Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Ilmu Cakar Naga Api


__ADS_3

Kembali ke tengah gelanggang kompetisi tahunan itu. Pertandingan antara Wong Mo Gei melawan Cho Yun Pha sedang berlangsung. Terlihat Wong Mo Gei berdiri di sudut kanan dengan sebuah pedang yang terbalut kain putih di punggungnya. Kain putih penutup itu memang sengaja Wong Mo Gei gunakan, agar pedang naga kayangan tidak menjadi pusat perhatian.


"Kalian mau adu tanding ketangkasan, kedikjayaan ilmu kesaktian kalian, atau langsung pada titik pertandingan ini?" tanya juri penengah sambil berdiri di tengah antara Wong Mo Gei dan Cho Yun Pha.


"Kalau saya, ikut Cho Yun Pha saja, Paman," jawab Wong Mo Gei seraya menunduk memberi hormat.


"Pertandingan ini tinggal satu ronde ini saja, Paman. Karena kita semua tau, bila adu kekuatan roh suci, saya tidak akan menang melawan Wong Mo Gei. Jadi sekarang tinggal pertandingan penentuan, yaitu pertarungan adu kedikjayaan," timpal Cho Yun Pha sambil menjura memberi hormat.


"Baik. Apa kau setuju Mo Gei?" tanya juri penengah seraya menoleh ke arah Wong Mo Gei.


"Saya setuju, Paman,"


Baik! Sekarang bersiaplah..., ingat ini adalah sebuah kompetisi, bukan pertarungan yang sebenarnya," kata juri penengah itu memperingatkan.


"Baik, Paman!" jawab Wong Mo Gei dan Cho Yun Pha berbarengan.


"Silahkan..!" kata juri penengah itu sambil melangkah mundur sekitar lima langkah, hingga sampai ke tepi pagar gelanggang.


"Ayo Cho Yun, kita mulai," seru Wong Mo Gei setelah melangkah mundur sekitar dua tombak ke arah sudut kanan.


"Baik!" sahut Cho Yun Pha seraya mengangkat tangannya bersiap dengan kuda-kudanya. Kaki kanannya di geser ke depan, sedangkan kaki kiri di tarik kebelakang. Kedua kakinya agak setengah di tekuk. Kedua tangan Cho Yun Pha mengangkat di atas perut dengan tangan kanan mengacung ke depan.


"Hup! Hiyaaa...!"


Cho Yun Pha yang sudah cukup mempunyai pengalaman, pemuda itu sudah tiga tahun ini mengikuti kompetisi tahunan. Namun Cho Yun Pha hanya sanggup menduduki peringkat ketiga di bawah Wang Man Chu dan Pok Cai.


Sebuah tendangan yang cukup cepat mengarah ke arah dada Wong Mo Gei, di lepaskan Cho Yun Pha. Namun sebagai putra pendekar ternama, dan sangat telaten dalam berlatih. Serangan Cho Yun Pha itu bukanlah hal yang mengejutkan bagi Wong Mo Gei.


Begitu manis dan gesitnya Wong Mo Gei menarik sedikit tubuhnya ke samping sambil menggeser kakinya. Tendangan kaki Cho Yun Pha itu hanya lewat di samping pinggang Wong Mo Gei.


Merasa tendangan pertamanya meleset Cho Yun Pha memutar tendangannya ke arah samping kanan dengan begitu cepat. Tapi Wong Mo Gei lagi-lagi dengan tenang memiringkan tubuhnya ke samping dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Shaaa....!"


Wut!


Tendangan kaki Cho Yun Pha hanya lewat di samping bahu Wong Mo Gei. Tanpa di duga kaki kanan Wong Mo Gei bergerak begitu cepat menendang ke arah dada Cho Yun Pha, sedangkan pertahanan Cho Yun Pha di bagian dada sedang terbuka.


"Heh!" sentak Cho Yun Pha tampak terkejut, pemuda dari Sekte Awan Hitam itu cepat menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Dik!


"Hah...!"


Cho Yun Pha mengeluh karena tendangan Wong Mo Gei berhasil mendesaknya, walau tidak secara langsung mengenai dada. Namun mau tidak mau Cho Yun Pha harus terjajar ke belakang sekitar satu tombak.


