
Sekolah hari ini telah usai.
Tetapi aku saat ini begitu merasa cemas.
Entah apa yang menghantuiku kali ini sehingga aku benar-benar cemas seperti ini.
Na, apa kamu gak apa-apa?
Wajahmu kenapa tampak cemas dan kuatir begitu?
Iya Ta, aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku merasa cemas seperti ini.
Sini Na duduk dulu sebentar dan minum air ini.
Coba tenangkan dirimu dulu ya.
Dengan perlahan aku duduk di depan kelas dengan Okta di sebelahku.
Ta, kalau kamu mau pulang duluan dengan Felix gak apa-apa. Kamu dulu'an aja.
Kasian nanti Felix nunggu lama di parkiran.
Gak Na, biarkan aku nemanin kamu sebentar di sini.
Kita ini kan sahabat, sudah menjadi tugasku untuk selalu mendampingimu.
Untuk urusan percintaan itu nomer dua bagiku.
Karna persahatan kita selalu nomer satu untukku.
Terima kasih ya Ta.
Tanpa membalas perkataanku,
Okta hanya mengangguk dan tersenyum padaku.
Drtt .. drtt .. drtt .. drtt ..
Drtt .. drtt .. drtt .. drtt ..
Ponselku bergetar cukup lama.
Mungkin ini adalah telepon yang penting untukku.
Dengan cepat ku keluarkan ponselku dari saku rok sekolahku.
Halo Vid apa ada?
Kak, apa kakak masih di sekolah?
Iya Vid kenapa?
Kenapa suaramu serak-serak begitu?
Pa .. papa - kak .. papa ..
Papa kenapa Vid?
Papa sekarang sedang di rumah sakit kak.
Apa Vid?
Kamu jangan bercanda ya, ini gak lucu tahu!!!
Iya kak, aku gak bohong.
Kalau kakak gak percaya, ini coba tanya mama.
Nana sayang, memang benar papa sedang di rumah sakit sekarang.
Kalau bisa kamu juga cepat datang kemari ya dengan nak Steven.
Iya ma pasti Nana ke sana,
tapi Nana ke sana sama Okta aja ya ma.
Karna mungkin kak Steven sedang sibuk.
Tidak nak, tadi David sudah menelpon nak Steven.
Dia bilang akan menjemputmu dari sekolah dan membawamu kemari secepat mungkin.
Kamu tunggu nak Steven saja ya nak.
Oh, iya ma.
Kalau gitu Nana keluar gerbang sekolah dulu ya ma.
Iya sayang.
Bye ma.
Bye sayang.
Na, ada apa?
Tante bilang apa barusan?
Apa ada hal yang penting?
Ta, maaf ya aku mau pulang dulu'an.
Sebentar lagi aku di jemput sama calon tunanganku.
Tapi Na, apa kamu gak bisa cerita sebentar ke aku tadi tante bilang apa?
Kenapa kamu semakin gelisah begitu?
Hm, nanti aja ya Ta ceritanya.
Sori aku terburu-buru sekarang.
Bye Ta.
Aku segera berpamitan pada Okta dan berlari menuju pintu gerbang sekolah.
Tin .. tin ..
Na, ayo cepat masuk.
kata kak Steven dengan terburu-buru
Iya kak.
Kemudian aku segera masuk ke dalam mobilnya dan kamipun segera menuju ke rumah sakit tempat papaku di rawat.
Kak, sebenarnya ada apa dengan papa?
tanyaku cemas sambil meneteskan airmata
Na, kamu tenang dulu ya.
Jangan menangis.
sahutnya sambil mengusap airmataku
Tadi saat jam pelajaran sudah selesai,
__ADS_1
aku benar-benar merasa cemas kak.
Kemudian David tiba-tiba menelponku dan memberi kabar kalau papa sedang berada di rumah sakit.
Aku .. aku takut ada apa-apa dengan papa, kak ..
