
Saat sudah sampai di rumah sakit,
sengaja Melisa turun terlebih dahulu karna kami akan memainkan satu sandiwara untuk memberikan surprise pada kedua orangtua kami.
Hiks .. hiks .. hiks ..
terdengar suara tangis Melisa saat memasuki kamar inap om Andi.
" Sayang, kenapa kamu menangis?
Apakah nak Andika sudah melukai perasaanmu? "
tanya om Andi cemas
" Pa .. pa .. hiks .. hiks .. "
tangis Melisa yang sedang memeluk erat om Andi
" Nak Melisa, sekarang Andika nya di mana?
Mengapa kamu kembali ke sini seorang diri saja? "
tanya papaku heran
" Andika di sini pa. "
sahutku dari depan pintu kamar ini
" Andika, apa yang sudah kamu lakukan sampai nak Melisa menangis begini? "
tanya papa dengan nada sedikit kecewa
" Andika tidak melakukan apa-apa pa.
Kalau tidak percaya tanya saja sama Melisa. "
jawabku dengan mengedipkan mata ke arah Melisa sebagai tanda untuk memainkan sandiwara bersamaku
" Sayang, sebenarnya ini ada apa sih?
Papa benar-benar kuatir melihatmu menangis seperti ini !!! "
ucap om Andi yang sudah mulai emosi
" Maaf om Andi, sebenarnya ada sesuatu yang mau saya perlihatkan pada om Andi dan juga papa. "
Saat papa dan om Andi mendengarkan perkataanku barusan, spontan mereka saling bertatapan.
Seperti mereka sedang bertanya satu sama lain
tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi dan yang mereka tidak ketahui tentang diriku.
Sebenarnya saya akan melamar Melisa di depan papa dan om Andi sekarang.
" Maaf kami tadi hanya memainkan sandiwara hanya untuk memberikan surprise pada papa dan om Andi. "
Melisa yang sudah mendengar kode itu dariku,
segera bangkit berdiri dan berjalan ke arahku.
" Melisa .. I love you ..
Will you marry me? "
(Melisa .. aku mencintaimu ..
Bersediakah kau menikah denganku?)
tanyaku dengan berwibawa sambil bersujud di depan Melisa
Papa dan om Andi yang melihat dan mendengar lamaranku untuk Melisa barusan,
seakan tidak percaya dengan ini semua.
" I love you too Andika .. and .. Yes, i will. "
(Aku mencintaimu juga Andika .. dan ..
ya, aku menerimanya)
jawab Melisa tanpa ragu-ragu
Kemudian aku berdiri dan mencium kening Melisa sambil berkata : " thank you so much honey "
Plok .. plok .. plok ..plok ...
Serentak terdengar tepuk tangan dari papa dan om Andi bersamaan.
" Ini baru anak papa. "
kata papa dengan bangganya
" Maafin Melisa ya pa.
Tadi sebenarnya Melisa menangis karena bahagia.
Bahagia karena Andika sudah melamar Melisa di tempat makan tadi.
Dan sekarang kami mencoba memperlihatkan kejadian ulangnya di depan papa dan om Wijaya sebagai surprise dari kami. "
" Astaga, anak kesayangan papa ini ternyata sudah berani memainkan sandiwara seperti tadi ya sama papa??? "
ucap om Andi sambil menarik telinga Meliaa
__ADS_1
" Ampun pa .. ampun pa .. "
sahut Melisa
Kemudian kamipun tertawa lepas bersama-sama.
" Om Andi, mohon maaf sebelumnya.
Saya dan Melisa sudah memiliki rencana untuk mengadakan pesta pertunangan kami bulan depan di hotel Twins.
Kemudian untuk acara pernikahannya,
kami memutuskan untuk melaksanakannya setelah kami tamat sekolah.
Setelah menikah, baru kami akan mulai untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan universitas.
Semuanya sudah kami bahas bersama secara terperinci saat kami dalam perjalanan menuju kemari.
Bagaimana menurut om Andi dan papa? "
tanyaku dengan serius dan dengan harap-harap cemas
" Kalau menurut om, perencanaan kalian seperti itu sangat bagus.
Om merestui apapun yang menjadi keputusan kalian berdua.
Kalau pak Wijaya sendiri bagaimana? "
tanya om Andi sambil menatap papa
" Jika kalian memang sudah siap dengan pertunangan ini dan pernikahan kalian,
maka papa juga tidak bisa menghalangi kalian.
Papa juga merestui apapun yang menjadi kebahagiaan kalian. "
jawab papa sambil menepuk pundakku
" Makasih banyak ya om .. pa ..
Saya berjanji akan selalu menyayangi dan bertanggungjawab atas Melisa,
mulai saat ini sampai akhir nafasku. "
Kemudian papa memelukku dengan penuh rasa bangga dan berjabat tangan dengan om Andi.
