Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Pedang Naga Kayangan dan Roh Suci Raja Naga Api


__ADS_3

Suasana di dalam ruangan itu yang tadinya mencekam menakutkan. Kini tidak dirasakan lagi oleh Wong Mo Gei. Rasa kagum melihat keindahan pedang yang mengeluarkan cahaya merah itu membuat Wong Mo Gei lupa akan segala keseraman bangunan tua tersebut.


Tiba-tiba seperti tersedot tangan kanan Wong Mo Gei tertarik kearah gagang pedang itu. Wong Mo Gei kali ini tidak berusaha melawan. Pemuda itu membiarkan tangannya tertarik kearah gagang pedang itu.


Tap!


Telapak tangan Wong Mo Gei secara langsung tiba-tiba menggenggam tanpa disadarinya. Wong Mo Gei masih bingung sambil menatap pedang yang sudah di genggamnya itu.


"Mo Gei..! Coba kau cabut pedang itu!" seru Cek Pei, hati Cek Pei dan Wa Hua Wa berdegup kencang penasaran dan bingung melihat semua kejadian yang menimpa Wong Mo Gei.


Perlahan Wong Mo Gei mencoba mencabut pedang yang terpatri di dalam lantai bangunan itu. Wong Mo Gei tidak sadar kalau ia tidak menggunakan tenaga dalam. Namun Wong Mo Gei merasakan ada aliran panas yang mengalir dari pedang itu kedalam tubuhnya.


CLap!


Pedang bergagang kepala naga itu tercabut begitu mudahnya. Wong Mo Gei menatap pedang itu dengan mata terbelalak dan perasaan takjut.


"Pedang yang begitu indah, Cek Pei, aku mempunyai pedang Cek Pei. Pedang yang begitu indah!" seru Wong Mo Gei sambil berbalik menghadap kearah Cek Pei dan Wa Hua Wa. Cek Pei tanpa berbicara langsung berjalan kearah Wong Mo Gei.


"Mo Gei, pedang itu begitu indah, cahaya yang keluar dari pedang itu bersatu dengan cahaya merah yang menyelubungi tubuhmu," kata Cek Pei dalam ketakjutannya. Wa Hua Wa pun ikut terpana melihat kesempurnaan pedang di tangan Wong Mo Gei tersebut.


"Mo Gei, bolehkah aku menyentuh pedang itu?" tanya Cek Pei.


"Silahkan sahabatku, kalau kau hanya ingin menyentuhnya silahkan," jawab Wong Mo Gei dengan wajah berseri dan mata berbinar kesenangan. Wong Mo Gei menyodorkan pedang itu kearah Cek Pei, namun apa yang terjadi di luar dugaan.


"Akhh...! Berat sekali Mo Gei," kata Cek Pei meringis seperti menahan beban yang begitu berat.


Clang!


Pedang itu jatuh ke lantai, Cek Pei berusaha mengambil pedang itu, namun Cek Pei tidak kunjung mampu mengangkat pedang bergagang kepala naga tersebut.


"Mo Gei, aku tidak mampu mengangkat pedang ini, tampaknya pedang ini bukan pedang sembarangan, jangan-jangan pedang ini adalah pedang naga kayangan, Mo Gei?" kata Cek Pei sambil berdiri.

__ADS_1


"Coba sini," jawab Wong Mo Gei, begitu Wong Mo Gei yang mengambil pedang itu, cahaya merah yang tadi sempat redup kini menyala kembali. Wong Mo Gei pun memegang pedang itu dengan begitu enteng.


"Aku rasa pedang ini memang memilih Mo Gei sebagai pemiliknya, tandanya pedang ini begitu ringan di tangan Mo Gei," tambah Wa Hua Wa.


Tiba-tiba cahaya merah yang menyelubungi tubuh Wong Mo Gei menuju satu titik dan menyatu menjadi sebuah bola cahaya berwarna merah. Tidak lama kemudian bola cahaya itu membesar hingga sebesar kepala gajah. di dalam bola cahaya merah itu muncul wujud seekor naga yang memakai mahkota. Naga itu tampak melingkar bagai seekor naga yang sedang tidur.


Wong Mo Gei dan Cek Pei mau pun Wa Hua Wa tampak terkejut dan terpana. Tidak lama kemudian cahaya hitam dan putih tiba-tiba muncul dari lengan kiri Wong Mo Gei. Cahaya itu tanpa di kendalikan menyatu dan membentuk sebuah bola cahaya. Tampak wujud kelinci yang duduk itu bergerak. Kemudian roh suci yang berbentuk kelinci tersebut melesat keluar dan membesar sebesar tubuh manusia.


