
Setelah keluar dari goa Lembah Langit, Cek Pei dan Sin Yin menyerahkan kristal yang di berikan manusia kristal biru pada mereka berdua. Namun kaisar Kerajaan Timur membagikan kristal yang di dapat oleh Cek Pei dan Sin Yin sebanyak tiga puluh persen kristal yang di dapat.
Cek Pei dan Sin Yin tetap merahasiakan kepada orang-orang Kerajaan Timur tentang pertemuan mereka dengan manusia kristal biru, sesuai permintaan manusia kristal biru.
Atas saran Cek Pei pula Kaisar Ling Miau membuat sayembara pada prajuritnya untuk memilih prajurit berbakat yang akan di berikan kekuatan kristal biru.
.
*****************
Suasana pertandingan kompetisi antar prajurit di Kerajaan Timur tampak begitu ramai, suara hiruk pikuk. Sorak-sorai penonton terdengar gaduh.
Cek Pei dan Sin Yin tampak duduk bersama kepala prajurit Lau Feng, tiba-tiba seorang prajurit datang melapor.
"Maafkan saya Panglima, pasukan iblis terlihat di daerah desa terdekat dari Lembah Langit dan jumlah mereka cukup banyak tidak seperti biasanya," kata prajurit itu sambil berlutut.
"Baru tiga hari kita tenang tidak ada serangan pasukan iblis, sekarang iblis singa itu datang lagi," desah Kepala Prajurit Lau Feng.
"Izinkan kami membantu, Tuan," ucap Cek Pei sembari bangun dari duduknya.
"Terima kasih, Pendekar," ucap Kepala Prajurit Lau Feng, Sin Yin pun ikut bangkit dari tempat duduknya.
"Kemana mereka, Paman Patih?" tanya Kaisar pada penasehatnya.
"Sepertinya ada masalah, Tuanku," jawab Patih Lu Ziang sambil menunduk hormat.
"Pendekar dari Kerajaan Yin dan Yang itu begitu peduli dengan rakyat, mereka malah meninggalkan kompetisi," kata Kaisar.
"Ya, Tuanku. Mereka memang peduli dengan rakyat, kompetisi ini hanya tontonan. Jika pasukan siluman itu sampai ke sini tentu banyak rakyat yang jadi korban," jawab Patih Lu Zhiang lagi.
.
"Hmm," Cek Pei dan Sin Yin hanya saling pandang saat mereka sudah di kepung oleh puluhan iblis singa yang tampak garang siap menerkam mereka.
Sementara Kepala Prajurit Lau Feng tampak sudah menghunus pedangnya, begitupun dengan lima belas orang prajurit lainnya.
"Panglima, iblis ini terlalu banyak. Kita tidak mungkin lolos kali ini," kata salah seorang prajurit yang berdiri di belakang, prajurit tersebut tampak ketakutan.
__ADS_1
"Tenanglah, kami yang akan menghabisi para iblis ini," kata Cek Pei sambil tersenyum. Cek Pei dan Sin Yin memang tampak begitu tenang, tidak memiliki rasa takut sedikit pun.
"Para iblis ini tampaknya begitu bernafsu mendekati Lembah Langit, Pendekar. Tidak seperti biasanya mereka yang seakan enggan memasuki wilayah ini," kata Kepala Prajurit Lau Feng.
"Biarkan saja mereka datang, kita akan habisi mereka!" Sin Yin tampak sudah bersiap dengan pedangnya. Gadis cantik itu tampak sudah menghunus pedangnya.
Cahaya biru tampak sudah menyelubungi pedang di tangan Sin Yin, sedangkan Cek Pei tampak sudah bersiap dengan kuda-kudanya.
"Haaauuummm.....!!!"
Para iblis yang dalam bentuk singa itu tampak mengaum seakan menggertak Cek Pei dan Sin Yin.
"Hup!" Sin Yin melesat lebih dulu ke arah kanan, begitu cepat gerakan gadis itu. Hawa dingin terasa menyebar dari angin gerakan gadis itu.
Srass! Crass!
Sabetan dan tebasan pedang di tangan Sin Yin begitu cepat sehingga para singa jelmaan iblis itu tidak sempat menghindar, begitu Sin Yin menjejak kaki sekitar sepuluh mungkin lebih para iblis singa itu jatuh ke tanah dengan kepala putus dan tubuh terkoyak.
