Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
73) Rasa sayang yang mulai muncul


__ADS_3

Keesokan paginya,


seperti biasa aku membantu mama membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan bagi keluargaku ini.


Kebetulan hari ini adalah hari di mana papaku kembali kontrol ke dokter.


Jadi kami semuapun bergembira karna bisa ikut mengantarkan papa ke rumah sakit bersama-sama.


Saat kami sedang menikmati sarapan, tiba-tiba ..


Tok .. tok .. tok ..


" Permisi .. "


Mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu rumah,


mama segera berdiri hendak melihat siapa tamu yang datang berkunjung di rumah kami ini.


" Tunggu ma, biar Nana aja yang lihat siapa yang datang. Mama lanjutin sarapan aja sama yang lainnya. "


pintaku dengan segera berjalan ke ruang tamu


Saat melihatku yang menyambutnya,


kak Steven terlihat begitu gembira.


" Oh, kak Steven ternyata.


Ayo masuk kak.


Kita semua sedang sarapan bersama-sama,


kakak ikut sarapan juga ya sama kita di sini. "


ucapku yang tanpa jeda sedikitpun


" Wah boleh juga tuh Na, kebetulan tadi aku belum sarapan. "


jawab Steven


Kemudian kamipun segera beranjak ke ruang makan.


" Selamat pagi paman, tante, dan adik-adik kesayanganku. "


sapa Steven


" Selamat pagi. "


sahut mereka bersamaan


" Ayo duduk di sebelah sini nak Steven,


kita sarapan sama-sama ya.


Semoga suka dengan menu sederhana kita ini. "


pinta papaku


" Tidak masalah paman, walau sederhana tapi yang penting bisa berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi itu sudah sangat membahagiakan. "


sahut Steven sambil melirik ke arahku


" Iya memang betul itu nak Steven.


Kelak nak Steven dan Nana juga bisa mempunyai keluarga kecil yang bahagia seperti ini. "


ucap papaku


" Amin pa. "


sahut mama sambil tersenyum


Kemudian kamipun kembali melanjutkan sarapan.


Setelah selesai sarapan,


mama dan papa masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap ke rumah sakit.


Sedangkan David dan Agnes juga pergi ke kamar mereka.


Aku dan kak Steven masih berada di ruang makan untuk membersihkan dan merapikan meja makan.


Setelah itu, aku mencuci semua peralatan makan yang kami pakai tadi.


Dan kak Steven tidak mau beranjak dari ruang makan ini, iapun duduk di sini sambil menungguku.


" Kamu memang calon istri yang rajin Na.


Bisa masak, bersih-bersih rumah, dan bercocok tanam.


Aku benar-benar tidak salah memilihmu sebagai istriku. "


ucap Steven dengan bangga


" Huts, pagi-pagi udah merayu.


Gak mempan kak rayuan mu itu buat aku.


Oh ya, daripada kakak duduk saja di sana,


lebih baik bantu aku sini mencuci piring-piring ini.


Supaya bisa lebih cepat selesainya dan aku bisa ganti baju. "


sahutku sambil melirik ke arahnya


" Oooo ...


Jadi minta di bantuin?


Kenapa baru ngomong sekarang?


Kok gak dari tadi aja ngomong minta di bantuin?


Tahu gitukan aku bisa bantuin kamu lebih awal tadi.


Hahahahahaha


ucap Steven sambil tertawa


" Hmmm ..


Memang benar ya, cowok memang gak pernah bisa peka dengan apa yang cewek rasa'in. "


gumamku pelan


" Kamu ngomong apa Na?


Kok pelan gitu ngomong nya? "


tanya Steven penasaran


" Enggak kok, aku gak ngomong apa-apa barusan.


Kak Steven salah dengar mungkin. "


ucapku sambil mencuci tangan


" Ya deh terserah kamu aja Na.


