
Sementara itu kedua Pendekar Pulau Buangan tampak diam di belakang si Mata Elang.
"Baiklah si Mata Elang, kami pamit menuju ruang berikutnya," pamit Wong Mo Gei pada si Mata Elang.
"Berhati-hatilah, Pendekar muda, karena ini adalah nerakanya Pulau Larangan ini begitu banyak menyimpan para manusia monster yang menakutkan," ucap si Mata Elang kembali memberi peringatan pada Wong Mo Gei.
Sam Cong Tieng hanya menarik nafas dalam-dalam dan perlahan melepaskannya laki-laki berpenampilan bak seorang pangeran itu hanya tampak terdiam tanpa mampu mengatakan sepatah kata apa pun.
Wong Mo Gei bersama Singa Merah dan Cek Pei melanjutkan perjalanan mereka di antara para pendekar yang bergelimpangan di lantai ruangan itu
"Mata Elang, Apakah kita harus mengikuti Tuan Wong Mo Gei?" tanya
Kung Lao dan Kung Lie berbarengan.
"Untuk saat ini lebih baik kita menunggu di sini Kung Lao, Kung Lie," jawab si Mata Elang, "Dengan keadaan kita yang sudah terluka, kita tidak mungkin mampu menghadapi orang-orang yang sudah mempunyai batu kekuatan dan kekuasaan di ruangan kedua. Tapi orang-orang yang bersama Singa Merah itu akan mampu menghadapi para pendekar yang haus darah di ruangan kedua itu. Kita hanya akan mengantisipasi jika mereka mengalami kesulitan saat keluar nanti," tambah
si Mata Elang lagi.
"Apa kau yakin mereka akan kembali? si Mata Elang," tanya Kung Lau merasa kurang yakin kalau Wong Mo Gei dan kawan-kawannya mampu kembali dan keluar dari istana bawah tanah yang penuh dengan jebakan dan para penjahat ini.
"Aku yakin dengan pedang naga kayangan yang dimiliki pemuda itu, dia akan sanggup mengalahkan enam penghuni ruangan dan bangunan labirin kematian menuju tempat Lee Tang Yin," kata si Mata Elang sambil menarik nafas panjang.
"Aku tidak menduga kalau kita akan bertemu orang yang menguasai pedang naga kayangan itu, menurut legenda yang aku dengar pedang itu. Bersatu dengan raja naga yang merupakan roh Suci seseorang.
Mungkinkah roh suci pendekar muda Wong Mo Gei itu adalah raja naga api?"
"Ya, kalau melihat kemampuan yang dimilikinya. Aku yakin kekuatan Roh suci, yang dimiliki oleh Wong Mo Gei adalah raja naga api," sela Kung Lao. Kung Lie hanya mengangguk membenarkan perkataan Kung Lau.
.
*********
Sementara itu Wong Mo Gei dan ke-empat temannya termasuk Singa Merah memasuki ruangan kedua yang di sinari oleh batu berwarna merah tertumpuk di dekat sebuah gelanggang pertarungan, di dalam gelanggang pertarungan itu tampak dua orang manusia yang berwajah tampan sedang melakukan pertarungan mengadu tenaga dalam.
"Kenapa? orang-orang yang berada di ruangan ini lebih cenderung berwajah tampan dan memiliki umur yang lebih muda, Tuan Singa Merah?" tanya Wa Hua Wa penasaran.
"Oh, itu karena mereka sudah mendapat kekuatan batu merah kekuasaan, Tuanku," jawab Singa Merah.
"Jadi kekuatan batu merah itu mampu membuat orang menjadi lebih muda dan lebih tampan?" tanya Sin Yin.
"Ya, begitulah tuan putri kalau kita mendapatkan batu itu maka kita akan lebih muda sekitar sepuluh tahun daripada umur kita yang sebenarnya, jika aku yang mendapatkannya Mungkin aku akan mempunyai wajah seperti seorang pemuda berumur dua puluh lima tahun dan umur dua puluh tahunan," jawab Singa Merah menjelaskan.
