
Tok .. tok .. tok ..
" Sayang, tolong buka pintunya ya.
Mama mau bicara sebentar. "
pinta mama dari arah depan pintu kamarku
" Iiii ... iii .. iya ma sebentar Nana buka'in pintunya. "
sahutku dengan sedikit terbatah-batah
" Na, kamu hapus dulu airmatamu ya.
Jangan sampai tante tahu kalau kamu habis menangis barusan.
Kamu tenangin diri dulu baru buka pintunya.
Sementara aku sembunyi di dalam kamar mandi saja,
gak enak kalau kalian ngobrol serius terus ada aku di sini.
Ini minum dulu air putihnya. "
ucap Okta sambil memberikanku segelas air putih
Setelah aku melihat Okta masuk ke dalam kamar mandi, akupun segera bangkit berdiri sambil menenangkan diriku untuk membukakan mama pintu.
Fuih .. tenang Nana .. tenang ..
Gak boleh sampai mama tahu kalau aku menangis tadi.
Kriek ..
" Ma .. maaf ya ma, Nana lama buka pintunya. "
" Iya sayang tidak apa-apa.
Kalau 5 menit lagi pintunya tidak terbuka,
mama berencana memanggil nak Steven untuk mendobrak pintumu ini.
Mama kuatir kalau terjadi hal yang buruk sama kamu di dalam kamar. "
ucap mama gelisah
" Maaf ya ma sudah buat mama kuatir.
Nana gak apa-apa kok ma.
Oh ya, mama mau ngomong apa sama Nana?
Duduk di tempat tidurnya Nana aja yuk ma. "
sahutku sambil menunjuk ke arah dalam kamar
Kamipun duduk di pinggir tempat tidurku.
" Sayang .. tadi semua biaya rumah sakit papa sudah di bayar oleh nak Steven.
Mama sudah bilang tidak perlu seperti itu namun nak Steven masih memaksa untuk membayarnya.
Sedangkan uang kompensasi yang diberikan oleh kantor papa masih mama simpan.
Mama mau minta tolong sama kamu untuk bisa menjaga hubungan kalian ya.
Mama sebenarnya tidak bermaksud untuk menukar kebahagiaanmu dengan harta.
Tapi kamu tahu sendirikan bagaimana kondisi ekonomi keluarga kita saat ini???
Tadi mama lihat kamu dan nak Steven habis bertengkar di halaman depan ya?
Sekarang kamu temui nak Steven dan minta maaf ya.
Karna keluarga kita sudah berutang budi banyak sama nak Steven.
Kamu mau 'kan sayang? "
pinta mama sambil memegang tanganku
" Iya ma ..
Nana sudah tahu apa yang harus Nana lakukan sekarang. "
" Terima kasih ya sayang.
Kamu memang anak yang berbakti pada orangtua. "
ucap mama sambil mengelus kepalaku
" Nana turun dulu ya ma. "
sahutku dengan perlahan
" Iya sayang. "
sahut mama dengan penuh semangat
Tak menunggu lama akupun pergi menemui kak Steven yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan papa.
" Sayang, tolong temani nak Steven mengobrol sebentar ya.
Papa mau istirahat di kamar dulu.
Nak Steven, maaf ya om tinggal istirahat dulu. "
" Iya om tidak apa-apa.
Semoga cepat sembuh ya om. "
sahut Steven sopan
" Terima kasih nak Steven. "
jawab papa singkat
Setelah papa pergi meninggalkan kami berdua di ruang tamu,
seketika suasana ruang tamu berubah menjadi hening.
Selang beberapa menit kemudian akupun mencoba memberanikan diriku untuk memulai percakapan kami.
" Kak Steven ..
Makasih ya sudah membantu keluargaku membayar semua tagihan rumah sakit tadi. "
" Iya Na sama-sama.
__ADS_1
Na .. aku benar-benar minta maaf ya soal kejadian tempo hari.
Aku janji tidak akan berani melakukan itu lagi terhadapmu sebelum kita sah sebagai suami-istri.
Kamu mau kan memaafkanku? "
" Kak, tadi kan sudah kubilang kalau aku sudah memaafkanmu dan melupakan kejadian kemarin itu.
Aku mohon jangan pernah menyebutkan kejadian itu lagi di depanku. "
" Ma .. maaf Na ..
Apakah kamu setrauma itu karna sikapku? "
" Tak perlu ditanyakan lagi,
kakak pasti sudah tahu sendiri jawabannya. "
" Na ..please jangan merubah dirimu menjadi pribadi yang dingin seperti itu.
Ini semua adalah salahku,
jadi ijinkan aku memperbaikinya untukmu.
Tapi jangan hukum dirimu seperti ini. "
ucap kak Steven sambil memegang tanganku
Memperbaikinya???
Memperbaikinya dengan apa???
Sedangkan mamaku sendiri saja lebih mendukungmu daripada aku darah dagingnya sendiri ...
Hahahahahahaha
Aku memang tak dapat memiliki kebahagiaanku sendiri.
Semuanya sudah tidak dapat berjalan sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Jika memang aku yang harus berkorban demi kebahagiaan keluargaku, tak mengapa.
Aku sudah siap dengan semua konsekuensinya.
gerutuku dalam hati
" Na .. mengapa kamu melamun? "
tanya kak Steven sambil melambaikan tangan di depanku
" Ti .. tidak .. aku tidak melamun. "
sahutku dengan terbatah-batah
" Na, bulan depan kedua orangtuaku akan datang kemari untuk melamarmu.
