
"Kak, bagaimana kabarmu?
Oh ya, ini aku bawakan makanan untuk kakak.
Silahkan dimakan selagi hangat."
ucap Lily pada kakaknya.
"Terima kasih ya Li.
Kamu taruh di meja sebelah sana saja,
sebentar lagi kakak akan selesai menulis laporan medis ini."
sahut Leony, kakaknya Lily.
"Baiklah kak.
Hm .. bagaimana perkembangan kedekatan kakak dengan dokter ganteng yang bernama Edo itu?"
tanya Lily penasaran.
"Tidak ada perkembangan Li.
Dokter Edo selama tiga tahun ini hanya menganggapku sebagai rekan kerjanya saja.
Ia tidak pernah melihat perhatian dan juga cintaku ini padanya."
jelas Leony sambil tetap menulis laporan medis.
"Apa tidak apa kak bercerita sambil mengobrol begini?
Apa nanti tidak ada kesalahan dalam laporan itu?"
goda Lily.
"Kakak sudah terbiasa menulis laporan seperti ini.
Tidak mungkin ada kesalahan.
Kamu tenang saja."
sahut Leony.
"Oke-oke .. Kakakku memang yang terbaik,"
ucap Lily sambil melirik ke laporan yang sedang di tulis oleh Leony.
"Kamu sedang lihat apa Li?"
tanya Leony.
"Mau lihat laporan medis siapa sih yang sedang kakak tulis itu.
Eits, tunggu kak ..
Bukannya ini teman sekelasku yang namanya Nana ya?
Memangnya dia sakit apa kak?
Kok sampai melakukan CT scan di sini?"
tanya Lily bertubi-tubi.
"Oh ya? Jadi kalian teman sekelas?
Sebenarnya dia hanya mengidap penyakit anemia (penyakit kekurangan darah) saja,
tetapi dokter Edo kemarin mendiagnosa dia terkena tumor otak.
Jadi dia meminta Nana untuk melakukan CT scan di sini.
Kakak sebenarnya juga heran,
mengapa perlakuan dokter Edo pada Nana ini tidak seperti biasanya.
Seakan dia di perlakukan spesial olehnya."
jelas Leony.
"Apa mungkin dokter Edo diam-diam menyukai Nana???
Tidak .. tidak ..
Tempo hari waktu di dalam kelas dengan jelas Okta bilang padaku kalau kak Steven adalah calon tunangannya Nana.
Jika benar dokter Edo jatuh cinta pada Nana,
maka usaha kakak mendekati dokter Edo selama tiga tahun ini sudah bisa dipastikan tidak akan membuahkan hasil.
Bagaimana kalau kita bekerjasama untuk membuat Nana menderita kak?
Sebab akupun ingin merebut kak Steven dari Nana.
Dia sama sekali tidak pantas bersama dengan kak Steven,
akulah yang lebih pantas untuk kak Steven."
tegas Lily.
"Tidak Li!!!
Apapun rencanamu,
kakak tidak akan mau bermain trik kotor.
Sebab kakak juga tidak bisa mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.
Kakak harus bersikap profesional di sini."
sahut Leony.
"Mengapa kakak tidak setuju?
Bukankah nanti kakak juga bisa selalu di sisi dokter Edo jika Nana tidak ada lagi di dunia ini?"
__ADS_1
jawab Lily dengan senyum liciknya.
"Maksudmu apa Li?
Apa sebenarnya yang kamu rencanakan?
Kamu jangan sekali-kali melakukan sesuatu yang bisa melanggar hukum!!!
Kakak tidak mau kamu mendekam lama di balik jeruji penjara di saat usiamu masih muda seperti ini."
sahut Leony kuatir.
"Sudahlah kak, jangan kuatir berlebihan seperti itu.
Aku hanya ingin melihat Nana frustasi dan tidak memiliki semangat untuk hidup.
Kemudian ia perlahan-lahan akan meninggalkan kak Steven.
Setelah itu aku akan muncul untuk merebut perhatian dan cinta dari kak Steven.
Begitu juga dengan kakak.
Apakah itu tindakan kriminal kak?
Tidak bukan???"
jelas Lily.
"Oh, kakak kira tadi kamu akan menyewa pembunuh bayaran untuk menyingkirkan Nana.
Untunglah tidak seperti itu yang kamu pikirkan tadi.
Lalu bagaimana caramu untuk membuat Nana frustasi seperti yang kamu katakan itu?"
tanya Leony penasaran.
"Itu sangat mudah kak.
Tetapi aku membutuhkan bantuan kakak untuk melakukan sesuatu."
jawab Lily.
"Apa itu?"
tanya Leony.
"Tolong kakak ubah laporan medis Nana dan hasil CT scan Nana ini."
sahut Lily sambil mengedipkan mata.
"Tidak Li .. tidak ..
Kakak tidak bisa melakukan itu.
Karna jika ketahuan oleh pihak rumah sakit,
kakak bisa di pecat dari sini dan reputasi kakak akan hancur di mata publik.
Prestasi yang kakak bangun selama tiga tahun ini akan hancur begitu saja.
jawab Leony dengan cemas.
"Kakak jangan risau.
