Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Kekuatan Roh Raja Naga Api


__ADS_3

Wong Mo Gei meminta kedua sahabatnya merahasiakan semua yang ia peroleh kepada orang-orang. Termasuk kedua orang tuanya sendiri. Pedang naga kayangan ia simpan di pintu dimensi dengan bantuan raja naga api dan kelinci bulan.


Setelah pulang kerumah Wong Mo Gei tampak begitu bersemangat berlatih apalagi denga adanya kitab ilmu pedang pedang kayangan.


Cek Pei dan Wa Hua juga mendapatkan pedang. Cek Pei mendapatkan pedang baja putih yang mempunyai kekuatan salju. Sedangkan Wa Hua Wa mendapatkan sebuah pedang baja merah yang mempunyai kekuatan api.


Ketiga sahabat itu kembali dengan wajah yang begitu gembira. Namun baru saja mereka mau meninggalkan tempat itu, mereka di hadang oleh tiga orang pemuda di pintu masuk bangunan tua Kuburan Pedang itu.


"Hehehe..! Rupanya si kelinci bisa juga berpetualang, dia tidak takut jika bertemu srigala," kata salah seorang penghadang yang berumur sekitar dua puluh tiga tahunan, kata-kata yang penuh cemooh dan ejekan.


"Jangan halangi kami!" kata Wong Mo Gei berusaha tenang.


"Hehehe...! Kau boleh lewat, tapi dengan merangkak di bawah ************ kami, dan kalian berdua serahkan pedang yang kalian bawa," kata salah seorang temannya lagi. Pemuda itu tampaknya mempunyai aura kekuatan roh suci yang cukup kuat. Ketiga pemuda itu berasal dari Sekte Batu.


"Tampaknya mereka bertiga tidak bisa di ajak bicara baik-baik Mo Gei," kata Cek Pei mulai tampak emosi.


"Mereka belum tau siapa Wong Mo Gei, yang mereka tahu hanya roh suci kelinci," tambah Wa Hua Wa dengan senyum tipis.


"Heh.. Dia malah meledek kita Kak," ujar pemuda yang lebih muda, "Biar aku yang mencoba mulut pongahnya itu Kak! Heaa..!" tambahnya lagi sambil melompat keudara dan menyerang dengan tangan kanan mengeluarkan cahaya biru kehitaman.


Dess..!


Melihat pemuda itu menyerang Wa Hua Wa, Wong Mo Gei yang bergerak maju. Wong Mo Gei menapaki serangan pemuda itu dengan kedua telapak tangan di depan.


"Aaahhh....!!" pemuda itu terjerit kesakitan sambil tubuhnya terdorong jauh kebelakang. Begitu pemuda itu berdiri, ia baru menyadari telapak tangannya melepuh bagai terbakar.


"Kurang ajar kau kelinci. Kau berani menyakiti temanku!" geram pemuda yang berbaju kuning.


"Heaaah...!!" pemuda itu membentak sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Cahaya putih menyelubungi kedua tangannya.

__ADS_1


"Kau akan tau kekuatan roh suci harimau putih, kelinci..! Heaaa...!" bentakan nyaring pemuda itu sambil menghentakkan kedua tangannya kedepan, cahaya putih yang menyelubungi tangannya berubah merah dan melesat dengan cepat ke arah Wong Mo Gei.


Wong Mo Gei tampak terkejut, dengan tidak sengaja dan refleknya Wong Mo Gei menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tiba-tiba sebuah sinar merah menyala membentuk perisai membentengi pemuda itu.


Blammm...!"


"Aaakhh....!" pemuda itu terpental kebelakang dengan pakaian di bagian dada tampak hangus terbakar. Pemuda itu mengeluh kesakitan hampir tidak mampu berdiri. Temannya yang tadi mengalami luka bakar di tangan segera bergerak membantunya.


"Hebat juga si kelinci, dari mana ia mendapatkan kekuatan sekuat itu. Mungkin kah roh suci kelinci mempunyai kekuatan seperti itu," guman pemuda yang berbaju biru dan tampak lebih tua di antara Tiga orang itu.


"Hup!" pemuda yang berbaju biru itu tegak bermedi dengan kedua tangan merentang di depan dada, sinar putih kehitaman perlahan muncul dari kedua tangannya. Cahaya itu mengumpul dan berubah menjadi besar dan kemudian tampak di dalamnya bentuk seekor naga tanah.


"Naga tanah keluarlah.. Aku butuh kekuatanmu!" bentak pemuda itu. Kemudian naga yang ada di dalam bola cahaya tersebut menghilang.


Blesss...!


