Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
20) Tetap kuat


__ADS_3

Tak lama kemudian Felix menghampiri Okta yang masih duduk di samping ku.


Setelah itu di susul oleh Andika yang juga datang menghampiri ku.


" Yuk ke kantin sama-sama. Udah laper nih " ajak Okta


" Oke. " sahut ku, Andika dan Felix bersama'an.


Kami pun berjalan bersama-sama menuju kantin.


Saat asyik berbincang-bincang untuk menentukan pilihan menu makan kali ini, tiba-tiba ...


Aku melihat lelaki itu lagi, lelaki yang selalu menghina dan memaki-maki diri ku. Melihat nya semakin membuat ku muak. Aku tak mau jikalau nanti Andika dan diri nya mulai baku hantam kembali.


Sebelum Andika menyadari kehadiran orang yang tak di inginkan itu, sebaik nya aku mengajak mereka semua untuk tidak makan di kantin. Lebih baik kembali ke kelas saja.


" Ta .. kita balik ke kelas yuk. Ada barang ku yang ketinggalan. "


ku gandeng tangan Okta dan berbalik badan hendak kembali ke kelas.


" Eits, ada apa Na? Barang apa yang ketinggalan?


Biar aku aja yang ambil'in ya, kalian tunggu aja di sini. "


kata Okta sambil berusaha menghentikan langkah ku.


" Eng ..enggak apa-apa Ta, kita ambil sama-sama aja ya. Andika sama Felix juga nanti tolong bantu aku cari barang ku yang ketinggalan di kelas ya. Maklum lah, karna aku sedikit teledor juga pelupa. Hehehehe "


ku langkahkan kaki ku dengan tetap menggandeng tangan Okta dan mengajak nya untuk segera menjauh dari arah kantin. karna aku gak mau kejadian yang kemarin malam terjadi lagi di sini.


Akhirnya aku berhasil membawa mereka semua kembali ke kelas. Namun tak dapat ku sembunyikan bahwa ada rasa ketakutan dan kecemasan yang tampak begitu jelas di raut wajah ku.


" Na, kamu ini sebenar nya kenapa? Sebenar nya gak ada kan barang mu yang ketinggalan? Kamu hanya ingin membawa kami kembali ke kelas kan? Terus kenapa muka mu kok jadi pucat begitu? Coba jelaskan Na, jangan ada apapun yang kamu sembunyi'in dari kami. " terang Okta

__ADS_1


" Hm, iya Ta. Emang bener gak ada barang ku yang ketinggalan. Aku sengaja bawa kalian kembali ke sini karna aku gak mau kejadian tadi malam terulang lagi. "


" Kejadian .. kejadian apa Na maksud mu? " tanya Okta heran


Felix yang masih terlihat bingung dan tak tahu harus berbuat apa mencoba memberi isyarat pada Okta untuk memberi ku waktu supaya dapat menceritakan semua nya.


" Felix, apa bisa minta tolong kamu sama Okta beli'in kita makanan dulu di kantin? Kita nunggu kalian di kelas aja ya, nanti kalau udah beli makanan nya. Kita makan bareng di kelas aja. " sahut Andika dengan tenang


" Tapi Ndika, Nana belum jawab pertanyaan ku. "


" Udah Ta, yuk kita bantu Nana sama Andika buat beli makanan dulu. Biar Nana tenang'in diri nya dulu sama Andika di sini. " sahut Felix sambil mengajak Okta untuk pergi


" Na, kamu kenapa? Apa maksud nya kejadian semalam yang terjadi di depan kamar mandi resto? Terus apa hubungan nya sama kita gak boleh ke kantin? Apa jangan-jangan cowok ban** itu muncul di kantin tadi ya? " tanya Andika dengan heran


Aku pun tak mampu berkata apa-apa dan hanya mengangguk tanda mengiyakan perkataan Andika tadi. Namun dengan segera Andika hendak berdiri dan kembali ke kantin untuk menemui lelaki itu.


Seketika ku tahan Andika dengan tangan ku, agar Andika tak pergi ke mana pun.


Andika yang melihat ku begitu ketakutan, akhir nya memilih untuk tetap duduk di samping ku. Diri nya merasa tak tega untuk meninggalkan ku dengan kondisi seperti ini.


