Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
77) Nana dan kawan-kawan tiba di luar negeri


__ADS_3


Pesawat yang kami tumpangi sudah meninggalkan bandara dan berangkat menuju negeri yang akan kami kunjungi.


Namun saat ini perasaanku bercampuk aduk,


ada rasa takut, bimbang, dan juga gugup.


Apakah aku benar-benar bisa bertemu Andika dengan ekspresi bahagia nantinya?


Meskipun kini akupun sudah mendapatkan seorang pendamping yang begitu menyayangiku,


tetapi sekarang aku tak datang bersamanya.


Akankah ia percaya bahwa aku sudah bisa melupakannya?


Huft, semakin di pikir semakin rumit saja ..


Lebih baik aku melihat pemandangan di luar jendela saja, siapa tahu aku bisa mengurangi rasa kuatirku ini.


" Na .. apa kamu baik-baik saja? "


tanya Okta sambil menepuk pundakku


" Iya Ta, aku gak apa-apa kok.


Cuma sedikit gugup aja. "


jawabku sambil tersenyum


" Lho, kenapa mesti gugup Na?


Kamu harus percaya diri dong !!!


Pokoknya kamu nanti harus tampil beda dan semenawan mungkin agar Andika benar-benar tidak bisa memalingkan wajahnya darimu.


Aku ingin melihatnya menyesal seumur hidup karna sudah meninggalkanmu. "


ucap Okta kesal


" Sudah Ta jangan begitu.


Kasihan nanti tunangannya Andika pasti sedih,


kalau nanti ia melihat Andika selalu memperhatikanku dan bukan dirinya.


Hmm, aku nanti pakai baju yang biasa aja ya Ta,


karna aku gak suka kalau jadi pusat perhatian.


Gak enak tahu, bikin grogiku makin bertambah. "


sahutku sambil meremas-remas kedua tanganku


" Ya sudah Na terserah kamu aja.


Kamu bisa pakai apapun yang kamu suka dan yang bisa buat kamu nyaman.


Yang penting kamu harus jadi dirimu sendiri dan penuh percaya diri.


Nanti setelah kita memberi selamat pada Andika,


langsung aja kita balik ke hotel.


Jadi kita gak perlu nunggu acaranya sampai selesai dan kamu juga gak perlu lama-lama di sana.


Gimana Na, kamu setujukan??? "


pinta Okta


" Iya Ta, gitu aja juga boleh.


Makasih banyak ya Ta,


kamu memang sahabat terbaikku. "


sahutku sambil memeluknya


" Ya sudah, nanti kita beritahu Felix tentang rencana kita ini.


Sekarang kamu siap-siap ya,


kita sudah akan sampai sebentar lagi. "


ucap Okta


" Oke Ta. "


sahutku dengan bersemangat



Seperti kata Okta tadi,


tak lama kemudian pesawat kamipun segera mendarat karna kami sudah sampai di tempat tujuan.


Fiuh, sekarang kami sudah menginjakkan kaki di sini.


Tapi apakah ini merupakan keputusan yang benar untuk datang ke sini?


Karna sampai saat ini, hatiku masih saja merasa di lema.


" Ayo Na jalan, jangan bengong di tengah jalan.


Kalau gak nanti kamu bakal di tabrak orang banyak. "


teriak Okta


Lamunanku langsung memudar saat aku mendengar teriakan Okta tadi.


" Hm, iya Ta iya. "


sahutku perlahan


Setelah keluar dari bandara,


Felix segera memanggil taksi untuk mengantarkan kami ke hotel tempat kami menginap malam ini.


Selang 15 menit kemudian kami sudah sampai di hotel.


Wuuooooaaahh ... mewah sekali hotel ini.


Melihat hotel ini dari luar, aku sudah terpanah.


Bagaimana reaksiku ketika aku melihat bagian dalam hotel ini?


Bisa-bisa aku pingsan nantinya.


" Ta, kamu yakin kita mau menginap di sini? "


bisikku pada Okta


" Iya Na, seratus persen yakin.


Kenapa Na, apa kamu tidak suka sama hotel ini? "


tanya Okta bingung


" Hhhmmm .. bukannya gak suka Ta,


tapi hotel ini apa tidak terlalu mahal???