Kalau gak di iyakan nanti kamu ngambek lagi,


'kan aku jadi sedih Na. "


sahut Steven sambil melihat ke arahku


" Nah gitu dong mengalah sama aku,


'kan enak kalau kita gak berantem terus.


Hahahahahaha

__ADS_1


jawabku sambil tertawa


" Kamu sudah selesaikah Na cuci piringnya?


Kalau belum sini aku bantuin. "


pinta Steven sambil berjalan mendekat ke arahku


" Sudah selesai. "


sahutku sambil berbalik ke belakang


Saat aku berbalik ke belakang,


tubuhku begitu dekat dengannya.


Sampai-sampai jantungku berdetak dengan kencang.


Slup ..


Dengan cepat kak Steven menarik tanganku dan akupun sudah berada di dalam pelukannya.


" Na, jangan pernah tinggal'in aku ya.


Aku benar-benar cinta dan sayang sama kamu.


Apapun pasti aku lakukan untukmu,


asalkan itu bisa membuatmu selalu bahagia. "


pinta Steven


" Aku sebenarnya juga sayang sama kamu kak.


Tapi aku mohon agar kita tidak cepat-cepat menikah ya,


sebab aku masih ingin menyelesaikan sekolahku terlebih dahulu dan membahagiakan kedua orangtuaku. "


sahutku sambil memeluknya


" Makasih ya Na. "


Muach .. (mencium kening Nana)


" Ya sudah kak, aku mau ke kamar dulu buat ganti baju.


Kakak tunggu aku di ruang tamu saja ya. "


ucapku sambil mendorong tubuhnya


" Gak ah Na, aku mau ikut kamu ke kamar bolehkan? "


tanya Steven sambil berbisik di telinga Nana


" Tunggu sampai kakak jadi suamiku yang sah baru boleh masuk ke kamarku lagi.


Kalau sekarang masih belum boleh !!! "


sahutku dengan muka yang sudah memerah


" Oke sayang. "


jawab Steven sambil tersenyum


Kemudian akupun segera pergi ke kamar dan kak Steven berjalan menuju ke ruang tamu.


Setelah semuanya sudah berkumpul,


kamipun segera berangkat ke rumah sakit.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Sesampainya di rumah sakit,


aku segera mengambil nomor antrian.


Selang beberapa menit,


Yang menemani papa masuk ke dalam ruang pemeriksaan hanya mama.


Sedangkan aku dan adik-adikku menunggu di ruang tunggu.


Namun setelah selesai mengambil nomor antrian tadi,


aku sepertinya tidak melihat kak Steven di sini.


Akupun menoleh ke kanan dan ke kiri mencari dirinya, sama seperti anak ayam kehilangan induknya.


" Vid, apa tadi kak Steven pamit sama kamu mau pergi ke mana?


Kok sampai sekarang gak kelihatan ya? "


tanyaku cemas


" Oh, kak Steven tadi bilang mau angkat telepon penting di luar.


Karna di dalam sini tidak boleh berisik.


Mungkin setelah selesai telepon,


kak Steven mampir ke minarket sebelah untuk beli minuman buat kita. "


sahut David sambil bermain game di ponselnya


Huh .. terima telepon masa iya selama ini???


Apa aku coba telepon ponselnya aja ya???


Aduh, kenapa aku jadi cemas begini sih???


" Dor .. Lagi melamunin apa nih? "


tanya Steven yang tiba-tiba muncul di belakangku


" Apa'an sih .. Bikin orang kaget aja ..


Untung aku gak jantungan tadi. "


sahutku sambil cemberut


" Sori ya sayang.


Nih minum dulu supaya bisa segar lagi. "


ucap Steven sambil memberikanku sebotol air putih


" Iya makasih. "


jawabku sambil menerima botol minum ini


" Vid - Nes, kalian juga minum ini ya supaya bisa lebih fresh. "


ucap Steven sambil memberikan mereka sebotol air putih


" Makasih kak. "


sahut David dan Agnes bersamaan


" Sama-sama. "


jawab Steven sambil tersenyum


" Tadi kak Steven pergi ke mana?


