
Melihat Nana yang masih begitu muda dan cantik,
benar-benar tak menduga jika ia sedang berjuang melawan penyakit ganas itu.
" Semoga Tuhan segera mengangkat sakitmu itu sayang ..
Dan semoga hasil CT scan besok tidak ada kabar buruk lagi.
Amin .. amin .. "
doa Steven dalam hati sambil terus memperhatikan Nana
" Sayang, kenapa kamu melamun saja di sana?
Oh ya, apa dokter sudah menjelaskan bagaimana kondisi Nana dan penyebab sakitnya ini? "
tanya mama Steven
" Iya ma tadi Steven sudah bicara sama dokter yang menangani Nana.
Dokter bilang Nana hanya kecapekan saja dan tidak ada yang perlu di kuatirkan. "
jelas Steven
" Syukurlah kalau begitu.
Bearti Nana bisa pulang sekarang 'kan sayang? "
tanya mama Steven dengan penuh harap
" Hm .. mm .. Tentang itu belum bisa ma ..
Karna Nana masih harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut sampai besok siang.
Jadi Nana hari ini masih harus menginap di sini untuk memudahkan dokter mengkontrol kondisi Nana.
Sebab demam Nana masih bisa naik-turun tanpa mengenal waktu.
Jika Nana di sini pasti dapat lebih cepat di tangani dan tidak memakan waktu yang banyak untuk datang kemari.
Tapi mama sama papa tenang aja,
Steven pasti selalu di sini untuk menjaga dan menemani Nana. "
sahut Steven
" Jangan nak Steven, biar paman sama tante saja yang menemani Nana di sini ya.
Nak Steven istirahat saja dulu sama Bapak dan Ibu Ngui. "
sela papa Nana
" Tidak apa paman biar saya saja yang menjaga dan menemani Nana di sini.
Karna jika Paman dan tante di sini,
nanti kasihan David dan Agnes tidak ada yang menjaga mereka. "
terang Steven
" Iya pa benar yang dikatakan kak Steven.
Papa sama mama pulang aja dulu supaya bisa istirahat.
Kelihatannya David dan Agnes juga sudah merasa lelah.
Jangan kuatir, Nana di sini pasti baik-baik saja. "
sahutku sambil tersenyum
" Kalau memang itu yang sudah di putuskan,.
papa dan mama tidak akan memaksa lagi.
Tolong jaga anak perempuan paman yang manja ini ya nak Steven. "
ucap papa Nana sambil mengusap kepala Nana
" Jangan kuatir paman.
Nana pasti Steven jaga baik-baik.
Kalau nanti Nana tidak mau minum obat-oabtnya,
biar nanti Steven panggilkan dokter untuk menyuntiknya. "
goda Steven
" Kenapa main suntik aja?
Emang aku anak kecil apa yang takut sama jarum suntik?
Sori ya aku gak seperti itu orangnya. "
sahut Nana sambil cemberut
" Iya-iya kita semua percaya kok kalau kamu gak takut sama jarum suntik.
Yang penting sekarang nak Nana cepat sembuh dulu supaya kita semua bisa berkumpul sama-sama lagi. "
jawab mama Steven
" Iya tante.
Tapi .. Nana minta maaf ya ..
Karna Nana sakit jadinya hari ini kita semua tidak jadi untuk berbelanja keperluan pertunangan. "
ucap Nana sambil menundukkan kepala
" Soal belanja itu gampang sayang.
Serahkan semuanya pada kita para orangtua.
Untuk pengukuran baju pasangan kalian,
nanti tante akan bawa baju dari kalian berdua untuk di jadikan contoh.
Sehingga nanti tante bisa berikan pada penjahit untuk dijahitkan sesuai ukuran baju kalian itu saja.
Tetapi yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu sayang.
Jangan pikirkan hal-hal yang lainnya dulu ya. "
ucap mama Steven sambil memegang tangan Nana
" Makasih banyak ya tante. "
__ADS_1
sahut Nana sambil tersenyum
" Sama-sama sayang. "
ucap mama Steven sambil tetap memegang tangan Nana
" Kalau begitu sekarang kita semua pamit pulang dulu ya,
agar nak Nana dapat beristirahat.
Dan tentu saja besok kita akan datang lagi kemari untuk menjemputmu. "
ucap papa Steven sambil tersenyum
" Iya om, terima kasih banyak sudah datang kemari. "
sahutku sambil tersenyum
" Sama-sama nak Nana.
Kalau nanti perlu sesuatu segera hubungi om dan tante ya.
Jangan pernah sungkan sama kita semua,
karna sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga. "
ucap papa Steven sambil mengusap kepala Nana
" Sayang, sekarang papa sama mama juga pulang ya.
Kamu istirahat yang banyak,
jangan lupa obat-obatnya nanti di minum. "
pamit papa Nana
" Iya pa pasti Nana minum nanti obat-obatnya.
Papa dan semuanya hati-hati di jalan ya. "
sahutku sambil tersenyum
Setelah selesai berpamitan,
kedua orangtua Nana dan Steven pergi meninggalkan rumah sakit.
Sedangkan Steven masih terus menjaga dan menemani Nana di dalam kamar.
" Sayang, sekarang kamu istirahat dulu ya.
Nanti kalau sudah waktunya makan,
aku bangun'in kamu. "
ucap Steven dengan penuh perhatian
" Aku tidak mau tidur lagi ah.
Dari tadi aku udah banyak istirahat.
Sekarang temani aku ngobrol aja ya sayang. "
pintaku manja
" Ya sudah kalau gitu.
sahut Steven dengan penuh rasa penasaran
" Tapi kamu harus janji sama aku kalau tidak ada apapun yang akan kamu sembunyikan dariku,
walau itu adalah hal yang menyakitkan untuk diriku.
