
Kembali ke perjalanan Wong Mo Gei yang telah sampai ke pulau larangan para pendekar muda itu pun telah sampai ke
dasar puncak bukit di dalam Pagoda Kematian yang bernama istana bawah tanah ini.
Wong Mo Gei telah berada di dalam ruang kedua dan sedang berhadapan dengan pendekar-pendekar pilihan di dalam ruang kedua itu.
Setelah ledakan membahana, saat kedua pendekar itu mengadu kekuatan mereka
semua orang yang berada di dalam ruangan itu terdiam karena guncangan yang begitu dahsyat debu-debu dan lantai gelanggang tempat pertarungan itu, berhamburan.
Namun saat debu dan batu itu kembali ke dasar lantai tampak Wong Mo Gei berdiri tegak dengan begitu tenang tanpa kurang suatu apapun.
Lain yang terjadi dengan Tang Liau Mie,
laki-laki tua berwajah seorang pemuda tampan itu terpental hingga ke ujung pagar gelanggang sambil memegangi dadanya tampak ada darah yang menetes dari sela-sela bibir Pendekar Tang Liau Mie.
"Kau memang hebat anak muda, tenaga dalam yang kau miliki memang di atas kekuatan yang aku miliki. Walau aku telah memiliki tenaga dalam yang begitu tinggi, jika dibanding dengan manusia biasa tenaga dalamku berkisar sekitar seratus lima puluh
tingkat di atas tenaga dalam manusia biasa, tapi kau Masih sanggup mundur kekuatan pukulanku," kata Tang Liau Mie.
Wong Mo Gei hanya tersenyum mendengar perkataan Pendekar Tang Liau Mie tersebut.
"Maafkan saya, Kakek. Karena telah membuat kakek mengalami luka dalam," ucap Wong Mo Gei.
"Tidak apa-apa anak muda, di dalam pertarungan jangankan terluka. Kematian pun bisa terjadi, apalagi hanya luka dalam
seperti ini," jawab Pendekar Tang Liau Mie.
Tanpa banyak bicara Pendekar Tang Liau Mie mengangkat kedua tangannya sebatas pinggang, aliran Hawa murni mengalir ke arah dadanya mengobati luka dalam yang ia derita.
Tidak butuh waktu lama bagi pendekar yang sudah mempunyai pengalaman, untuk mengobati luka dalam yang ia derita. Apalagi itu hanya luka dalam yang tidak begitu parah.
Setelah berhasil mengobati luka dalam yang ia derita, Pendekar Tang Liau Mie menaikkan kedua tangannya di depan dada.
"Mari anak muda, kita lanjutkan pertarungan ini!" seru Pendekar Tang Liau Mie.
"Baik, Kek," sahut Wong Mo Gei. Wong Mo Gei pun segera meningkatkan tenaga dalam ke arah kedua tangannya. Wong Mo Gei perlahan membentangkan kedua tangannya ke arah kiri dan kanan, perlahan Wong Mo Gei menarik kedua telapak tangannya dan mempertemukannya di depan dada.
Cahaya putih keperakan yang lama-kelamaan berubah cahaya menjadi putih kemerahan menyelubungi tangan putra Zhang Shin Ming itu.
Wong Mo Gei mengerahkan pukulan 'Tapak Naga Kayangan'.di tingkat tiga. Tapak naga Bermain Awan.
__ADS_1
Sementara itu Pendekar Tang Liau Mie kedua tangannya telah berubah menjadi putih keperakan. Pendekar tua berwajah anak muda itu mengerahkan pukulan 'Baja Perak Menghantam Karang'.
"Tuanku, sebaiknya tingkatkan tenaga dalam, Tuan ke tingkat lima puluh persen. Karena hamba lihat Pendekar Tang Liau Mie itu mengerahkan hampir tujuh puluh kekuatan tenaga dalamnya. Dia memang berniat mengadu kekuatan dengan, Tuanku,"
kata raja naga api dari dalam.
"Hmm.. Baiklah raja naga. Terima kasih sudah memperingatkanku," ucap Wong Mo Gei membatin.
"He he he... Tuanku, itu adalah kewajiban hamba sebagai abdi, Tuanku," jawab raja naga api tertawa kecil.
Perlahan Pendekar Tang Liau Mie menggeser telapak tangannya ke depan dan menarik pelan kearah samping, cahaya putih keperakan itu kini telah membesar dan membentuk dua buah kepalan tinju berwarna perak agak kehitaman.
