Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
14) Memulai pertemanan


__ADS_3

Hari minggu sudah berlalu dengan cepat.


Pagi ini aku harus semangat untuk aktifitas belajar pertama ku di sekolah elite ini.


Okta terlihat begitu santai menyambut sekolah hari ini, sedangkan aku masih saja sibuk menyiapkan buku-buku pelajaran dan yang lain nya.


Mungkin karna Okta sudah terbiasa dengan sekolah elite jadi dia nampak biasa-biasa saja. Berbeda sekali dengan diriku yang baru pertama kali masuk ke sekolah elite.


" Udah selesai belum Na siap-siap nya? Mau aku bantuin kah? Kok kamu keliatan nya sibuk banget gitu. "


" Astaga, sebentar kenapa tuan puteri. Ni tinggal masukin satu buku kesayangan ku, habis itu selesai kok. "


(apalagi kalau tak lain dan tak bukan adalah buku diary kesayangan ku, yang selalu ku bawa ke mana pun aku pergi)


" Hm, pasti kamu bawa buku diary mu lagi kan?


Ya ampun Na, inget kamu ini udah SMA lho masa masih suka nulis begitu'an? Malu tahu nanti sama teman-teman yang lain. "


" Biarin ah, suka-suka aku dong. Mau orang lain bilang apa, terserah mereka. Yang penting kan aku gak merugikan mereka, jadi ya gak masalah. "


" Ya deh terserah kamu aja. Yuk berangkat sekarang, keburu kesiangan nanti. "


Tanpa aba-aba dari ku, langsung saja dia menarik tangan ku untuk segera meninggalkan kamar.


Saat sudah sampai di ruang makan, ku lihat ma2 yang masih sibuk menyiapkan bekal makanan bagi kami semua. Sedih hati ini rasa nya karna gak cukup waktu untuk membantu nya kali ini.


" Tante, kita pamit berangkat sekolah dulu ya. "


kata Okta sembari mencium tangan kanan mama ku


" Nana berangkat sekolah dulu ya ma, doakan Nana jadi anak yang sukses nanti nya. "


sambung ku sambil mencium kedua pipi mama ku


" Pasti mama doakan sayang. "


jawab mama sambil mengelus-elus kepala ku


Kemudian dengan cepat aku pun mengambil bekal ku dan Okta yang sudah di siapkan mama tadi.


Okta yang sudah menyalakan mobil nya, langsung membunyikan klakson nya.


Aku langsung berlari dengan cepat dan masuk ke dalam mobil Okta. Saat aku sudah memakai sabuk pengaman, Okta pun langsung mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Aku tak takut dengan cara mengemudi nya ini, karna aku sudah terbiasa.


Sesampai nya di sekolah, kami mencari tempat parkir yang masih kosong. Ku lihat di sebelah kiri pos satpam masih ada satu tempat kosong. Aku langsung memberi Okta instruksi untuk parkir di sana.


Selesai parkir, kami segera keluar dari mobil.


Tak lupa ku bawa juga bekal kami.


Namun sekolah hari ini terlihat ramai dari biasa nya, mungkin karna semasa MoS kemarin siswa-siswi kelas XI dan XII belum masuk semua. Hanya kakak-kakak OSIS dan panitia MoS yang masuk kemarin.


Ku genggam erat tangan kiri Okta, karna sebegitu gugup nya aku untuk masuk ke dalam sekolah elite ini.


Okta yang mengerti akan kegugupan ku, langsung menarik ku untuk melangkah maju dengan mengedipkan mata nya yang cantik itu.


" Gak usah gugup gitu Na, kan ada aku di sini.


Yuk masuk sekarang. "


" Iiii .. iii .. iya Ta. "


Kami pun akhir nya masuk sekolah.


Tiba-tiba datang Felix menghampiri kami.


" Ta, kita sekelas lho. Yuk masuk kelas bareng. "


kata Felix sambil tersenyum ke arah Okta


" Iya kah Lix? Terus sahabat ku Nana ada di kelas mana? Kamu tahu gak? "


" Tenang aja, Nana juga sekelas kok sama kita. "


" Oh ya? Asyik-asyik .. kita bisa sekelas semua nya.


Jadi nanti kita duduk sebangku ya. "


" Iya Ta. " jawab ku singkat


Aku dan Okta pun berjalan dulu'an menuju kelas, sedangkan Felix berada di belakang kami.

__ADS_1


Saat hendak memasuki ruang kelas, tiba-tiba langkah ku terhenti. Ku usap-usap mata ku berulang kali, seakan tak percaya dengan apa yang ku lihat.