Kok lama banget baliknya? "


tanyaku sambil duduk di sebelahnya


" Asyik - asyik, sepertinya ada yang mulai perhatian nih sama aku. "


jawab Steven sambil tersenyum

__ADS_1


" Apa'an sih? Gak perlu lebay gitu deh. "


sahutku dengan muka cemberut


" Sudah - sudah, jangan cemberut gitu dong,


nanti cantiknya hilang lho. "


rayu Steven


" Biarin aja. Dari dulu aku 'kan emang gak cantik. "


sahutku dengan muka cemberut


" Iiiih, gemes deh sama kamu kalau lagi cemberut begini. "


jawab Steven sambil mencubit pipi kananku


" Aduh, sakit kak .. "


teriakku kesakitan


" Sini - sini aku usap ya pipinya supaya gak sakit lagi.


Oh ya, tadi itu setelah aku terima telepon dari kantor,


aku gak sengaja bertemu dengan sepupuku di minimarket sebelah.


Terus kita berbincang-bincang sebentar.


Cuma gitu aja, setelah itu aku gak ke mana-mana lagi. "


terang Steven


" Yayaya .. "


sahutku dengan sedikit kesal


" Kak, itu papa sama mama sudah keluar. "


teriak Agnes gembira


" Sayang, tolong jaga papa sebentar ya.


Mama mau ambil obatnya papa dulu di sana. "


pinta mama


" Gak usah ma. Biar Nana aja yang ambil obatnya.


Mama di sini aja nemani papa. "


sahutku


" Aku temani ya Na. "


kata Steven


Akupun mengangguk tanda memperbolehkannya ikut denganku.


Setelah selesai mengambil obat,


kamipun pulang ke rumah.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Sesampainya di rumah ..


" Nak Steven, terima kasih banyak ya sudah mau mengantarkan kami ke rumah sakit tadi. "


ucap papaku


" Iya paman sama-sama. "


sahut Steven dengan sopan


Kemudian mama segera mengantarkan papa ke kamar untuk beristirahat.


Begitu juga dengan adik-adikku,


mereka segera masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Sedangkan aku masih menenani kak Steven berbincang-bincang di ruang tamu.


" Sayang, sebelumnya aku minta maaf ya.


Selama beberapa hari ke depan mungkin aku gak bisa datang ke rumahmu.


Karna aku harus menemani papa melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.


Tapi kamu tenang aja, kita masih bisa berkomunikasi lewat telepon. "


ucap Steven dengan perasaan sedih


" Iya kak tidak apa-apa.


Yang penting selesaikan dulu urusan pekerjaannya,


setelah itu kita 'kan masih bisa bertemu lagi. "


sahutku sambil tersenyum


" Hm .. Na, apa aku boleh minta sesuatu darimu? "


tanya Steven dengan penuh harap


" Selama aku bisa kasih pasti aku kabulkan kak.


Tapi kalau mintanya yang aneh-aneh,


aku gak mau ya. "


jawabku dengan muka serius


" Aku gak minta yang aneh-aneh kok.


Aku cuma ingin kamu panggil aku dengan sebutan sayang juga saat kita hanya berdua saja.


Kamu gak keberatankan sayang? "


tanya Steven


" Hm .. mmm .. iya kak.


Eh, sori - sori ..


Iya sayang, gitu maksudku tadi. "


sahutku dengan tersipu malu


" Makasih ya sayang.


Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu.


Setelah ini kamu juga istirahat ya. "


Muach .. (mencium kening Nana)


" Iya sayang. Hati-hati di jalan ya. "


Bye sayang .. (melambaikan tangan)


Setelah kak Steven pergi,


akupun menutup dan mengunci pintu rumah.


Kemudian aku segera naik ke kamar dan berganti baju.


Dan akhirnya akupun tertidur karna capek.


Zzzz ... Zzzz .. Zzzzz ..

__ADS_1


__ADS_2