Sedangkan cahaya putih perak bercampur cahaya merah di kedua telapak tangaWong Mo Gei telah membentuk dua cakar naga
yang cukup besar.
"Heaaah....!"
Setelah membentak nyaring Pendekar Tang Liau Mie melesat begitu cepat bagai kilat ke arah Wong Mo Gei dengan kedua telapak tangan berada di depan, dua cahaya membentuk kepalan tinju itu berada di depan kedua tangannya.
Wong Mo Gei berdiri tegak dengan dua cahaya membentuk cakar naga di depan tubuhnya. Dengan begitu cepat Wong Mo Gei membentak nyaring dan menghentakkan Kedua telapak tangannya ke depan, dua cahaya yang menyelubungi kedua tangan pendekar muda itu menderu bagai kilat ke arah cahaya yang membentuk kepalan tangan di depan tubuh Pendekar Tang Liau Mie.
Wurrr....!!
Booooommmm....!!
Ledakan dahsyat lagi-lagi mengguncang tempat itu, istana bawah tanah itu bergetar bagai terhantam gempa berskala tinggi.
Semua orang yang ada di sana mengerahkan tenaga dalam untuk memperkuat kuda-kuda mereka agar tidak terjatuh ke ke lantai.
Semua mata tertuju dengan mulut terdiam melihat gelanggang yang terbuat dari batu dan di dinding dengan kayu teras yang begitu kuat kini hancur berantakan. Batu-batu dari dinding dan lantai ruangan istana bawah tanah itu berjatuhan bentuk debu-debu dan kerikil.
Semua orang agak terkejut dan banyak yang berpikir. Apakah istana bawah tanah ini akan runtuh jika kedua pendekar itu terus mengadu kekuatan tenaga dalam dan pukulan kedigjayaan mereka.
Cek Pei Wa Hua Wa dan Sin Yin juga ikut memperkuat tenaga dalam mereka, ketiga
pendekar muda yang mempunyai kekuatan roh suci naga itu memakai ilmu mata naga mereka untuk menembus gumpalan debu yang menutupi tempat Wong Mo Gei dan Pendekar Tang Liau Mie bertarung itu.
Dengan begitu jelas Cek Pei dan Wa Hua Wa bisa melihat Wong Mo Gei masih berdiri tegak di atas sekitar setengah tombak membentuk bulatan batu lantai gelanggang
pertandingan di ruang kedua istana bawah tanah itu.
__ADS_1
Sementara itu Pendekar Tang Liau Mie tampak terpental jauh hingga jatuh ke dekat orang-orang yang berada dan berbaris di bawah gelanggang itu. Pendekar tua berwajah tampan dan tampak begitu muda itu, berusaha berdiri dengan berlutut, darah segar kehitaman mengalir dari bibirnya.
Begitu berhasil berdiri bukannya mengumbar marah atau murka?
Pendekar Tang Liau Mie malah tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha...! Sungguh diluar dugaanku, anak muda. Kau sanggup mengalahkan ilmu
kesaktian yang selama ini cukup aku andalkan. Tenaga dalam yang aku kerahkan dalam adu pukulan kita kali ini melebihi tingkat tujuh puluh persen yang aku miliki,
tapi jangankan untuk membuat kau terluka. Menggeser tempat berdirimu saja pukulan ku tidak sanggup. Aku tidak sakit hati, karena kalah dari seorang pendekar muda, dalam adu pukulan kesaktian. Namun suatu kebanggaan aku bisa bertarung dengan calon seorang pendekar yang berjiwa besar dan mempunyai kemampuan yang sulit di jajaki dan di tandingi," kata Pendekar Tang Liau Mie dengan bernada pujian
Setelah berkata Pendekar Tang Liau Mie berjalan ke arah gelanggang yang telah hancur lebur tak berbentuk itu.
Perlahan tampak pendekar tua berwajah
muda itu terhuyung hampir jatuh ke tanah, sambil ke tangan kirinya memegangi dada.
"Kakek tidak apa-apa? Maafkan saya sudah membuat kakek terluka, mungkin Mo Gei terlalu memakai kekuatan tenaga dalam terlalu besar," ucap Wong Mo Gei sambil memegang tubuh Pendekar Tang Liau Mie yang hampir jatuh ke tanah.
"Tidak apa-apa, anak muda. Aku bisa mengobati luka dalam ku ini dalam waktu beberapa jam," jawab Pendekar Tang Liau Mie sambil berusaha tersenyum.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favoritnya ya teman-teman
Terima kasih banyak.
__ADS_1