
Kung Lie menghunus pedang lurus dari warangka yang ada di tangan kirinya, dengan cepat ia mengibaskan pedang itu ke arah Wong Mo Gei. Namun dengan begitu cepat pula Wong Mo Gei menunduk ke arah belakang membuat gaya kayang.
"Heh! Hebat juga kau, bocah! Hiyaaa..!"
Setelah sabetannya gagal Kung Lie cepat mengubah arah pedangnya menjadi menikam ke arah dada Wong Mo Gei, tapi dengan begitu cepat pula pemuda itu menggeser tubuhnya ke samping menghindari tikaman pedang di tangan Kung Lie itu.
Set! Set!
Kung Lie semakin penasaran, ia semakin berusaha menyerang Wong Mo Gei dengan pedang elang merahnya. Namun Wong Mo Gei dengan begitu tenang menghindari setiap cercaan pedang yang terus memburu ke arahnya.
"Tuan, apa tidak sebaiknya, Tuanku memakai pedang naga kayangan. Biar orang-orang sombong itu tahu diri," kata raja naga api sambil membuka matanya dan menggeliat perlahan.
"Apa tidak terlalu cepat raja naga?" tanya Wong Mo Gei membatin.
"Pedang di tangan manusia itu cukup berbahaya, Tuanku. Pedang itu mengandung racun, jika, Tuanku terkena pedang itu, Tuanku bisa keracunan. Walau hamba bisa menghambat racun nya, tapi itu cukup berbahaya. Karena kita di sarang para pendekar golongan hitam kalangan manusia," jelas raja naga api.
"Baiklah... Aku akan mengikuti saranmu, raja naga," jawab Wong Mo Gei menyetujui saran raja naga api tersebut.
"Hup!"
Wong Mo Gei cepat melentingkan tubuhnya ke udara menghindari sabetan pedang elang merah di tangan Kung Lie itu, dengan cepat Wong bersalto ke belakang dan mendarat di pinggir pagar pembatas gelanggang itu.
Wuss!
Ketika Wong Mo Gei merentangkan tangan kirinya ke arah samping, tiba-tiba sebuah pedang terbalut kain berwarna merah tersampir di punggungnya.
Sring!
Wong Mo Gei langsung menghunus pedang naga kayangan, semburat cahaya merah menyala keluar dari mata pedang berwarna putih kemerahan itu. Gagang pedang itu begitu indah dengan kepala naga di ujung gagangnya.
"Pedang Naga Kayangan...!"
Sam Cong Tieng terkesiap melihat pedang itu, matanya terbelalak seakan tidak percaya. Sam Cong Tieng adalah seorang pendekar pelarian dari Sekte Angin Timur, saat kekalahan Pangeran Yun Lau, Sam Cong Tieng melarikan diri hingga ke Pulau Larangan ini.
Saat masih di sektenya Sam Cong Tieng pernah mencoba mengambil pedang naga kayangan, tapi ia tidak berhasil mencabut pedang itu dari lantai tengah Kuburan Pedang. Jadi tentu saja Sam Cong Tieng mengenali pedang di tangan Wong Mo Gei itu.
"Tidak mungkin?!" desis Sam Cong Tieng lagi.
"Kenapa Sam Cong Tieng? Kau seakan melihat setan di siang bolong?" tanya Singa Merah dengan nada mengejek Sam Cong Tieng.
__ADS_1
"Pemuda itu memiliki pedang naga kayangan! Wajar kalau dia mampu menaklukkanmu, Singa Merah," kata Sam Cong Tieng dalam keterkejutannya.
"O, kau juga mempunyai senjata, bocah. Pedangmu itu akan hancur di buat pedang elang merahku ini, bocah!" kata Kung Lie bernada ejekan dan merendahkan.
"Heaaah...!"
Kung Lie langsung melompat menyerang ke arah Wong Mo Gei sambil menyabetkan pedangnya sama datar dengan dada.
Trang!
Pletak!
Clting!
