Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
79) Salah paham


__ADS_3

" Kamu bilang apa tadi Ndika?


Sori aku gak seberapa dengar karna lagi fokus melihat bunga-bunga di taman itu. "


sahutku dengan tetap melihat ke arah taman


" Melisa .. ??? "


sapa Andika


Mendengar Andika memanggil nama calon tunangannya itu, spontan aku menoleh ke arahnya.


" Hai sayang.


Oh ya, kalian tidak keberatankan kalau aku ikut bergabung makan di sini dengan kalian? "


sahut Melisa sambil tersenyum


" Tentu saja tidak sayang.


Ayo duduk di dekatku sini. "


ajak Andika


" Makasih ya sayang.


Oh ya sayang, kenapa kamu makan malam di sini tapi tidak mengajakku?


Dan siapa perempuan ini?


Mengapa dia yang menemanimu di sini? "


tanya Melisa heran


" Hai, kenal'in namaku Nana. "


ucapku sambil mengulurkan tangan kanan


" Hai, aku Melisa.


Oh ya, apa kamu sudah tahu kalau aku dan Andika besok sudah akan bertunangan?


Jadi tolong kamu tinggalkan kami sekarang,


atau kamu lebih suka di pandang orang sebagai pelakor? "


ucap Melisa sinis


" Hai Na, sori banget ya kita telat nih.


Kamu sama Andika gak nunggu lamakan? "


sahut Okta sambil menurunkan tangan kananku


" Iya Ndika, sori banget ya.


Soalnya tadi kita mampir ke supermarket dulu,


jadi telat deh sampai sini.


Astaga, karna kita datangnya terlambat,


jadinya reuni kita malam ini juga jadi terlambat.


Sekali lagi sori ya Ndika .. "


ucap Felix


" Oh ya Na, apa kamu dan Andika sudah pesan makanan? "


tanya Okta


" Ta, sepertinya nafsu makanku sudah hilang sekarang.


Apa bisa kita kembali ke kamar saja? "


sahutku sambil memegang tangan Okta


" Oh, aku tahu kenapa nafsu makanmu hilang.


Pasti karna ada seseorang yang tidak tahu malu yang hanya asal menuduhmu tadi.


Hm, nafsu makanku mendadak hilang juga.


Ya sudah, ayo kita kembali ke kamar saja. "


ajak Okta


" Tapi Na, kamu belum makan apapun tadi.


Kita makan sama-sama ya sebentar di sini.


bujuk Andika


" Sori Ndika. "


sahutku dengan meninggalkan tempat dudukku


" Na, tolong makanlah dulu sebentar.


pinta Andika sambil berdiri di depanku


" Ndika, kenapa kamu malah ngurusin perempuan gak jelas ini sih?


'Kan masih ada aku di sini yang bisa nemani kamu makan malam? "


jawab Melisa


" Aku gak bakal sakit Ndika hanya karna gak makan di sini.


Tapi tolong kamu beri penjelasan pada calon tunanganmu ini agar dia tidak asal menyebut perempuan lain sebagai pelakor.


Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu,


akupun juga sudah ada calon tunangan.


Jadi kamu sudah mengerti maksudku 'kan? "


sahutku sambil pergi meninggalkan mereka


" Ndika, lebih baik kamu ajari dulu tentang sopan santun sama calon tunanganmu itu ya.


Kalau enggak, ke depannya aku gak bakal bersikap lunak lagi padanya. "


ucap Okta sambil menepuk pundak Andika


Kemudian aku, Okta, dan Felix pergi dari tempat itu dan berjalan menuju ke kamar.


Saat sudah hampir sampai di kamar,


langkah kakiku tiba-tiba terhenti dan airmata yang sudah ku tahan dari tadi kini sudah menetes membasahi kedua pipi bulatku ini.


Okta dan Felix yang berjalan di belakangku,

__ADS_1


saat ini mereka tak berani mengeluarkan suara apapun.


Badan ini sudah sangat lelah di tambah lagi dengan perasaan yang menyakitkan ini,


seakan-akan membuatku sulit untuk bernafas.


" Na .. "


panggil seseorang yang langsung datang dan memelukku dari belakang


" Kak .. kak Steven??? "


panggilku


" Iya sayang, aku di sini.


Tolong jangan menangis lagi.


Hatiku terasa sakit saat airmatamu membasahi pipi indahmu ini.


Mulai saat ini, jangan pernah sia-siakan airmata ini untuk lelaki seperti itu.


Ingat kalau kamu sekarang adalah milikku,


jadi jangan pernah menangis untuk lelaki lain.


Oke? "


sahut Steven sambil mengeratkan pelukannya


Akupun mengangguk perlahan dan membalikkan badanku.


Kini aku dan dirinya saling berhadap-hadapan.


Dengan lembut ia menyeka airmataku dan mencium keningku.


Kemudian dengan spontan akupun langsung memeluknya.


" Hm, maaf kak. "


ucapku sambil melepaskan pelukanku


" Untuk apa meminta maaf sayang?


Kamu ini 'kan pacarku, jadi wajar dong kalau kamu memelukku.


Atau kamu ingin aku di peluk oleh perempuan lain? "


goda Steven


" Iiih, dasar genit. "


sahutku dengan tersenyum sambil mencubit perutnya


" Nah gitu dong tersenyum, 'kan jadi enak kalau di liat,


dan cantikmu ini juga semakin bertambah. "


ucap Steven sambil memegang kedua pipiku


" Ehem .. hmm .. mm ..


Jadi apa kita bisa makan sekarang?


Ini aku sama Felix sudah beli banyak makanan. "


sahut Okta


Saat Okta berkata-kata,


Melihat keadaanku yang lemas dan hampir pingsan,


kak Steven dengan sigap menggendongku masuk ke dalam kamarnya.


