
Hari telah siang, tapi aku masih mondar-mandir gelisah di dalam kamar.
Hmm, seandai nya Okta ada di sini untuk membantu ku saat ini.
Tak beberapa lama kemudian ada yang membuka pintu kamar ku.
" Hai, sedang apa kamu sahabat ku? Kok tegang gitu sih muka nya? "
" Astaga, Okta .. untung kamu di sini tepat waktu.
Baru aja aku berandai-andai kalau kamu di sini, eh sekarang orang nya udah muncul. Bener-bener ajaib ya. "
" Iya dong, kan aku sahabat terbaik mu. Jadi aku tahu kalau kamu pasti butuh bantuan ku. Maka nya aku datang ke rumah mu agak pagi'an dari janji kita tadi. "
" Wah, makasih Okta. You're the best. " ku peluk Okta sambil tersenyum lega karna bala bantuan datang di waktu yang tepat
" Iya .. iya .. sama-sama Na. Oh ya, ngomong-ngomong perlu bantuan apa nih? "
" Huh, aku lagi bingung Ta mau apa baju apa. Terus aku juga nervous banget tau. "
" Haish, ngapain nervous? Anggap aja kita keluar bareng temen-temen. Karna tujuan kita keluar nanti malam kan mau kenalan sama cowok idaman nya si Mey. Bukan nya mau pergi pacaran bareng-bareng. " kata Okta meledek ku
" Hm, bener juga sih. Kalau gitu aku pakai baju yang sederhana aja gimana menurut mu Ta? "
" Eits, sederhana boleh-boleh aja, tapi yang tampil yang anggun ya. Supaya gak mempermalukan Mey sebagai teman kita. "
" Oke deh sahabat ku. Nah, aku pilih gaun ini aja gimana? Bagus gak Ta? "
" Bagus .. bagus .. itu aja Na. Cocok sama kamu. Tapi bener ni kamu mau pergi kerja kelompok mau pakai dress ini? Nanti tante gak bakal curiga Na? "
" Dress ini aku lipat dan simpan di tas ransel ku aja dulu. Nanti sampai asrama nya Mey, baru aku ganti baju. Gimana? "
" Setuju. " sahut Okta sambil mengacungkan jempol ke arah ku
Ternyata aku dan Okta sehati.
Dress yang di siapkan Okta juga telah berada di tas nya dari tadi. Jadi dia datang ke rumah ku dengan baju yang sangat simple, supaya tidak mengundang kecurigaan mama ku.
Malam yang di nanti-nanti pun tiba ..
Aku dan Okta pun segera berpamitan sama mama.
" Ma, kita berangkat dulu ya. " pamit ku sambil memeluk dan mencium pipi mama ku
" Tante, kita berangkat dulu ya. " pamit Okta sambil mencium tangan kanan mama ku
" Iya sayang, hati-hati di jalan dan jangan pulang malam-malam ya nanti. " sahut mama ku sambil melambaikan tangan ke arah kami
Kami pun segera masuk ke mobil Okta.
Tak menunggu lama Okta langsung mengendarai mobil nya dengan cepat seperti biasa nya.
Ada perasaan nervous dan ingin cepat bertemu dengan Andika.
Tapi .. tidak .. tidak .. hari ini adalah moment penting untuk Mey dan Ruly. Jadi aku gak boleh egois buat deket-deket sama Andika. Kalau Okta, ya terserah dia aja sih. Hahahahaha ...
" Ta, apa Felix nanti jadi ikut? "
" Iya Na, jadi kok. Dia sekarang udh perjalanan ke asrama nya Mey. Kalau Andika gimana? "
Astaga .. aku sampai lupa tanya lagi ke Andika tadi.
Gara-gara aku kebingungan milih baju.
" Bentar-bentar aku coba telpon Andika dulu ya Ta. Tadi aku bener-bener lupa ngingetin dia lagi. "
Dengan cepat ku raih ponsel ku.
Ku cari nomor Andika di kontak, tak perlu waktu lama untuk mencari nya.
Tut .. tut .. tut .. tut ..
Tut .. tut .. tut .. tut ..
Tut .. tut .. tut .. tut ..
Telpon nya tersambung, namun tidak di angkat sama Andika.
Akhir nya ku matikan telpon ku dengan perasaan gundah gulana.
" Ta, telpon ku gak di angkat sama Andika. Kalau memang dia gak dateng, gak apa-apa deh. Aku juga gak mau maksa dia, meskipun tadi dia sendiri yang menawarkan diri untuk ikut. " kata ku dengan menghela nafas panjang
" Iya Na santai aja. Nanti aku temenin kamu kok.
Biar nanti Felix temenin Ruly aja. " sahut Okta sambil menggenggam tangan ku
Perlahan aku pun mengangguk dengan perasaan sedikit sedih.
Entah mengapa seakan aku benar-benar mengharapkan kedatangan Andika.
