Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Cek Pei Kembali


__ADS_3

Sebuah lobang cacing muncul di tengah hutan, para prajurit terdengar bersorak di bagian barisan belakang melihat Cek Pei dan Sin Yin kembali dengan keadaan tidak kurang satu apa pun, namun begitu iblis kilat keluar dari lobang cacing itu.


"Cek Pei...! Ada iblis yang mengikutimu!" teriak salah seorang prajurit kosumsi dalam keterkejutannya.


"Ada iblis... Kepung....!" tanpa aba-aba para prajurit yang berada di barisan belakang itu langsung mengepung Iblis Kilat yang baru keluar dari lubang cacing buatannya sendiri.


"Tahan... Aku bukan musuh kalian..!" cegah Iblis Kilat tanpa memberikan perlawanan pada prajurit yang hendak menyerangnya.


"Tahan... Dia bersama kami..!" cegah Cek Pei dan Sin Yin setelah melesat menghalangi para prajurit yang mengepung Iblis Kilat.


"Cek Pei, itu Cek Pei...!" seru para prajurit melihat Cek Pei dan Sin Yin muncul dari lobang cacing yang tadi tempat Iblis Kilat keluar.


Para prajurit berbondong-bondong menemui Cek Pei dan Sin Yin, mereka sungguh terkejut melihat Cek Pei kembali bersama salah satu iblis perut bumi dalam keadaan hidup.


Salah seorang prajurit segera melapor ke barisan depan bahwa Cek Pei dan Sin Yin telah kembali dan tidak kurang suatu apa pun.

__ADS_1


Mendengar laporan prajurit itu, Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa yang paling duluan memutar haluan kuda mereka dan menuju tempat di laporkan prajurit tersebut.


"Kau tidak apa-apa, Cek Pei?" Wong Mo Gei menelisik hampir setiap jengkal tubuh saudara sepupu sekaligus sahabat terdekatnya tersebut.


"Seperti yang kau lihat, Mo Gei. Aku baik-baik saja," sahut Cek Pei sambil tersenyum.


"Aku sangat bersyukur, tidak terjadi apa-apa padamu," kata Wong Mo Gei mengutarakan kegembiraannya.


"Kau tidak apa-apa, Sin Yin?" tanya Wa Hua Wa setelah melepaskan pelukan pada Sin Yin.


"Jika kalian lelah, istirahatlah dulu. O, iya. Kenapa iblis tanah itu bisa menyerah padamu?" tanya Wong Mo Gei.


"Panjang ceritanya, nanti akan aku ceritakan. Tapi sebaiknya kita susul kakek Tian Shan dan yang lain di baris depan," sahut Cek Pei.


"Baiklah, kau memang sangat bersemangat menghabisi pasukan iblis," kata Wong Mo Gei tertawa. Meraka pun segera melompat ke atas kuda dan menuju barisan depan, Iblis Kilat pun mengikuti dari belakang, para prajurit menyibak memberi jalan.

__ADS_1


"Mo Gei, menurut laporan terbaru dari prajurit mata-mata khusus di depan kita banyak sekali pasukan prajurit iblis yang tinggal dan menguasai Sekte Batu," kata Tian Shan menghampiri Wong Mo Gei dan teman-temannya.


"Baiklah, Kek. Kami akan maju duluan, kakek pimpin yang lain di belakang kami," sahut Wong Mo Gei.


"Baiklah," kata Tian Shan sambil tersenyum.


"Mo Gei, kami ikut denganmu," kata Zhang Shin Ming di ikuti anggukan Shin Yuan Ma.


"Baik, Ayah, Ibu," jawab Wong Mo Gei.


Benar yang di katakan Pimpinan tujuh sekte, Tian Shan. Di Sekte Batu kini tampak ratusan prajurit iblis mungkin ribuan yang tampak berjaga-jaga di batas Sekte Batu.


Wong Mo Gei dan Cek Pei maupun Wa Hua Wa dan Sin Yin tampak mengebah kuda mereka dengan cukup cepat, di belakang mereka terlihat para pendekar roh suci dari tujuh sekte di wilayah Kerajaan Yin dan Yang termasuk pendekar bantuan dari pulau larangan.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2