Kamu tenang dulu ya Na,
kalau kamu sudah tenang baru kuceritakan semuanya.
Iya kak.
Apa aku sudah bisa cerita sekarang Na?
Akupun mengangguk tanda setuju.
Tante tadi menelponku dan mengatakan bahwa paman mengalami kecelakaan kerja.
Kemudian memintaku untuk segera menjemputmu dari sekolah dan membawamu secepat mungkin ke sana.
Apa???
Kecelakaan kerja???
Bagaimana bisa kak???
Aku juga tidak tahu kronologis kejadiannya Na.
Mungkin saat sudah di rumah sakit,
nanti tante akan menceritakan semuanya sama kamu.
Tapi pesanku, kamu harus tetap bersikap kuat di depan mama dan adik-adikmu ya Na.
Sebab saat ini mereka juga membutuhkan dukunganmu.
Tapi kak, bagaimana bisa aku sekuat itu?
Aku tidak bisa sehebat itu kak ..
Na, kamu harus percaya dengan dirimu sendiri.
Juga saat kamu butuh seseorang untuk bersandar,
aku selalu siap untuk menemani dan mendukungmu.
Kakak percaya Nana pasti bisa melewati ini semua.
Saat kak Steven selesai mengatakan hal itu,
tanpa terasa kami sudah berada di tempat parkiran mobil rumah sakit.
Na, kita sudah sampai.
Kamu bilang ya kalau sudah siap untuk turun.
Aku tak membalas perkataan kak Steven kali ini.
Aku benar-benar berusaha mengumpulkan semua keberanian dan semangatku saat ini.
Tetapi bagaimanapun juga airmata ini kembali menetes menandakan bahwa aku tidak bisa sekuat itu.
Na, jangan takut.
Kamu adalah seorang yang pemberani dan penuh semangat.
Tapi kak ..
Hiks .. hiks ..
Na, apakah aku boleh memeluk sekarang?
Hanya sekedar untuk menenangkanmu dan memberimu dukungan.
Perlahan akupun mengangguk dan segera tangisku semakin kencang saat kak Steven memeluk tubuhku ini.
Tak apa Na, lepaskan semuanya di sini.
Agar saat kamu bertemu dengan keluargamu,
mereka juga dapat kembali bangkit dengan melihat ketegaran dan kesabaranmu ini.
Apa benar aku bisa seperti itu kak?
tanyaku pelan
Nanaku pasti bisa.
Nanti di sana saat kamu mulai goyah dan takut,
kamu bisa menggenggam erat tanganku ini.
Aku pasti selalu berada di sisimu sampai kapanpun.
Terima kasih banyak ya kak.
Iya Na sama-sama.
Kemudian perlahan aku melepas pelukan kak Steven
dan memintanya untuk turun dari mobil bersama-sama.
Saat memasuki rumah sakit ini,
aku kembali merasa takut dan seluruh tubuhku mulai lemas.
Dengan cepat aku menggenggam tangan kak Steven dan iapun menuntunku dengan sabar menuju ke ruangan di mana papaku berada.
Ruangan demi ruangan kami lewati,
namun tetap saja belum bertemu dengan semua anggota keluargaku.
Entah mengapa aku merasa waktu saat ini berputar dengan sangat lambat.
Kak, apakah kamarnya papa masih jauh?
Enggak Na.
Kita tinggal belok ke arah kiri di depan sana.
Setelah itu kita bisa melihat paman di sana.
Iya kak.
Tak menunggu lama akhirnya kami sudah sampai di depan kamar tempat papaku sedang di rawat.
Yang nampak hanyalah David seorang diri di depan kamar.
Vid ..
Kak ..
Hiks .. hiks ..
Pa .. papa ..
Hiks .. hiks ..
__ADS_1
Sudah Vid, jangan menangis lagi.
Kamu kan anak lelaki, kamu harus kuat.
(sambil memeluk David)
Kak, apa bisa tolong temani David sebentar di sini?
