Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
83) Pesta pertunangan Andika


__ADS_3

Tak berlama-lama kami berempat sudah masuk ke dalam pesta pertunangan Andika.


Semua orang terlihat bahagia dan begitu menikmati pesta ini.


" Kita ke sana yuk Ta.


Kepalaku pusing melihat banyak orang berkumpul di sini. "


ucapku


" Haish, namanya pesta ya pasti banyak orang Na.


Kalau sepi namanya kuburan. "


sahut Okta dengan menggelengkan kepala


" Kalau kamu gak mau ikut aku ke sana,


ya sudah biar aku sendiri aja yang ke sana. "


jawabku dengan berpaling meninggalkan Okta


" Sudah sayang tidak apa.


Itu kak Steven sudah menyusul Nana ke sana.


Sekarang kita nikmati aja pestanya ya. "


sahut Felix dengan menggandeng tangan Okta


Akhirnya kami berempat berpisah di tengah kerumunan orang di sana.


" Fiuh, untung aku menemukan tempat duduk di sini.


Dadaku serasa sesak saat berada di dalam tadi. "


gumamku dalam hati


Kemudian akupun menyadarkan punggungku pada ayunan yang cukup besar ini dan memejamkan mataku dengan perlahan.


Muach ..


Sebuah ciuman telah mendarat di keningku.


Dengan cepat aku membuka kedua mataku.


" Iiihhh .. apa'an sih sayang, bikin kaget aku aja. "


ucapku kesal


" Maaf deh sayang.


Habisnya aku gak tahan melihat wajahmu yang imut itu, jadinya langsung deh aku cium. "


sahut Steven


" Tapi inikan tempat umum sayang.


Malu tahu di lihatin orang. "


bisikku pelan


" Kenapa harus malu sayang?


Justru aku ingin semua orang tahu kalau kamu adalah calon istriku.


Jadi tak akan ada seorangpun yang berani merebutmu dariku. "


terang Steven


" Hmm .. mmm .. terserah kamu aja deh. "


sahutku dengan kembali menutup kedua mataku


" Eits, jangan tidur lagi dong sayang.


Kita ke sana sekarang ya. Yuk, ikut aku. "


ajak Steven sambil menarik tangan kananku


" Tu .. tu .. tunggu dulu, kita mau ke mana sih?


Pelan-pelan dikit dong jalannya. Capek tahu .. !!! "


sahutku dengan cemberut


" Nah sekarang kita sudah sampai.


Pa, ini Nana. Nana, ini papaku.


Kalian sudah lama tidak bertemukan?


Berkat usahaku akhirnya sekarang kalian bisa saling tatap muka. "


ucap Steven bangga


" Halo om, apa kabar? "


sapaku sambil tersenyum dengan mengulurkan tangan kanan


" Hai sayang. Kabar om baik. (menjabat tangan Nana)


Terima kasih atas perhatiannya. (melepas tangan Nana)


Oh ya, bagaimana keadaan Pak Roni sekarang?


Om dengar dari Steven beberapa waktu yang lalu Pak Roni mengalami kecelakaan kerja,


apa benar begitu sayang? "


ucap om Ngui cemas


" Keadaan papa sekarang sudah baik'an om.


Ini juga berkat pertolongan dari kak Steven yang mau Nana repotin terus untuk mengantar papa kontrol ke dokter. "


sahutku sambil tersenyum


" Bagus itu.


Sebagai calon menantu,


memang seharusnya untuk selalu bisa membantu.


Jadi sayang, ke depannya jangan sungkan-sungkan ya untuk meminta tolong apapun pada nak Steven. "


terang om Ngui


" Ehem .. hm ..

__ADS_1


Pa, tolong jangan panggil Nanaku dengan sebutan sayang dong.


Karna sebutan sayang itu hanya Steven yang boleh mengucapkannya pada Nana. "


sahut Steven dengan cemberut


" Astaga, apa-apa'an sih kak?


Masa sama papa sendiri aja cemburu?


Papaku aja juga panggil aku dengan sebutan sayang,


kenapa om Ngui gak boleh panggil aku dengan sebutan sayang juga? "


sela ku


" Sudah-sudah jangan bertengkar lagi.


Papa akan panggil Nana dengan sebutan lain saja kalau begitu.


Nak Nana, tidak keberatankan kalau om panggil dengan sebutan nak seperti barusan ini? "


pinta om Ngui


" Iya om tidak apa. "


jawabku sambil tersenyum


" Oh ya nak Nana, hampir saja om lupa.


Untuk persiapan lamaran dan pertunangan kalian,


semuanya sudah om dan tante selesaikan.


Bulan depan kita semua akan datang ke rumah nak Nana untuk melaksanakan pertunangan kalian.


Seminggu kemudian baru kita semua akan mengadakan pesta semacam ini di rumah nak Nana.


Bahkan kita adakan yang lebih meriah dari pesta ini ya. "


ucap om Ngui


" Terima kasih om.


Tapi mohon maaf sebelumnya,


Nana tidak ingin ada perayaan yang terlalu mewah.


Karna bagi Nana yang terpenting bukan tentang perayaannya,


tetapi yang terpenting adalah kesakralan dari pertunangan ini. "


jelasku


" Memang tidak diragukan lagi,


Steven tidak salah memilihmu sebagai pendamping hidupnya.


Pemikiranmu sungguh sangat dewasa.


Om salut sekali denganmu.


Karna setahu om, biasanya anak muda seperti kalian ini sukanya pesta yang mewah-mewah.


Tetapi kamu ini memang berbeda dengan mereka semua.


Ya sudah, om akan turuti semua keinginanmu itu.


Sekarang silahkan kalian nikmati lagi pesta ini.


Om masih ada urusan lainnya.