"Ha ha ha...! Singa Merah. Apa yang membuat kau sampai ke istana ini? Bukankah tempatmu di Pagoda kematian?" tanya salah seorang di antara orang-orang yang berada di ruangan itu seorang laki-laki muda dengan pakaian bak seorang raja
Sebuah pedang lurus bergambar naga hitam di punggungnya dengan tirai yang begitu indah, pemuda itu tampak bagai pemilik tempat itu di belakangnya tiga orang gadis cantik membawa nampan berisi gelas
yang didalamnya ada anggur berwarna merah dan sebuah teko keramik yang begitu indah.
"Ho ho ho...! Chang Min, rupanya kau masih ingat padaku," jawab Singa Merah
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Singa Merah?" tanya Chang Min lagi.
"Oh, ya aku kesini mengawal para pendekar ini untuk bertemu Lee Tang Yin," jawab Singa Merah.
"Apa tujuan mereka bertemu dengan Lee Tang Yin itu, Singa Merah?"
"Mereka mempunyai misi dari Kaisar
Yin dan Yang untuk mengetahui ada apa dibalik penculikan tujuh gadis perawan beberapa hari yang lalu di wilayah
Negeri delapan mata angin," jawab Singa Merah lagi.
"Kau tahu peraturannya Singa Merah untuk melewati ruangan kedua kalian harus mengalahkan para pendekar nomor satu sampai nomor tiga di ruangan kedua ini, jika kalian menang kalian bisa menuju ruang ke-tiga dan menguasai batu kekuasaan, yang menjadi piala dan tujuan orang-orang di dalam ruangan ini," kata Chang Min sambil tersenyum.
"Kalau boleh tahu siapa gerangan para pendekar muda ini? Aku tahu kalian bukan orang biasa, jika kalian orang biasa tentu kalian tidak akan mampu menembus.
Benteng pendekar Pulau Buangan dan si Mata Elang!" kata Chang Min sambil tertawa.
"Salam kenal, Tuan. Tuan saya Wong Mo Gei dari Sekte Api dan ini sepupu saya dia juga dari Sekte Api dan teman saya Wa Hua Wa dan Sin Yin dari sekte es dan air," jawab Wong Mo Gei ramah.
__ADS_1
"Ha ha ha...! Wong Mo Gei, sebuah nama yang cukup legendaris, kau tahu peraturannya Wong Mo Gei, kau harus mengalahkan tiga orang di dalam
ruangan ini jika kau menang. Kau akan memiliki semua batu merah yang ada di sudut itu, namun jika kau kalah kau harus kehilangan nyawamu dan kehilangan pedang yang ada di balik punggungmu itu. Jika aku lihat, aku bisa melihat itu adalah Pedang Naga Kayangan, yang sudah berada di kuburan pedang selama lima ratus tahun.
Benarkah begitu Wong Mo Gei?"
"Mata Tuan memang begitu tajam," jawab Wong Mo Gei, "Di banding orang-orang sebelumnya yang saya temui, Tuan begitu ramah. Bukankah Tuan adalah salah satu penguasa Pulau larangan ini dan berkuasa di ruang kedua istana bawah tanah ini?"
tanya Wong Mo Gei.
"Yah, seperti yang kau lihat. Aku adalah orang nomor satu di dalam ruangan ini anak muda, tugasku menjadi juri dan penengah para pendekar ini siapa dari para pendekar ini yang mampu bertarung dan mengalahkan nomor satu di dalam ruangan ini dia akan mendapat sepertiga dari batu kekuasaan yang ada di dalam ruangan ini dan memasuki ruangan ketika.
Jujur sebenarnya aku tidak suka dengan orang yang begitu mudah masuk ke dalam istana bawah tanah ini, tapi aku juga tidak ingin bermain-main dengan orang yang mempunyai kekuatan dan senjata yang tidak mampu kami tandingi, satu syarat kau harus bertarung disini tanpa pedang. Kau harus menggunakan jurus-jurus kungfu dan pukulan yang kau miliki untuk bertarung dengan Beruang Hitam dan Manusia Batu dari Pulau Serigala," kata Changmin lagi.
"Baiklah, Tuan. Saya akan menerima semua persyaratanmu tapi jika menang
Kami tidak akan dikeroyok lagi seperti di
ruang Sebelumnya, karena saya tidak ingin menyakiti orang yang jatuhnya tidak ingin bertarung!"
"Ha ha ha..., kau tidak usah cemas Wong Mo Gei. Aku berkuasa di ruangan ini jika kau mampu mengalahkan tiga orang terbaikku maka kau akan mendapatkan semua batu kekuasaan itu.