Kita ini 'kan hanya menginap semalam saja,


jadi gak perlu hotel yang semewah ini.


Nanti malah akan buang-buang uang kalau menginap di sini.


Kita cari hotel lain saja ya Ta. "


bujukku


" Gak apa-apa, kita di sini aja.

__ADS_1


Soal biaya kamu gak usah kuatir,


aku ini 'kan member di sini,


jadi aku pasti dapat harga spesial yang beda dari yang lainnya.


Ayo masuk, udara di sini sudah semakin dingin. "


ajak Okta


" Udah Na, turutin aja apa maunya Okta.


Kalau nanti dia udah marah,


bisa hancur hotel ini di buatnya. "


bisik Felix padaku


Akupun mengangguk mengikuti arahan Felix.


" Na, tolong kamu tunggu kita di sini sebentar ya.


Kita mau pergi ke bagian resepsionis dulu untuk check-in dan mengambil kunci kamar kita. "


ucap Okta


" Oke Ta. "


jawabku sambil tersenyum ke arahnya


Kemudian Okta dan Felix pergi meninggalkanku seorang diri di ruang tunggu tamu.


Karna bosan, akupun mencoba mengalihkan pandanganku untuk melihat-lihat keindahan interior hotel ini.


Tiba-tiba ..


Mataku tertuju pada sesosok pria yang memakai kaos berwarna abu-abu.


Terlihat sekilas olehku warna kulitnya seperti sawo matang, dengan tinggi badannya yang begitu ideal.


Sepertinya aku tidak asing dengan orang yang berada di depan lift itu.


Apakah dia .. ???


Tidak .. tidak .. aku pasti salah orang.


Namun otak dan kakiku sedang tidak menyatu saat ini.


Otakku mengatakan tidak,


tetapi kakiku terus saja melangkah mendekat ke arah orang itu.


***Kling** .. Lift sudah terbuka*.


Dan iapun segera masuk ke dalam lift itu.


Belum sempat melihat wajahnya,


ia sudah pergi bersama dengan lift itu.


Hhmmm ..


Mengapa aku begitu ingin tahu siapa orang itu ya?


Apakah benar dia adalah ..


Aarrrggghhhh ..


Astaga Nana, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan ini???


tanyaku pada diriku sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipi bulatku ini


Bip .. bip .. bip ..


Peringatan baterai habis sudah muncul di layar ponselku.


Kemudian dengan cepat aku berlari ke ruang tunggu tamu tadi untuk melihat apakah Okta dan Felix sudah selesai mengurus check-in di hotel ini.


Fiuh, ternyata mereka belum kembali ke sini.


Kalau sampai mereka sudah ada di sini dan aku belum kembali,


nanti mereka pasti cemas dan kuatir.


" Na .. "


sapa Okta


" Iya .. "


sahutku


" Kamu kenapa Na?


Kok kelihatan pucat begitu? "


tanya Okta cemas


" Aku cuma kelelahan aja Ta.


Oh ya, apa kalian sudah selesai mengurus check-in nya? "


ucapku untuk mengalihkan pembicaaran


" Sud .. "


Belum selesai Okta membalas perkataanku,


tiba-tiba aku jatuh pingsan di depan Okta.


Dengan perlahan Okta dan Felix membaringkanku di sofa ruang tunggu ini.


" Sayang, tolong kamu beli air minum ya buat Nana.


Mungkin Nana dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) jadi pingsan seperti ini. "


pinta Okta


" Oke sayang, tunggu di sini sebentar ya. "


balas Felix


10 menit kemudian ..


" Arrgghh .. kepalaku sakit sekali. "


gumamku lirih


" Na, kamu sudah sadar?


Ini kamu minum dulu ya. "


kata Okta cemas


" Sebenarnya ada apa Ta?


Kenapa aku bisa tiduran di sofa ini? "


tanyaku bingung


" Kamu tadi tiba-tiba pingsan Na. "


sahut Felix


" Udah-udah, ceritanya nanti aja di kamar.


Ayo sayang, bantu aku papah Nana ke kamar. "


ajak Okta


Melihat Okta dan Felix begitu cemas,


aku jadi merasa sedih.

