Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
82) Berdamai dengan masa lalu


__ADS_3

Setelah beberapa menit berputar-putar ke arah kanan-kiri, akhirnya kak Steven memberhentikan mobilnya.


" Apa kita sudah sampai kak? "


tanyaku heran


" Iya Na, kita sudah sampai."


sahut Steven dengan sedikit gugup


" Lho, kenapa kak Steven gugup seperti itu?


tanyaku bingung


" Na .. ini .. tempat ini adalah tempat acara pertunangannya Andika."


ucap Okta


" Hah??? Serius ini tempatnya Ta? "


tanyaku sambil menengok ke kanan dan ke kiri


" Iya Na betul, ini undangannya.


Coba kamu lihat deh. "


sahut Okta dengan memberikanku undangannya


" Iya Ta, benar ini tempatnya.


Apa kak Steven memang sengaja membawa kami ke tempat ini?


Mengapa begitu kak? Jawab aku !!!


ucapku kesal


" Oh ya? Ternyata kalian juga di undang ke acara ini?


Aku bahkan tidak tahu tentang hal ini,


bagaimana aku bisa sengaja membawa kalian datang kemari????


Tadinya aku mengajak kalian ke sini supaya kalian tidak bosan berada di dalam hotel saja.


Tapi kalau kamu tidak mau masuk ke dalam,


lebih baik kita putar balik saja sekarang. "


jawab Steven


Okta dan Felix nampak kebingungan,


sedangkan aku hanya terdiam di samping kak Steven.


" Hmm .. yang seharusnya terjadi biarlah terjadi.


Kita sudah jauh-jauh sampai ke sini jangan di sia-siakan.


Lebih baik kita masuk saja ke dalam. "


sahutku sambil menghela nafas panjang


" Na, apa kamu yakin???


Belum terlambat untuk merubah keputusanmu sekarang. "


ucap Okta sambil menepuk pundakku


" Iya Ta, tidak apa-apa.


Tapi aku sebelumnya minta maaf,


apa bisa tinggalkan aku berdua dengan kak Steven sebentar?


Ada hal penting yang ingin ku sampaikan padanya. "


pintaku


" Oke Na. "


jawab Okta sambil memberi kode pada Felix untuk segera turun dari mobil


" Sayang, sebenarnya ada apa?


Mengapa kamu terlihat begitu tegang?


Jujur, sebenarnya aku juga tidak ingin datang ke acara ini.


Tetapi aku sudah berjanji pada papaku untuk datang bersamanya ke sini,


dan papa sudah berangkat duluan tadi.


Sekarang papa pasti sudah berada di dalam.


Namun jika kamu keberatan untuk hadir dalam pesta ini, kita kembali saja ke hotel sekarang.


Bagaimana sayang??? "


jelas Steven dengan perlahan


" Sayang .. maafkan aku ..


Ada sesuatu hal yang harus kuceritakan padamu.


Cepat atau lambat kamu juga pasti akan mengetahuinya.


Namun sebelum kamu mengetahuinya dari oranglain dan salah paham terhadapku,


aku ingin menceritakannya padamu sekarang.


Setelah aku menceritakan semuanya,


selanjutnya terserah kamu masih mempercayaiku atau tidak. "


ucapku sambil menatapnya


" Oke, aku sudah siap mendengarnya.


Apa yang mau kamu ceritakan padaku sayang? "


sahut Steven sambil menggenggam tanganku


" Apa kamu masih ingat awal mula pertemuan kita saat aku duduk di pinggir trotoar jalan tol?


Saat itu aku sedang marah dan meninggalkan kak Bagus.


Ia adalah anak lelaki dari Ibu Margaret.


Ibu yang sudah menampungku saat aku masih lemah setelah upayaku melarikan diri dari para penculik.


Kak Bagus ini adalah orang yang pernah bertemu denganmu sewaktu di rumah sakit.


Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa.


Dia yang berusaha mengejarku namun aku masih tidak bisa menerimanya.


Karna waktu itu di dalam hatiku masih ada sosok Andika. "


jelasku


" Bagus??? Oh iya, aku sudah mengingatnya.


Dia adalah orang yang mengatakan kalau kalian berdua pernah tinggal seatap.


Lalu, apa hubungannya dengan acara pertunangan ini?


Dan juga, siapa itu Andika?

__ADS_1


Apakah dia mantan kekasihmu sayang? "


tanya Steven


" Hm .. mm ..


Andika adalah teman sekelasku.


Dulu ia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian dan cintaku.


Namun waktu itu aku masih belum bisa memberinya jawaban.