Baiklah Silakan naik ke atas gelanggang Tri nomor tiga akan menantang mu bertarung dengan memakai tongkat yang ada di pinggir gelanggang itu. Apa kau setuju wong moge?"
"Baiklah, Tuan Chang Min. Saya menerima semua persyaratanmu itu!"
Singa Merah hanya senyum-senyum.
Dengan sekali lompatan Wong Mo Gei sudah berada di dalam gelanggang. Di dalamnya terdapat dua orang yang baru saja selesai bertarung, satu orang itu tampak mengalami luka dalam dengan darah mengalir di sela-sela bibirnya.
Wong Mo Gei menghampiri laki-laki yang terluka itu.
"Apa Tuan, tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, anak muda. Aku hanya mengalami luka dalam sedikit," jawab laki-laki itu.
"Tahan sebentar," kata Wong Mo Gei sambil mengalirkan tenaga dalamnya ke arah tubuh laki-laki itu. Laki-laki itu merasakan Hawa hangat mengalir kedalam tubuhnya dalam waktu singkat nafasnya yang terasa sesak dadanya yang terasa berat kini kembali ringan, tubuhnya lebih enteng dari sebelumnya.
kata laki-laki itu seraya melompat ke bawah dan kembali ke dalam barisan orang-orang.
"Beruang Hitam. Sekarang giliranmu sebagai orang ketiga majulah lawan pendekar penantang, gunakan tongkat Baja Hitam yang kau miliki!"
"Wong Mo Gei akan memilih salah satu dari tongkat yang ada di pinggir gelanggang itu!" perintah Chang Min dengan lantang. Tanpa menunggu perintah kedua kalinya lagi Beruang Hitam melompat ke dalam gelanggang, gelegar tubuhnya yang begitu besar dan hitam bak seekor beruang. Wajar kalau dia dinamakan atau digelari dengan nama Beruang Hitam. Matanya bulat bak mata beruang hidungnya pesek dan bibirnya hitam. Jambangnya terbiar panjang keriting dengan ikat kepala berwarna merah.
"Anak muda, bukankah kau masih terlalu muda untuk mati. Kau sudah mengalahkan si Mata Elang tapi belum tentu kau mampu mengalahkan ku!"
Track!
Si Beruang Hitam menarik sebuah tongkat yang ada di belakang tongkat itu adalah tongkat Baja Hitam.
"Pilihlah salah satu tongkat yang ada di belakangmu itu anak muda karena aku tidak akan bertarung dengan orang yang tidak bersenjata," kata Beruang Hitam
menyeringai.
"Baiklah, jika itu maumu," kata Wong Mo Gei memperhatikan tiga tongkat yang ada di sampingnya sebuah tongkat berwarna kuning keemasan sebuah tongkat berwarna putih keperakan dan sebuah tongkat berwarna kuning keemasan yang movie memiliki tongkat yang berwarna putih keperakan.
"Ha ha ha..! kau benar, anak muda. Kau memilih tongkat perak putih," tawa Beruang Hitam.
"Bersiaplah...! Anak muda. Aku tidak akan menahan seranganku!"
"Gunakanlah seluruh kekuatan untuk mengalahkan ku!"
"Bukankah seorang pemenang batu kekuasaan untuk merubah wajahnya menjadi lebih muda dan tampan beruang hitam. Kenapa kau tidak menggunakan batu kekuasaan dan batu kekuatanmu untuk berubah? Menjadi lebih muda dan tampan," tanya Wong Mo Gei.
"Ha ha ha..! Anak muda bukan Beruang Hitam namanya, jika tidak jelek dan tidak buruk seperti beruang. Jika aku berubah menjadi seorang laki-laki yang tampan Maka gelarku sebagai Beruang Hitam akan hilang, " jawab Beruang Hitam sambil tertawa.
"Ayo! Anak muda, jangan
berbicara lagi karena waktu yang kau punya Mungkin cukup singkat. Berhati-hatilah tongkatku ini bisa mematahkan tulang rusukmu jika berhasil mengenai tubuhmu,"
__ADS_1
kata Beruang Hitam menyeringai memperlihatkan giginya yang berbaris bagaikan taring beruang.
"Pantas saja dia diberi gelar beruang hitam seluruh tubuhnya mirip beruang, namun kekuatannya mencapai tingkat 90% sebagai manusia luar biasa,"
"Raja naga apakah masih ada di sana?"
batin Wong Mo Gei.
