Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
78) Makan malam Nana


__ADS_3

Tingtong .. tingtong ..


Bel kamarku berbunyi.


Siapa ya yang datang?


Tingtong .. tingtong ..


" Iya sebentar. "


teriakku dari dalam kamar


Saat aku membuka pintu,


betapa terkejutnya aku ..


Dia adalah ..


" Hai Na. "


sapa orang di depanku


" Andika ??? Sedang apa kamu di sini?


Bukannya kamu harus siap-siap untuk pertunanganmu besok? "


tanyaku heran


" A .. a .. aku gak sengaja lewat aja kok Na.


Oh ya, kamu mau gak temani aku makan malam?


Kamu pasti juga belum makan malamkan? "


ucap Andika dengan sedikit gugup


" Gak sengaja lewat? Kok aku gak percaya ya?


Sepertinya ini bukan suatu kebetulan,


apa kamu sengaja memata-mataiku ya?


Sudahlah Ndika, lebih baik kamu pergi sekarang.


Daripada nanti akan menimbulkan gosip yang tidak benar di antara kita. "


sahutku sinis


" Na, tolong dengarkan dulu penjelasanku.


Aku tidak sedang memata-mataimu,


ini memang suatu kebetulan kita berada di hotel yang sama malam ini.


Sebenarnya tadi siang aku ada janji bertemu dengan klien di hotel ini, karna aku merasa lelah jadi kuputuskan untuk menginap di sini sampai besok pagi.


Untuk selebihnya nanti aku jelaskan lebih lanjut ke kamu,


tapi sekarang tolong temani aku makan malam dulu ya.


Karna aku tak tahu kapan kita bisa pergi berdua lagi setelah pertunanganku ini.


Anggap saja ini sebagai hadiah pertunanganku besok gimana? "


ucap Andika


" Sori Ndika, aku gak bisa. "


sahutku sambil menutup pintu kamar


" Na .. tolong temani aku untuk malam ini saja.


Na .. Na .. "


panggil Andika sambil mengetuk pintu kamarku


Ya Tuhan, apalagi ini sekarang?


Mengapa ia bisa datang ke sini menemuiku dan mengajakku makan malam bersamanya?


Apakah ia tidak memikirkan bagaimana perasaan calon tunangannya nanti?


Sudahlah, aku tak mau menanggapinya.


Lebih baik aku tidur saja sekarang.


Kemudian aku merebahkan tubuhku ke atas tempat tidur.


Saat aku hendak menutup kedua mataku,


sepertinya pintu kamarku sudah tidak lagi di ketuk olehnya.


Apakah Andika sudah pergi?

__ADS_1


Apa lebih baik aku melihatnya?


Haish, ada apa denganku?


Mengapa apa begitu peduli padanya?


Bukankah sekarang keadaannya sudah berbeda.


Ia sudah punya calon tunangan dan akupun juga sama.


Jadi lebih baik aku harus menjaga jarak dengannya.


Tapi bagaimana kalau dia pingsan di luar sepertiku tadi karna belum makan?


Tanpa pikir panjang akupun segera berlari membuka pintu.


Saat aku telah membuka pintu,


aku melihat dirinya duduk di samping pintu kamarku dengan kedua mata yang tertutup.


Dengan paniknya aku berjalan ke arahnya dan berusaha membangunkannya.


" Ndika, kamu kenapa?


Ayo bangun Ndika .. bangun ..


Jangan menakutiku seperti ini. "


teriakku panik


Tiba-tiba Andika terbangun dan menggendongku.


" Ndika, kamu sedang apa?


Cepat turun'in aku sekarang. "


sahutku bingung


" Kamu jangan teriak-teriak seperti itu,


kalau enggak nanti orang-orang bakal mengira aku mau apa-apa'in kamu di sini. "


jawab Andika sambil tersenyum


" Ndika, cepat ayo turun'in aku sekarang. "


teriakku sambil meronta-ronta


aku bakal bawa kamu ke kamarku lho.


Gimana? "


ucap Andika sambil mengedipkan mata


" Dasar cowok mesum !!!


Ayo cepat turun'in aku. "


sahutku kesal


Krucuk .. krucuk ..


" Nah, itu perutmu sudah memberikan sinyal kalau kamu sudah kelaparan.


Gitu masih gak mau aku ajak makan? "


ucap Andika


Mendengar perkataan Andika barusan aku jadi merasa malu.


Perut ini juga kenapa susah sekali di ajak kompromi,


sungguh memalukan berbunyi seperti itu saat bersama dengan Andika.


" Nah gitu dong jadi cewek yang penurut.


Kalau kamu diem seperti ini aku 'kan jadi gak perlu repot-repot gendong kamu lagi untuk makan bersamaku. "


ucap Andika sambil menurunkanku dari gendongannya


Entah mengapa aku merasa Andika masih tetap sama seperti dulu.


Andika yang selalu perhatian dan mengerti semua keinginanku.


Tidak .. tidak ..


Aku tidak boleh hanyut dalam perasaan ini lagi.


Aku harus bisa melupakannya.


" Na, kenapa kamu diam di sana aja? "


ucap Andika

__ADS_1


Karna Andika merasa tidak di hiraukan olehku,


maka dia langsung menggandeng tanganku dan mengajakku pergi.


Aku yang masih melamun benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa sekarang ini.


Saat sudah sampai restoran,


aku berusaha untuk melepaskan gandengannya.


Namun ternyata usahaku sia-sia,


karna tenaganya lebih besar dariku.


" Ndika, lepasin gak?!


Malu tahu di lihat orang-orang di sini.


Aku inikan bukan kekasihmu, mau sampai kapan kamu menggandeng tanganku seperti ini? "


bisikku pelan


" Na, seandainya saja kamu ini adalah pacarku,


betapa bahagianya aku saat ini. "


sahut Andika


" Ndika .. "


panggilku


" Hm, sudah-sudah ayo kita cari tempat duduk dulu baru ngobrol lagi. "


ucap Andika sambil melepaskan tanganku


Genggaman tangannya masih sama seperti dulu.


Penuh dengan kasih sayang dan kehangatan.


Aku tak mengira sudah selama ini kita tak lagi bertemu namun perlakuannya padaku masih saja tetap sama.


Kini aku juga tak tahu ...


Haruskah aku bahagia atau sedih ...


Ndika .. maafkan aku ...


Ini memang sudah takdir kita.


Kita tidak dapat bersatu sebagai sepasang kekasih,


namun aku harap kita masih bisa menjadi teman baik.


" Na, kita duduk di sebelah sana saja gimana? "


tanya Andika sambil menunjuk ke arah depan


" Iya Ndika, terserah kamu saja. "


sahutku sambil tersenyum


Kemudian kamipun melangkah ke arah yang sudah di pilih oleh Andika.


Tempat yang di pilihnya tepat berada di samping taman belakang hotel ini.


Pemandangan di taman itu terlihat begitu indah,


sehingga akupun langsung terpanah di buatnya.


" Bagaimana Na, apa kamu suka dengan tempat yang aku pilih ini? "


tanya Andika


" Iya Ndika, ini tempat yang bagus banget.


Dengan duduk di sini kita bisa melihat pemandangan taman yang indah ini.


Kamu memang pintar memilih tempat duduk. "


jawabku sambil tersenyum


" Bagaimana aku bisa melupakan semua tentangmu Na.


Kamu adalah cinta pertamaku. "


bisik Andika


" Kamu bilang apa tadi Ndika?


Sori aku gak seberapa dengar karna lagi fokus melihat bunga-bunga di taman itu. "


sahutku dengan tetap melihat ke arah taman

__ADS_1


__ADS_2