" Akhirnya kita benar-benar akan jadi besan ya Pak Wijaya. "
ucap om Andi dengan perasaan bahagia
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Keesokan harinya, om Andi sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Aku, mama dan papa sudah siap sedia menjemput om Andi di rumah sakit.
Tak ku sangka mamaku pun langsung menyetujui pertunanganku dengan Melisa.
Setelah selesai semua urusan administrasi om Andi,
kami semua langsung mengantarkan om Andi dan Melisa pulang ke rumah.
Saat sudah sampai, kamipun berbincang-bincang tentang persiapan pesta pertunanganku dengan Melisa.
Sedangkan Melisa, ia terlihat sedang sibuk sendiri di dalam dapur.
Entah apa yang ia masak untuk kami nanti.
Diam-diam aku mengamatinya dari ruang tamu rumah ini.
Ia terlihat begitu manis dan lembut meski sedang memasak di dapur.
Benar-benar tidak salah aku memilihnya sebagai istriku kelak.
" Ehem .. hem .. "
Nak Andika, sedang melamun apa? "
tanya om Andi yang sedang duduk di depanku
" Ma .. maaf om ..
Tadi saya tidak melamun,
hanya sedang melihat Melisa yang kasihan sibuk sendiri di dapur.
Bolehkah saya membantu Melisa memasak di dapur om? "
" Tentu saja boleh.
Untuk urusan pesta pertunangan ini,
serahkan saja pada kami para orangtua.
Sudah pergi sana, temui calon istrimu. "
goda om Andi
" Iya om, terima kasih. "
jawabku sopan
Kemudian akupun segera menghampiri Melisa di dapur.
__ADS_1
Ku peluk tubuh Melisa dari belakang dan mencium pundaknya.
" Kamu sedang masak apa sayang?
Bolehkah aku membantu di sini? "
tanyaku tanpa melepaskan pelukanku darinya
" An .. Andika .. lepaskan ..
Malu tahu di lihat sama orangtua kita. "
sahut Melisa sambil mencoba melepaskan pelukanku
" Hm, maaf ya sayang.
Habisnya aku benar-benar gak bisa lepas dari kamu walau cuma sedetik aja. "
" Haish .. apa'an sih kamu sayang ..
Jangan seperti anak kecil begitu. "
sahut Melisa sambil menempelkan tepung terigu ke pipiku dengan kedua tangannya
" Wah, curang ya kamu sayang.
Sini giliranku memberikan mu bedak alami ini di kedua pipimu itu. "
" Gak kena .. yeah .. gak kena .. "
ucap Melisa sambil mengejekku
Akhirnya kamipun berkejar-kejaran di dalam dapur ini.
Namun tetap saja aku yang kalah dari Melisa.
Wajahku yang tadinya bersih kini sudah penuh dengan tepung terigu akibat ulahnya.
Meski sikap kami ini terkesan seperti anak kecil,
tapi aku sangat menyukainya.
Beberapa menit kemudian,
semua makanan buatan Melisa sudah matang.
Aku bergegas membantunya menata meja makan.
Setelah tugasku selesai, tak lupa aku ingin segera membasuh wajahku yang sudah penuh dengan tepung terigu ini.
Namun tiba-tiba Melisa menarik tanganku dan berkata:
" Sayang, sini aku bantu kamu lap mukamu.
Maafin aku ya, gara-gara aku tadi kamu sampai kotor begini. "
" It's oke honey.
(Ini tidak apa-apa sayang.)
Asalkan kamu bisa tertawa bahagia seperti tadi,
aku rela kok kamu 'apa-apa'in' .. "
" Udah deh gak usah gombal gitu.
Gak mempan buat aku. "
Hahahahahaha
sahut Melisa sambil mencubit pipi kiriku
Muach ..
sebuah ciuman dariku mendarat di pipi kanan Melisa
" Aku panggil semua orang untuk makan ya sayang. "
ucapku sambil berjalan menuju ruang tamu
Melisa yang kucium pipi kanannya,
masih saja bengong di sana dan tak membalas ucapanku barusan.
Serasa puas aku mengerjainya tadi.
Tapi semoga saja Melisa tidak marah atas sikapku tadi yang spontan mencium pipi kanannya.
Sesekali aku menoleh ke belakang untuk melihat ekspresi wajahnya.
Namun tidak seperti dugaanku, ia tidak marah. Melainkan ia tersipu malu sambil menepuk-nepuk kedua pipinya yang chubby itu.
Seakan ia tak percaya kalau aku sudah menciumnya tadi.
Puft .. hihihihihihihi
Tanpa sadar akupun tertawa,
namun tertawa dengan suara kecil.
Agar Melisa tidak mendengarku menertawakan sikap polosnya itu.
Kamu tahu Mel, aku benar-benar bahagia bisa memilihmu menjadi pendamping hidupku.
__ADS_1
Aku harap kita tidak akan pernah terpisahkan oleh apapun dan siapapun ..
Sebab aku sangat mencintai dan menyayangi mu ..