Ini sebagai bukti bahwa aku benar-benar serius dengan hubungan kita ini.
Kamu tidak keberatankan Na? "
Hm .. (menghela nafas)
Sejujurnya aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu selain rasa benci.
Semenjak kau melakukan hal itu padaku,
semenjak itu pula rasa cinta dan hormatku padamu menghilang.
Namun sepertinya aku tidak dapat melakukannya.
Karna apapun yang aku rasakan tidak ada satu orangpun yang akan memperdulikannya.
Aku hanyalah sebuah bidak catur bagi keluargaku.
Mungkin memang ini saatnya aku bisa membalas budi pada mereka juga.
Biarlah apa yang akan terjadi biarlah terjadi ..
Semoga pengorbananku ini cukup bagi keluargaku.
gumamku dalam hati
" Lakukan saja apapun yang kakak suka.
Aku pasti menurutinya. "
ucapku dengan berat hati
" Kalau begitu aku pulang dulu ya Na.
Bulan depan aku pasti datang ke sini untuk melamarmu.
Tunggu aku ya Na.
Juga tolong sampaikan salamku untuk paman dan tante ya nanti.
Bye Nana .. muach .. "
pamitnya sambil mencium keningku
" Iya kak. Nanti aku sampaikan papa dan mama.
Hati-hati di jalan ya kak. "
sahutku sambil melambaikan tangan ke arahnya
Aku terpaksa harus berpura-pura seperti ini.
Agar semua orang bisa merasa bahagia,
walaupun diriku sendiri merasa tersiksa ..
Saat hendak kembali ke kamar,
mama tiba-tiba sudah berdiri di depanku.
" Sayang, maaf'in mama ya.
Mama tidak punya pilihan lain lagi.
Kamu bisa mengerti 'kan sayang? "
tanya mama sedih
" Iya ma gak apa-apa kok.
Mungkin ini saatnya bagi Nana untuk membalas budi di keluarga ini.
__ADS_1
Sudah ya ma, Nana mau ke kamar dulu.
Nana mau istirahat sebentar. "
" Iya sayang .. "
jawab mama singkat
Sesampainya di kamar,
langsung ku rebahkan tubuh ini ke tempat tidur.
" Na ..
Sebenarnya berapa jumlah biaya perawatannya om?
Aku bantu kamu bayar ke Steven itu ya.
Tapi kamu harus berjanji padaku untuk tidak berhubungan lagi dengannya.
Aku tidak suka sikapnya terhadapmu. "
ucap Okta dengan penuh perhatian
" Aku juga tidak tahu berapa jumlahnya Ta.
Tapi kamu gak perlu repot-repot membantuku lagi,
sebab aku sudah memutuskan untuk menukar kebahagiaanku ini dengan kebahagiaan keluargaku ini. "
sahutku dengan sedikit menahan tangis
" Tapi Na ..
Jangan memaksakan dirimu melakukan hal yang kamu sendiri belum tentu bisa menanggungnya. "
" Tenang aja Ta, aku benaran gak apa-apa kok.
Terima kasih untuk semua bantuan yang sudah kamu berikan untukku.
Maaf'in aku juga yang selalu saja merepotkanmu.
Kali ini biarkan aku menyelesaikannya sendiri,
aku gak mau menyusahkanmu lagi. "
sahutku sambil menggenggam tangan Okta
" Kamu ngomong apa sih Na.
Kamu itukan sahabatku, mana mungkin aku gak membantumu???
Aku membantumu dengan senang hati dan aku tidak merasa direpotkan olehmu. "
jawab Okta spontan
Dengan segera aku memeluk Okta yang berada di depanku.
Aku merasa begitu tenang saat memeluknya.
Karna hanya dia yang selalu bisa memahami diriku.
" Na, maaf'in aku ..
Tadi aku sudah mendengar percakapanmu dengan tante.
Aku tahu kalau sebenarnya kamu ingin menolak perjodohanmu ini.
Bagaimana jika aku membantumu menceritakan sikap Steven kemarin ke om dan tante,
mereka pasti akan membatalkan pertunangan kalian. "
ucap Okta dengan serius
" Tidak Ta. Tolong jangan lakukan itu.
Biarkan saja kejadian buruk itu hanya kita berdua yang tahu.
Jika orangtuaku tahu tentang kejadian itu,
aku takut mereka akan langsung syok dan semakin memperburuk keadaan keluargaku.
Please ya Ta, tolong tetap rahasiakan ini dari mereka. "
ucapku dengan sedikit memohon
" Hm .. mmm .. (menghela nafas)
Kalau memang ini sudah menjadi keputusanmu,
apa boleh buat.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Tapi ingat ya Na ..
Kalau kamu butuh teman curhat,
aku selalu ada untukmu. "
sahut Okta sambil mengedipkan mata ke arahku
" Pasti .. Aku janji ..
Kamu adalah sahabat terbaikku,
aku memang gak salah punya sahabat sepertimu Ta.
Makasih banyak ya sahabatku. "
jawabku sambil memeluknya dengan erat
" Sudah ah, jangan memeluk terlalu erat begini.
Aku susah nafas nih .. "
" Ups, maaf - maaf Ta ..
Aku panggilin Felix dulu ya kalau gitu supaya kasih kamu nafas buatan. "
godaku
" Apa'an sih .. Awas kamu ya Na ..
Ayo sini jangan lari .. "
sahut Okta sambil berlari mengejarku
__ADS_1
Sudah puas berkejar-kejaran,
akhirnya kamipun kelelahan dan tertidur pulas.