__ADS_1
Karna aku masih ingin bertemu dan berbincang ringan dengan nya. Namun bila ia tak datang sekalipun, apa boleh buat. Aku tak boleh tenggelam dalam kesedihan ini. Semua nya akan baik-baik saja, dengan atau tanpa Andika.
Beberapa menit kemudian kami sampai di pintu gerbang asrama Mey.
Saat hendak memarkirkan mobil, Okta begitu kaget dan sontak langsung memanggil ku yang tadi tadi hanya tertunduk memandangi layar ponsel ku.
Berharap ada telpon masuk dari Andika.
" Na, coba lihat ada siapa tuh. " suara Okta yang terdengar seperti orang yang tak percaya dengan apa yang di lihat nya barusan
" Felix kan? Duh seneng nya tuan puteri udah langsung di sambut sama pangeran nya." sahut ku sambil perlahan ku tegak kan kepala ku
"What??? An .. An .. Andika .. ??
Dengan sedikit tak percaya ku usap-usap kedua mata ku untuk memastikan kalau-kalau aku tak salah lihat.
Setelah berulang kali ku usap-usap mata ku, ternyata benar itu adalah Andika yang dengan santai nya berjalan ke arah mobil kami.
" Cie .. cie .. siapa yang seneng nih sekarang?
Lihat tuh pangeran Andika udah siap menyambut tuan puteri Nana. "
" Hih, apa'an sih Ta. "
Kemudian Andika menghampiri ku dan membuka pintu mobil ku tanpa menghiraukan Okta sedikit pun.
" Ehem .. heem .. " suara serak Okta yang seakan mulai menggoda kami
" Kenapa Ta? Mau minum dulu kah? " tanya ku cemas
" Gak apa-apa kok Na, cuma tadi tenggorokan ku agak kering. Jadi aku batuk tadi. "
Kemudian Felix pun menghampiri kami sambil memberikan sebuah botol minuman ke Okta.
" Makasih ya Lix. "
" Sama-sama Okta. "
Kami masih berdiri di parkiran, karna masih menunggu Okta yang sedang meminum air.
Setelah itu kami bersama-sama masuk ke asrama nya Mey.
" Para pria harap tunggu di ruang tamu dulu ya. Kita mau jemput Mey di kamar nya dulu. " kata Okta sambil pergi meninggalkan Felix dan Andika
Akupun mengikuti langkah Okta.
Saat sampai di kamar Mey, kami langsung mengetuk pintu kamar nya.
" Sebentar ya. " teriak Mey dari dalam kamar
Klik .. pintu pun terbuka.
Betala kaget nya kami melihat Mey yang begitu cantik nya malam ini. Sedangkan kami masih berpakaian ala kadar nya datang ke sini.
" Kamu cantik Mey. " serentak kata ku bersamaan dengan Okta
" Makasih teman-teman. Yuk masuk, sori kamar ku masih sedikit berantakan. " sahut Mey sambil mempersilahkan kami masuk
" Mey, kamar mandi nya di mana ya? Kita mau ganti baju nih. "
" Oh, itu di sebelah sana. "
Okta pun bergegas masuk kamar mandi dulu'an, sedangkan aku duduk di samping tempat tidur Mey.
" Ruly apa bisa dateng Mey nanti? "
" Iya bisa kok Na. Tadi dia bilang udah deket sini sih.
Mungkin bentar lagi sampai. Kalau Andika sama Felix gimana? "
" Mereka udah datang Mey. Sekarang mereka lagi nunggu'in kita di ruang tamu. "
" Wah, asyik dong. Bakal seru nanti pasti nya karna banyak orang. "
Aku pun mengangguk tanda setuju dengan perkataan Mey.
Kemudian Okta pun keluar dari kamar mandi.
Di kenakan nya dress warna peach yang panjang nya selutut. Di padukan dengan bando kain berwarna peach juga, seolah Okta ingin menggambarkan kegembiraan hati nya saat ini.
Okta juga terlihat begitu cantik, kalau aku .. apakah aku juga bisa secantik Mey dan Okta? Secara aku kan jarang banget buat dandan dan mengurus penampilan.
Ya bisa di bilang aku ini sedikit tomboy.
" Gimana teman-teman penampilan ku? Cantik kan? " tanya Okta sambil memutar-mutarkan badan nya
" Iya cantik banget Ta. " sahut ku dan Mey
" Ayo Na, sekarang giliran kamu ganti baju. Jangan lama-lama, biar pangeran-pangeran kita gak kelamaan nunggu kita di luar. " teriak Okta ke arah ku
__ADS_1
" Oke deh. Tunggu aku sebentar ya. "
Aku pun bergegas beranjak dari tempat duduk ku dan masuk ke kamar mandi.
Selesai berganti pakaian, aku pun melihat penampilan ku di kaca yang tergantung di dalam kamar mandi.
Seperti nya aku kurang percaya diri kali ini.