Apa kamu bisa memenuhi permintaanku ini sayang? "
tanyaku dengan serius
" Aku janji. "
ucap Steven dengan tegas
" Kalau begitu sekarang coba kamu jelaskan padaku tentang penyakitku ini.
Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari semua orang,
saat mereka masih berada di sini tadi. "
sahut Nana dengan tatapan tajam ke arah Steven
** Tap .. tap .. (suara langkah kaki)
Dengan cepat Steven berjalan menjauhi Nana.
Karna ia begitu berat mengatakan pada Nana tentang diagnosa dokter Edo tadi.
Dan ia juga sudah berjanji pada dokter Edo untuk tidak menceritakan penyakitnya ini pada Nana.
" Apa yang harus ku katakan sekarang,
aku sudah berjanji pada mereka berdua.
Mana yang harus aku tepati saat ini ??? "
gumam Steven dalam hati
" Sayang .. mengapa kamu menjauh dariku?
Pasti ucapanku barusan benar,
ada sesuatu hal yang kamu sembunyikan dariku tentang penyakitku ini.
Hah .. (menghela nafas)
Jika memang itu sulit untuk kamu katakan padaku,
maka aku tidak akan memaksamu lagi.
Tapi sekarang apa aku bisa minta tolong tinggalkan aku sendirian di sini?
Saat ini yang aku butuhkan hanyalah ketenangan. "
pinta Nana
" Baiklah. "
sahut Steven sambil melangkah keluar kamar
Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?
__ADS_1
Mengapa kak Steven tadi terlihat begitu cemas untuk menceritakan hal itu padaku?
Apakah memang ada penyakit ganas yang sedang menggerogoti tubuhku ini?
Dengan perlahan aku meraih tiang tempat menggantung kantung infus dan membawanya berjalan bersamaku.
** Sret .. sret ..
(membuka gorden dan jendela kamar)
Tak ku sangka ternyata rumah sakit ini memiliki taman belakang yang sangat indah.
Tak heran jika banyak pasien yang memilih untuk duduk-duduk di sana dan menikmati pemandangan hamparan lautan bunga yang luas.
Walau aku hanya dapat melihatnya dari jendela kamar ini,
tetapi aku sudah dapat merasa bahagia dan sedikit terhibur dengan kecantikan bunga-bunga yang ada di taman itu.
*** **** ..
Tiba-tiba ada seseorang yang memakaikan ku selimut dari arah belakang.
" Jangan berlama-lama di depan jendela,
angin sepoi-sepoi ini bisa saja membawa penyakit baru untukmu.
Tubuhmu ini baru saja pulih,
lebih baik kamu istirahat saja di dalam. "
ucap Steven sambil memeluk Nana dari arah samping
" Tidak sayang.
Biarkan aku di sini sebentar lagi.
Karna aku sangat mengagumi bunga-bunga itu.
Mereka dapat bertumbuh dengan bebas dan bermekaran di sana.
Tidak seperti diriku yang selalu saja tidak dapat memiliki pilihan dan kebahagiaanku sendiri. "
sahut Nana sambil menyadarkan kepalanya pada pundak Steven
" Apakah maksudmu ini .. ka .. kamu ..
kamu telah terpaksa memilih bersamaku???
Dan sampai saat ini kamu tidak pernah merasa bahagia bersamaku? "
tanya Steven
Telah berlalu beberapa menit namun tidak ada jawaban sama sekali dari Nana.
Karna merasa kuatir,
Steven akhirnya mencoba untuk menepuk lembut pipi kiri Nana.
Namun hasilnya tetap sama.
Nana tidak bergerak sama sekali.
Dengan cepat Steven menggendong Nana kembali ke tempat tidur dan segera memanggil suster untuk menghubungi dokter Edo.
" Sayang .. ada apa denganmu???
Jangan membuatku takut seperti ini ..
Jika memang kamu merasa tidak bahagia saat bersamaku,
maka aku rela melepasmu pergi untuk mengejar kebahagiaanmu itu.
Karna kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. "
ucap Steven sambil memegang tangan kanan Nana
" Permisi .. saya adalah dokter piket di sini.
Saya akan memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu sambil menunggu dokter Edo datang kemari. "
pinta dokter piket tersebut dengan sopan
" Baik dok. Silahkan di periksa. "
sahut Steven sambil melangkah mundur ke belakang
" Kondisi pasien baik-baik saja.
Tadi ia pingsan karna beban pikirannya.
Tolong usahakan agar pasien tidak dalam kondisi tertekan dan selalu bahagia,
agar ia tidak kembali memiliki beban pikiran yang berat dan akhirnya pingsan lagi nantinya.
Untuk makanan dan obat-obatnya akan kami antarkan sekitar dua puluh menit lagi.
Jika pasien masih belum sadar,
maka dengan sangat terpaksa,
makanan, minuman, serta obat-obatannya akan kami siapkan yang berbentuk cair.
Agar dapat di masukkan ke dalam kantong infus.
Jika tidak ada lagi hal yang mau di tanyakan,
saya mau permisi dulu untuk menangani pasien yang lain. "
ucap dokter piket tersebut dengan sopan
" Terima kasih dok. "
sahut Steven
" Sama-sama. "
jawab dokter piket tersebut sambil pergi meninggalkan kamar Nana
" Syukurlah tidak terjadi apa-apa denganmu sayang.
Mulai saat ini aku berjanji pada diriku untuk selalu berusaha memberikan kebahagiaan untukmu,
dan tidak akan membiarkanmu menanggung beban pikiranmu sendiri.
Aku pastikan bahwa aku akan selalu ada untukmu. "
ucap Steven sambil mencium kening Nana
__ADS_1