Okta dan Felix juga mengikutiku masuk ke kamar kak Steven.


Dengan perlahan dan hati-hati kak Steven membaringkanku di atas tempat tidurnya.


Kemudian Okta memberikanku minum agar aku dapat merasa sedikit tenang.


Sedangkan Felix dan kak Steven sibuk menyiapkan makan untuk kita semua.


" Na, kenapa kamu tadi bisa berdua'an sih sama Andika?


Kamu 'kan tahu hubungan kalian sudah berakhir dan kalian berdua sudah sama-sama memiliki calon tunangan sekarang.


Untung aja tadi aku dan Felix datang di waktu yang tepat.


Kalau tidak, entah apa yang akan di perbuat oleh nenek lampir itu sama kamu. "


ucap Okta kesal


" Ta, sebenarnya aku tadi sudah menolak untuk ikut pergi dengannya.


Tapi dia berhasil mengelabuhiku dengan pura-pura pingsan di samping pintu kamar kita.


Dan begitu aku berusaha membangunkannya,


tiba-tiba ia langsung menggendongku dan membawaku ke sana untuk makan malam.


Akupun tidak menyangka kalau akan terjadi kesalahpahaman di antara aku dan calon tunangannya itu. "


jelasku dengan tubuh yang masih lemas


" Huh, dasar Andika selalu aja begitu.


Awas aja kalau aku ketemu dia lagi,


pasti ku hajar dia. "


sahut Okta dengan kesal


" Kalian lagi ngobrol'in apa ini?


Kok kelihatannya seru banget?


Oh ya, makanannya sudah siap.


Kita bisa makan sekarang. "


ucap Steven


" Ta, ayo ke sini makan sama aku. "


ajak Felix


" Oke. "


jawab Okta


Kemudian Okta dan kak Steven bergantian untuk menjagaku.


Kini Okta telah duduk di ruang makan bersama dengan Felix.

__ADS_1


Sedangkan kak Steven yang menemaniku di dalam kamar ini.


" Makan ya sayang.


Ini aku suap'in kamu. "


pinta Steven


" Makasih ya sayang. "


sahutku sambil tersenyum


" Sama-sama sayang. "


ucap Steven sambil mencium keningku


Nyam .. nyam .. nyam ..


" Gimana sayang? Enakkan makanannya? "


tanya Steven dengan penuh perhatian


" Iya enak sayang. "


jawabku


" Tentu saja enak, ini adalah bubur kesukaanku yang selalu aku beli saat aku berada di sini.


Tadi siang aku sengaja memesan ini untuk kumakan malam nanti.


Tak ku sangka ternyata sekarang kamu yang memakannya sayang.


Bearti tak sia-sia aku menyiapkan ini semua. "


ucap Steven sambil tersenyum


" Oh ya sayang, kenapa kamu juga berada di hotel ini?


Terus tadi juga bisa tiba-tiba memelukku dari belakang?


Seakan-akan ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan saat aku tahu itu benar-benar kamu yang memelukku sayang. "


sahutku dengan penuh rasa penasaran


" Sebenarnya tadi saat aku berada di dalam lift,


aku melihatmu berdiri di depan lift.


Saat aku ingin kembali menemuimu,


ternyata kamu sudah tidak ada lagi di sana.


Karna aku penasaran apa itu benar kamu,


jadi aku ingin memastikannya dengan bertanya ke bagian resepsionis apa ada namamu atau Okta yang baru check-in di hotel ini.


Dan ternyata benar, nama Okta tercatat di sana.


Dengan senang hati aku kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk menjemputmu.


Namun lagi-lagi aku tak berhasil bertemu denganmu.


Kemudian saat aku masuk ke dalam restoran,


aku melihatmu sedang duduk dengan lelaki itu.


Dengan rasa cemburu yang meluap-luap aku ingin menghampirimu.


Namun ternyata di sana sudah ada teman-temanmu.


Aku terus mengamatimu dari jauh.


Dan saat aku melihatmu keluar dari sana dengan tergesa-gesa,


dengan cepat aku mengikutimu dari belakang.


Melihatmu meneteskan airmata,


aku tak tahan melihatnya dan segera berlari untuk memelukmu.


Aku tak mau orang yang aku sayangi menderita seperti ini dan menangisi lelaki lain. "


jelas Steven


" Ma .. maaf ya sayang .. "


sahutku sambil menundukkan kepala


" Iya sayang tak apa.


Sudah lupakan saja kejadian tadi.


Sekarang kamu makan dulu yang kenyang ya sayang, kemudian istirahat. "


pinta Steven


Setelah beberapa menit aku sudah selesai makan.


Okta dan Felix juga sudah selesai makan dan datang menjemputku untuk kembali ke kamar kami.


" Na, kita kembali ke kamar ya.


Kamu istirahat saja di sana,


biar aku saja yang menjagamu nanti. "


ajak Okta


" Tunggu sebentar, kenapa Nana gak istirahat di sini saja dan aku yang menjaganya? "


tanya Steven


" Tidak bisa, aku sudah berjanji pada kedua orangtua Nana untuk selalu menjaganya. "


jawab Okta sinis


" Lalu Felix kenapa boleh ikut masuk ke kamar kalian juga? "


tanya Steven


" Siapa bilang dia tidur di kamar kita?


Dia sudah ada kamar sendiri di sebelah kamar kita.


Lelaki dan perempuan di larang berdua-dua'an di dalam kamar sebelum menikah.


Haram hukumnya !!! "


seru Okta


Mendengar perkataan Okta,


kak Steven sudah tidak menghalangi kami untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


Kemudian kamipun pergi meninggalkan kamar kak Steven dan beristirahat di kamar kami masing-masing.


__ADS_2