
Semantara itu di desa Sekte Batu para prajurit atas perintahkan Maharaja Cong Ming, sudah berada di pinggiran hutan larangan. Ada sekitar lima ribu lebih prajurit yang sudah di siagakan di sana.
Para pendekar dari tujuh sekte pun sudah cukup banyak yang berada di sana, termasuk para pendekar yang menyelidiki masalah penculikan. Setelah mendapat berita dari Wong Mo Gei dan ketiga teman-temannya, barulah semua penyelidikan di hentikan.
Mo Gei, Kau yakin dengan berita yang kau dapatkan?" tanya Zhang Sin Ming pada sang putra.
"Mo Gei yakin, Ayah," jawab Wong Mo Gei, " Tampaknya yang di katakan tuan Lee Tang Yin itu memang benar, para gadis dari desa ini berhubungan dengan rencana untuk membuka gerbang iblis," tambahnya lagi.
"Jika sampai gerbang iblis terbuka, peperangan antara manusia dan iblis akan pecah, tentu akan banyak korban yang berjatuhan, seperti tiga puluh tahun yang lalu," imbuh Tian Shan yang duduk tidak jauh dari Wong Mo Gei dan ayahnya, Zhang Sin Ming.
"Kakek, terlibat pertempuran seratus tahun yang lalu?"
"Ya, saat itu kakek seumuran denganmu, Mo Gei," jawab Tian Shan sambil membelai jenggotnya yang sudah memutih, walau rambut dan jenggotnya sudah memutih. Namun laki-laki ketua Sekte Api itu masih mempunyai tubuh yang tegap.
"Apa banyak korban saat itu, Kek?" tanya Wong Mo Gei lagi.
"Mungkin lebih dari dua puluh ribu prajurit yang tewas, belum lagi dari para pendekar dan rakyat biasa, Mo Gei,"
"Siapa dalang yang membuka gerbang iblis saat itu, Kek?"
"Kakek tidak tahu, yang jelas. Saat itu pasukan iblis tiba-tiba menyerang ke Kerajaan, pasukan Kerajaan Yin dan Yang terpaksa mengadakan perlawanan. Karena pasukan iblis menyerang manusia membabi buta," jawab Tian Shan lagi.
Wong Mo Gei hanya mengangguk mendengar penuturan Tian Shan tersebut.
Keheningan tempat itu langsung berubah ketika tiba-tiba Pangeran Yun Lau muncul bersama putranya, Pangeran Yun Ka See dan Panglima Ming Woo San dalam keadaan terluka parah.
"Pangeran Yun Lau?!"
__ADS_1
Semua mata yang ada di sana langsung mengarah ke tempat tiga orang itu berada, ribuan prajurit langsung mengepung dan mengacungkan senjata pada ketiga orang itu.
"Pangeran, apa yang terjadi?" tanya Tian Shan sebagai pimpinan tertinggi saat ini di sana.
"Tian Shan, maafkan aku. Kau boleh membungkuk, tapi aku mohon biarkan Yun Ka See hidup," pinta Pangeran Yun Lau sambil menyembah di hadapan Tian Shan dan para petinggi kerajaan Yin dan Yang yang berada di sana.
"Apa yang terjadi, Pangeran?" tanya Tian Shan.
"Maafkan Aku, Tian Shan. Seluruh pasukan ku habis di bantai oleh pasukan iblis kelelawar yang keluar dari gerbang iblis itu, Tian Shan," jawab Pangeran Yun Lau sambil memegangi dan berusaha untuk duduk.
