
Kami pun akhir nya sampai di resto WY.
Terlihat semua orang sedang menunggu kami di pintu masuk resto. Mungkin karna mereka gak mau kalau kita duduk terpencar.
Selesai memarkirkan mobil nya, Andika langsung turun dan membukakan pintu untuk ku. Layak nya menyambut seorang tuan puteri.
" Silahkan tuan puteri ku. " kata Andika sambil sedikit membungkuk kan badan di depan ku
" Ma .. makasih ya Ndika. " jawab ku dengan gugup
Dengan segera kami pun menghampiri mereka semua. Namun tak bisa ku sembunyikan muka ku yang sudah merah merona sejak turun dari mobil tadi.
Bagaimana tidak, betapa bahagia nya diri ku di perlakukan seperti tadi oleh Andika. Cowok yang menurut ku sangat tampan dan baik hati.
" Cie .. cie .. yang baru dateng nih. Kok lama amat sampai nya di sini? Jangan-jangan emang nyetir nya di pelan'in ya tadi, supaya bisa berdua'an terus. "
(mulai lah Okta menggoda kami karna melihat wajah ku yang memerah)
" Hais, apa'an sih Ta. Jangan mulai usil ya. "
(sambil ku tepuk pundak Okta)
" Udah-udah, jangan berantem lagi. Yuk kita masuk, udah pada laper kan? " sahut Mey
Akhirnya kami semua pun masuk bersama'an.
Betapa takjub dan kagum aku melihat dekorasi resto ini yang begitu manis dan elegan. Sangat cocok untuk para pasangan yang sedang di mabuk cinta.
Tak beberapa lama, Mey menunjuk ke arah tempat duduk yang sudah di pesan nya tadi siang.
Mey memilih ruangan outdoor agar bisa melihat bintang-bintang di luar. Di tambah lagi cuaca malam ini yang cerah, seakan semua bintang sedang tersenyum ke arah kami.
Semua dekorasi serta menu di resto ini semua bertemakan " Kasih Sayang Abadi "
Dari taplak meja, hiasan dinding, sama seragam pelayan nya pun semua bernuansa merah dan pink.
Yang melambangkan kehangatan dan kebahagiaan dari cinta.
Aku pun sempat berfikir, apakah kita tidak salah masuk ke resto ini? Karna suasana di sini begitu romantis, belum lagi kita semua saat ini belum berstatuskan pasangan semua nya.
" Ta, apa kita gak salah masuk resto ni? Kok aku merasa gimana gitu ya. " bisik ku pada Okta
" Gak apa-apa, meski berbeda dari apa yang kita pikirkan tapi kita harus tetap menjaga perasaan nya si Mey. Karna dia yang sudah susah payah mengumpulkan kita di sini dan yang sudah memesan tempat ini untuk kita. " sahut Okta berbisik pada ku
" Eh, kalian lagi bisik-bisik apa'an sih? Kok aku gak di ajak? Oy, apa kalian gak suka sama menu makanan di sini? Atau mau cari resto lain kah? " tanya Mey heran
" Eng .. enggak apa-apa kok Mey. Tadi kita cuma berdiskusi mau pilih menu yang mana, karna ini semua kesukaan kita. Bener gak Ta? " jawabku sambil menyenggol lengan kiri Okta
" Iya .. iya bener Mey. " balas Okta sambil melirik ke arahku
" Ta, kita pesan menu 'Kabut Cinta' aja ya. Karna kelihatan enak. " kata Felix sambil memperlihatkan gambar makanan dari menu yang dia pilih
" Iya boleh deh Lix. " sahut Okta dengan penuh semangat
Padahal sebenar nya aku ingin memesan dengan Okta, biar Felix nanti pilih menu nya sama Andika aja. Tapi aku udah keduluan sama Felix.
Fiuh, kalau kayak gini kan bearti emang seperti kita datang berpasang-pasangan.
Tanpa terasa aku pun melamun melihat ke arah Okta dan Felix.
" Na, kalau kamu mau pesan menu yang mana?
Atau mau aku pilih'in? " tanya Andika
Aku pun kaget saat Andika bertanya pada ku.
Bagaimana tidak, karna semua menu di sini untuk porsi 2 orang. Yang memang di peruntukan bagi sepasang kekasih.
