Pacar Taruhan

Pacar Taruhan
6) MoS hari ke-2


__ADS_3

Kukuruyuk .. kukuruyuk ..


suara ayam memecah keheningan pagi


Aku yang sudah bangun bergegas membangunkan Okta agar gak terlambat untuk MoS hari ini.


Tapi ada daya, Okta masih saja tidak mau bangun.


Aku pun mandi dan sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Ku goyang-goyang kan tubuh Okta agar dia cepat bangun, tapi tetap saja tak berhasil.


Ah, aku punya satu cara yang jitu kali ini.


" Kebakaran .. kebakaran .. Okta awas ada api di tuh di ranjang mu. "


Tak menunggu lama Okta pun langsung berdiri dan segera meninggalkan kamar.


" Okta, mau ke mana? Kamu kan belum mandi. "


ucap ku sembari memegang tangan nya


" Lho, ya lari dong Na. Ada kebakaran kok malah di suruh mandi? Aneh ya kamu ini. "


sahut Okta dengan kepanikan nya


" Liat dulu dong, mana ada api? Aku tadi cuma bercanda aja, habis nya kamu gak bangun-bangun sih. Ini kan udah jam nya buat berangkat ke sekolah. "


ucap ku dengan sinis


" Hm, iya-iya aku mandi sekarang. Tapi lain kali jangan bilang kebakaran lagi ya. Males tahu. "


jawab Okta lemas


Kenapa Okta begitu tanggap sewaktu aku bilang ada kebakaran?


Sebab nya dulu sewaktu umur 6 tahun, dia di jaga sama pengasuh nya yang lama sebelum si mbok.


Terus pengasuh nya ini lagi rebus air buat bikin mie instan.


Tapi karena mie instan di rumah Okta habis, jadi pengasuh nya keluar sebentar buat beli mie di toko sebelah rumah Okta.


Tapi pengasuh nya lupa tidak mematikan kompor nya dulu.


Ternyata sewaktu di toko, pengasuh nya malah keasyikan ngerumpi sama pembantu depan rumah Okta, jadi lupa kalau tadi sedang merebus air.


Tak lama air di panci itu habis dan panci nya termakan oleh api.


Okta yang masih bermain-main di kamar nya mencium bau gosong, di panggil-panggil nya nama pengasuh nya itu.


Tapi tak ada jawaban sama sekali.


Dengan memberanikan diri Okta pun bergegas ke dapur dan melihat banyak api di mana-mana.


Okta pun refleks memanggil-manggil papa dan mama nya, namun ternyata mereka telah pergi ke kantor lebih pagi dari biasa.


Jadi Okta tidak tahu kalau ternyata hanya dia seorang di dalam rumah.


Suasana begitu menakutkan bagi Okta, sampai akhirnya asap sudah menebal dan Okta pun susah bernafas.


Tiba-tiba ada anak lelaki yang memecahkan kaca rumah Okta dan membawa nya keluar.


Pengasuh nya yang melihat api membakar rumah Okta, langsung melarikan diri tanpa berkata apapun. Tetapi syukurlah Okta masih terselamatkan berkat bantuan dari anak lelaki misterius yang tak di ketahui identitas nya.


Dari kejadian inilah yang menyisakan trauma teramat dalam bagi Okta dan akhirnya dia pun sekeluarga pindah ke Perumahan tempat tinggal ku saat ini.


Yang tak lama akhirnya si mbok pun bekerja di rumah Okta yang baru ini.


Setelah selesai mandi, Okta dan aku bergegas turun untuk sarapan. Semua sudah nampak berkumpul sarapan bersama pagi ini. Aku dan Okta sarapan

__ADS_1


dengan terburu-buru, karna waktu nya sudah mepet dengan jam masuk sekolah di hari MoS ini.


Kemudian selesai makan, kami pun segera berpamitan pada semua anggota keluarga.


Untunglah kami tidak terlambat sampai sekolah.


Setiap siswa-siswi yang mau masuk pasti di periksa atribut nya terlebih dahulu. Hingga tibalah giliran kami untuk di periksa.


Dag ..dig .. dug ..der ..


Begitulah suara detak jantung ku saat ini, seperti orang yang ketauan mencuri.


Tapi tidak dengan Okta, dia begitu tenang dan tidak panik seperti ku.


Yes, atribut kami pun sudah lengkap dan kami pun masuk aula.


Setelah kami masuk aula, MoS pun di mulai.


Semua tampak tegang termasuk diri ku,


terkecuali sahabat ku Okta.


Semua berjalan lancar, bel istirahat pun berbunyi.


Kami masing-masing mendapat snack yang di sediakan oleh kakak-kakak senior, tetapi semua di minta tetap berada di aula meskipun jam istirahat. Kecuali kalau mau ke toilet.


Meskipun snack-snack ini terlihat enak, tapi entah mengapa aku tak berselera untuk makan.


