
Sudah beberapa hari papaku di rumah sakit dan keadaannya semakin membaik.
Besok adalah waktu yang ditentukan oleh dokter untuk papa bisa rawat jalan di rumah.
Betapa senangnya aku dapat berkumpul kembali bersama dengan papa di rumah.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Namun peristiwa yang sempat membuatku ketakutan akibat ulah kak Steven,
sengaja tak pernah kuceritakan pada kedua orangtuaku.
Agar papa tidak terlalu berat memikirkannya dan proses pemulihannya pun dapat berjalan dengan cepat.
Cukup aku, Okta dan kak Steven saja yang mengetahui peristiwa itu.
Walau sangat sulit untuk menyakinkan Okta agar dapat menutup rapat peristiwa tersebut,
namun akhirnya aku berhasil juga karna dia tak ingin kondisi papaku semakin memburuk.
Jika tidak pasti hari itu ia langsung memberitahukan semuanya pada papa.
Sedangkan kak Steven,
ia hilang begitu saja tanpa kabar.
Namun ini membuatku sedikit tenang karna tak harus berhadapan dengannya lagi.
Aku tak pernah menyalahkannya atas perbuatannya waktu itu.
Mungkin saja ia sudah termakan omong kosong dari kak Bagus yang selalu menkonfrontasi dirinya denganku.
Ini juga adalah kesalahanku yang tidak menjelaskan alasan mengapa aku bisa sampai menginap beberapa hari di rumah kak Bagus.
Mungkin ia sudah mengira bahwa diriku sudah tak suci lagi.
Namun ia merasa segan untuk bertanya langsung padaku, sehingga ia berani untuk melakukan perbuatan itu padaku.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hiks .. hiks ..
deraian airmata sudah membasahi kedua pipi bulatku ini
Semua adalah salahku yang tak bisa berkata jujur padamu kak.
Aku berjanji saat aku sudah siap,
pasti ku jelaskan semuanya padamu.
Agar kesalahpahaman ini segera berakhir dan kita dapat kembali memulai hubungan kita ini dengan dasar saling percaya satu sama lain.
Aku .. aku .. benar-benar sayang padamu ..
Jangan pernah kau tinggalkan aku seperti Andika yang sudah meninggalkanku setelah aku mulai menyayanginya ..
Hiks .. hiks ..
Na .. Na .. bangun Na ..
Kenapa kamu tidur sambil menangis begitu???
tanya Okta
Karna Okta menggoncangkan tubuhku dengan kuat,
akhirnya akupun terbangun dari tidurku.
Segera kupeluk erat tubuh Okta yang telah berada di sampingku.
Ta, apakah kamu pernah berfikir kalau aku sudah tak suci lagi saat kemarin kamu mendengar perkataan kak Bagus sewaktu di rumah sakit?
Gak suci lagi?
Maksud kamu apa Na?
Aku gak pernah menganggapmu seperti itu.
Aku yakin bahwa kamu selalu bisa menjaga kehormatanmu.
Kemarin saja saat kamu dengan kak Steven,
__ADS_1
kami berhasil mempertahankan kehormatanmu.
Apalagi dengan Kak Bagus yang gak seberapa kuat di bandingkan dengan Kak Steven?
jelas Okta
Se .. hiks .. hiks .. seandainya kak Steven bisa percaya sepertimu Ta ..
Mungkin peristiwa kemarin tidak akan pernah terjadi.
Sudah Na, kamu tenang dulu ya.
Jangan ingat-ingat peristiwa buruk itu lagi.
kata Okta sambil menggenggam tanganku
Aku merasa bahwa kak Steven selalu terngiang-ngiang perkataan kak Bagus,
sehingga sudah salah menduga kalau aku sudah tak suci lagi.
Mungkin itu adalah alasan mengapa kemarin ia begitu berani mau melakukan ' hal ' itu padaku.
Na .. menurutku kalian berdua sama-sama salah.
Di satu sisi dia sebagai calon tunanganmu tak bisa mempercayaimu.
Di sisi yang lain, kamu juga tak berani memberikannya penjelasan yang tepat.
Sehingga akhirnya di antara kalian berdua terjadilah suatu kesalahpahaman seperti ini.
terang Okta
Iya Ta, kamu memang benar.
Seandainya aku punya sedikit keberanian untuk menceritakan semuanya pada kak Steven waktu itu.
sahutku
Sudah Na tidak apa, yang penting sekarang kamu fokus dulu sama kesembuhan om ya.
Untuk urusanmu dengan kak Steven pasti ada jalan keluarnya.
Kamu harus tetap optimis dan semangat ya.
Pasti Ta ..
Makasih ya untuk dukunganmu.
Kamu memang sahabat terbaikku.
sahutku sambil memeluknya dari samping
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
cintaku padamu abadi ..
cintaku padamu abadi ..
tiba-tiba ponsel Okta berbunyi dengan keras
Halo ..
Sayang, kamu ada di mana?
Kenapa gak kasih tahu aku kalau hari ini kamu gak ke sekolah?
Aku kuatir banget lho sama kamu.
Apalagi gak ada kabar sama sekali dari kamu.
Jangan-jangan kamu lagi senang-senang ya sama cowok lain????
tanya Felix beruntun
Puft .. hahahahaha
aku dan Okta tertawa bersamaan
Lho, kok malah ketawa sih?
Hm, aku kok denger ada suaranya Nana juga di sana?
__ADS_1
teriak Felix
Tenang Lix.
Oktamu aman kok sama aku.
Dia gak mungkin pergi sama cowok lain,
kan dia udah cinta mati sama kamu.
jawabku dengan tegas untuk semakin menyakinkannya
Nah, itu kamu sudah dengar apa kata Nana kan?
Masa masih cemburu gak jelas sih?
Aku sekarang lagi di rumahnya Nana.
Kasian dia sendirian di sini.
Oh, kalau gitu aku langsung ke sana ya buat ketemu kamu.
Sekalian deh nanti aku bawa'in kalian makanan.
Sudah pada lapar kan?
rayu Felix
Yayaya terserah kamu aja Lix.
Bye ..
Tut .. tut ..tut ..
Ta, kok kamu mati'in telponnya Felix?
Apa gak marah tuh si Felix ntar?
tanyaku sambil melihat ke arahnya
Sudah Na tenang aja.
Kalau dia marah, aku yang tanggung deh.
sahut Okta
Beneran ya??? Aku gak ikut-ikut lho ya ..
Hahahahahaha
Iiiihhhh .. gemes aku (mencubit pipi kanan Nana)
Gitu dong ketawa jangan nangis aja terus.
Kan telingaku jadi sakit kalau dengar tangisanmu.
ledek Okta
Okta ..
teriakku sambil mengejarnya yang berlarian di dalam kamarku
Setelah capek kejar-kejaran,
kamipun merebahkan badan di tempat tidur dan tertawa bersama.
Hahahahahahahahaha
Janji ya kita bersahabat terus sampai kapanpun.
Gak peduli apapun yang terjadi.
kataku sambil menaikkan jari kelingking ku
Janji ..
sahut Okta sambil memberikan jari kelingkingnya melingkar di jari kelingking ku
Kemudian kamipun saling menatap dan kembali tertawa bersama.
Hahahahahahahahaha
__ADS_1
Sahabat untuk selamanya ...