Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
54) Pertemuan Bagus dan Steven


__ADS_3

Saat sudah memasuki kamar inap papa,


aku melihat mama tersenyum bahagia sambil menggenggam tangan kanan papa.


Halo paman, bagaimana keadaannya sekarang?


Seperti yang nak Steven lihat,


sekarang paman sudah merasa agak baikan.


Syukurlah paman.


Ups, kelihatannya paman sedang asyik berpacaran dengan tante nih.


Paman sama tante lanjutin dulu aja gak apa-apa.


Kalau gitu saya permisi keluar sebentar ya sama Nana.


Sekalian mau ajak Nana makan di kantin.


Iya nak tolong jaga anak paman ini ya.


Pasti paman.


Kalau nanti tante butuh sesuatu bisa langsung segera telepon Steven ya tan.


Iya nak.


Eh .. tapi .. tapi ..


Kak Steven tak menghiraukan perkataanku dan segera mendorongku keluar kamar.


Hm, ya sudahlah.


Mungkin mama juga masih perlu waktu untuk berduaan dengan papa di dalam sana.


Aku dan kak Steven segera berjalan menuju kantin.


Na, kamu makan dulu ya.


Jangan sampai kamu telat makan,


supaya kamu tidak sakit nantinya.


Iya kak.


Saat sampai di kantin kami berpapasan dengan David yang baru saja keluar dari toilet.


Kemudian David pun duduk kembali bersama kami.


Drtt .. drtt .. drtt .. drtt ..


Ponselku bergetar menandakan ada telepon masuk.


Halo ..


Na, kamu di mana sekarang?


Tadi katanya kamu mau telepon aku?


Aku nunggu kamu dari tadi tapi kamu gak telepon-telepon juga.


Iya .. iya .. sori ya Ta.


Aku sekarang ada di rumah sakit Cemerlang.


Apa? Di rumah sakit?


Siapa yang sakit Na?


Papaku tadi mengalami kecelakaan kerja Ta.


Tapi sekarang kondisi nya sudah agak membaik.


Hanya perlu beristirahat 1-2 hari di sini,


setelah kondisi nya papa sudah stabil,


baru diperbolehkan pulang sama dokternya.


Oh .. oke deh Na.


Kamu tunggu aku di sana ya.


Sebentar lagi aku sama Felix ke sana.


Tut .. tut .. tut .. tut ..


Percakapan kami terputus karna Okta sudah memutuskan panggilannya.


Ada apa Na?


Siapa yang telepon barusan?


Oh ya, kamu sudah ada handphone kenapa tidak memberitahuku nomormu?


Hm, tadi Okta sahabatku yang menelpon.


Katanya sebentar lagi dia mau ke sini sama pacarnya.


Untuk handphone ini sebenarnya aku juga baru pakai kak. Inipun Okta yang membelikannya untukku.


Hihihihihihihi


Ya ampun Na.


Kenapa kamu gak bilang aku kalau kamu mau beli handphone baru?


Tahu gitu kan aku juga bisa beli'in kamu handphone.


Sebenarnya aku juga gak mau handphone ini kak.


Tapi Okta yang memaksaku untuk memakai handphone pemberiannya ini.


Maklumlah, kita sudah bersahabat cukup lama dan inilah persahabatan rasa persaudaraan.


Itulah mengapa aku dan Okta sama-sama merasa sayang satu sama lain.


Meskipun sekarang dia sudah ada pacar,


namun perlakuannya padaku sama sekali tidak berubah.

__ADS_1


Justru pacarnya yang seringkali cemburu melihatku dengan Okta.


Hehehehehehehehe


Iya Na.


Nanti kalau mereka sudah datang,


jangan lupa kenalkan sama aku ya.


Aku jadi penasaran dengan mereka setelah mendengar ceritamu barusan.


Pasti kak.


Oh ya, ini makananmu Na.


Kamu sekarang makan dulu ya.


Ini makanan yang khusus aku pesan buat kamu tadi.


Wah, kelihatannya enak nih.


Makasih ya kak.


Iya Na sama-sama.


Selamat makan semuanya ..


Iya ..


sahut kak Steven dan David bersamaan


Tanpa menunggu lama akupun langsung memakan makanan di depanku ini.


Nyam .. nyam ..


Memang benar ya kata orang,


kalau perut sudah lapar,


makanan apapun pasti di bilang enak.


Na, kamu makannya pelan-pelan aja.


kata kak Steven sambil membersihkan pipiku dengan tissue


Aduh kak, tolong jangan pamer kemesraan kalian di sini.


Aku kan masih di bawah umur.


goda David


Ups, sori Vid .. sori ..


Aku tampak cuek dan tak menghiraukan percakapan mereka.


Sebab aku masih fokus memakan makananku ini.


Beberapa menit kemudian aku sudah selesai makan.


Kak Steven nampak membawa beberapa bungkus makanan dan minuman di tangannya.


Oh, iya kak sini aku bantu'in.


Nah gitu dong Vid.


Sebagai adik ipar yang baik harus membantu kakak iparnya.