" Hm, aku pilih yang ini aja gimana Ndika? " jawab ku sambil asal-asalan menunjuk ke arah buku menu
" Yakin pesan yang itu? " tanya Andika sekali lagi untuk menyakinkan ku
Aku pun mengangguk tanda sudah mantap dengan pilihan ku.
Kemudian Mey melambaikan tangan untuk memanggil pelayan agar mencatat pesanan kami.
" Iya Nona, ada yang bisa saya bantu? " tanya seorang pelayan dengan sopan nya
" Iya mbak, ini kita mau pesan. Tolong di catat ya.
Kabut cinta nya 1, Cinta abadi nya 1, sama Merah membara nya 1. Untuk sementara itu aja dulu ya Mbak, nanti kalau ada tambahan kami panggil lagi. " kata Mey dengan lembut
" Baik Nona, saya ulangi pesanan nya ya.
Kabut cinta nya 1, Cinta abadi nya 1, sama Merah membara nya 1. Apa ada yang kurang dari yang saya sebutkan tadi Nona? " tanya nya sopan
" Enggak ada Mbak, udah bener itu semua. "
" Baik, silahkan di tunggu pesanan nya. Sambil menunggu pesanan-pesanan nya mungkin bisa mengisi waktu dengan ikut berdansa di sana dengan para tamu yang lain nya. Ini merupakan salah satu fasilitas dari resto kami. Terima kasih. "
Di meja ini kami masih merasa canggung satu sama lain. Mey yang paham dengan situasi ini akhirnya mengajak kami semua untuk berkenalan dengan Ruly. Karna kami tak saling mengenal, di karenakan Ruly beda sekolah dengan kami.
" Ruly, kenalin ini teman-teman sekolah ku.
__ADS_1
Yang pakai dress peach itu Okta, yang di sebelah nya itu Felix. Yang pakai dress biru muda itu Nana, yang di sebelah nya itu Andika. "
" Halo, perkenalkan nama saya Ruly. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua. " sahut Ruly sambil tersenyum ke arah kami
Selesai perkenalan, kami pun langsung akrab satu sama lain. Kemudian kami berbincang-bincang dan bercanda bersama.
Setelah beberapa menit, makanan pesanan kami pun datang. Semua nya terlihat lezat dan nikmat.
Tapi mengapa ada satu menu yang terlihat aneh, apakah itu menu pesanan ku? Ah, entahlah. Kita lihat saja nanti.
" Kabut cinta nya 1.
Di letakkan sebelah mana ya Nona? "
" Sini-sini Mbak. " sahut Okta
" Cinta abadi nya 1.
Di letakkan sebelah mana ya Nona? "
" Di sini aja Mbak. " sahut Mey
" Merah membara nya.
Di letakkan sebelah sini ya Nona? "
Aku masih terkejut melihat menu yang ku pilih ini, sampai-sampai aku tidak mendengar penjelasan pelayan nya.
" Iya Mbak sebelah sini aja. Terima kasih. " sahut Andika dengan lembut, untuk mewakili ku menyahuti pertanyaan pelayan tadi
" Kamu kenapa Na, kok melamun gitu? Apa menu ini kamu gak suka? " tanya Andika dengan melihat ke arah ku
" Enggak Ndika, suka kok. Ayo kita makan. " jawab ku seketika yang membuat bingung Andika
" Mari makan. " kata kami semua bersama'an
Semua nampak mesra dan menikmati makanan nya masing-masing. Tapi tidak dengan ku. Karna aku hanya bersikap biasa saja dengan Andika.
Saat aku mulai melahap makanan ku, tiba-tiba ..
" Uhuk .. uhuk .. "
" Kamu kenapa Na? Ini minum sirup nya dulu. " tanya Andika dengan panik nya
" Kamu gak apa-apa Na? " tanya Okta sambil menghampiri ku yang masih meminum sirup
" Iya aku gak apa-apa kok. Kalian lanjutin makan nya ya, aku permisi ke kamar mandi dulu. " jelas ku singkat
Aku pun segera pergi ke kamar mandi dan saat akan masuk ke dalam kamar mandi wanita, tiba-tiba ..