Sampai suatu saat aku dan teman-temanku pergi ke sebuah restoran.


Tetapi karna merasa sedikit mengantuk,


aku pergi ke toilet sebentar untuk mencuci muka.


Namun setelah keluar dari toilet,


tanpa sengaja aku menabrak seorang lelaki.


Kemudian lelaki itu memaki-maki diriku di hadapan semua orang meskipun aku sudah meminta maaf padanya.


Akhirnya Andika datang dan menghajar lelaki itu demi aku.


Keesokan paginya setelah kejadian itu,


aku di culik oleh mereka agar di jadikan umpan untuk upaya balas dendam mereka pada Andika.


Sewaktu aku diculik, hampir saja aku dilecehkan oleh mereka.


Namun ketua geng mereka bersimpati padaku dan melarang mereka untuk menyentuhku.


Karna tujuannya hanya untuk balas dendam pada Andika bukan kepadaku.


A .. ak .. aku sangat takut waktu itu.


Dalam hati aku selalu memanggil nama Andika,


dan berdoa agar ia tak jatuh ke dalam perangkap mereka ini.


Hiks .. hiks .. "


jelasku dengan mencucurkan airmata


" Sudah hentikan sayang.


Aku mohon jangan diteruskan lagi jika kamu belum siap untuk menceritakannya padaku. "


sela Steven sambil mengusap airmataku


" Tidak sayang, ijinkan aku melanjutkannya. "


ucapku sambil menatapnya


" Tapi sayang .. "


sela Steven


" Aku tidak apa-apa sayang. "


sahutku dengan menggenggam erat tangannya


" Baiklah sayang.


Lanjutkan, aku selalu mendengarkanmu. "


ucap Steven dengan mencium keningku


" Selang satu jam aku mendengar suara Andika dari dalam rumah itu.


Aku terkejut di buatnya, karna ia telah datang untuk menyelamatkanku.


Saat semua orang pergi keluar dan meninggalkanku seorang diri di dalam,


Setelah berhasil kabur, aku segera keluar lewat pintu belakang dan berusaha mencari bantuan untuk Andika.


Namun saat beberapa langkah keluar dari rumah itu,


aku mendengar suara tembakan dari arah depan rumah.


Seketika langkah kakiku terhenti.


Aku berfikir apakah itu Andika yang tertembak,


tetapi mengingat ia masih memerlukan bantuan maka akupun kembali berlari ke arah pemukiman penduduk berharap mendapatkan bantuan.


Kemudian saat aku berlarian,


hujan telah turun dan jalanan menjadi licin.


Akupun terpeleset dan kakiku berdarah.


Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk bangun dan melanjutkan langkahku.


Namun sayang, dalam tiga langkah aku sudah jatuh pingsan dan di temukan oleh ibu-ibu petani di sana.


Kemudian mereka semua membawaku ke rumah ibu Margaret.


Saat aku menjalani perawatan di rumahnya,


kak Bagus sedang tidak ada di rumah.


Karna ia sedang mendaftar kuliah di kota N,


tempatku tinggal.


Setelah aku sadar dari tidur panjangku,


barulah kak Bagus pulang dan kamipun bertemu.


Karna aku sudah merasa baikan,


maka aku meminta ijin pada ibu Margaret untuk pulang ke kota asalku.


Sebab aku juga ingin sekali mendengar kabar tentang Andika.


Ku akui, waktu itu kepulanganku ke kota N juga adalah untuk memberikan jawaban bahwa aku sudah memiliki perasaan sayang dan cinta padanya.


Namun sayang sekali, aku tak dapat bertemu kembali dengannya karna ia telah pindah keluar negeri tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku dan pada teman-temanku.


Sehingga aku hanya bisa memendam rasa itu dan ia tak mengetahuinya.


Itulah alasan mengapa waktu itu aku juga masih minta waktu padamu untuk menerima jawaban dariku tentang hubungan kita.


Karna dalam lubuk hatiku masih merindukannya.


Sampai suatu saat ia datang ke rumahku dan mengantarkan undangan ini.


Aku benar-benar terkejut dan tak mampu berkata apa-apa.


Dan yang kemarin malam,


kami telah kembali bertemu.


Ia datang ke kamarku dan mengajakku untuk makan malam dengannya. Tetapi aku menolaknya.


Namun tetap saja ia bersikeras memintaku untuk menemaninya.


Kemudian dengan berpura-pura pingsan di depan pintu kamarku,


ia menarik tanganku dan membawaku pergi ke restoran itu.


