Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
24) Keadaan keluarga Nana


__ADS_3

******** PoV Mama Nana ********


Hari sudah terlalu sore, mengapa Nana belum pulang sekolah ya? Apa ku coba menelpon nak Okta?


Karna Nana ke mana-mana selalu bersama nak Okta. Mungkin nak Okta bisa menceritakan keberadaan Nana, karna sedari tadi aku mencoba menelpon Nana namun ponsel nya sedang tidak aktif.


Nana ini ya, suka bikin mama kuatir aja.


Dengan langkah kaki yang cepat, mama Nana pun segera menuju telepon rumah yang berada di ruang tamu. Karna mama Nana punya kebiasaan suka mencatat semua nomor ponsel teman anak-anak nya di buku notes yang sudah di siapkan nya di dekat telepon rumah, jadi kali ini mama Nana tidak kerepotan mencari nomor ponsel Okta.


Dengan segera mama Nana menekan nomor ponsel Okta ..


" Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk "


Kenapa ponsel nak Okta sibuk ya?


Ya sudah, nanti beberapa menit lagi ku coba telpon nak Okta lagi. Mungkin anak-anak ini sedang ada tambahan kelas di sekolah.


Sekarang sudah waktu nya menyiapkan makan malam untuk orang-orang di rumah ini.


Saat menyiapkan piring-piring di meja makan ..


prang ..


terdengar suara piring pecah seketika


Agnes yang mendengar suara piring pecah, segera datang menghampiri mama Nana.


" Ma, apa mama gak apa-apa? Sini ma, duduk dulu, biar Agnes yang bantu mama beres'in pecahan piring nya dan biar nanti Agnes yang bantu'in mama siapin makan malam ya. Maaf ya ma, tadi Agnes masih kerja PR di kamar. Jadi baru bisa bantu'in mama sekarang. "


" Iya sayang gak apa-apa. Mama yang harusnya minta maaf karna tadi tidak hati-hati, sampai bisa pecah'in piring. "


Agnes masih terlihat sibuk membersihkan pecahan kaca dari piring yang terjatuh tadi. Sedangkan mama Nana masih duduk dan perlahan meminum sedikit air untuk menenangkan pikiran nya sejenak yang dari tadi tidak bisa tenang memikirkan anak gadis nya, Nana.


" Ma, pecahan kaca nya sudah beres. Sekarang Agnes yang siap'in makan malam nya. Mama tolong lihat'in, mungkin nanti ada yang Agnes kelupa'an ambil. "


Mama Nana pun mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


Tak lama kemudian Agnes pun selesai sudah menyiapkan makan malam keluarga.


Mama Nana yang sedari tadi memperhatikan anak perempuan nya yang satu ini, benar-benar tidak menyangka bahwa puteri nya sekarang sudah bertambah besar dan bisa membantu mama nya menyiapkan makan malam sekarang.


Karna baru ini Agnes bisa membantu mama nya, biasa nya Nana lah yang selalu membantu mama nya di dapur. Karna memang mama Nana sudah mendidik Nana sejak SMP untuk jadi perempuan yang bisa mengurus dapur, agar kelak dewasa tidak mempermalukan keluarga nya di depan keluarga besan nya kelak. Walau terbilang masih awal, namun mama Nana selalu disiplin mendidik anak-anak perempuan nya untuk menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab ke depan nya nanti.


" Nah begini dong baru nama nya puteri nya mama.


Makasih ya sayang. " sambil memeluk Agnes


" Iya ma, sama-sama. Oh ya, Kak Nana mana ma?


Kok belum kelihatan ya? Masih sekolah kah ma? "


" Nah, itu dia yang mama juga tidak tahu nak. Mama dari tadi menelpon ponsel kakak mu tetapi selalu tidak aktif. Entah kenapa sebenarnya dari tadi perasaan mama tidak enak. "


" Tenang aja Ma, mungkin mama kecapekan tadi. Jadi piring nya terjatuh. Oh ya, apa Mama sudah coba menelpon Kak Okta? "


" Iya nak mungkin mama kecapekan tadi.