" Apa??? Kakak kelas???


Ndika, please jangan ulangi pertengkaran kemarin.


Aku gak mau kamu baku hantam lagi, itu membuat ku merasakan sakit yang tak dapat ku katakan lagi. "


sahut ku sambil mencoba menahan air mata ini


" Na, aku gak mau bikin kamu sedih. Tapi aku juga gak bisa biar'in orang yang menghina dan memaki-maki diri mu seenak nya. "


" Ndika, apapun alasan nya aku gak mau kamu berkelahi lagi. "


" Oke Na, kalau itu mau mu. Aku janji gak akan berkelahi lagi. "

__ADS_1


Okta dan Felix yang sedang menguping pembicara'an kami pun tak tahan untuk masuk dan menyampaikan uneg-uneg mereka. Tapi karna aku masih lemas dan tak mampu berkata-kata, akhir nya Andika yang menceritakan kejadian tadi malam pada mereka.


Okta yang mendengar cerita itu langsung marah dan berusaha kembali ke kantin untuk memarahi lelaki tersebut. Untunglah Felix bisa berhasil menahan amarah Okta yang meluap-luap itu.


" Ta, maaf'in aku ya. Bukan nya aku gak mau cerita ke kamu. Tapi aku ... "


" Udah Na gak apa-apa, yang penting sekarang kamu udah merasa lega dan gak perlu takut sama orang itu. Kalau ada apa-apa kamu jangan pernah sembunyi'in dari aku. Kan aku sahabat mu Na. "


" Iya Ta makasih banyak ya. "


ku peluk Okta dengan erat sambil ku teteskan air mata yang sudah tak kuat aku menahan nya dari tadi


" Sudah-sudah, sekarang masalah nya kan udah beres. Tapi perut kita juga masih perlu di isi untuk pelajaran selanjut nya. Ini aku sama Okta udah beli banyak makanan. Yuk makan sama-sama. "


sahut Felix sambil menyodorkan berbagai bungkusan makanan di depan kita


" Wah, banyak banget. Makasih ya Lix. " jawab Andika


" Iya sama-sama. Ayo makan. Mulai hari ini sekarang kita berteman ya bro, dan kamu juga Nana. Jangan sungkan-sungkan kalau sama aku. Anggap aja aku ini juga teman mu. " seru Felix


Aku pun mengangguk tanda menyetujui perkataan Felix barusan. Walaupun aku tidak seberapa mengenal Felix, tapi aku yakin dia orang nya juga baik dan yang terpenting bisa di andalkan untuk Okta.


Tanpa menunggu lama, kami pun menyantap makanan kami dengan lahap nya dan makanan kami pun habis tak bersisa.


Kami pun tertawa bersama-sama dan kembali berbincang-bincang.


" Ndika, makasih ya kamu udah jagain sahabat ku semalam tadi. Aku memang sahabat nya, tapi aku tidak bisa selalu bersama nya. Kelak aku pun akan ada seorang kekasih, jadi akan sulit bagi ku untuk bisa selalu menemani nya. Tolong bantu aku untuk tetap menjaga senyuman dan kebahagiaan nya ya. Makasih Ndika sebelum nya. Aku benar-benar mempercayakan Nana ku pada mu, teruslah berjuang untuk mendapatkan cinta nya, dan janganlah pernah menyakiti dan mengecewakan nya. Berjanji lah pada ku Ndika. "


pinta Okta sambil melihat ke arah ku yang masih sibuk membersihkan bungkus-bungkus makanan kami tadi.


" Aku gak bisa membuat janji ini Okta, tapi aku akan berusaha membuktikan bahwa aku benar-benar tulus mencintai dan menyayangi Nana. Gak peduli bagaimana Nana menanggapi perasaan ku, asalkan dia bahagia pasti aku juga bahagia. Dan aku pasti berusaha untuk tidak membiarkan ada orang-orang yang menyakiti nya. "


jawab Andika sambil tersenyum ke arah ku

__ADS_1


Betapa bahagia nya diri mu Na, saat kau tahu bahwa ada orang-orang yang begitu peduli dan sayang pada diri mu dengan tulus. Semoga kau selalu bahagia Nana, ini doa tulus ku untuk mu sebagai tanda pertemanan kita. (doa Felix dalam hati)


__ADS_2