Akhirnya kamipun duduk bersamanya setelah beberapa lama tak bertemu.


Ia mengatakan bahwa ini adalah makan malam terakhirnya denganku sebelum ia bertunangan.

__ADS_1


Maafkan aku ya sayang karna kemarin belum sempat menjelaskan semuanya padamu.


Tentang pesta pertunangan ini,


ini juga adalah pesta pertunangannya dengan Melisa.


Wanita yang tadi malam sudah memanggilku dengan sebutan pelakor.


Itulah alasan sebenarnya aku tak ingin datang ke tempat ini.


Bukan karna aku masih mencintai Andika,


tetapi karna sikap calon tunangannya yang membuatku marah semalam.


Karna semenjak undangan ini ku terima,


sejak itulah rasa cintaku padanya sudah menghilang.


Aku datang ke negara ini dengan tulus ingin memberikannya doa restu.


Tetapi siapa sangka aku malah disalahpahami oleh calon tunangannya itu. "


ucapku dengan tangis yang terisak-isak


" Sayang, kenapa kamu semalam tidak memberitahuku kalau kamu akan datang ke negara ini?


Jika tahu dari awal, aku bisa menemani dan menjagamu. "


pinta Steven


" Aku sudah berusaha meneleponmu berkali-kali tetapi tidak ada jawaban.


Akupun sudah mengirimimu pesan singkat namun tak ada balasan satupun darimu.


Sampai kemarin siang aku seakan melihatmu di dalam hotel itu dan mengikutimu sampai di depan lift.


Namun aku tak berani memanggilmu karna takut salah orang.


Kemudian malamnya barulah kamu datang memelukku dari belakang dan menenangkanku.


Dari sana aku baru percaya bahwa siang kemarin yang aku lihat memang adalah kamu. "


sahutku


Slap ..


Steven langsung menarik tangan Nana dan ******* habis bibir mungil Nana.


Kali ini Steven dengan lembut memainkan bibir Nana dan menikmati setiap ciuman mereka.


Nana yang masih merasa kacau-balau dengan perasaan nya,


kini hanya bisa pasrah dengan ciuman Steven yang secara bertubi-tubi memainkan lidahnya di bawah lidah Nana.


Setelah beberapa menit dan melihat Nana sudah merasa tenang,


Steven menghentikan ciumannya.


" Maafkan aku sayang ..


Aku melakukan ini untuk menenangkan dirimu.


Jika kamu ingin menamparku,


tampar saja sayang.


Aku tidak akan menyalahkanmu. "


pinta Steven


Kemudian Nana memeluk tubuh kekar Steven dan berbisik padanya :


" Berjanjilah jangan pernah kecewakan aku. "


ucap Nana pelan


Kemudian dengan cepat Steven memakaikan kalung dengan lionton berbentuk hati di leher Nana.


" Kalung ini adalah bukti cinta dan sayangku padamu.


Saat aku tak berada di sampingmu,


dan saat kamu sedang bersedih,


kamu bisa mengingatku lewat kalung ini.


Kalung ini juga ibarat hatiku yang sudah kutinggalkan untukmu seorang. "


ucap Steven sambil memegang kedua pipiku


" Aku pasti menjaga kalung ini dengan baik.


Dan akan memakainya ke manapun aku pergi.


Agar aku tidak merasa kesepian lagi.


Makasih sayang. "


sahut Nana sambil tersenyum


" Sama-sama sayang. "


ucap Steven dengan mencium kedua telapak tangan Nana


Tok .. tok .. tok ..


Terdengar suara ketukan di depan kaca mobil kami.


Sriet .. sriet ..


Dengan cepat kak Steven membuka kaca mobil yang berada di sebelah kiriku.


" Sudah selesai belum diskusinya?


Lama amat sih?


Kita berdua udah jamuran nih nunggu kalian dari tadi. "


tanya Okta


Tak banyak bicara,


aku segera turun dari mobil dan menggandeng tangan Okta.


Kemudian kamipun berjalan masuk ke dalam tempat pesta itu.


" Gimana bro?


Sudah beres semuanya? "


tanya Felix sambil menepuk pundak Steven


" Beres bro. "


sahut Steven sambil mengedipkan mata


" Gue doa'in semoga kamu adalah pria yang benar-benar bisa membahagiakan Nana.


Supaya Nana ada pasangannya sendiri dan gak ganggu'in kencan gue sama Okta lagi.


Hahahahahaha "


ucap Felix dengan penuh percaya diri


" Siap bro. "


sahut Steven

__ADS_1


__ADS_2