Ternyata ada Andika yang telah duduk di bangku baris depan, yang sedang asyik menggambar sesuatu di buku nya.


Oh my God, kenapa Andika juga berada di kelas yang sama dengan ku? Apakah aku memang gak bisa menghindar dari nya?


" Na, ngapain bengong gitu? Yuk kita duduk di bangku sebelah sana. " pinta Okta sambil menarik lenganku


Kami pun duduk di bangku yang Okta pilih tadi, di susul Felix yang duduk di belakang bangku kami.


Seakan Felix gak mau jauh sedikit pun dari Okta.


Untung saja Okta memilih bangku yang berada di baris nomor 3. Jadi aku pun tidak bersebelahan dengan bangku nya Andika. Tapi dari bangku ini aku masih dapat mengamati gerak-gerik Andika di depan sana.


Walau terkesan jaim, namun sebenar nya aku juga masih sedikit mengagumi sosok Andika yang terlihat begitu tampan dan menawan.


Kring .. bel sekolah telah berbunyi tanda pelajaran akan segera di mulai.


Masuklah seorang guru wanita yang memperkenal diri nya.


" Hai anak-anak, nama Ibu adalah Mariani. Ibu adalah Walikelas kalian selama kelas X ini. Ibu juga mengajar sebagai Guru Bahasa Indonesia di sini. Sekarang Ibu juga ingin kalian memperkenalkan diri kalian satu persatu. Kita mulai dari nama yang berabjad A dan seterus nya. "


Ibu Mariani mulai memanggil satu persatu dari kami untuk maju memperkenalkan diri.


Di mulai dari abjad A.


" Andika Pratama silahkan maju. "


Saat Andika hendak maju, semua siswi di kelas ini berteriak-teriak mengagumi sosok Andika.


Namun aku dan Okta hanya terdiam saja mendengarkan pujian mereka untuk Andika.


" Halo teman-teman. Perkenalkan nama saya Andika.


Salam kenal semua nya. " kata Andika dengan singkat


" Terima kasih Andika. " sahut Ibu Mariani


Ya selanjutnya Anton, lalu Anwar dan semua nya di sebut nama nya oleh Ibu Mariani. Namun tak satu pun yang aku hiraukan. Semua sama seperti angin lalu saja bagi ku. Sebab giliran Andika tadi telah usai, jadi tak ada lagi yang menarik bagi ku.


Sampai akhirnya tiba giliran ku.


Namun tak ada satu pun yang memperhatikan ku, hanya Andika dan Okta yang tersenyum ke arah ku.


Tetapi senyuman Andika tadi justru membuat ku tersipu malu dan mungkin sekarang muka ku telah menjadi merah bagai kepiting rebus.


Saat selesai memperkenalkan diri ku, dengan cepat aku pun kembali ke bangku ku.


Okta yang duduk di sebelah ku, tak henti-henti nya menggoda ku.


" Cie .. cie ..ada yang merah ni muka nya setelah di senyumin sama pangeran nya. "


" Hih, apa'an sih Ta. Kamu jangan mengejek ku begitu dong. "


Okta yang mendengar jawaban ku hanya tertawa-tawa sendiri, seakan puas sudah menggoda ku.


Kring .. bel sekolah telah berbunyi, menandakan ini waktu nya bagi kami untuk istirahat sejenak.


Dengan rasa lapar yang sudah melanda ku dari tadi, ku keluarkan bekal yang di siapkan ma2 ku tadi.


" Ta, ini bekal mu. "


kata ku sambil menyodorkan sebuah kotak makan ke Okta


" Wah, makasih ya Na. "


jawab Okta dengan senyuman khas nya


" Mari makan. "


ucapku bersamaan dengan Okta


Tak lama kemudian Felix datang di depan bangku kami. Ia meminta ijin untuk bisa makan bersama kami.


Aku yang tak mau jadi obat nyamuk di antara mereka, dengan cepat ku habiskan bekal ku dan ku tinggalkan mereka berdua di sana.


" Hm, ke mana ya enak nya? " gumam ku dalam hati


Tak ku sadari ternyata aku sudah berjalan ke arah perpustakaan.


Wah, kebetulan sekali. Kalau begitu aku coba masuk saja sekalian untuk menulis diary ku ini.

__ADS_1


Terus siapa tau aja ada buku-buku bagus di sini, kan aku juga bisa meminjam nya sekalian.


Aku pun berjalan melalui lorong-lorong buku di perpustakaan ini.