Dengan menghela nafas panjang, ku berani kan diri ku membuka pintu kamar mandi ini.
Aku pun berjalan ke arah Okta dan Mey yang sedang sibuk merias wajah mereka.
" Teman-teman, gimana penampilan ku? Aku merasa ini kurang cocok untuk ku. "
" Gak Na, bagus kok. " sahut Mey yang mencoba menghibur ku
" Udah duduk sini, biar kami beri riasan sedikit di wajah mu supaya pangeran Andika lebih terkagum-kagum sama kamu nanti. " sambung Okta sambil menarik tangan ku
Selang 20 menit kemudian kami keluar dari kamar Mey. Tapi aku memilih berjalan di belakang mereka karna merasa sedikit kurang percaya diri.
" Yuk berangkat. " kata Mey sambil mempersilahkan semua nya keluar ke parkiran mobil
" Kamu terlihat cantik Mey. " kata Ruly
" Okta juga cantik malam ini. " kata Felix
Sedangkan Andika masih kebingungan yang tak melihat sosok diri ku.
Kemudian Okta berdiri di sebelah Felix, yang kemudian di susul oleh Mey berdiri di sebelah Ruly.
Seolah mereka membuka jalan untuk mempertemukan ku dengan Andika.Karna aku tadi masih berdiri di belakang Okta dan Mey.
Saat Andika melihat ke arah ku, seketika dia pun termenung. Seakan tak percaya dengan sosok Nana yang di lihat nya malam ini.
" Udah dong Ndika ngeliat nya. Kasian tuh Nana sampai merah gitu muka nya. " sahut Okta
" Hm, maaf .. maaf Na. " balas Andika dengan kikuk
Sampai di parkiran mobil Okta masuk ke mobil Felix, sedangkan Mey juga sudah masuk ke mobil Ruly.
Astaga, ini bearti aku semobil dengan Andika dong???
Aku pun merasa bingung dan canggung dengan situasi seperti ini.
" Ndika, titip Nana sebentar ya. Awas lho ya, jangan macem-macem. Kalau gak nanti aku buat perhitugan lho sama kamu. " teriak Okta dari dalam mobil Felix
" Iya beres bos. " sahut Andika
" Kita nanti ketemu di cafe WY ya. " pinta Mey yang juga mulai berangkat dengan mobil nya Ruly
Sekarang hanya tinggal aku dan Andika di sini.
Aku masih canggung dan gak tau harus berkata apa.
" Ayo silahkan masuk. " sapa Andika sambil membukakan ku pintu mobil nya
" Makasih. " sahut ku sembari masuk ke dalam mobil
Andika pun segera mengendarai mobil nya. Namun Andika terlihat santai menyetir nya, tidak seperti gaya Okta menyetir.
" Kamu cantik Na malam ini. "
" Hm, bearti cuma malam ini aja ya? Biasa nya di sekolah aku gak cantik ya? " tanya ku untuk menggoda nya
" Eng .. eng .. enggak kok. Kamu selalu cantik di mata ku Na. " dengan gugup Andika menjawab pertanyaan ku
" Hahahaha .. Makasih ya Ndika. " sahut ku sambil tersenyum ke arah nya
" Maaf Na, tadi aku gak bisa angkat telpon mu karna aku masih isi bensin. Gak apa-apa kan? "
" Iya Ndika gak apa-apa kok. Tadi aku cuma mau tanya apa kamu jadi ikut apa gak. "
" Wah, ternyata kamu perhatian banget ya Na sama aku. "
" Iiihh, jangan GR kamu Ndika. " jawab ku sambil memalingkan wajah ku ke arah kiri.
" Hahahaha ..iya Na sori, jangan marah ya. Aku tadi cuma bercanda kok. "
Saat ku dengar kata-kata nya, sontak membuat ku tertawa. Tapi ku tahan tawa ku dengan menutup mulutku
" Kamu kok ketawa Na? Apa jangan-jangan kamu lagi ngerjain aku ya? "
" Iya .. iya Ndika sori-sori. Aku ketawa soal nya kamu kayak anak kecil merengek-rengek minta di belikan permen. Asli lucu Ndika. "
" Nah, gitu dong tersenyum. Jangan cemberut aja. "
" Iya deh .. iya .. "
Sepanjang perjalanan kami pun banyak bercerita satu sama lain. Entah tentang makanan kesukaan, warna favorit, dan lain sebagai nya. Tak lupa di setiap cerita kami ini, juga selalu saja ada canda tawa. Sehingga tidak membuat kami merasa bosan.
__ADS_1
Oh Tuhan, seandai nya waktu bisa berhenti sebentar saat ini. Aku ingin Engkau mengabulkan nya. Walau terkesan egois, tapi tak apa. Asal aku bisa selalu melihat senyum dan kebahagiaan di wajah nya ini.
~ Doa Andika dalam hati ~