Ingin ku lihat siapa yang telah menabrak ku.
Tanpa basa-basi pria itu pun memaki-maki diri ku dengan perkataan yang cukup kasar bagi seorang wanita.
Tiba-tiba ada bayangan pria dari arah belakang ku yang langsung melayangkan hantaman nya ke arah orang yang menabrak ku tadi.
" Apa pantas kamu bicara seperti itu sama seorang wanita hah? Apa jangan-jangan kamu bukanlah seorang pria sejati, tapi seorang ban**. "
Suara itu terdengar familiar oleh ku. Dengan cepat aku melihat ke arah depan. Ternyata itu adalah Andika yang berusaha membela ku barusan.
" Apa urusan mu ikut campur urusan ku? "
dengan cepat ia menarik kerah baju Andika hendak membalas pukulan tadi
Andika pun langsung menempis tangan orang itu dan ingin memukul nya lagi. Tetapi aku langsung memegang tangan nya, memberi kode untuk tidak meneruskan pukulan nya. Yang nanti nya akan mengakibatkan mereka berdua babak belur.
Andika yang melihat ku menangis, mulai meredakan amarah nya. Namun dengan cepat orang itu memukul pipi kiri Andika, membuat nya terjatuh ke lantai.
Aku pun takut dan kebingungan mencari bantuan untuk melerai mereka. Tetapi saat aku hendak pergi, ada 2 orang petugas keamanan yang melerai mereka untuk tidak berkelahi lagi.
Andika yang terlihat mulai tenang, menggenggam tangan ku dan menarik ku pergi dari sana.
Sedangkan orang gi** yang menabrak ku masih saja melontarkan kata-kata kasar ke arah ku dan Andika.
Tapi sama sekali tidak kami hiraukan dan berlalu pergi dari sana.
Kami pun pergi keluar dari resto itu.
Ku lihat Andika sesekali mengusap pipi nya yang masih lebam karna terkena pukulan tadi.
" Ndika, maaf'in aku ya. Harus nya tadi kamu gak usah ikut campur urusan ku dengan orang itu. "
(walau dengan sekuat tenaga aku tidak mau menangis, tetap saja air mata ini tak mampu ku bendung lagi)
Andika pun langsung menghentikan langkah nya, dan seketika berbalik badan ke arah ku.
Dengan lembut di usap nya air mata ku dengan kedua tangan nya. Kemudian di tegakkan nya kepala ku menghadap ke arah nya. Sehingga jarak antara kita berdua kini semakin dekat.
Dug .. dug .. dug .. dug .. dug ..
Jantung ku mulai berdetak tidak karuan.
" Na, akulah yang seharusnya minta maaf ke kamu karna sudah lalai menjaga mu tadi. Sehingga ada cela bagi orang gi** itu untuk mencaci-maki diri mu dan berhasil membuat mu menangis. Seandai nya aku tadi datang tepat waktu, pasti hasil nya tidak akan seperti ini. " pinta Andika yang masih menghapus air mata ku
__ADS_1
" Ta .. tapi Ndika .. "
" Ssttt .. " jari telunjuk Andika pun mendarat di bibir ku, seolah dia tidak mengijinkan ku untuk berbicara lagi.
Dengan rasa bersalah, aku pun refleks memeluk tubuh Andika.
Kemudian Andika pun membalas pelukan ku.
Di dalam pelukan nya, aku merasa nyaman dan tenang. Tak terasa air mata ku sudah berhenti dengan sendiri nya dan telah berganti sebuah senyuman di wajah ku.
Drtt .. drtt .. drtt ..
Aku pun segera melepas pelukan Andika dan bergegas menjawab panggilan telepon ku.
" Sayang, ingat ya nanti jangan pulang malam-malam. " pinta ma2 yang berusaha mengingatkan ku
" Iya ma pasti. Ini udah mau pulang kok. "
" Oke sayang. Hati-hati di jalan ya. Titip salam untuk nak Okta. "
" Iya ma. " sahut ku sembari mematikan telepon ku
" Wah, ada yang gak boleh pulang malam-malam nih. "
" Hih, apa'an sih Ndika. Mulai deh nguping pembicaraan orang seenak nya. "
" Hahahaha .. iya deh maaf .. maaf. "
" Oh ya Ndika, lebam di pipi mu apa masih sakit?
