Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Serangan Datang


__ADS_3

Kepala prajurit, Yan Hui berniat bergerak lagi, namun Jendral Mu Rong cepat bergerak mencegah.


"Cukup, Yan Hui. Tidak ada gunanya membalas dendam pada orang yang berniat menebus dosa dengan nyawanya," cegah Jendral Mu Rong.


"Ya, Paman. Dia sudah menyerah, dan tidak memberi perlawanan, seorang satria tidak menyerang musuh yang sudah menyerah. Jika Paman tetap melakukannya, berarti Paman sama dengannya," tambah Zhang Sin Ming yang juga membantu Jendral Mu Rong menahan Kepala prajurit Yan Hui.


Kepala prajurit Yan Hui hanya terdiam sambil mengangguk dan menepuk bahu Zhang Sin Ming dan berkata, "Maaf Zhang, aku terlalu terbawa amarahku,"


"Tidak apa-apa, Paman. Aku mengerti," Jawab Zhang Sin Ming sambil tersenyum.


Suasana tampak berubah sunyi, walau di tempat itu ada ribuan prajurit yang berjaga-jaga.


Tiba-tiba dari tengah hutan, di kejauhan terdengar kegaduhan, seperti suara ribuan orang yang hendak menuju tempat itu.


Memang tempat ini adalah tempat terjadinya pertempuran antara pasukan manusia dan pasukan iblis seratus tahun yang lalu, jadi kemungkinan besar pasukan iblis juga akan datang melalui tempat ini.


Di tengah hutan tidak jauh dari tempat itu tampak sebuah lobang cacing atau yang di sebut dengan lubang dimensi, tampak dari lubang itu keluar ratusan bahkan ribuan pasukan iblis.


Mereka adalah pasukan iblis kelelawar yang berada di barisan terdepan, dengan terbukanya lubang pertama antara dunia manusia dan dunia iblis membuat pasukan iblis bebas membuat pintu dimensi kemana saja.


Pasukan iblis bisa mencapai Sekte Batu dalam sehari semalam karena mereka membuat lubang dimensi menuju Sekte Batu, namun yang membatasi mereka adalah jalan keluar mereka hanya satu di tengah hutan larangan.


"Semua pasukan, bersiap!" perintah Panglima Tio Bu Ki, semua jendral yang ada di tempat itu langsung mengatur barisan prajurit mereka.


Sedangkan Wong Mo Gei dan Kedua orang tuanya berada dalam barisan pendekar yang ada di tempat itu.


"Mo Gei, Zhang Sin Ming, persiapkan diri. Pasukan iblis tampaknya sudah mencapai tempat ini," kata Tian Shan.


"Baik, Paman," jawab Zhang Sin Ming. Wa Hua Wa hanya menatap ke arah Wong Mo Gei yang ada di sebelahnya, tangan kanan gadis itu telah memegang gagang pedang yang ada di balik punggungnya.


Sedangkan Sin Yin tampak berada di samping Cek Pei, para pendekar yang lain pun tampak mempersiapkan diri mereka.


"Manusia.... Habisi mereka...!" terdengar perintah dari salah satu pimpinan pasukan iblis kelelawar. Tanpa banyak bicara pasukan iblis kelelawar langsung menyerbu ke arah pasukan prajurit Kerajaan Yin dan Yang itu.

__ADS_1


"Maju kalian...!" bentak Panglima Ming Woo San, setelah berteriak laki-laki itu langsung melesat menyongsong pasukan iblis kelelawar yang menyerang kearah pasukan Kerajaan Yin dan Yang.


Dalam sekejap mata suara hingar bingar pertempuran antara dua pasukan telah terjadi, dalam waktu yang singkat saja entah berapa prajurit yang gugur dari kedua belah pihak.


Pertempuran berjalan dalam keadaan hampir berimbang, karena saat ini hanya pasukan iblis kelelawar yang baru mencapai tempat itu.


Para pendekar dari berbagai sekte tampak telah terlibat pertempuran, termasuk Wong Mo Gei dan kedua orang tuanya. Wong Mo Gei yang mempunyai kekuatan dari roh suci raja naga api tampak bagai singa yang terluka.


Setiap prajurit siluman kelelawar yang menyerang ke arahnya harus menerima kenyataan bahwa manusia yang di hadapan mereka mempunyai kekuatan yang sulit mereka hadapi.


