Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
93) Kunjungan Steven ke rumah Nana


__ADS_3

Semenjak kepulangan Nana dari rumah sakit,


seakan semua perhatian dan kasih sayang Steven tercurahkan semua kepada Nana.


Tiada hari tanpa kabar dari Steven.


Meskipun ia sangat sibuk dengan pekerjaannya,


namun ia selalu dapat mengutamakan Nana dari segalanya.


Malam ini setelah Steven selesai dengan semua urusan pekerjaannya,


ia langsung bergegas menuju rumah Nana untuk menemui pujaan hatinya itu.


Saat dalam perjalanan tanpa sengaja Steven melihat ada sebuah toko roti.


Kemudian ia berhenti sejenak dan membeli beberapa roti dan kue di sana untuk dapat di bawa sebagai buah tangan ke rumah calon mertuanya.


Setelah selesai berbelanja,


dengan cepat ia mengendarai mobilnya menuju ke rumah Nana.


Tok .. tok ..


Tok .. tok ..


"Permisi."


ucap Steven.


"Oh nak Steven, mari silahkan masuk."


sahut mama Nana.


"Terima kasih tante."


ucap Steven sopan.


"Mari silahkan duduk.


Hm, nak Steven datang ke sini pasti mau ketemu sama nak Nana ya?"


goda mama Nana.


"I .. ii .. ya tante.


Oh ya, ini ada sedikit roti dan kue untuk tante sama paman,"


jawab Steven sambil memberikan beberapa kotak roti dan kue.


"Aduh, kenapa repot-repot seperti ini sih nak?"


ucap mama Nana.


"Gak repot kok tante.


Tadi waktu perjalanan ke sini Steven lihat ada toko roti dan kue,


jadi sekalian aja Steven beli tadi."


sahut Steven sambil tersenyum.


"Ya sudah, ini tante terima ya.


Terima kasih banyak.


Oh ya, sebentar tante panggilkan nak Nana dulu ya."


pamit mama Nana.


"Iya tante terima kasih."


sahut Steven sambil tersenyum.


Kemudian mama Nana segera bergegas memanggil Nana di kamarnya.


Tok .. tok ..


***Kriek** .. (membuka pintu kamar*)


"Sayang, ada nak Steven tuh di bawah nunggu'in kamu."


panggil mama Nana.


"Iyakah ma?


Mama gak bercandakan sama Nana?"


tanya Nana antusias.


"Iya serius.


Apa pernah mama bohongin kamu sayang?


Kalau tidak percaya coba lihat saja sendiri di ruang tamu."


jawab mama Nana.


"Oke ma.


Tapi Nana mau mandi dulu ya ma biar gak bau asem."


sahut Nana.


"Iya-iya, cepetan mandinya.


Kasihan tuh nak Steven kelamaan nunggu sendirian di sana."


goda mama Nana.


"Siap bos."


sahut Nana sambil mengangkat tangan layaknya pemimpin upacara.


"Kalau gitu mama turun dulu ke bawah ya,


mau buatin minum dulu untuk nak Steven."


pamit mama Nana.


"Iya ma."


jawab Nana singkat.


Kemudian mama Nana menutup kembali pintu kamar Nana dan bergegas turun ke bawah.


Byur .. byur ..


Byur .. byur ..


"Tumben ya malam ini kak Steven datang ke sini?


Apa dia udah kangen berat ya sama aku?


Puk .. puk .. (menepuk-nepuk kedua pipinya)


Jangan kepede'an dulu kamu Na,


mungkin ada sesuatu hal penting yang mau disampaikan malam ini."


celoteh Nana pada dirinya sendiri.


Lima belas menit kemudian Nana sudah selesai mandi.


Dengan segera Nana memakai kaos terusan berwarna cream yang panjangnya selutut.


Selesai dengan urusan pakaian,


kini ia segera menyisir rambutnya dan tak lupa memakai sepasang jepit rambut pemberian Steven beberapa hari yang lalu.


Tak lupa Nana menyemprotkan parfum beraroma buah ceri kesukaannya di sekitar tubuhnya.


Kemudian sepintas Nana memperhatikan dirinya di depan cermin.

__ADS_1


"Sempurna."


ucap Nana sambil mengedipkan matanya.


Dengan langkah kaki yang cepat,


Nana bersemangat menuruni setiap anak tangga ini.


"Sayang, ini minumannya nak Steven tolong kamu bawa juga ke sana ya."


ucap mama Nana.


Tanpa menunggu lama Nana menganggukkan kepalanya dan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat dan beberapa toples makanan ringan ke ruang tamu.


"Sori sayang, tadi nunggu aku lama ya?"


ucap Nana sambil meletakkan nampan di atas meja.


"Gak lama kok sayang.


Cuma sekitar dua puluh menit aja.


Hm .. harumnya calon istriku ini.


Baru selesai mandi ya?"


goda Steven.


"Iya dong karna ada pangeran yang mau aku temui."


balas Nana.


"Siapa tuh pangerannya sayang?"


tanya Steven.


"Jangan pura-pura gak tau gitu deh!"


sahut Nana kesal.


"Lho kok jadi sewot gitu sih?


Akukan cuma tanya, apa salah sayang?"


jawab Steven sambil duduk mendekat ke Nana.


"Ya sudah deh gak usah di bahas lagi.


Ini minumannya, ayo di minum selagi hangat,"


ucap Nana sambil memberikan secangkir teh hangat.


"Terima kasih sayang,"


balas Steven sambil menerima cangkir itu.


"Sayang, aku perhatikan beberapa hari ini kamu banyak berubah ya?"


ucap Nana.


"Berubah jadi makin ganteng ya sayang?"


jawab Steven.


