
Saat dalam perjalanan ke kantor,
Steven menyempatkan diri untuk menelepon pujaan hatinya sesuai dengan janjinya kemarin malam.
Tut .. tut .. tut ..
"Mengapa Nana tidak menjawab teleponnya ya?
Apa dia marah karna aku tidak mengijinkannya ikut denganku hari ini?
Hm, ya sudah biar nanti waktu jam makan siang saja aku meneleponnya lagi."
ucap Steven.
Setelah beberapa menit kemudian Steven sudah sampai di depan kantornya.
Namun karna Nana tidak menjawab teleponnya,
Steven menjadi resah dan risau.
"Mengapa hatiku tidak tenang begini ya?
Apa aku coba ke rumah Nana saja?
Tapi pekerjaanku bagaimana?
Aaarrggghhh ..
Apa yang harus kulakukan sekarang?"
ucap Steven sambil memukul setir mobilnya.
Kring .. kring .. kring ..
"Halo tante."
sapa Steven sopan.
"Halo nak Steven, apa Nana sedang bersamamu sekarang?
Karna pagi-pagi tadi Nana pamit keluar rumah tapi tidak bilang mau ke mana dia.
Sudah tiga jam Nana keluar dan masih belum pulang juga.
Sudah tante coba telepon ponselnya tapi tidak di angkat. Tante jadi kuatir.
Tapi kalau Nana bersama dengan nak Steven tidak apa. Tolong jaga dia ya."
pinta mama Nana.
"Apa??? Nana tidak ada di rumah?
Apa benar perempuan yang aku tabrak di pintu masuk rumah sakit tadi adalah Nana???"
gumam Steven dalam hati.
"Halo nak Steven, apa masih bisa dengar suara tante? Halo .. halo .. nak Steven .. "
panggil mama Nana.
"Oh halo tante.
Iya Nana sedang bersama dengan Steven.
Maaf Steven juga lupa memberitahu tante kalau Nana dan Steven ada janji di luar tadi.
Kalau begitu nanti setelah Nana keluar dari toilet pasti Steven langsung antarkan pulang ya tan."
terang Steven.
"Iya nak tidak apa.
Kalau Nana ada sama nak Steven tidak apa.
Jadi tante bisa merasa tenang.
Terima kasih banyak ya nak Steven."
sahut mama Nana.
"Iya tante sama-sama."
ucap Steven sopan.
"Kalau begitu kalian nanti hati-hati di jalan ya.
Tante tutup dulu teleponnya."
pamit mama Nana.
"Iya tante terima kasih."
sahut Steven sopan.
"Sama-sama nak Steven."
jawab mama Nana.
Kemudian mama Nana mengakhiri panggilannya dan Steven kembali bingung dengan keberadaan Nana sekarang.
"Maaf ya tante tadi Steven berkata bohong.
Nana sebenarnya tidak bersama denganku sekarang, tapi aku akan mencari Nana sekarang juga,"
ucap Steven sambil mengemudikan mobilnya menjauh dari kantornya.
Setelah membuat keputusan untuk tidak pergi bekerja hari ini,
Steven bergegas mencari keberadaan Nana sekarang.
"Na, kamu ada di mana sekarang?
Hatiku begitu kacau saat memikirkan dirimu."
ucap Steven cemas.
Kring .. kring .. kring ..
"Halo Stella, ada apa?"
tanya Steven tegas.
"Maaf pak, saya hanya ingin mengingatkan kalau nanti jam sepuluh pagi bapak ada rapat bersama dengan perwakilan dari perusahaan Andigo."
ucap Stella selaku sekretaris Steven.
"Stella, perwakilan dari perusahaan Andigo belum datangkan?
Tolong kamu bantu hubungi mereka kalau hari ini rapat ditiadakan dan di ganti ke lain hari saja.
Karna saya ada urusan mendesak sekarang.
Tolong kamu juga sampaikan ucapan maaf saya pada mereka ya."
sahut Steven.
"Baik pak."
jawab Stella sopan.
Dengan cepat Steven memutuskan panggilan teleponnya dan kembali fokus mencari keberadaan Nana.
Saat sedang fokus menyetir,
tiba-tiba ada panggilan telepon dari Nana.
"Halo sayang, kamu ada di mana sekarang?"
tanya Steven cemas.
"Aku sekarang ada di taman Pemuda dekat mall Suncity.