"Jadi kalian memang membuka kembali gerbang iblis itu?" tanya Tian Shan. membentak
"Iya, aku melakukannya. Aku menyangka jika para iblis itu bisa aku ajak bekerja sama untuk mengalahkan kakakku Cong Ming, tapi tidak ku sangka. Mereka begitu keluar dari gerbang itu tanpa mempedulikan siapa yang membuka gerbangnya, mereka langsung menyerang kami. Pasukanku berusaha bertahan namun mereka begitu banyak bagai air yang mengalir, Tian Shan. Seluruh pasukanku habis, sekarang mereka tentu akan menuju dunia manusia, kau boleh membunuhku, Tian Shan. Tapi sekali lagi aku mohon biarkan Yun Ka See hidup," ucap
Pangeran Yun Lau sambil kembali bersujud
di depan Tian Shan dengan suara serak dan menangis laki-laki yang berpakaian mewah itu kini tampak begitu kacau, dengan pakaian compang-camping. Terdengar tangisan sesegukan dari mulutnya.
"Baik, Penasehat," jawab para prajurit itu mereka langsung melakukan pertolongan pada Pangeran Yun Lau, Panglima Ming Woo San dan Pangeran Yun Ka See.
Pangeran Yun Ka See tampak terdiam tak mampu berkata kata begitupun dengan Panglima Ming Woo San, setelah mereka di obati dengan kereta kuda dari istana Ketiga orang itu langsung di hadapkan kepada Maharaja Kaisar Cong Ming di istana Yin dan Yang.
Maharaja Cong Ming yang dulu cukup menyayangi sang adik satu ayahnya itu namun karena semua sikap Pangeran Yun Lau yang menghianati kepercayaannya.
Mahaharaja Cong Ming tampak terdiam ada rasa kerinduan di hati laki-laki nomor satu di wilayah Negeri Delapan Mata Angin itu. Namun mendengar semua cerita yang di laporkan oleh salah seorang jenderal yang mengawal langsung Pangeran Yun Lau dan kedua orang yang di bawanya. Maharaja Cong Ming begitu terkejut.
'Apa yang kau lakukan, Yun Lau? Jika
__ADS_1
Singgasana ini yang kau inginkan, adikku. Kau bisa memintanya secara baik-baik padaku. Bukankah aku selama ini, dari kecil aku tidak pernah membedakan kau sebagai adik satu ayah, aku menganggap kau sebagai saudara kandung ku Yun Lau, tapi apa yang kau lakukan? Sekarang kau akan memicu perang antara dunia manusia dan dunia iblis. Apa yang harus aku lakukan? memaafkanmu? apa kata rakyatku? memenggal mu langsung di sini, namun kau adalah saudaraku satu-satunya. Apa yang harus aku lakukan?" Maharaja Cong Ming tampak bingung sendiri perasaan pribadi dan tanggung jawabnya sebagai seorang kaisar yang bertanggung jawab pada rakyatnya, namun ia juga sebagai seorang manusia yang mempunyai perasaan, laki-laki itu terdiam menatap ke arah Pangeran Yun Ka See.
"Maharaja, kau boleh memenggal ku, menyiksaku, itu terserah padamu karena aku sudah menyia-nyiakan semua sikapmu sebagai seorang kakak kepadaku dan sebagai seorang pangeran yang cukup baik. Namun karena keserakahan ku, aku buta kakak dan melakukan begitu banyak kesalahan sampai akhir ini kesalahan yang tidak termaafkan oleh dirimu dan rakyat negeri ini. Kakak bunuhlah aku sebagai seorang pengkhianat negeri Yin dan Yang, tapi aku mohon. Ampuni dan terimalah putraku satu-satunya ini, hanya dia yang akan menjadi penerus dan penggantiku.
Aku yang berjanji padamu, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang telah aku perbuat," ucap Pangeran Yun Lau sambil bersujud di depan Maharaja Cong Ming.
Begitu juga dengan Panglim Ming Woo San, Pangeran Yun Ka See kedua orang itu ikut bersujud di depan Maharaja Cong Ming.
.
.
.
Bersambung....
Jangan dukung novel ini ya teman-teman.
Dengan
Hadiah.
Rate.
Like.
Koment.
__ADS_1
Dan Votenya.
Terima kasih banyak.