Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
97) Kondisi kritis Nana


__ADS_3

Duar .. duar ..


Duar .. duar ..


Guntur dan kilat telah menampakkan dirinya.


Tanda mereka juga turut merasakan kesedihan Nana saat ini.


Dengan terus berlari Nana tak menghiraukan apapun.


Sampai suatu ketika tiba-tiba ada sepeda motor yang melaju dengan kencang dan akan menabrak anak kecil yang hendak mengambil bolanya di tengah jalan raya.


Saat melihat hal itu,


dengan sangat cepat Nana berlari dan mendorong anak kecil itu agar tidak tertabrak sepeda motor.


Dan sebagai gantinya Nanalah yang tertabrak.


"Ahh .. "


teriak Nana.


Bruak ..


Terjadilah kecelakaan yang tak dapat di hindari saat itu juga.


Pemilik motor terpental sejauh lima meter,


sedangkan Nana kepalanya terbentur dan mengeluarkan banyak darah di kening dan telinganya.


Ibu dari anak kecil yang di tolong oleh Nana tadi segera menggendong anaknya dan menghampiri Nana.


"Astaga, kasihan sekali anak ini.


Tolong cepat panggilkan ambulance ke sini."


teriak ibu itu.


Mendengar teriakan ibu itu,


dengan sekuat tenaga Nana mencoba untuk bangun dan berdiri.


"Tenang saja bu, saya tidak apa-apa.


Apa anak ibu baik-baik saja?"


tanya Nana cemas.


"Anak ibu baik-baik saja.


Terima kasih banyak ya nak sudah menolong anak ibu ini,"


sahut ibu itu sambil mengusap kepala anaknya.


"Iya bu sama-sama.


Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya."


pamit Nana.


"Jangan nak, lebih baik kamu pergi ke rumah sakit saja dulu.


Agar luka-lukamu bisa segera di obati."


pinta ibu itu.


"Bu, jangan kuatir.


Saya tidak apa-apa.


Luka saya semuanya ini memang bisa di obati,


tetapi luka di hati saya ini sangat susah di obatinya.


Maaf saya permisi dulu."


pinta Nana.


Kemudian Nana dengan masih sempoyongan berjalan perlahan menuju ke rumahnya.


Saat sudah hampir sampai,


kepala dan badan Nana terasa berat.


Tiba-tiba ..


Bruak ..


Nana jatuh pingsan.


Slap ..


Dengan cepat Steven menggendong Nana masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Untunglah Steven datang tepat waktu dan segera membawa Nana ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit,


Nana segera di bawa ke ruang UGD (Unit Gawat Darurat).


Dan Nana mendapatkan penanganan di sana.


"Sayang, mengapa kamu sampai bisa terluka parah seperti ini???


Apakah kamu tahu betapa kuatirnya diriku ini???"


ucap Steven sambil berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang UGD.


Kling ..


Lampu ruang UGD telah mati dan dokter yang menangani Nana telah keluar dari sana.


"Dok, bagaimana keadaan pacar saya?"


tanya Steven cemas.


"Operasi telah berjalan lancar.


Tapi pasien masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


Nanti setelah pasien sudah sadar,


anda bisa masuk menengoknya.


Hm .. Untunglah pasien tadi di bawa ke rumah sakit tepat waktu.


Jika tidak mungkin saat ini dia telah kehilangan nyawanya,"


jelas dokter UGD sambil menepuk pundak Steven.


"Terima kasih dok."


sahut Steven sopan.


Kemudian dokter itu meninggalkan Steven dan melanjutkan tugas mulianya.


"Untunglah Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk dapat bersamamu Na.


Jika tidak, aku tak dapat memaafkan diriku sendiri."


ucap Steven dengan menitikkan airmata.


***Srek .. srek** .. (membuka gorden ruang UGD*)


Jadi bapak bisa melihat pasien dari sini.


Jika ada sesuatu bapak bisa panggil saya kemari.


Saya permisi dulu."


pinta suster.


"Baik sus, terima kasih."


jawab Steven sopan.


"Sama-sama pak."


sahut suster sambil tersenyum.


"Sayang, tolong maafkan aku ..


Aku benar-benar lalai menjagamu.


Aku selalu tak dapat menepati janji-janjiku padamu,"


ucap Steven sambil menatap Nana dari balik kaca ruang UGD.


"Nak Steven, bagaimana kondisi Nana sekarang?"


tanya papa Nana sambil menepuk pundak Steven.


"Nana masih di dalam sana paman.


Operasinya tadi berjalan lancar,


hanya saja Nana belum sadarkan diri."


ucap Steven lirih.


Tit .. tit .. tit ..


Tiba-tiba detak jantung Nana menurun.


Melihat itu dengan cepat Steven berlari memanggil suster jaga di meja resepsionis.


"Suster .. suster .. tolong cepat ke ruang UGD sekarang.

__ADS_1


Detak jantung Nana tiba-tiba menurun."


ucap Steven cemas.


"Baik pak,"


sahut seorang suster yang segera berlari dengan cepat menuju ruangan UGD.


Tak lama kemudian suster tadi juga memanggil dokter untuk memeriksa Nana.


"Sayang, kamu harus baik-baik saja.


Aku belum siap untuk kehilanganmu saat ini,"


ucap Steven dari balik kaca sambil terus menangis.


"Nak Steven, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Nana?"


tanya papa Nana cemas.


"Maafkan saya yang sudah lalai menjaga Nana, paman.


Sebelum ini kami sempat salah paham dan Nana pergi begitu saja.


Saya sudah mengejarnya namun tiba-tiba kehilangan jejak dan saat menuju rumah paman, saya melihat Nana sudah jatuh pingsan di tepi jalan.


Kemudian saya bergegas membawa Nana ke rumah sakit ini."


jelas Steven.


"Sudahlah pa, namanya anak muda pasti sering salah paham seperti ini.


Sekarang yang terpenting kita berdoa untuk kesembuhan Nana."


sahut mama Nana.


"Iya ma."


jawab papa Nana.


Kling ..


Lampu ruang UGD telah mati dan dokter yang menangani Nana telah keluar dari sana.


"Maafkan kami.


Sepertinya keingingan untuk hidup dari dalam diri pasien sangatlah rendah.


Jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Hanya tinggal menunggu waktu saja.


Tolong kalian semua juga bisa mempersiapkan diri untuk mendapatkan kabar buruk selanjutnya."


ucap dokter.


"Maksud dokter apa?


Mendoakan pacar saya meninggal begitu?"


sentak Steven.


"Tenang nak .. tenang ..


Maafkan anak kami ini yang dok."


ucap papa Nana menenangkan.


"Tidak apa pak.


Saya mengerti keadaannya sekarang.


Saya permisi dulu."


pamit dokter.


"Terima kasih dok."


ucap papa dan mama Nana bersamaan.


Dokter itupun mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka.


"Nana harus hidup .. harus .. "


ucap Steven sambil memegangi kepalanya.


"Tenang nak. Coba kamu duduk dulu di sini."


pinta mama Nana.


"Apa yang sudah kamu alami ini nak?


Papa benar-benar tidak sanggup kehilanganmu seperti ini."

__ADS_1


ucap papa Nana dengan memandang wajah Nana dari balik kaca ruang UGD.


__ADS_2