Ada satu buku yang judul nya cukup menarik bagi ku.


" The power of love " karya Ruth Natasya.


Saat ingin ku ambil buku itu, ternyata kaki dan tangan ku tak mampu meraih nya. Mungkin karna aku belum terlalu tinggi. Ku lihat sekeliling berharap akan ada sebuah tangga yang bisa ku gunakan untuk mengambil buku itu.


Tetapi hasik nya nihil. Tangga itu tak ada di sini.


Ku coba meraih buku itu sekali lagi.


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang meraih buku itu terlebih dahulu dari aku. Sontak aku segera berpaling melihat ke arah orang itu dengan tangan ku masih terangkat ke atas.


Ternyata Andika yang berada di samping ku.


Dengan gugup nya aku pun berpaling pergi meniggalkan Andika tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Andika yang melihat ku pergi, mencoba menyusul ke arah ku.


Aku pun semakin mempercepat langkah kaki ku menuju ruang baca perpustakaan.


Akhir nya aku pun sampai dan duduk dengan kaki ku yang masih lemas.


Tak lama kemudian, Andika pun duduk di sebelah ku.


Aku yang tak tau harus berkata apa hanya mau tertunduk diam dan berpura-pura menulis diary.


" Na, ini buku yang mau kamu ambil tadi. Maaf ya tadi aku mengejutkan mu. "


" Oh, iya Ndika terima kasih. "


" Na, kamu kenapa? Setelah melihat ku langsung pergi begitu aja? "


" Aku .. aku .. aku gak apa-apa kok Ndika. Maaf aku tadi kaget aja. Ku kira kamu juga mau membaca buku itu, jadi aku pergi duluan tadi. "


(sebenar nya bukan itu alasan ku pergi tadi, aku hanya tak ingin hati ku semakin menyukai nya. Maka aku pun selalu berusaha menghindar dari nya)


" Na, apakah aku tak pantas untuk berteman dengan mu? " terdengar suara lirih Andika


Aku pun langsung melihat ke arah nya setelah mendengar ucapan nya barusan.


" Kok kamu bilang gitu sih Ndika? Kamu adalah teman ku, tidak ada kata tak pantas untuk mu. "


(tanpa sadar kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, yang seolah tak tega melihat kondisi Andika yang begitu terpuruk setelah ku cuek kan tadi)


Dengan cepat tangan Andika mendarat di kepala ku.


Dengan lembut dia mengelus-elus kepala ku.


" Makasih ya Na. Janji setelah ini jangan pernah cuek'in aku lagi sebagai teman mu. "


Aku pun mengangguk tanda menyetujui permintaan nya barusan. Ada rasa bahagia di hati ku saat Andika mengelus kepala ku tadi. Seakan begitu penting nya diri ku bagi nya.


" Ndika, aku balik ke kelas dulu ya. Apa kamu mau ikut balik ke kelas atau masih mau di sini? "


" Aku di sini dulu aja Na. Masih ada beberapa gambar yang harus aku selesaikan ni. "


" Oke Ndik, kalau gitu aku dulu'an ya. "


Aku pun berjalan keluar perpustakaan.


Namun aku masih belum menyadari kalau diary ku telah tertinggal di samping Andika.


Andika yang begitu senang menerima pertemanan ku tadi, langsung bersemangat melanjutkan hobi menggambar nya. Beberapa menit kemudian hasil gambar Andika pun selesai. Andika segera menyimpan nya di tas mika milik nya.


Saat selesai beres-beres dan beranjak pergi, tiba-tiba Andika melihat sebuah buku yang berwarna biru muda. Ia masih penasaran buku apa itu, karna seingat nya ia tak pernah punya buku seperti itu.


Dengan sedikit ragu, Andika pun akhirnya memasukkan buku itu juga ke dalam tas nya.


Kring .. bel sekolah kembali berbunyi dan ada sebuah pengumuman dari radio sekolah bahwa hari ini sekolah akan di bubarkan lebih cepat agar semua siswa/i dapat mempersiapkan diri untuk proses pembelajaran esok.


Saat Andika sudah sampai kelas, ternyata semua teman-teman nya dan Nana sudah tidak ada di kelas.


Andika pun segera merapikan tempat duduk nya, tak lupa ia mengambil tas nya terlebih dahulu dan bergegas pulang. Karna ia masih harus menjemput Karin pulang sekolah.


Hari ini Andika begitu bahagia, karna pertemanan nya dengan Nana sudah di mulai. Yang bearti dia sudah mendapat kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Nana.


__ADS_1


__ADS_2