Wong Mo Gei tampak berkelebat kesana kemari menghajar pasukan iblis kelelawar yang ada di hadapannya. Setiap gerakan tangan pemuda itu satu prajurit iblis tumbang.


Sejauh ini Wong Mo Gei belum menggunakan kesaktiannya, gerakan pemuda itu begitu cepat dan tangkas dalam menghajar setiap musuh yang ada di hadapannya.


Cek Pei dan Sin Yin tampak telah menghunus pedang mereka, setiap tebasan dan sabetan pedang kedua pendekar muda itu, selalu ada korban dari pasukan iblis kelelawar.


Para prajurit Kerajaan Yin dan Yang yang berada di belakang Wong Mo Gei dan ketiga temannya, tampak hampir menjadi penonton. Namun pasukan iblis kelelawar yang terus berdatangan membuat pertempuran semakin sengit.


Walau pasukan iblis kelelawar banyak yang tewas, bukan menjadi penghalang dan masalah bagi pasukan sekte iblis itu. Mereka terus berdatangan.


Panglima Ming Woo San menyentakkan telapak tangannya kedepan, dua cahaya merah menyala menderu ke arah pasukan iblis kelelawar yang ada di depannya.


Tubuh Panglima Ming Woo San yang sudah penuh dengan luka dan mengeluarkan darah, tidak membuat laki-laki itu menyerah.


Panglima Ming Woo San terus menyabetkan pedangnya ke arah musuh yang terus berdatangan dan mengeroyoknya.


Boooommm....!"


Ledakan pukulan Panglima Ming Woo San menghantam sekitar tiga puluh iblis kelelawar yang berada di depannya, tanah dan debu berhamburan.


Iblis kelelawar yang terhantam pukulan Panglima Ming Woo San itu langsung tewas meregang nyawa.


"Huakh!"

__ADS_1


Panglima Ming Woo San langsung memuntahkan darah segar ke tanah, darah merah kehitaman. Pertanda laki-laki itu sudah mengalami luka dalam.


"Haaa....!"


"Phoenix Api, keluarlah...!"


Panglima Ming Woo San tampak menyilangkan kedua tangannya di depan dada, cahaya merah menyala keluar dari kedua tangannya, tidak lama kemudian sebuah cahaya merah menyala melesat ke atas dan keluar dari tubuh Panglima Ming Woo San.


"Kiiiikkkk.....!"


Swoss...!


Swoss!


Cahaya merah bagai api melesat dari mulut phoenix api, kedua cahaya itu tepat menghantam pasukan iblis kelelawar yang mengelilingi Panglima Ming Woo San.


"Tuanku, Tuan sudah terlula... Istirahatlah dulu...!" suara phoenix api sambil menyambar ke arah beberapa iblis kelelawar yang terbang ke arahnya.


"Kenapa kau tidak berada di dalam barisan, Ming Woo San?"


Tampak Tian Shan dan Zhang Sin Ming melompat ke samping Panglima Ming Woo San, kedua pendekar itu menghalau para iblis kelelawar yang hendak menyerang Panglima Ming Woo San.


"Maafkan aku, Paman. Aku berniat bertaruh nyawa, dan menjadi orang yang pertama gugur dalam menghadapi pasukan iblis ini," jawab Panglima Ming Woo San sambil menyeka darah dari sela-sela bibirnya. Sedangkan luka di tubuhnya tidak di pedulikan lagi.


"Kau bodoh, Ming Woo San," kata Tian Shan sambil menyabetkan pedangnya ke arah iblis kelelawar yang menyerangnya. Sedangkan Zhang Sin Ming hanya tersenyum mendengar celoteh Tian Shan tersebut.


Memang di dalam hati ayah penguasa roh suci raja naga api itu cukup kasihan melihat keadaan Panglima Ming Woo San yang sudah babak belur akibat terkena serangan para iblis kelelawar yang datang bagai air mengalir.


"Sebaiknya, Panglima beristirahat sejenak mengobati luka, biar kami yang menghadapi iblis-iblis ini," kata Zhang Sin Ming sambil terus menghadapi serangan iblis kelelawar dari segala arah.


Sementara phoenix api tampak bertempur dengan menyambar ke arah beberapa iblis kelelawar yang berkeliaran, sejauh ini phoenix api masih bertarung dengan gagahnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2