Memangnya kenapa sayang?
Kok kamu kelihatannya kuatir sekali?"
jawab Nana.
"Ya sudah kamu tunggu aku di sana.
Aku akan ke sana sekarang.
Kamu jangan ke mana-mana ya."
ucap Steven dengan tegas.
__ADS_1
"Tapi aku han .. "
Belum sempat Nana menyelesaikan perkataannya, panggilan telepon telah diakhiri oleh Steven.
Dan dengan cepat Steven menuju taman Pemuda.
Tak perlu waktu lama bagi Steven untuk sampai ke sana.
Saat sudah sampai Steven bergegas memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil untuk mencari sosok pujaan hatinya itu.
Di lihatnya sekeliling taman Pemuda sambil berjalan perlahan.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan ..
"Tolong .. tolong .. "
teriak seorang perempuan.
"Darimana suara itu berada?
Apakah itu Nana yang sedang ada dalam masalah?"
ucap Steven cemas.
Dengan berlari-lari Steven mencari asal suara itu.
Sehingga sampai di sudut taman Pemuda terlihat seorang perempuan sedang di kelilingi oleh tiga orang lelaki di sana.
"Kalian berhenti di sana.
Jangan macam-macam!!!
Atau kalian akan membusuk di dalam penjara."
"Jangan galak-galak begitu sayang.
Tenang saja kita akan bersikap lembut padamu."
"Tolong .. tolong .. "
teriak perempuan itu.
"Teriaklah sesuka hatimu.
Di sini adalah tempat terpencil di taman ini dan tidak akan ada seorangpun yang akan mendengar teriakanmu itu.
Jadi bersikaplah baik sekarang."
"Stop!!! Kalian jangan mendekat!!!
teriak perempuan itu sambil memejamkan mata.
Bam .. bam .. bam ..
"Lebih baik kalian pergi sekarang dan jangan ganggu perempuan ini."
teriak Steven.
"Wah, ada yang sok jagoan di sini.
Jangan takut teman-teman,
kita ada bertiga tapi dia hanya seorang saja.
Ayo kita lawan sama-sama."
Buk .. buk ..
Bam .. bam ..
Terjadilah baku hantam di antara mereka dan Steven.
"Apa kalian masih mau menikmati pukulanku lagi?"
ucap Steven sombong.
Hiah .. buk .. buk ..
Mereka bertiga maju bersama-sama dan mengeroyok Steven.
Tetapi dengan kelihaian dan kecepatan yang tepat akhirnya Steven berhasil mengalahkan mereka bertiga.
Wuing .. wuing .. wuing ..
Dan mereka bertiga lari terbirit-birit meninggalkan Steven dan perempuan itu.
"Apa kamu tidak apa-apa?"
tanya Steven.
"Aku baik-baik saja.
Terima kasih banyak atas bantuannya tadi.
Seandainya tidak ada kamu mungkin aku tadi akan berakhir mengenaskan di tangan mereka."
sahut perempuan itu.
"Sama-sama.
Kalau begitu kamu hati-hati di sini.
Aku mau pergi dulu."
pamit Steven.
Saat hendak berjalan,
tiba-tiba tubuh Steven menjadi lemas dan ia hampir terjatuh.
***Hap** .. (menangkap dengan cepat*)
"Lebih baik kamu istirahat saja dulu di sini,"
ucap perempuan itu sambil memapah Steven.
Kemudian mereka berdua duduk di dekat kolam ikan yang letaknya tak jauh dari ujung taman itu.
"Kamu duduk di sini dulu ya,
aku belikan air minum dulu untukmu."
pinta perempuan itu.
"Aku baik-baik saja.
Tidak perlu repot-repot,
karna aku juga harus bergegas mencari pacarku di sini."
sahut Steven.
"Tapi kondisimu masih lemah seperti itu,
apa kamu yakin baik-baik saja?
Atau mau aku temani juga untuk mencari pacarmu?
Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasihku.
Oh ya, kenalkan namaku Melodi,"
ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Namaku Steven."
jawab Steven singkat.
Melihat Steven tak membalas jabat tangannya,
Melodi segera menarik kembali tangan kanannya.
"Maaf aku tidak bisa berlama-lama di sini.
Aku harus segera menemukan pacarku."
pamit Steven.