Sekarang coba mama telpon nak Okta lagi ya. "


" Iya ma. "


Mama Nana pun bergegas menuju ruang tamu dan menekan nomor ponsel Okta kembali. Namun tetap saja, nomor nya masih sedang sibuk.


Setelah menutup telepon yang tidak ada jawaban dari Okta, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Nana.


Mungkin itu nak Okta dan Nana sudah pulang dari sekolah. Dengan cepat mama Nana pun segera membuka pintu rumah nya.


Kemudian Okta pun turun dengan lemas dari mobil Felix yang telah di bawa nya tadi.


" Nak Okta, sudah pulang sekolah ya? Ayo cepat masuk. Kalian berdua ini ya, ada ponsel tapi susah nya minta ampun kalau di telepon. Kalau pulang agak telat, tolong jangan lupa kabar'in tante dong supaya tante gak kebingungan seperti sekarang.


Oh ya nak, di mana Nana ya? Apa tidak ikut pulang bersama nak Okta "


Mama Nana dari tadi berbicara, tidak ada jeda untuk berhenti sedikit pun. Okta yang mendengar kata-kata dari mama Nana akhir nya sudah tak bisa menahan air mata nya lagi. Dengan cepat di usap-usap nya air mata nya itu, namun tetap saja tidak dapat membohongi naluri seorang ibu.

__ADS_1


Dengan menghela nafas panjang, mama Nana yang tidak melihat keberadaan anak perempuan nya, juga yang sedang melihat Okta yang telah menangis, seakan-akan mama Nana sudah semakin penasaran dengan keadaan puteri nya saat ini.


Dengan perlahan mama Nana menepuk pundak Okta dan berkata :


" Nak Okta, sebenar nya apa yang sedang terjadi dengan Nana? Mengapa kamu menangis seperti itu nak? "


Dengan cepat Okta pun memeluk erat tubuh mama Nana dan berkata :


" Tante, maaf'in Okta. Semua ini salah Okta yang gak bisa jaga'in Nana. "


" Maksud nak Okta apa?


Salah .. salah apa maksud nya nak?


Tante jadi makin bingung. "


Dengan perlahan Okta pun melepaskan pelukan dari mama Nana dan menatap kedua mata mama Nana.


Dengan berat hati Okta harus tetap berkata jujur pada mama Nana.


" Na .. Na .. Nana di culik. "


" Apa? Di .. cu .. culik? "


Mama Nana pun langsung pingsan mendengar bahwa anak perempuan semata wayang nya di culik.


Tak berapa lama kemudian Agnes pun segera menelpon papa Nana untuk segera pulang ke rumah karna ada urusan mendesak. Dengan cepat papa Nana sudah sampai rumah. Melihat istri nya pingsan dan Agnes yang sedang menangis, papa Nana tampak kebingungan. Namun dengan segera papa Nana menggendong mama Nana yang sedang pingsan menuju ke kamar untuk membaringkan nya di sana.


Sedangkan Agnes masih berada di ruang tamu bersama dengan Okta yang memeluk nya dengan erat.


Saat papa Nana sudah keluar dari kamar, ia pun duduk di ruang tamu bersama dengan Agnes dan Okta. Sedangkan David masih terlelap di kamar nya.


Okta yang melihat papa Nana sedang kebingungan, berusaha menceritakan semua kejadian yang menimpa Nana hari ini. Papa Nana yang mendengar cerita Okta masih nampak tenang, namun tak mengeluarkan satu patah kata pun.


Karna hari sudah semakin larut, Okta pun segera berpamitan pulang pada keluarga Nana.


Okta tak bisa menginap di sini, karna keluarga Nana pasti butuh waktu untuk menenangkan diri sama seperti diri nya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2