
"Lapor Ketua, pasukan kita yang berada di pinggiran kota di serang," lapor seorang prajurit siluman kadal yang sempat melarikan diri.
"Apa, manusia sudah berani memberikan serangan balasan?" Kepala pasukan iblis siluman biru yang bertugas di Desa dekat pinggiran kota Yang itu cukup terkejut.
"Kita, bantu kawan-kawan kita di sana, kirim bala bantuan!" perintah kepala prajurit iblis itu.
"Baik, Ketua!" jawab ratusan prajurit sekte iblis siluman biru yang ada di sana. Tanpa menunggu lama lagi ratusan prajurit iblis siluman biru itu langsung bergerak.
"Hoaaarrr....! Itu mereka serang...!" teriak pimpinan pasukan iblis yang berniat memberikan bantuan ke batas kota. Ratusan iblis yang berlari langsung menghambur menghadang pasukan para pendekar.
"Tampaknya mereka berniat memberi bantuan ke arah belakang kita, Mo Gei," kata Cek Pei sembari menarik pelana kudanya agar kuda yang di tungganginya berhenti.
"Ya. Kita habisi mereka," jawab Wong Mo Gei, setelah itu bagai kilat putra Zhang Sin Ming itu langsung melesat menyerang ke arah para prajurit iblis.
"Heaaa...!" sambil melompat di udara Wong Mo Gei begitu cepat mengirimkan dua pukulan jarak jauh, dua sinar merah membentuk cakar meluncur deras ke arah pasukan iblis.
Wuss! Wuss!
Blaaar....!"
Belasan prajurit iblis yang terdiri dari iblis biru terpental terhantam pukulan jarak jauh Wong Mo Gei itu. Cek Pei pun segera melesat tanpa basa basi mengeluarkan pukulan jarak jauhnya.
Swoss!"
Jilatan cahaya putih melesat dari tangan Cek Pei dan menghantam belasan prajurit iblis. Para prajurit iblis yang terkena pukulan jarak jauh langsung tewas seketika.
"Bunuh.... Habisi... Manusia... Manusia... itu... Serang....!!" terdengar teriakan lantang para pimpinan pasukan iblis.
Tanpa banyak bicara, para prajurit iblis langsung berlompatan dari atap rumah dan sela-sela rumah penduduk, mereka langsung di sambut para pendekar dengan serangan balasan yang begitu cepat.
Para pendekar dari Pulau Larangan yang berada di barisan depan, dengan cepat melesat maju. Pedang di tangan para pendekar itu meliuk-liuk memecah udara.
Pasukan iblis yang masih rata-rata punya kemampuan kelas bawah, harus menerima tebasan dan sabetan pedang yang langsung menghujam ke tubuh mereka.
"Oorrkh...!" jerit kesakitan para prajurit iblis terdengar menyayat di tengah pertarungan. Pasukan iblis seakan tidak punya kemampuan di hadapan para pendekar dari Pulau Larangan.
Begitu pun dengan Wong Mo Gei, Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin. Keempat pendekar muda itu membantai habis berapa pun prajurit iblis yang mencoba menghadang dan menerjang ke arah mereka.
"Hup...! Mo Gei, biarkan mereka jadi bagianku!" kata Cek Pei sambil melesat cepat ke depan.
__ADS_1
"Silahkan...!" sahut Wong Mo Gei sembari melompat kembali ke atas kudanya.
"Wa Hua Wa, biarkan Cek Pei. Tampaknya dia kekurangan musuh," cegah Wong Mo Gei ketika Wa Hua Wa hendak melompat ke depan.
"Hup! Baiklah," jawab Wa Hua Wa seraya melompat ke atas kudanya di samping Wong Mo Gei.
"Hei...! Kau melupakanku, Cek Pei," kata Sin Yin sambil menebaskan pedangnya pada dua iblis biru yang mencoba membokong Cek Pei dari arah belakang.
"Tidak, aku tidak melupakanmu, aku hanya ingin menghadapi para iblis ini sendiri. Aku sedang bersemangat," sahut Cek Pei sambil tersenyum.
Puluhan prajurit iblis biru dan beberapa prajurit siluman srigala tampak mengepung mereka berdua.
"Kita habisi manusia itu satu-persatu," kata salah seorang pimpinan pasukan iblis.