Aku mau masuk menengok papa dulu.
Iya Na.
Kalau nanti kamu butuh sesuatu, panggil aku aja ya.
Aku selalu siap untuk membantumu.
Akupun mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar.
Saat ku buka pintu, betapa terkejutnya aku melihat mama masih menangis dan Agnes sedang tertidur di tempat tidur yang berada di sebelah papa.
Ma ..
panggilku sambil memeluk mama dari belakang
Sayang, kamu sudah datang?
Iya ma, Nana sudah di sini.
Bagaimana keadaan papa sekarang ma?
Papa sampai sekarang masih belum sadar sayang.
Tapi tadi dokter bilang papa sudah melewati masa kritisnya.
Kalau papa sudah sadar,
maka papa sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Papa sampai kritis tadi ma?
Memangnya papa kecelakaan kerja seperti apa?
Kenapa bisa jadi seperti ini?
tanyaku cemas
Mama juga masih belum tahu jelas kronologis kejadiannya.
Tadi mama hanya mendapat telepon dari atasannya papa kalau papa sudah ada di rumah sakit ini setelah mengalami kecelakaan kerja.
Sekarang mereka semua sudah pulang.
Tapi ..
Tapi kenapa ma?
Tapi biaya rumah sakit ini mereka hanya bisa menanggung 50% saja sebagai biaya ganti rugi ke papa karna kecelakaannya di saat jam kerja.
Sisanya kita yang harus membayarnya.
Namun asuransi ketenagakerjaan papamu masih belum bisa dicairkan.
Sebab harus menunggu satu bulan setelah keluar dari rumah sakit ini baru bisa di urus.
Karna itu mama sekarang sedang bingung sayang.
Sudah ma, gak perlu di risaukan.
Semua pasti ada jalan keluarnya.
Oh ya ma, apakah kak Yonathan sudah di beri kabar tentang kondisi papa sekarang?
Iya sayang sudah.
Mungkin besok kalau tidak paling lambat 2 hari lagi kakakmu sudah tiba di kota ini.
Iya ma gak apa-apa.
Ayo mama istirahat dulu ya.
Biar Nana yang jaga papa sekarang.
Tapi sayang ..
Sudah ma tidak ada tapi-tapi'an.
sahutku sambil menuntun mama berjalan keluar kamar
Vid, tolong kami temani mama ke kantin sebentar ya.
Biar mama sama kamu makan-makan aja dulu di sana.
Papa biar kakak yang jaga sekarang.
Iya.
Ayo tante - Vid.
ajak kak Steven
Merekapun beranjak dari depan kamar dan berjalan menuju ke kantin.
Kemudian akupun segera masuk ke dalam kamar menemani papa di sana.
Ku pegang tangan kanan papa dan ku lihat dengan seksama wajah papa yang sedang tak sadarkan diri.
Pa, ini Nana sudah datang.
Papa cepat bangun ya pa supaya kita bisa pulang dari sini.
Apa papa gak kangen nih sama Nana?
Nana janji, kalau papa sudah bangun Nana bakalan jadi anak yang penurut dan berusaha memenuhi semua keinginan papa.
Tanpa terasa airmata ini sudah mengalir begitu deras.
Namun aku tetap berusaha untuk tidak mengeluarkan suara tangisan yang tersedu-sedu.
Sebab aku tak ingin membangunkan Agnes yang sedang tertidur pulas di sebelah tempat tidur papa.
Nana sayang banget sama papa ..
Papa cepat sembuh ya supaya bisa menemani Nana lagi seperti dulu ..
Hiks .. hiks ..
Sudah merasa lelah dan letih setelah menangis,
akupun berlahan menutupkan kedua mataku.
Dengan posisi masih duduk di sebelah kanan papa,
aku sudah mulai tertidur sambil memegang tangan kanan papa.
Sebab meskipun aku tertidur,
aku tak mau melepaskan tangan papa ini.
__ADS_1