"Hauuummm....!!!"
Buak! Buak! Duak!
"Haurrkk!"
Para iblis singa itu tampak bermentalan tanpa sempat menyentuh Kepala Prajurit Lau Feng dan anak buahnya, dalam sekejap mata para iblis singa yang tadi berlompatan kini sudah berserakan di tanah.
"Mereka berdua memang bukan pendekar biasa, begitu cepat gerakan keduanya," Kepala Prajurit Lau Feng mendesah, namun hatinya lega. Jika tidak ada Cek Pei dan Sin Yin, mereka tentu sudah jadi santapan para iblis singa itu.
"HAAUUUMM......!!!"
Tiba-tiba dari arah belakang para iblis singa yang mengepung itu muncul sekitar sepuluh ekor singa raksasa mungkin lebih, tinggi singa raksasa itu tidak kurang dari tiga tombak. Auman mereka terdengar menggema memekakkan telinga.
"Gawat, itu singa raksasa yang membantai ribuan prajurit kita!" Kepala Prajurit Lau Feng seakan tertegun memandang ke arah singa raksasa yang bergerak ke arah mereka.
["Tuanku, singa raksasa itu mempunyai kekuatan dan kebal terhadap senjata. Tuan harus memakai jurus pedang tingkat tinggi, jika tidak. Tubuh mereka tidak akan bisa di lukai,"] kata roh suci naga air dari dalam.
"Jurus pedang apa yang harus ku pakai Shui Long?"
__ADS_1
["Pakai jurus 'Pedang Naga Air Memecah Gelombang'. Tuanku, kerahkan setidaknya lima puluh persen tenaga dalam, Tuanku," ] jawab Shui Long.
"Hmm... Baiklah," kata Cek Pei sambil menghunus pedang baja putih yang tersampir di balik punggungnya.
"Hati-hati.... Pendekar, iblis singa raksasa itu begitu kuat, mereka juga memiliki gerakan yang sangat cepat!" kata Kepala Prajurit Lau Feng.
"Terima kasih.... Jangan cemaskan aku, kalian harus bisa menjaga diri, gunakan kekuatan batu kristal biru yang kalian miliki," jawab Cek Pei.
"Bagaimana cara memakai kekuatan batu kristal biru ini, Pendekar?" tanya Kepala Prajurit Lau Feng tidak mengerti.
"Pegang, baru kristal biru itu dan tempelkan di dada kalian. Jika kalian berjodoh dengan kristal biru itu, maka kristal itu akan menyatu dengan tubu kalian. Namun jika tidak, tubuh kalian akan hancur terkena kekuatan kristal biru itu," jawab Cek Pei.
"Apa yang harus kita lakukan, Panglima?" tanya prajurit-prajurit itu berbarengan.
"Gunakan saja seperti yang di katakan Cek Pei, mati berjuang atau mati di terkam para iblis singa itu!" jawab Kepala Prajurit Lau Feng.
"Panglima benar. Kita ikuti petunjuk Cek Pei!" kata salah seorang prajurit. Tanpa pikir panjang lagi mereka langsung mengambil batu kristal biru jatah mereka dari balik baju dan swgera melakukan yang di ajarkan Cek Pei tadi.
Sementara Cek Pei tampak sudah bersiap dengan jurus pedang andalannya. Sekejap mata Cek Pei dan Sin Yin sudah bertarung dengan iblis singa yang bertubuh bak raksasa itu.
"Hup!" Sin Yin berkelebat cepat ke arah salah satu singa raksasa yang hendak menyerangnya. Sin Yin melesat ke arah bawah tubuh singa raksasa itu sambil mengayunkan pedangnya ke arah peruk singa itu.
Crang!
"Heh!" Sin Yin tersentak kaget ketika pedangnya bagai mengenai bongkahan besi, belum hilang keterkejutan Sin Yin Singa raksasa itu sudah mengayunkan cakarnya ke arahnya.
"Hiyaaat....!" Sin Yin cepat melesat memutar tubunya mengelilingi tubuh besar singa raksasa itu.
.
.
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan jejak, jika suka.
Terima kasih banyak.
__ADS_1