"Hei... Raja Naga Api, bangunlah.. Kau sudah mengalirkan aura tenagamu, lihat bocah pilihan mu sudah di sini," kata roh suci kelinci.


"Hoaahhhh....! Kelinci Bulan, kenapa kau begitu cerewet, tidak kau lihat aku sedang tidur, atau kau ingin ku jadikan kelinci panggang hah..!" jawab naga yang memakai mahkota itu sambil menggeliat. Begitu naga itu membuka mata ia menatap kearah Wong Mo Gei.


Wuss!


Raja Naga Api itu tiba-tiba menghilang dari dalam bola cahaya merah itu.


"Hooaaarrr....!! Tiba-tiba seekor naga yang begitu besar melingkar di udara. Tubuh naga itu melebihi dua kali pohon kelapa besarnya. Naga itu melingkarkan tubuhnya di udara dan kepalanya menghadapi kearah Wong Mo Gei.


"Hohoho...! Maafkan hamba, Tuanku, selama lebih dari lima ratus tahun hamba tidur menunggu kedatangan Tuanku," ucap Raja Naga Api tersebut.


"Si.. Siapa, yang kau maksud tuanmu, naga?" tanya Wong Mo Gei dengar suara bergetar dan terbata-bata.


"Hohoho...! Tuanku, siapa lagi kalau bukan Tuan," kata Naga Api lagi.


"Aku?!" tanya Wong Mo Gei seakan tidak percaya.


"Ya, hamba telah tidur selama lima ratus tahun di tempat ini, kelinci bulan yang membawa tubuh hamba kedalam tubuh Tuanku," kata Naga Api menjelaskan.


"Sejak kapan kau berada di dalam tubuhku raja naga?" tanya Wong Mo Gei mulai agak tenang. Cek Pei dan Wa Hua Wa pun mulai tampak tenang.


"Sejak enam belas tahun yang lalu Tuanku, saat Tuanku di lahirkan ke dunia ini," jawab Raja Naga Api.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak menampakkan diri saat pembangkitan kekuatan roh suci?" tanya Wong Mo Gei mulai dongkol.


"Hohoho...! Maafkan hamba Tuanku, hamba terhubung dengan pedang naga kayangan. Sebelum kekuatan Tuan bersatu dengan pedang naga kayangan, hamba belum bisa menampakkan diri walau di panggil," jawab Raja Naga Api lagi.


"Kau tau aku jadi bahan ledekan karna roh suciku seekor kelinci," kata Wong Mo Gei tampak agak kecewa.


"Hihihi...! Maaf Tuanku, jika ada yang mengejek Tuanku mulai sekarang, kita tantang mereka bertarung!" jawab roh suci kelinci.


"Mereka belum tau kekuatan kelinci bulan Tuanku, hehehe...!" tawa Raja Naga Api.


"Jadi ini adalah pedang naga kayangan?" tanya Wong Mo Gei sambil melihat pedang di tangannya. Pedang naga kayangan tidak lagi mengeluarkan cahaya merah. Namun pedang itu tetap indah. Ruangan itu yang tadinya gelap kini menjadi terang di sinari cahaya merah dari tubuh sang Raja Naga Api.


"Tentu saja Tuanku, pedang yang ada di tangan Tuanku itu adalah pedang naga kayangan, tempat hamba berasal," jawab raja naga api.


"Maaf, saya menyela, kenapa kami tidak bisa berkomunikasi dengan roh suci kami?" tanya Cek Pei. Wa Hua Wa pun ikut mengangguk.


"Hohoho..! Manusia memang selalu penasaran, tapi tidak apa. Kau adalah sepupu tuanku, jadi aku akan menjelaskannya padamu," jawab Raja Naga Api, "Roh suci yang kau miliki masih kecil mereka akan bisa berkomunikasi dengan tuan mereka saat mereka dewasa. Tapi kalian harus melatih mereka dengan cara mengajak mereka berkomunikasi saat latihan," tutur raja naga api lagi.


"Tapi kenapa kau bisa berbicara langsung dengan kami semua, sedangkan kau baru kali ini menampakkan diri," tanya Wa Hua Wa.


"Aku adalah roh suci raja naga api, umurku sudah lebih dari seribu tahun. Aku menunggu orang yang bisa ku jadikan majikan saja selama lima ratus tahun lebih. Sedangkan roh suci yang ada pada kalian adalah roh suci muda, rata-rata mereka baru berumur seratus tahun sampai dua ratus lima puluh tahun," jawab roh suci raja naga api. Wong Mo Gei tampak terdiam mendengarkan penjelasan roh suci raja naga api. Cek Pei dan Wa Hua Wa hanya mengangguk-angguk memahami apa yang di jelaskan raja naga api.


.


.



Roh Suci Raja Naga Api.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2