Pedang di tangan Kung Lie itu langsung patah jadi dua saat beradu dengan pedang naga kayangan. Kung Lie tampak tersentak tidak percaya, semua itu bagai mimpi baginya. Pedang yang selama ini jadi kebanggaannya kini putus jadi dua bagian.
"Tidak mungkin?!" desis Kung Lie setengah bergumam, laki-laki itu terpatung memandangi pedang kesayangannya. Kung Lie sampai tersurut mundur dua tindak ke belakang.
"Kung Lie...! Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, Kak. Tapi pemuda itu merusak pedangku," jawab Kung Lie lemah.
"Kurang ajar kau, bocah. Kau berani merusak pedang adikku, sebaiknya kau serahkan pedangmu jika kau masih ingin hidup!" ancam Kung Lau dengan suara datar, namun begitu dingin. Kekejaman kedua orang itu tampak dari cahaya matanya yang begitu bengis tanpa perasaan.
Bila orang yang memegang gagang pedang naga kayangan, mengerahkan tenaga dalam. Maka tenaga dalamnya akan tersedot dengan sendirinya. Pedang Naga Kayangan bagaikan sebuah pedang yang bernyawa. Kekuatan pedang itu menyatu dengan kekuatan raja naga api yang berada di dalam tubuh Wong Mo Gei.
"Ha ha ha...! Kung Lie, aku akan memberikan pedang bocah itu, padamu," kata Kung Lau tertawa kesenangan. Sedangkan Wong Mo Gei tampak diam sambil mengacungkan gagang pedang naga kayangan ke arah Kung Lau.
"Apa yang terjadi? Kenapa Wong Mo Gei menyerahkan pedangnya?" Singa Merah tampak tambah bingung.
"Tenanglah, Singa Merah, lihat saja apa yang akan terjadi?!" jawab Cek Pei sambil tersenyum.
"Hmm...!" Singa Merah menarik nafas panjang dan melepaskannya secara perlahan. Wa Hua Wa pun ikut senyam senyum saja, sedangkan Sam Cong Tieng antara bingung dengan tidak percaya.
"Hukh...!"
"Aagkh...! Berat sekali...," keluh Kung Lau begitu ia mengambil pedang naga kayangan dari tangan Wong Mo Gei.
Clang!
__ADS_1
Pedang Naga Kayangan langsung jatuh ke lantai gelanggang itu. Sedangkan Kung Lau tampak jadi ikut berlutut dengan wajah meringis bagai mengangkat batu yang begitu besar.
"Huh..!" dengus Kung Lau sambil mengerahkan tenaga dalamnya dan mencoba mengambil pedang naga kayangan yang terletak di depan Wong Mo Gei.
"Ambillah, jika kau mampu," tantang Wong Mo Gei lagi.
Tanpa banyak bicara Kung Lau meraih gagang pedang naga kayangan dengan tangan kanannya dan mengerahkan separuh tenaga dalam yang ia miliki.
"Hukh...!"
Kung Lau tampak terkejut ketika kekuatan tenaga dalamnya tidak berhasil mengambil pedang naga kayangan itu. Kung Lau akhirnya mengerahkan tenaga dalamnya ke tingkat tertinggi yang ia miliki tapi tiba-tiba tenaga dalamnya bagai tersedot ke dalam pedang itu.
"Akhh...!"
Kung Lau berusaha menghentikan pengerahan tenaga dalamnya, tapi tetap saja tenaga dalamnya bagai tersedot ke dalam pedang itu. Wajah Kung Lau mulai memerah dan keringat mulai menetes dari wajahnya.
"Kung Lie, tolong aku...," keluh Kung Lau meminta pertolongan pada sang adik. Tanpa di minta kedua kalinya Kung Lie langsung berusaha menolong sang kakak.
Kung Lie memegang mata gagang pedang naga kayangan dari sebelah depan Kung Lau dan mencoba menarik pedang itu. Tapi yang terjadi di luar dugaannya.
"Aagkh...!"
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Favoritnya ya teman-teman
Terima kasih banyak.