"Haaa...!"


Cho Yun Pha cepat memperkuat kuda-kudanya kembali. Pemuda itu kembali bersiap dengan kedua kepalan tangannya mengenggam. Cho Yun Pha merapal jurus 'Tinju Besi. Sebuah jurus yang cukup terkenal dari Sekte Awan Hitam.


"Hup!"


"Heaaa...!"


Cho Yun Pha kembali melesat dengan kedua tinjunya menderu ke arah wajah dan dada Wong Mo Gei. Kecepatan serangan tinju Cho Yun Pha cukup cepat dan bervariasi serangannya, sehingga di jurus awal Wong Mo Gei terpaksa bergerak mundur menghindari.


Beberapa jurus kemudian Pendekar Pedang Naga Kayangan itu mulai memberikan serangan balik. Kedua telapak tangan Wong Mo Gei yang membentuk cakar terlihat kaku, udara panas terasa cukup menyengat kuĺit menyebar di sekitar tempat itu.


Cho Yun Pha sampai melompat mundur ke belakang beberapa langkah. Jika tidak mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi, niscaya kulit di tubuh Cho Yun Pha sudah ada yang letup dan mengelupas.


"Wong Mo Gei, tahan! jurus yang kau pakai bisa membahayakan Cho Yun Pha," cegah juri penengah itu.


"Maaf Paman, saya belum bisa mengatur kekuatan yang saya miliki, saya hanya tidak ingin kalah dari ilmu 'Tinju Besi'. yang di gunakan Cho Yun Pha," ucap Wong Mo Gei sambil menurunkan tangannya, "Padahal aku tidak mengerahkan tenaga dalam, tapi kenapa kedua tanganku mengeluarkan hawa panas menyengat kulit?" desis Wong Mo Gei dalam hati.

__ADS_1


"Hi hi...! Tidak usah bingung Tuanku, ilmu 'Cakar Naga Api'. memang mengeluarkan hawa panas dari kedua tangan yang membentuk cakar, sebaiknya Tuanku gunakan jurus 'Cakar Naga Es'." jawab raja naga api dari dalam tubuh Wong Mo Gei.


"Apa semua ini ulahmu, raja naga api?" tanya Wong Mo Gei melalui suara batinnya.


"Tidak Tuanku, kekuatan kita sudah menyatu selama tiga tahun ini, kekuatan api dan Air Tuanku sudah mencapai tahap kesempurnaan, jadi bila Tuanku memakai kekuatan api. Maka aura panas akan muncul sendiri dari kedua tangan Tuanku, begitu pun sebaliknya," jawab raja naga api.


"Hmmm...!" gumam Wong Mo Gei seraya menarik mundur wajahnya ketika sebuah pukulan tinju Cho Yun Pha hampir mendarat di wajahnya.


"Hap!"


Wong Mo Gei mendorongkan telapak tangan kirinya begitu cepat ke arah dada kanan Cho Yun Pha secepat kilat. Cho Yun Pha tidak lagi sempat menghindar.


Desss...!"


"Aakh...!" Lenguhan tertahan keluar dari mulut Cho Yun Pha sembari tubuhnya terdorong jauh kebelakang hingga menabrak dinding pembatas gelanggang itu.


Duk!


Cho Yun Pha hampir jatuh terjelengkang ke belakang jika ia tidak tersandar di pagar pembatas gelanggang itu.


Sret!


Cho Yun Pha menghunus pedang yang tersampir di balik punggungnya. Cahaya hitam kemerahan semerbak menghiasi pedang di tangan pemuda Sekte Awan Hitam itu.


Sring!


Wong Mo Gei pun menghunus pedang naga kayangan yang tersimpan di balik punggungnya. Walau yang sebenarnya dengan kepandaian Wong Mo Gei saat ini, tidak memakai pedang pun, putra tunggal Zhang Shin Ming dengan Shin Yuan Ma itu mampu mengalahkan Cho Yun Pha dengan tangan kosong.


Namun demi menjaga perasaan Cho Yun Pha, Wong Mo Gei menghunus pedang naga kayangan yang begitu legendaris di dunia persilatan itu. Cahaya merah menyilaukan mata memancar dari batang pedang itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2