Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
84) Kekesalan Nana


__ADS_3

Dengan cepat kami berempat segera keluar dari gedung mewah ini.


Tetapi saat berada di halaman luar gedung ini,


tak sengaja aku melihat Melisa sedang berdiri seorang diri di dekat parkiran mobil.


Pikirku mungkin ia ingin meninggalkan pesta ini juga,


tetapi melihatnya yang masih kacau dan menangis,


aku mencoba untuk mendekatinya dan menenangkannya.


Karna bagaimanapun ia masih salah paham terhadapku dan aku harus menjelaskan semua padanya.


Saat aku mulai melangkahkan kakiku,


tiba-tiba Okta menarik tanganku dan mencoba menahanku.


" Na, jangan ke sana.


Kamu tahukan kalau Melisa sedang dalam suasana hati yang buruk.


Aku takut dia akan melukaimu nanti. "


desak Okta


" Ta, jangan berfikir jelek seperti itu.


Aku percaya kalau Melisa sebenarnya adalah seorang wanita yang lembut dan ia tidak akan menyakitiku.


Hanya saja saat ini, aku masih berhutang sebuah penjelasan padanya agar kesalahpahaman ini tidak semakin berlarut-larut.


Tolong ijinkan aku ke sana ya Ta. "


pintaku


" Na .. demi aku, tolong jangan ke sana .. !! "


sahut Steven


" Tapi kak .. "


jawabku


" Tidak ada tapi-tapi'an, sekarang kita kembali ke hotel dan mengemasi barang-barang kita.


Setelah itu kita langsung pulang ke kota N.


Urusanku di negara ini juga sudah selesai,


jadi aku bisa ikut kembali bersama kalian. "


tegas Steven


Karna dilarang oleh mereka semua,


justu semakin membulatkan tekadku untuk menemui Melisa.


Maka aku berpura-pura menuruti kemauan mereka.


Tetapi saat mereka semua berjalan ke arah mobil kak Steven,


aku langsung berbalik dan berlari ke arah Melisa.


Melihatku yang langsung berbalik dan meninggalkan mereka,


dengan sigap Okta berteriak memanggilku.


Namun aku tak menghiraukannya.


Aku masih tetap berlari menuju ke tempat Melisa berdiri sekarang.


" Mel .. "


sapaku sambil menepuk pundaknya


" Kamu .. kamu ngapain ke sini? "


bentak Melisa

__ADS_1


Melihatku yang di bentak oleh Melisa,


seakan Okta ingin datang membelaku,


namun tangan Okta di tahan oleh Felix.


" Sayang, jangan ikut campur ke dalam masalah ini.


Aku tahu kamu ingin membela Nana,


tapi sampai kapan Nana selalu berada di belakang bayang-bayangmu?


Sekali ini biarkan Nana yang menyelesaikan masalahnya sendiri.


Jika Melisa bertindak di luar batas terhadap Nana,


barulah kita ikut bertindak di sana. "


seru Felix


" Tapi Lix ..


Aku gak bisa diam aja melihat Melisa seperti itu ke Nana. "


rengek Okta


" Kamu tunggu aja di sini.


Aku gak akan biar'in sesuatu yang buruk menimpa Nana.


Aku akan menyusul Nana ke sana sekarang. "


sahut Steven


Akhirnya Okta dan Felix mengangguk tanda menyetujui ucapan Steven barusan.


Tap .. tap .. tap ..


terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah Melisa


" Sayang, tolong kamu tenang dulu.


Nanti malu di lihat orang-orang ..


Inikan pesta pertunangan kita,


jadi kita seharusnya bahagia di hari ini.


Bukan sebaliknya. "


ucap Andika


" Kenapa aku harus malu?


Yang seharusnya malu itu dia ini yang sudah menjadi pelakor dan masih saja berusaha mendekatimu di acara pertunangan kita ini.


Untuk apa coba wanita yang tidak malu ini datang ke sini kalau bukan untuk menggodamu. "


sahut Melisa


Plak ..


sebuah tamparan mengenai pipi Melisa


" Apa kamu sudah selesai bicara?


Jika kamu masih ingin menerima tamparanku lagi,


silahkan maki-maki aku sekali lagi.


Semalam aku sudah cukup sabar denganmu,


tetapi kata-katamu barusan sudah kelewat batas. "


ucapku


" Kamu seorang pelakor berani-beraninya menamparku !!!


Terima ini !! "

__ADS_1


sahut Melisa dengan mengangkat tangan kanannya untuk membalas menamparku


Dengan cepat kak Steven datang dan menahan tangan Melisa agar tidak menamparku.


" Aku peringatkan kamu,


jangan sekali-sekali berani menyentuh wanitaku.


Nana tidak ada alasan untuk menjadi pelakor di antara kalian berdua.


Asal kalian tahu, aku dan Nana sudah bertunangan.


Kalung yang di pakai oleh Nana adalah bukti pertunangan kami.


Jika kamu tidak bisa menjaga kata-kata dan sikapmu,


aku tidak akan segan-segan memasukkanmu ke dalam penjara dengan tuduhan mencemarkan nama baik dan penganiyaan. "


ucap Steven dengan tegas


" Sayang, sudah kita duduk di sini sebentar.


Kita bicarakan semuanya dengan baik-baik.


Ini semua salahku yang tidak pernah menceritakan sosok Nana ke kamu.


Jika kamu marah, jangan lampiaskan amarahmu itu pada Nana.


Tampar dan pukul saja aku sesukamu,


tapi jangan pada Nana. "


sahut Andika


Plok .. plok .. plok ..


" Hebat .. sangat hebat ..


Tunanganku sendiri membela dirimu daripada aku.


Melihatmu menamparku bahkan ia tidak membelaku.


Sihir apa sebenarnya yang kamu pakai sampai jadi sehebat ini hah?! "


ucap Melisa


" Asal kamu tahu, yang memintaku untuk makan malam kemarin dan yang memintaku untuk datang hari ini adalah tunanganmu sendiri.


Aku sudah menolaknya berkali-kali namun ia tetap saja membujukku.


Kamu bisa bertanya langsung pada Andika.


Dan untuk hari inipun,


aku sebenarnya tidak ada niat untuk datang kemari.


Tetapi sebagai seorang teman,


sudah menjadi tugasku untuk memberikan doa restuku untuk kebahagiaan kalian. "


jawabku sambil pergi meninggalkan Melisa dan Andika


" Na .. "


panggil Andika


" Oh ya, ada satu hal lagi.


Ndika, asal kamu tahu kalau di hatiku ini sudah tidak ada tempat apapun untukmu.


Mulai saat ini aku sudah menganggap tidak pernah mengenalmu.


Jadi kamupun jangan pernah datang dan mengusik kehidupanku lagi.


Berbahagialah dengan Melisa di negara ini.


Selamat tinggal .. "


pamitku sambil menggenggam erat tangan kanan kak Steven dan meninggalkan mereka

__ADS_1


__ADS_2