Tiba-tiba ..


" Hai, kamu Okta kan? Masih inget aku? "


" Oh hai, kamu Felix kan? "


Lamunan ku terhenti seketika aku mendengar Okta sedang berbincang-bincang dengan seorang di sebelah ku.


Nana, ini temen aku nama nya Felix. "


ucap Okta memperkenalkan kami


" Kamu juga sekolah di sini ya Lix? " tanya Okta


" Iya ya gak nyangka di sekolah ini kita bakal ketemu lagi. " jawab Felix


Rupa nya mereka sudah saling kenal, aku makin canggung di antara mereka. Gumam ku dalam hati.


" Okta, Felix, sori ni aku mau ke sana dulu ya.


Mau liat-liat pemandangan sekitar sekolah,


meski cuma liat lewat jendela aja sih. "


ucap ku dengan kikuk


" Aku temenin ya Na? " kata Okta


" Gak usah Ta, kamu di sini aja temenin Felix ngobrol ya. " jawab ku dengan spontan


" Titip Okta dulu ya Lix, jangan di apa-apa'in lho ya sahabat ku. "


" Iih, apa'an sih Na. "


" pasti dong Na, tenang aja ya."


sahut Felix sembari tersenyum


Pemandangan sekolah ini memang bagus, langsung bisa membuat ku terkagum-kagum. Ya pasti dong, nama nya juga sekolah elite.

__ADS_1


Melihat keluar jendela sambil di temani angin sepoi-sepoi membuat ku merasa nyaman sekali.


Sampai-sampai tak terasa aku sudah memejamkan kedua mata ku dan bersandar pada tembok yang ada di sebelah jendela.


Beberapa menit kemudian ..


Hm, mengapa tubuhku serasa begitu hangat ya? Seakan ada sesuatu yang menutupi tubuhku agar tak terkena hembusan angin yang sepoi-sepoi ini.


Perlahan aku membuka kedua mata ku, dan betapa terkejut nya aku melihat sesosok pria yang tengah berdiri di sebelah kiri ku. Dan lebih kaget nya aku ada sebuah jaket kulit yang menutupi tubuhku.


Apakah jaket ini milik nya ya? Pikiran ku seolah menjadi kacau seketika.


" Oh halo, maaf apakah jaket ini milik mu? "


tanya ku dengan pelan


" Hai, iya itu jaket ku. Maaf ya tadi aku selimuti tubuh mu dengan jaket ku tanpa permisi terlebih dahulu. Karna tadi sewaktu aku datang ke sni ku liat tubuh mu menggigil dan mata mu terpejam. Aku takut kalau kamu kedinginan. " jawab nya dengan terbata-bata


" Tidak apa, makasih banyak ya buat jaket nya. Ini aku kembalikan, takut nya nti malah kebawa pulang sama aku. " jawab ku dengan sedikit bergurau


" Iya sama-sama. Oh ya, nama mu siapa?


Perkenalkan nama ku Andika. "


sambil menyodorkan tangan nya ke arah ku


" Nama ku Nana, salam kenal ya Andika. "


sembari aku tersenyum dengan menjabat tangan nya


" Nana, nama yang indah. " kata Andika


Kring .. Kring .. Kring ..


Bel telah berbunyi seakan meminta kami untuk mengakhiri perbincangan kami saat ini.


" Semua nya sudah berkumpul? "


tanya salah satu kakak senior


" Sudah kak " jawab kami semua serentak


" Baiklah sekarang kita akan mengakhiri MoS hari ini besok jangan lupa bawa atribut kalian lagi.


Juga jangan sampai terlambat ke sekolah,


karna besok kita akan mengenal lingkungan sekolah kita ini. Mengeri semua nya? "


" Mengerti kak "


" Apa ada pertanyaan? "


Seketika suasana menjadi hening dan itu mengisyaratkan bahwa tidak ada pertanyaan dari kami.


Kemudian kami pun segera di bubarkan dan dapat pulang ke rumah kami masing-masing.


Di halaman sekolah, aku dan Okta masih berbincang-bincang dengan Mey. Teman pertama kami di sekolah ini. Tadi kami tak dapat bertemu di aula di karenakan kita duduk di barisan belakang. Sedangkan Mey duduk di barisan depan, sebab dia datang nya lebih awal dari kami.


Setelah puas berbincang-bincang nya, tiba-tiba ponsel Okta berbunyi. Ternyata Felix yang mengirimi pesan singkat ke Okta.


Wah, hubungan mereka benar-benar dekat ya.


Mungkin karna Okta tipe cewek yang supel, sedangkan aku tipe cewek yang selalu minder kalau ketemu orang. Beda banget kan? gumam ku dalam hati.


Tak apa yang penting sahabat ku bisa bahagia,


maka aku pun juga pasti bahagia.

__ADS_1


Karna itulah sahabat.


__ADS_2