Jika tidak ada tempat lagi untuk kakak bekerja,
kakak bisa bekerja di perusahan ayah,"
sahut Lily sambil menepuk pundak Leony.
"Tidak Li ..
Pokoknya kakak tidak bisa melakukan hal kotor seperti itu!!!"
tegas Leony.
"Ya sudah kalau memang kakak tidak mau.
Lily juga tidak bisa memaksa kakak.
Sekarang kakak rileks dulu.
Ayo minum air mineral ini dulu kak,"
ucap Lily sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Oke .. oke .. terima kasih Li."
sahut Leony sambil menerima botol air tersebut.
Glek .. glek .. glek ..
"Ah .. lega rasanya.
Haus kakak sudah hilang dan kakak jadi lebih rileks sekarang.
Terima kasih Li.
Sekarang kakak lanjut tulis laporan ini dulu ya."
ucap Leony.
"Sama-sama kak."
sahut Lily dengan senyum liciknya.
Setelah meminum air itu,
Leony kembali melanjutkan menulis laporan medis Nana dan mencetak hasil CT scan Nana.
Lima menit kemudian ..
"Ah .. akhirnya selesai juga pekerjaan hari ini,"
ucap Leony sambil merenggangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Mau aku bantu antarkan ke ruangannya dokter Edo kah kak?"
pinta Lily.
"Tidak perlu Li.
Kakak bisa mengantarnya sendiri ke sana,"
sahut Leony sambil berdiri dari tempat duduknya.
Saat akan membuka pintu,
tiba-tiba kepala Leony terasa berat dan ..
Bruak ..
Leony jatuh pingsan dan berkas-berkas yang sudah ia kerjakan tadi berhamburan di lantai.
"Bagus, obatnya sudah bekerja.
Sekarang waktunya untukku mengubah semua laporan medis Nana dan hasil CT scan ini.
Maafkan aku ya kakak ..
Aku terpaksa memberimu obat bius karna aku tidak ingin rencanaku ini gagal gara-gara dirimu yang tak mau bekerjasama denganku,"
ucap Lily sambil memapah Leony untuk tidur di atas sofa di dekat meja komputernya.
Setelah beberapa menit kemudian,
Lily telah berhasil merubah semua isi berkas-berkas yang akan Leony serahkan pada dokter Edo.
Kemudian ia memanggil seorang suster untuk meminta tolong mengantarkan berkas-berkas itu ke ruangan dokter Edo dengan alasan kalau Leony sedang berada di dalam toilet dan berkas-berkas itu sedang di tunggu oleh dokter Edo.
Jadi dengan cepat suster itupun mengantarkan berkas-berkas itu ke ruangan dokter Edo.
"Habislah kau kali ini Na.
Aku ingin lihat berapa lama kamu akan kuat menghadapi kenyataan pahit ini yang sudah aku berikan padamu."
gumam Lily dalam hati.
Setelah melihat rencananya separuh jalan telah berhasil,
Lily berusaha menghilangkan jejaknya dengan menghapus rekaman cctv yang berada di dalam ruangan kerja Leony.
Dan akhirnya Lily bergegas untuk pulang agar perbuatannya tadi tidak di curigai oleh Leony.
Saat hendak keluar dari rumah sakit,
Lily tanpa sengaja melihat Steven.
"Ternyata hanya kak Steven yang mengambil hasil CT scan Nana.
Aku kira Nana akan ikut datang ke rumah sakit ini juga.
Tapi tak apa, ini adalah kesempatan yang bagus untuk memperkenalkan diriku pada kak Steven tanpa di ganggu oleh Nana dan Okta."
ucap Lily pelan.
Bruak ..
"Ups, sori - sori ..
Tadi aku benar-benar gak sengaja nabrak kamu,"
ucap Lily sambil mengelap jas yang dikenakan oleh Steven.
"Tidak apa."
sahut Steven singkat.
"Sekali lagi sori ya ..
Oh ya, bagaimana kalau aku bawa jas ini sebentar untuk ku bilas dengan air bersih di kamar mandi?"
pinta Lily.
"Tidak .. tidak perlu.
Aku masih bisa membersihkannya sendiri."
sahut Steven singkat.
"Karna kamu tidak mau aku bantu bersihkan,
ini aku kasih kamu kartu namaku.
Nanti kamu bisa meneleponku dan memberitahuku nomor rekeningmu untuk ku trasfer sebagai biaya ganti rugi jas ini."
ucap Lily sambil menyodorkan kartu namanya.
Karna malas meladeni Lily,
Steven bergegas pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.
Dan kartu nama yang di berikan Lily juga tak di hiraukan oleh Steven.
"Hei tunggu .. !!!
Kita bahkan belum kenalan,
tapi kamu langsung aja pergi meninggalkanku seperti ini."
gerutu Lily.
Dengan muka yang sangat kesal Lily terus memandangi punggung Steven yang sudah semakin menjauh darinya.
"Tunggu saja, suatu saat kamu pasti jadi milikku."
ucap Lily pada dirinya sendiri.
Setelah Steven sudah menghilang dari pandangannya,
Lily akhirnya juga pergi meninggalkan rumah sakit itu.
__ADS_1