Mendengar perkataanku barusan,


kak Steven tampak bahagia dan tersenyum padaku.


Yuk, kita balik ke kamar sekarang.


Takutnya nanti papa sama mama kelamaan nungguin kita.


Kami bertigapun segera beranjak pergi dari kantin ini.


Saat sudah dekat dengan kamar inap papa,


tiba-tiba Okta menelponku dan mengatakan kalau dia sudah berada di lobi rumah sakit ini.


Akupun meminta kak Steven dan David untuk masuk duluan dan aku bergegas menjemput Okta di lobi.


Ta ..


Na ..


Kamipun langsung berpelukan seperti orang yang sudah lama tidak bertemu.


Ehem .. hem ..


Jadi aku gak di peluk juga nih Na?


Felix ..


teriak Okta


Iya sayang, aku cuma bercanda aja kok barusan.


Puft .. hahahahahaha


Kamipun tertawa bersama-sama.


Sudah - sudah, ayo aku antar ketemu sama papaku.


Tunggu Na ..


Hm, kenapa Ta?


Sebenarnya ada seseorang yang mau ketemu kamu juga Na.


Mau ketemu sama aku?


Siapa Ta?


Ini aku Na.


Mendengar suara itu aku seperti terkena petir di siang bolong.


Ke .. kenapa kak Bagus juga ikut datang ke sini?

__ADS_1


Apa aku tidak boleh datang Na?


Tadi pagi aku kan sudah berjanji akan menemuimu lagi setelah kamu pulang sekolah.


Tapi setelah menunggu lama,


kamu tak muncul-muncul juga.


Kemudian aku melihat sahabatmu ini berjalan menuju parkiran tadi.


Jadi aku bertanya padanya dan dia bilang kamu ada di rumah sakit.


Tanpa banyak bertanya lagi akupun mengikuti mereka ke sini.


Kamu tahu Na, betapa kuatirnya aku.


Ku kira kamu yang sedang di rawat di sini.


(sambil menggenggam tanganku)


Dia mengkuatirkan diriku???


Mustahil ..


Aku tak lagi percaya kata-katanya itu sejak dia tidak mengejarku saat aku berlari di jalan tol waktu itu.


To .. tolong lepaskan tanganku kak.


Melihatku yang tak mau di pegang oleh kak Bagus,


Okta berusaha membantuku.


Namun dihalangi oleh Felix.


Ta, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri.


Kita tidak boleh ikut campur.


Jika dia mulai melakukan sesuatu yang lebih dari ini,


baru kita bisa ambil tindakan selanjutnya.


Syuuutt ..


Tiba-tiba kak Steven menarik tanganku dan berdiri di depanku.


Apa kamu tidak dengar tadi Nana bilang lepaskan tangannya?


Apa kamu tidak paham bahasa manusia?


Kamu siapa?


Jangan ikut campur, ini urusanku dengan Nana.


Aku yang berada di belakang kak Steven hanya diam dan tubuhku mulai bergetar karna takut.


Kak Steven yang mengetahui kalau tubuhku gemetaran, langsung menarik kerah baju kak Bagus.


Apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat Nanaku ketakutan begitu?


Hah? Apa yang kulakukan?


Seharusnya kamu tanyakan langsung pada Nana.


A .. a .. aku tak melakukan apapun kak.


Tenang Na. Aku percaya padamu.


Nanaku tidak mungkin melakukan apapun denganmu.


Jika kamu berani berkata buruk lagi tentang Nana,


maka aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran di sini.


Memangnya kamu siapa?


Dari tadi kamu menyebut dirinya 'Nanaku' terus-menerus tanpa henti.


Asal kamu tahu, aku ini adalah tunangannya dan kami akan segera menikah.


Jadi kamu jangan lagi mengganggu kehidupan kami.


Apa??? Tunangan??? Menikah???


Tidak mungkin.


gumam Bagus dalam hati


Kamu bilang tunangan?


Tapi kamu bahkan tidak tahu kalau aku dan Nana dulu pernah tinggal serumah.


Plak ..


Sebuah tamparan dariku mendarat di pipi kiri kak Bagus.


Aku dari tadi sudah berusaha menahan diriku,


tetapi kali ini ucapanmu sudah tak sangat keterlaluan.


Kau tahu aku tinggal di sana hanya beberapa hari saja dan itupun karna kakiku terluka.


Ibu Margaret bisa menjadi saksi bahwa di antara kita memang tidak pernah terjadi apa-apa saat itu.


Jika kau terus seperti ini,


aku tak lagi segan melaporkanmu ke kantor polisi


dengan tuduhan pencemaran nama baik.


Akupun pergi meninggalkannya.


Na .. tunggu ..


Aku tak lagi memperdulikan apapun saat ini.


Yang aku tahu sekarang aku hanya ingin berteriak dan meluapkan semua kekesalanku ini ...


Entah apa yang dipikirkan kak Steven setelah mendengar omong kosong dari kak Bagus tadi.


Apapun yang menjadi keputusannya aku sudah siap menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2