"Hm .. di iya'in aja deh daripada panjang nanti urusannya."


sahut Nana.


"Bisa aja kamu sayang,


(mencubit pipi kanan Nana)


Kalau aku gak ganteng emangnya kamu mau sama aku?"


tanya Steven.


"Aku tuh dari dulu gak pernah melihat seseorang dari penampilannya.


Karna yang terpenting bagiku adalah karakter dan hatinya yang baik."


"Bearti aku termasuk orang yang berkarakter dan berhati baik ya sayang?"


tanya Steven sekali lagi.


"Kasih tau gak ya?"


goda Nana.


"Kasih tau dong sayang."


rengek Steven.


"Hm .. mau tau aja atau mau tau banget nih?"


goda Nana.


"Tuhkan gitu lagi."


jawab Steven sambil cemberut.


"Puft .. hahahahaha ..


Kamu kalau gini seperti anak kecil lho."


ledek Nana.


"Gak apa-apa seperti anak kecil,


yang penting bisa selalu buat kamu tertawa dan tersenyum seperti ini terus."


sahut Steven sambil mendekatkan wajahnya ke depan Nana.


"Eh papa sudah pulang?"


ucap Nana.


Mendengar Nana memanggil papanya,


Steven segera menjauh dari Nana.


"Selamat malam pa .. (menoleh ke samping)


Lho kok paman gak ada sayang?"


tanya Steven bingung.


"Puft .. hahahahahaha


Kena lagikan kamu sayang,


makanya jangan macam-macam sama Nana."


ledek Nana.


"Iya deh sayang, hari ini kamu yang menang."


ucap Steven pasrah.


"Jangan nyerah gitu dong,


gak seru lagi ah."


balas Nana.


Muach ..


Dengan cepat sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Nana.


"Nah ini sebagai hukuman karna sudah membangunkan macan jantan yang sedang tertidur."


ucap Steven bangga.


Seketika suasana di ruang tamu menjadi hening dan canggung.

__ADS_1


"Kok diem aja sayang?


Kamu marahkah karna aku cium kamu barusan?"


tanya Steven cemas.


"Gak apa-apa. Aku gak apa-apa kok."


ucap Nana singkat.


"Apa kamu sedang tidak enak badan sayang?


Kenapa tiba-tiba kamu berubah diam seperti ini?"


tanya Steven bingung.


"Sayang, sebenarnya aku ini sakit apa?


Kenapa kemarin aku melakukan CT scan?


Dan juga aku merasa akhir-akhir ini sikapmu ke aku berubah drastis,


kamu menjadi semakin perhatian dan memanjakanku seperti ini terus.


Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku sayang?"


tanya Nana.


Slap ..


Dengan cepat Steven menarik tangan Nana dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Jangan kuatir sayang,


aku janji semuanya pasti baik-baik saja."


ucap Steven dengan tetap memeluk Nana.


"Tapi sayang .. "


sela Nana.


"Tidak ada tapi.


Yang penting sekarang kamu harus selalu bahagia bersama denganku.


Karna aku sangat menyayangi dan mencintaimu sayang."


ucap Steven lirih.


"Apa kamu sedang menangis sayang?"


tanya Nana dengan berusaha melepaskan pelukan Steven.


"Jangan bergerak sayang,


ijinkan aku untuk memelukmu sebentar lagi."


pinta Steven.


Dalam kebingungannya Nana akhirnya mengangguk perlahan tanda menyetujui permintaan Steven.


Dengan cepat Steven mengusap kedua matanya agar air matanya tidak menetes di pundak Nana.


Setelah merasa lega,


Steven mencoba menguatkan dirinya supaya Nana tidak curiga dengan sikapnya ini.


Dengan perlahan Steven akhirnya melepaskan pelukannya.


"Are you okay???"


(apakah kamu baik-baik saja?)


tanya Nana cemas.


"I'm okay."


(aku baik-baik saja.)


jawab Steven sambil tersenyum.


"Maafkan aku sayang ..


Aku tak bermaksud untuk membohongimu.


Aku hanya berusaha untuk tidak membuatmu sedih dengan diagnosa penyakitmu ini.


Setelah hasil CT scan besok keluar,


aku berjanji untuk tetap selalu bersamamu apapun yang terjadi.


Karna aku menyayangi dan mencintaimu,


apapun keadaanmu."


ucap Steven pada dirinya sendiri.


"Maafkan aku ya sayang,


sepertinya aku harus pulang sekarang.


Kamu juga istirahat ya nanti.


Tolong sampaikan salamku untuk semua anggota keluargamu."


ucap Steven.


"Tunggu .. !!


Bukankah besok hasil CT scannya sudah bisa di ambil?


Apa boleh aku ikut kamu ke sana sayang?"


sahut Nana sambil memegang tangan kanan Steven.


"Jangan sayang, besok aku saja yang mengambilnya sendiri.


Besok setelah mengetahui hasil CT scannya,


aku pasti langsung menghubungimu.


Bagaimana?"


jelas Steven.


"Baiklah."


jawab Nana singkat.


"Aku pulang dulu ya sayang.


***Muach** .. (mencium kening Nana*)


Mimpi'in aku ya nanti."


ucap Steven sambil mengedipkan matanya.


"Oke .. Hati-hati di jalan ya sayang."


sahut Nana sambil melambaikan tangan ke arah Steven.


Setelah melihat mobil Steven meninggalkan rumahnya,


Nana segera menutup dan mengunci pintu rumahnya.


Kemudian iapun naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.


Setelah itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh kak Steven.


Besok aku harus mengikutinya diam-diam ke rumah sakit agar aku bisa mengetahui rahasia apa yang sudah ia sembunyikan dariku."

__ADS_1


ucap Nana sambil memeluk guling.


__ADS_2