Tiba-tiba di atas kepala pemuda berbaju biru itu muncul asap putih tebal, begitu asap putih itu sirna tampak seekor naga bersayap dengan warna tubuh hitam kesabuan. Wujud naga itu cukup besar, sebesar gajah dewasa.


"Aku butuh bantuanmu untuk mengalahkan pemuda itu!" tunjuk pemuda itu tersebut kerah Wong Mo Gei. Naga tanah memandang kearah Wong Mo Gei sesaat, kemudian menatap kearah tuannya.


"Maafkan hamba Tuanku, sebaiknya Tuan jangan berurusan dengan pemuda itu," cegah sang naga tanah.


"Heh..! Kenapa kau malah melarangku, apa kau takut dengan pemuda yang kekuatan rohnya seekor kelinci itu, bukankah kelinci adalah roh suci terlemah?" tanya pemuda tersebut membentak.


"Tuanku, ada aura raja naga api yang melindungi pemuda itu, jika kita memaksa bertarung dengannya, kau bisa kehilangan kekuatanku," jawab naga tanah lagi.


"Dasar roh suci tidak berguna," rutuk pemuda itu setengah berguman.


"Maaf Tuanku, semua itu demi Tuanku, lagian pemuda itu bukanlah orang jahat, mereka bertiga mendapatkan hasil dari usaha mereka," kata Naga tanah menasehati.

__ADS_1


"Aku akan mencoba sendiri kekuatan si kelinci itu!" geram pemuda itu lagi tanpa mempedulikan nasehat roh sucinya. Pemuda itu menerjang kearah Wong Mo Gei dengan pukulan tenaga dalam yang membentuk bola cahaya yang menyelubungi kedua tinjunya.


"Heaaa..!"


Secara reflek dan begitu cepat Wong Mo Gei menangkap kepalan tinju pemuda berbaju biru itu. Tiba-tiba sebuah sinar merah menyala keluar dari tubuh Wong Mo Gei dan melesat kearah atas, begitu sampai di atas bola cahaya itu semakin membesar hingga melebihi besarnua seekor gajah berukuran dewasa.


"Hoaaah....!! Siapa yang berani mengganggu raja naga yang sedang tidur, hah...!" gerutu raja naga api yang tampak melingkar di dalam cahaya berwarna merah itu.


"Apa...!!!" pemuda berbaju biru itu terperanjat bukan main, suaranya terdengar bergetar ketakutan. Wajahnya yang tadi sombong dan pongah kini berubah pucat. Pemuda itu berusaha menarik kedua kepalan tinjunya dari genggaman Wong Mo Gei, namun tidak berhasil.


"Roh suci raja naga api? Roh suci terkuat!" ucap pemuda itu gemetaran.


"Tuanku, apa pemuda itu yang membuatku terbangun? Apa kita jadikan dia daging panggang saja! Hohoho...!" tawa raja naga api sambil menoleh kearah pemuda berbaju biru itu. Begitu raja naga bergerak, cahaya merah yang membentuk bulatan bagai sebuah gelembung itu menghilang. Raja naga api berputar di sekeliling tubuh Wong Mo Gei dan menatap pemuda berbaju biru itu dengan tajam.


"Heh! Pemuda sombong, kenapa kau gemetaran, tadi aku sempat mendengar kau memerintahkan roh sucimu untuk mengalahkan Tuanku, tapi roh sucimu memperingati dan melarangmu. Kau tetap membandel, karna kau merasa hebat bukan?" tanya roh suci naga api sambil membuka mulutnya lebar.


"Ampun! Raja naga, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ucap pemuda itu tampak lemas, namun kedua kepalan tinjunya masih tetap digenggam Wong Mo Gei.


"Kau di ampuni atau tidak tergantung Tuanku, jika Tuanku menginginkan kau jadi daging panggang, maka aku akan membakarmu hidup-hidup! Hohoho...!" tawa raja naga api sambil terbang mengitari Wong Mo Gei dan pemuda berbaju biru itu.


"Ampuni Tuan hamba Tuanku raja, dia belum mengerti tentang kekuatan dan aura Tuanku raja, hamba mohon ampuni Tuan hamba," ucap naga tanah sambil menundukkan kepalanya ditanah sebagai tanda hormat dan memohon.


Wong Mo Gei segera melepaskan genggaman telapak tangannya di kepalan tinju pemuda berbaju biru itu. Pemuda itu langsung jatuh terduduk lesu sambil memegangi kepalan tinjunya yang terasa nyeri.


"Kali ini kau ku maafkan, tapi jangan ulangi lagi, aku tidak akan memaafkanmu lagi, bila aku mendengar kau melakukan perbuatan yang sama, pada siapa pun!" tegas Wong Mo Gei.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2