__ADS_1


Sebenarnya aku juga tidak tahu mengapa tadi aku tiba-tiba bisa pingsan.


Apa karna aku sedang banyak pikiran,


atau mungkin karna telat makan,


aku tak tahu pastinya.


Sesampainya di kamar, Okta dan Felix membaringkanku dengan perlahan di atas tempat tidur.


Kemudian Okta menyelimutiku dengan hati-hati.


" Makasih ya Ta .. Makasih ya Lix. "


ucapku lemas


" Iya Na sama-sama.


Sekarang kamu istirahat aja dulu ya,


aku sama Okta mau keluar sebentar untuk beli makanan.


Kamu mau makan apa, nanti sekalian kita bawa'in buat kamu. "


tanya Felix


" Lix, kok kamu tega sih minta aku keluar sama kamu?


Nana inikan lagi sakit, jadi aku harus jaga dia sekarang. "


bentak Okta


" Ta, jangan marah gitu.


Aku sudah gak apa-apa kok.


Istirahat sebentar nanti juga udah baikan lagi. "


sahutku sambil tersenyum


" Tapi Na, serius aku gak tenang tinggalin kamu sendirian di sini. "


ucap Okta cemas


" Kamu tenang aja Ta, aku bisa jaga diriku sendiri kok. "


sahutku sambil memegang tangan Okta


" Ya sudah deh kalau gitu.


Tapi kamu janji ya istirahat aja di kamar,


jangan ke mana-mana.


Nanti kalau kamu perlu sesuatu,


langsung telepon aku ya. "


pinta Okta


" Iya sahabatku sayang. "


jawabku sambil tersenyum


" Na, sori ya kita tinggal dulu sebentar. "


ucap Felix dengan rasa bersalah


" Iya Lix gak apa-apa.


Kamu juga tolong jaga Okta ya. "


pintaku sambil melihat ke arahnya


" Pasti Na. "


balas Felix


Setelah berpamitan padaku,


mereka akhirnya keluar bersama.


Aku sebenarnya tahu kalau Felix ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Okta sebagai sepasang kekasih.


Aku juga tidak bisa terlalu egois meminta Okta untuk menemaniku.


Sebagai seorang sahabat akupun tak ingin menghalangi Okta mendapatkan kebahagiaannya.


Semoga saja mereka dapat menikmati moment bahagia bersama di negeri ini.


Huh .. sekarang mengapa badanku terasa gatal ya?


Aku akan mencoba untuk mandi air hangat saja untuk menghilangkan rasa gatal di tubuhku ini.


Dengan perlahan dan hati-hati aku masuk ke dalam kamar mandi.


Ku atur suhu air lewat kran ini,


kemudian aku mengisi bath up dengan air hangat.


Hah, nyaman sekali rasanya berendam di bath up ini.


Setelah merasa puas berendam,


akupun mengoleskan sabun di seluruh tubuhku.


Kemudian aku menyiram tubuhku dengan air dari shower yang berada di samping bath up.


Karna sudah selesai membersihkan semuanya,


kemudian aku memakai handuk piyama dengan rambut setengah basah dan keluar dari kamar mandi.


Sambil mengeringkan rambutku yang masih setengah basah dengan handuk,


aku duduk di samping tempat tidur dan mengisi ulang baterai ponselku.


Dengan cepat aku membuka layar ponselku berharap akan ada balasan pesan singkat dari kak Steven.


Namun ternyata aku salah,


tidak ada balasan apapun darinya.


Ya sudahlah biarkan saja.


Yang penting tadi aku sudah meminta ijin padanya.


Setelah rambutku kering,


aku segera berganti baju tidur yang sudah ku bawa dari rumah.


Tingtong .. tingtong ..


Bel kamarku berbunyi.


Siapa ya yang datang?


Tingtong .. tingtong ..


" Iya sebentar. "


teriakku dari dalam kamar


Saat aku membuka pintu,


betapa terkejutnya aku ..


Dia adalah ..


💫💫💫💫💫💫💫


Jreng .. jreng ..


Siapakah dia??? 🤔

__ADS_1


Apakah ada yang bisa menebaknya??? 😊


__ADS_2