Sampai bertemu lagi nak Nana,


salam untuk Bapak dan Ibu Roni ya. "


ucap om Ngui


" Iya om nanti akan saya sampaikan ke papa dan mama.


Terima kasih banyak ya om. "


sahutku sambil tersenyum


" Papa hati-hati di jalan ya pa. "


ucap Steven dengan melambaikan tangan


" Iiiii ... kenapa kamu gak kasih tahu aku dulu sih kalau tadi mau ketemu om di sini?


Tahu gitu tadi aku 'kan bisa cuci muka dulu supaya gak kelihatan kumus-kumus begini. "


ucapku dengan mencubit perut kak Steven


" Ampun .. ampun .. sayang, jangan cubit lagi .. awh ..awh .. sakit .. sakit .. "


rengek Steven


" Hiiissh, jangan merengek begitu.


Kalau tidak nanti orang lain akan memarahiku karna telah menindasmu di sini. "


sahutku dengan melepaskan cubitanku


Muach ..


Sebuah ciuman telah mendarat pipi kananku


" Itu adalah hukuman karna telah mencubitku tadi. "


ucap Steven sambil mengedipkan mata


" Dasar genit ... !!! "


sahutku kesal


" Memang aku genit, tapi genitnya cuma buat kamu aja sayang.


Jadi sekarang mau aku cium juga nih pipi yang satunya lagi? "


goda Steven


" Na .. "


sapa seseorang dari arah belakangku


Astaga, suara ini .. ini adalah suaranya Andika.


Haruskah aku berbalik badan dan menyapanya juga?

__ADS_1


Atau aku harus pergi meninggalkannya sekarang?


" Hai Andika, selamat ya untuk pertunanganmu dengan Melisa. "


ucap Steven sambil mengulurkan tangan kanannya


" Terima kasih. "


balas Andika dengan menjabat tangan Steven dan melirik ke arah Nana


Karna kak Steven sudah mengucapkan selamat pada Andika, jadi akupun juga harus mengucapkan selamat untuknya.


Kemudian akupun membalikkan badan.


" Selamat ya Ndika. "


ucapku sambil mengulurkan tangan kanan


" Makasih ya Na.


Makasih juga karna sudah mau datang ke acara pertunanganku ini. "


sahut Andika dengan tersenyum dan menjabat tanganku


Melihat Andika telah menjabat tanganku dengan cukup lama,


kak Steven menjadi geram dan diliputi dengan rasa cemburu.


Diam-diam aku melirik ke arahnya dan melihat mukanya sudah memerah karna menahan amarahnya.


" Hmm .. mm ..


Oh ya Ndika, kenalin ini kak Steven,


calon suamiku yang kemarin malam aku ceritakan padamu.


ucapku sambil berusaha melepaskan tangan Andika


" Hai .. Selamat ya ..


Kamu adalah lelaki yang beruntung,


karna telah berhasil meluluhkan hati Nana.


Dulu aku belum bisa mendapatkan kesempatan untuk meluluhkan hatinya. "


sahut Andika sambil melihat ke arahku


" Terima kasih.


Aku memang lelaki yang sangat-sangat beruntung,


karna telah memilikinya sekarang.


Namun jika ada lelaki lain yang berusaha merebutnya dariku, tentunya aku tak akan tinggal diam begitu saja. "


jawab Steven sambil melingkarkan tangannya ke pinggangku


Aku yang berada dalam situasi ini,


benar-benar merasa tertekan oleh hawa dingin mereka berdua yang ingin bersaing satu sama lain.


" Ndika, semoga kamu tidak lupa bahwa mulai hari ini kamu adalah tunangan dari perempuan lain.


Jadi jangan pernah berharap hubungan kita akan kembali seperti dulu.


Semuanya sudah berubah oleh waktu dan tak lagi sama.


Takdir kita bukan kita yang menentukan,


semua telah di atur oleh yang Mahakuasa.


Jadi jangan pernah menyesalinya.


Kini waktunya bagi kita untuk melangkah di jalan kita masing-masing. "


ucapku sambil menundukkan kepala


" Na .. memang kita tak dapat bersatu kembali.


Tapi ijinkan aku untuk tetap menjadi teman baikmu,


yang selalu bisa menghibur dan menemanimu saat kamu sedang terluka dan bersedih.


Aku akan selalu ada untukmu, Na .. "


pinta Andika


" Nana tidak akan terluka dan bersedih.


Sebab aku pasti selalu mendampingnya,


dan juga selalu membahagiakannya.


Sekarang yang sebenarnya butuh dukungan dan perhatianmu adalah tunanganmu yang telah berdiri di belakangmu sejak dari tadi. "


sela Steven


" Me .. Melisa .. "


ucapku bersama'an dengan Andika


Kemudian Melisa berlari meninggalkan kami sambil menangis.


" Pergilah Ndika .. kejarlah Melisa ..


Saat ini dia adalah pasangan hidupmu.


Jangan pernah kamu sia-siakan perempuan sebaik dirinya.


Dan mulai saat ini ..


Tolong kau lupakan diriku juga semua kenangan di antara kita.


Semuanya sudah berakhir sekarang. "


ucapku sambil berpaling meninggalkannya


Sambil terus berjalan ke depan,


aku bergumam dalam hati :


Tujuanku datang ke sini sebenarnya adalah untuk memberikanmu doa restuku dengan tulus.


Tetapi aku tak tahu ternyata akan terjadi peristiwa seperti ini di pesta pertunanganmu dengan Melisa.


Maafkan aku Ndika ..


Semua tentang kita sudah berakhir sekarang.

__ADS_1


Semoga kelak kau dan Melisa selalu berbahagia ..


Kemudian aku menggenggam tangan Kak Steven dan mengajak Okta juga Felix untuk pergi meninggalkan pesta ini.


__ADS_2