"Haaarrrkkkh...!" beberapa iblis biru langsung melompat ke arah Cek Pei dan Sin Yin sambil mengayunkan pedang mereka yang besar dengan mata bergerigi bagai sebuah gergaji.
"Hiyaaat...!!" jerit melengking keluar dari mulut Sin Yin, gadis cantik yang diam-diam menyukai Cek Pei itu melesat cepat ke depan sembari menyabetkan pedangnya bagaikan kilat.
"Oorrkh...!"
Beberapa prajurit iblis langsung tumbang terkena sambaran pedang di tangan Sin Yin itu, tidak hanya Sin Yin. Cek Pei pun melesat bagai sebuah bayangan.
Dalam sekejap mata puluhan prajurit sekte iblis yang mengepung Cek Pei dan Sin Yin telah bergelimpangan di tanah.
"Kelihatannya kita belum perlu turun tangan Wa Hua Wa," kata Wong Mo Gei sambil menatap ke arah gadis cantik berambut merah di sampingnya.
"Kau benar, Mo Gei. Cek Pei dan Sin Yin bagai singa terluka, berapa pun prajurit iblis yang ada di depan mereka, habis di sambar pedang mereka," jawab Wa Hua Wa sambil tersenyum.
"Aku baru sadar, jika senyum sahabat kecilku ternyata begitu manis," gumam Wong Mo Gei seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Nada suara Wong Mo Gei hampir tidak terdengar.
"Hmm...! Jangan bicara sendiri, aku mendengar kok," kata Wa Hua Wa sambil tersenyum.
"Tidak.. Tidak... Aku tidak mengatakan apa pun," jawab Wong Mo Gei, pemuda itu tidak menduga jika Wa Hua Wa mendengar gumamannya tadi.
"Mo Gei.. Mo Gei... Aku juga sangat menyukaimu, tapi sebagai seorang gadis aku tidak mungkin mengatakan perasaanku. Apalagi dalam keadaan saat ini," bisik Wa Hua Wa dalam hati.
"Tuanku, kenapa kau tidak katakan perasaan mu pada Wong Mo Gei. Hamba lihat dia juga menyukai, Tuan," kata roh suci naga terbang.
"Kau mendengar suara hatiku, naga terbang?" jawab Wa Hua Wa membatin.
__ADS_1
"Hamba adalah sebangsa roh, dan jin Tuanku, tentu saja hamba bisa mendengar suara hati Tuanku, "jawab roh suci naga terbang.
"Hmm...! Kau jangan membuka rahasiaku naga terbang," kata Wa Hua Wa lagi.
"Tuanku, percakapan kita adalah rahasia roh suci dengan tuannya. Hamba tidak berani bertindak kecuali melihat Tuanku tersiksa," jawab roh suci naga terbang.
"Ehm...!" Aku mendengar pembicaraan kalian naga terbang," kata roh suci raja naga api mengirim suara melalui telepati pada roh suci naga terbang.
"Eh... Tuanku, hamba mohon jangan katakan semua ini pada tuan Wong Mo Gei, maklum seorang gadis kebanyakan malu menyatakan perasaannya pada seorang pemuda," jawab roh suci naga terbang melalui telepatinya.
"Baiklah... Aku akan merahasiakannya," jawab raja naga api Zui Kiang.
Sementara itu Cek Pei dan Sin Yin terus bertarung tanpa lelah, sepasang pendekar muda itu bagai singa yang terluka.
Keduanya seakan berlomba menghabisi para prajurit iblis yang mencoba menghadang dan menyerang mereka.
"Hup!" Sin Yin melentingkan tubuhnya ke udara dengan begitu cepat menghindari serangan seorang iblis biru yang cukup cepat, senjata iblis biru itu merupakan sebuah gada berduri.
Buuumm..!
Gada berdiri iblis biru itu hanya menghantam tanah tempat Sin Yin berdiri tadi. Setelah berada di udara dengan begitu cepat Sin Yin kembali meluruk turun ke arah iblis biru bertubuh besar itu.
"Hiyaaa...!"
Crass!
"Pluk!
Begitu Sin Yin sampai ke bawah dan menginjak tanah, darah berwarna hijau menetes dan menyembur dari leher iblis hijau yang terbabat putus.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman...
Terima kasih...
__ADS_1