
Selesai memesan makanan,
akupun mencoba memainkan handphone baruku ini.
Kring .. kring .. kring ..kring ..kring ..
Sepertinya banyak notifikasi yang masuk,
karna handphone ku yang lama sudah beberapa hari tidak aktif.
Ku buka satu persatu notifikasi tersebut.
Ternyata hanya promo-promo dari kartu telepon ini karna baru saja di isi pulsa.
Tapi tunggu dulu ..
Ini .. ini ..
Hatiku terasa sakit sekali dan air mata ini sudah tak dapat ku bendung lagi.
Kesedihan yang selama ini ku sembunyikan,
meluap begitu saja.
Na, kamu kenapa???
tanya Okta panik
A .. a .. aku ..
Mulut ini terasa berat untuk melanjutkan kata-kata berikutnya.
Aku masih tidak bisa berkata-kata.
Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah menangis dan menangis ...
Dengan sigap Okta langsung memelukku untuk memberiku dukungan.
Setelah aku merasa sedikit tenang,
Okta memberikanku sebotol air mineral untuk ku minum.
Ma .. maaf ya Ta tadi aku mengagetkanmu dengan tiba-tiba menangis.
Iya Na gak apa-apa.
Yang penting sekarang kamu tenang dulu dan coba cerita ke aku pelan-pelan.
Mungkin ada yang bisa ku bantu.
Iya Ta makasih.
Sama-sama Na.
Tadi itu begitu banyak chat WA dari Andika.
Juga begitu banyak panggilan telepon dan sms darinya.
Namun belum sempat ku baca kemarin-kemarin karna handphone ku masih rusak.
Terus dia bilang apa Na?
Di chat nya dia bilang masih begitu merindukanku.
Dia sebenarnya gak mau untuk meninggalkan kota ini.
Namun karna ada desakan dari orangtuanya dan keperluan mendadak,
jadi ia pun terpaksa pindah keluar negeri bersama dengan keluarganya.
Oh, jadi dia ada niat buat pamitan sama kamu Na?
Bagus dong itu.
Tapi kenapa kamu menangis?
Apa kamu kangen ya sama dia sekarang?
Aku menangis karna dia masih begitu ingat sama aku dan bahkan di akhir chatnya ia berjanji akan selalu mengingatku.
Jika suatu hari dia kembali ke kota ini,
yang ia cari pertama kali adalah diriku.
__ADS_1
Namun saat ini sepertinya aku akan mengecewakannya lagi.
Sebab aku sudah menutup hatiku ini untuknya.
Aku hanya berharap dia bisa bahagia dengan kehidupannya yang sekarang dan bisa melupakanku.
Walau itu terdengar begitu egois untuknya.
Tanpa sadar air mataku mulai membasahi kedua pipiku kembali.
Okta yang melihatku menangis kembali memelukku.
Na, kamu tidak salah.
Keputusan yang kamu ambil sudah benar.
Kalian tidak bisa terus menggenggam masa lalu dan melupakan masa depan.
Masa lalu biarlah berlalu dan kini saatnya bagi kalian untuk bangkit dan menata masa depan.
Ini waktunya untukmu membuka lembaran baru.
Iya Ta.
Yang penting sekarang kamu harus kuat dan kembali menjadi Nana yang optimis dan ceria.
Jangan menjadi lemah dan pesimis.
Iya Ta.
Apalagi sekarang ada si Bagus tuh yang mulai ngejar-ngejar kamu.
Jadi jangan sampai kamu keliatan jelek seperti sekarang ini.
Idih, apa'an sih Ta.
Terus aja meledekku.
Hahahahahahahaha
Cuma bercanda kok Na.
Hm .. hati wanita memang susah di tebak.
Kamu ngomong apa barusan Lix?
Gak sayang, aku gak ngomong apa-apa kok barusan.
Fiuh, hampir aja kena omelan ibu ratu.
Ya sudah, ayo cepat makan.
Setelah makan kita langsung pulang.
Takut nanti tante nyari'in kamu Na.
Nanti di kiranya kamu di culik lagi.
Aku tertawa kecil mendengar kata-kata Okta barusan.
Memang mamaku adalah tipe orang yang begitu kuatir jika anak-anaknya tidak pulang ke rumah tepat waktu.
Selesai makan kami segera bergegas pulang.
Okta dan Felix mengantarkanku pulang duluan.
Saat sampai rumah, aku melihat ada sebuah mobil yang tak asing terparkir di halaman rumahku.
Na, itu mobil siapa?
Keluargamu lagi ada tamu ya?
Ya udah kalau gitu kita langsung cabut aja ya,
titip salam untuk tante dan adik-adikmu Na.
Aku juga gak tahu itu mobil siapa.
Iya-iya kalian hati-hati di jalan ya.
Makasih untuk hari ini.
Iya Na sama-sama.
__ADS_1
Bye ..
Setelah Okta dan Felix pergi, akupun langsung masuk ke dalam rumah.
Ku tengok kanan-kiri ruang tamuku,
tapi mengapa sepi sekali dan seperti tidak ada tamu.
Tapi di depan tadi mobilnya siapa ya?
Ah sudahlah, lebih baik aku ke kamar dulu dan berganti baju.
Aku sudah gerah karna hampir seharian di ajak keliling oleh Okta dan Felix tadi.
Aku masuk kamar dan menutup pintu.
Ku cas handphone baruku dan aku bergegas membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Byur .. byur .. byur ..
Wah, segarnya air ini.
Serasa tak ingin cepat selesai dan masih ingin berlama-lama di dalam kamar mandi ini.
Selang beberapa menit akupun sudah selesai mandi dan memakai baju rumah favoritku.
Ku keluarkan semua buku yang ada di dalam tas dan mulai untuk mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru-guru di sekolah tadi.
Tok .. tok .. tok ..
Iya, masuk aja.
Pintunya gak di kunci.
Krek ..
Lagi sibuk kah?
Mendengar suara lelaki masuk ke kamarku,
aku langsung membalikkan badan hendak melihat siapa orang tersebut.
Kak .. kak Steven ..
Hai Na, maaf ganggu.
Tadi tante minta tolong aku buat anter susu coklat hangat dan beberapa camilan buat kamu.
Iya kak terima kasih.
Na, kalau sudah selesai belajarnya tolong turun ke bawah ya.
Ada beberapa hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu.
Hal penting apa ya kak?
Kenapa gak ngomong di sini aja?
Enggak enak Na.
Ini kan kamar cewek, sedangkan aku kan cowok.
Gak baik cowok ada di kamar cewek lama-lama,
takutnya khilaf nanti.
Oh, iya kak maaf.
Iya Na gak apa-apa.
Kamu belajar dulu ya.
(sambil mengusap-usap rambutku)
Oke kak ..
Kira-kira hal penting apa ya?
Terus tadi kok kak Steven tiba-tiba bisa datang ke kamarku ya?
Biasanya mama gak ngijin'in cowok masuk ke kamarku, barusan kok tumben mama yang suruh kak Steven buat anter minuman dan cemilan buat aku?
Ah sudahlah, aku harus cepat-cepat selesai'in tugas-tugasku ini supaya kak Steven gak menunggu lama di bawah.
__ADS_1