Kita ke apotik dulu yuk buat beli obat di sana, nanti aku yang bantu kamu pakai obat nya. "
" Aduh .. aduh .. sakit nya. "
Tanpa berpikir panjang aku pun memegang pipi Andika yang lebam. Kemudian ku tiup-tiup untuk meringankan rasa sakit nya.
Andika mulai tersenyum melihat tingkah laku ku ini.
" Gimana Ndika, apa sudab baik'an sekarang? "
" Sudah mendingan Na. Tapi bakal lebih cepet sembuh kalau kamu tiup'in terus nih pipi ku. "
" Iih , apa'an sih Ndika. Jangan-jangan kamu tadi cuma ngerjain aku ya? Huh, dasar modus kamu Ndika. "
" Modusin wanita cantik kayak kamu gak apa-apa kan Na. Kan jarang-jarang kamu perhatian sama aku kayak gini. Andai aja aku kena pukulan lebih banyak aku pasti rela Na, yang penting bisa dapat pelukan dan perhatian kamu Na. "
" Huts, gak boleh bilang gitu Ndika. Gak baik tau. "
" Iya deh. Sekali lagi makasih banyak ya Na.
" Iya sama-sama Ndika. "
Akhirnya kami pun berjalan menuju parkiran mobil.
Seperti biasa, Andika selalu membuka kan pintu untuk ku. Aku pun segera masuk. Yang kemudian di susul oleh Andika duduk di sebelah ku.
Dengan perlahan Andika menyetir mobil nya.
Kemudian kami pun berhenti di depan sebuah apotik.
Aku pun bergegas keluar mobil dan masuk apotik untuk membeli kotak P3K untuk mengobati lebam di pipi Andika. Selang beberapa menit aku pun kembali masuk ke dalam mobil Andika.
Dengan cepat aku membuka kotak P3K yang sudah aku beli tadi.
" Tahan sedikit ya Ndika. Nanti pasti bakal sakit. "
" Tenang aja Na, selama ada kamu di samping ku semua rasa sakit bisa aku tahan. "
" iih, apa'an sih Ndika. "
Ku bersihkan terlebih dahulu pipi nya, kemudian ku oleskan obat merah.
" Nah, udah selesai nih Ndika. Sekarang tolong antar aku pulang ya. "
" Siap nona cantik. "
Andika langsung mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang biasa saja.
Kemudian kami pun saling melempar senyum dan mulai bersenda gurau.
Selama di dalam mobil, tak lupa aku mengirim pesan singkat untuk Okta dan Mey karna aku pulang duluan tanpa berpamitan terlebih dulu ke mereka. Tetapi tentang kejadian di kamar mandi tadi, tidak aku ceritakan pada mereka terlebih dahulu. Karna aku gak mau mereka malah merasa bersalah juga karna tidak bisa melindungi ku.
Ku letakkan ponsel ku di dalam tas ransel ku sambil ku hembuskan nafas panjang agar aku merasa lega.
Kemudian aku melihat ke depan dan melihat bintang-bintang yang masih saja tersenyum ke arah kami.
Yang cukup menggambarkan betapa indah dan damai nya malam ini. Kejadian menyakitkan tadi harus segera ku lupakan dan aku ganti dengan kebahagiaan.
Karna aku telah mendapat seseorang yang bersedia bersama ku di dalam kelemahan ku ini.
Tetapi Andika, ijinkan aku untuk bisa mengenal mu terlebih dahulu melalui pertemanan kita ini.
Karna bukan suatu hal yang mudah untuk memulai suatu ikatan pacaran. Karna bagi usia kita ini sangatlah gampang berganti-ganti pacar. Tapi tidak dengan ku. Setelah kita lalui pertemanan ini, baru aku akan bisa memutuskan bagaimana perasaan ku pada mu kelak. Hingga tiba saat nya nanti, janganlah pernah berubah terhadap ku, Andika ..
__ADS_1
Inilah doa ku untuk malam ini ya Tuhan.
Tolong simpan doa ku ini dan kabulkanlah semua nya pada waktu yang tepat. Amin ..