ADS_1


Sayang, kenalkan ini Andika anaknya om Wijaya.


Hai ..


sapaku sambil mengulurkan tangan kananku


Hai ..


sahut Melisa sambil menjabat tangan kananku


Ehem .. hem ..


Sampai kapan nih kalian saling menatap begitu??


Sayang, apa papa boleh makan sekarang?


Perut papa sudah mulai sakit nih.


Oh, ayo pa makan.


Sini Melisa bantu siapin makanannya.


Kuamati sikap Melisa.


Ia terlihat begitu lembut dan sangat menyayangi papanya.


Dug .. dug .. dug ..


Tiba-tiba jantungku berdetak dengan kencang.


Astaga, mengapa aku sebegitu seriusnya mengamati Melisa.


Akankah Melisa ini dapat menggantikan posisi Nana di hatiku ini????


Nak Ndika, mengapa melamun begitu?


Sampai-sampai makanannya tidak di makan?


tanya Om Andi heran


Ma .. maaf om.


Saya makan dulu ya om - Melisa ..


Iya ..


sahut Melisa lembut


Dan Om Andipun mengangguk mempersilahkanku untuk makan.


Akupun segera memakan makananku yang tadi dibawakan oleh Melisa.


Wow, ternyata makanan ini sangat lezat.


Seakan-akan aku sudah terhipnotis oleh rasa makanan ini.


Bagaimana nak Ndika?


Apakah enak masakannya anak om ini?


Iya om, sangat lezat.


Melisa benar-benar memiliki bakat memasak.


Terima kasih atas pujiannya.


sahut Melisa yang tersipu malu


Jelas enak dong.


Karna semenjak kecil Melisa ini sudah sangat suka memasak dan mamanya sudah mengarahkan bakatnya untuk menjadi koki cilik waktu itu.


Semua lomba memasak sudah Melisa ikuti dan selalu berhasil menang.


Hanya saja ..


Hanya saja apa om????


tanyaku penasaran


Hah .. (menghela nafas)


Hanya saja sampai sekarang Melisa belum bisa menang dari kejombloannya.


Papa ..


teriak Melisa sambil cemberut


Iya sayang maafkan papa yang keceplosan berbicara seperti itu tadi.


Sekarang kamu pulang dulu ya,


papa sudah selesai makannya.


Kamu juga istirahat di rumah.


Terima kasih banyak untuk makanannya.


Sama-sama pa.


Mel, makasih ya untuk makanannya tadi.


Sama-sama Andika.

__ADS_1


Setelah itu Melisa pun berpamitan pulang pada kami dan kami kembali melanjutkan pelajaran bisnis ini.


__ADS_2