Saat hendak berdiri, lagi-lagi Steven tak bisa menopang dirinya.
***Hap** .. (menangkap dengan cepat*)
"Kak Steven .. "
ucap Nana kaget.
__ADS_1
Mendengar Nana memanggil namanya,
Steven segera melepaskan pelukannya dari Melodi.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.
Tolong dengarkan penjelasanku dulu ya."
pinta Steven.
"Apalagi yang mau kamu jelaskan?
Sudah jelas-jelas tertangkap basah dengan perempuan lain masih saja mau mengelak.
Dasar pria tak tahu malu."
ucap Bagus kesal.
"Kamu!!! Mengapa kalian bisa bersama?
Sayang, sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
tanya Steven heran.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!!!
Kamu sudah tertangkap basah masih saja mencoba mengintrogasiku dan Nana."
jawab Bagus kesal.
"Kamu lebih baik diam dan jangan ikut campur.
Ini adalah urusan pribadiku dengan Nana,"
ucap Steven sambil memegang kerah baju Bagus.
"Hm .. maaf tentang ini.
Sebenarnya aku juga tidak ingin ikut campur,
tapi aku dan Steven memang tidak ada hubungan apa-apa.
Kumohon kalian jangan salah paham dulu."
sahut Melodi.
"Kak Bagus, tolong jangan ikut campur lagi dalam hubunganku dengan kak Steven.
Biarkan aku menyelesaikannya sendiri.
Kak Bagus bisa pergi sekarang."
ucap Nana dengan tegas.
"Tapi Na, apa kamu mau percaya dengan orang seperti dia ini?
Kamu benar-benar yakin kalau dia tidak mengkhianatimu?"
sahut Bagus.
"Jaga ucapanmu ya!!!
Justru aku yang harusnya marah terhadapmu karna sudah jalan berdua'an dengan pacarku ini.
Sayang, tolong jawab pertanyaanku tadi.
Sedang apa kamu dengan pria tak tahu diri ini?"
tanya Steven.
Karna sudah pusing dengan semua kejadian ini,
Nana segera berpaling dan pergi meninggalkan mereka semua.
"Sayang tunggu ..
Kalau kamu pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan,
itu bearti justru kamu yang sedang selingkuh dengan pria ini di belakangku."
ucap Steven.
Mendengar perkataan Steven barusan,
membuat langkah kaki Nana terhenti.
"Apa yang aku katakan barusan benar bukan?
ucap Steven.
Tes .. tes ..
Airmata mulai mengalir di kedua pipi Nana.
"Apakah kamu masih tidak bisa mempercayaiku walau hanya sebentar saja?"
ucap Nana lirih.
"Aku .. aku .. "
jawab Steven pelan.
"Aku sangat mempercayaimu,
tetapi sepertinya kamu masih saja tetap tidak dapat mempercayaiku.
Jika seperti ini terus,
untuk apa hubungan ini kita lanjutkan?
Lebih baik kita akhiri sampai di sini saja."
sahut Nana.
"Sayang .. kumohon jangan berkata seperti itu.
Aku tak ingin berpisah darimu.
Aku sangat mencintai dan menyayangimu."
pinta Steven.
"Maafkan aku ..
Aku tetap tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini.
Untuk apa mencintai dan menyayangi jika tidak ada kepercayaan sama sekali untukku?"
ucap Nana.
Setelah menyelesaikan perkataannya,
Nana segera berlari meninggalkan mereka semua sambil terus menghapus airmata yang terus-menerus jatuh di kedua pipinya.
"Sayang tunggu ..
Ku mohon jangan lakukan ini padaku.
Aaarrrggghhh .. Ini semua salahmu,"
ucap Steven sambil menghantam pipi kanan Bagus.
***Bam** .. (memukul balik*)
"Hei .. lihat betapa buruknya dirimu sekarang.
Nana memang memilih keputusan yang tepat untuk meninggalkanmu."
ledek Bagus.
"Sudah hentikan!!!
Apa kalian tidak bisa berfikir dengan baik sekarang?
Daripada kalian baku hantam di sini,
lebih baik kalian cepat kejar Nana.
Aku takut akan terjadi hal yang buruk padanya."
sahut Melodi.
Kemudian tanpa berfikir panjang lagi akhirnya mereka semua bergegas mengejar Nana.
Dan Melodi juga mengikuti mereka.
__ADS_1