" Ada apa Tuanku. Hamba selalu mengawasi, Tuanku. Hamba tidak akan membiarkan Tuanku terluka, kekuatanku akan mengalir jika kekuatan tubuh, Tuan kekurangan tenaga. Namun perlu, Tuan ketahui kekuatanku juga mempunyai batas dalam pertarungan. Jadi Pergunakanlah tenaga tuan sebaik mungkin karena kita masih mempunyai lima ruangan lagi
dan satu labirin kematian yang akan cukup menguras tenaga kita. Belum Lagi musuh besar yang ada di dalam istana bawah tanah ini. Aku merasa hawa panas dari arah dalam itu bukanlah dari kekuatan manusia biasa melainkan kekuatan sisir. Berhati-hatilah tuanku!" kata raja naga api sambil melihat ke arah kelinci bulan.
"Kau siapkan kekuatan untuk Tuan kita karena pertarungan Pulau Larangan ini akan cukup menguras tenaga!" kata raja naga api.
"Tenanglah raja naga aku sudah menyiapkan dan menyerap tenaga alam yang ada Pulau larangan ini tadi, berhati-hatilah, Tuan. Karena senjata itu bisa menghambat kekuatan kami.
Tongkat baja hitam itu adalah tongkat titisan iblis dari 300 tahun yang lalu, tongkat baja perak yang Tuan gunakan mampu mematahkan tongkat itu kelemahan tongkat itu ada di bagian tengah Tuan.
Sebenarnya jika Tuan berhasil menghantam setengahnya maka tongkat itu akan tampak menjadi dua jika tongkat itu Patah Menjadi Dua maka kekuatan tongkat itu sebagai tongkat pembunuh akan hilang untuk selama-lamanya," kata kelinci bulan.
"Baiklah kelinci bulan! Aku akan mencoba saran yang telah kau berikan," kata Wong Mo Gei membatin.
Wong Mo Gei segera memutar tongkat baja perak yang ada di tangannya.Wong Mo Gei segera memainkan jurus-jurus tongka naga kayangan yang ia pelajari dari kitab naga Kayangan.
Semua orang yang ada di ruangan Itu tampak terpana dan terkejut kenapa? Wong Mo Gei mampu memainkan tongkat baja perak itu dengan begitu ringan. Mereka tidak menyadari kalau pendekar muda yang ada di depan mereka adalah seorang pendekar yang mempunyai kekuatan roh suci raja naga api yang sebagai roh suci tak terkalahkan.
Beruang Hitam melompat ke arah Wong Mo Gei dari arah atas sambil Mengayunkan tongkatnya dengan begitu kuat dari arah atas, beruang hitam berencana menyerang kepala Wong Mo Gei.
Trang!
Suara kedua tongkat itu beradu memekakkan telinga dua kekuatan yang
di miliki oleh kedua pendekar itu beradu dan keduanya saling mencoba mendorong tongkat yang ada di tangan mereka wong moge berhasil menekan arah tongkat beruang hitam beruang hitam terdorong ke belakang dengan begitu cepat wong moge bergerak dengan ilmu naga kilatnya.
tiba-tiba Wong Mo Gei sudah berada di belakang Beruang Hitam, dengan begitu cepat Wong Mo Gei Mengayunkan ujung tongkat baja perak ke arah Tengah tongkat baja hitam di tangan Beruang Hitam.
Pletak!
Tongkat di tangan beruang merah tiba-tiba putus ke menjadi dua.
Beruang Hitam terkesiap.
Namun ia tidak menyadari kalau kaki kanan Wong Mo Gei telah melesat ke arah dadanya.
Beruang Hitam yang mempunyai tubuh besar hampir tiga kali dibanding tubuh Wong Mo Gei terpental keras ke arah belakang dan menabrak pagar pembatas gelanggang itu.
Trak!
Pagar gelanggang itu langsung patah menjadi dua tubuh besar Beruang Hitam jatuh bergulingan kedua potongan tongkat Baja Hitam langsung lepas dari tangannya. Begitu berusaha bangun Beruang Hitam menyemburkan darah segar kehitaman menandakan dia telah terluka dalam.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favoritnya ya teman-teman
__ADS_1
Terima kasih banyak.