
"Sungguh tidak ku sangka, kalau Kerajaan bakal dapat bantuan dari Pulau Larangan," ujar Kaisar Cong Ming pada sambil tertawa .
"Maafkan hamba, Tuanku. Hamba mendapat kabar bahwa pendekar penakluk Pulau Larangan dalam masalah, lagian kami bukanlah orang yang bisa membiarkan rakyat menderita, atas izin Tuanku, kami akan bertempur bersama pasukan Kerajaan," ucap Lee Tang Yin sambil menjura memberi hormat.
"Ya, pasukan Kerajaan Yin dan Yang saat ini memang membutuhkan bantuan, Pendekar. Pasukan iblis mempunyai kekuatan di luar kekuatan manusia biasa, makanya kami juga telah mengumpulkan seluruh pendekar dan seluruh perguruan yang berada di wilayah negeri Delapan Mata Angin ini," kata Kaisar Cong Ming.
"Pasukan khusus yang menghadapi pasukan iblis akan di pimpin oleh pendekar yang di pilih oleh seluruh pendekar," tambah Kaisar Cong Ming lagi.
"Kami telah memutuskan yang memimpin pasukan adalah Wong Mo Gei, Tuanku," kata Tian Shan sambil memberi hormat.
"Aku setuju, putra Zhang Sin Ming dan Shin Yuan Ma adalah pendekar terkuat di wilayah negeri Delapan Mata Angin saat ini, aku dengar Wong Mo Gei juga memperhatikan keselamatan orang lain," jawab Kaisar Cong Ming lagi.
"Maafkan hamba Tuanku, Apakah pantas hamba yang muda ini jadi pemimpin pasukan?" ucap Wong Mo Gei sambil berlutut.
"Ha ha ha...! Mo Gei, para pendekar telah memilihmu, mereka mempercayaimu karena kau memiliki hati yang baik dan bijaksana," jawab Kaisar Cong Ming, "Percayalah pada diri sendiri,"
"Terima kasih banyak, Tuanku, hamba akan berusaha semampu hamba," kata Wong Mo Gei lagi.
.
.
Sementara itu di Sekte Batu, pasukan iblis tampak berkumpul, Para iblis tampak berpesta menikmati kemenangan yang telah mereka raih.
Panglima Naga Merah tampak berada di sebuah tempat yang mirip kemah, tempat yang di siapkan oleh prajurit dari tujuh sekte iblis.
"Jendral Iblis Biru, bagaimana dengan kota kerajaan, apa pasukan kita bisa menembusnya?" tanya Pangeran Naga Hitam.
"Maafkan hamba, Tuanku Pangeran. Gerbang kota Yin telah di lindungi oleh pagar gaib, sampai saat ini kita belum bisa menembusnya," jawab Jendral Iblis Biru.
"Bagaimana dengan kota di sebelah barat?" tanya Panglima Naga Merah.
"Kota sebelah barat belum, Panglima. Pasukan kita yang di pimpin para jendral yang lain masih terlalu fokus mencoba menjebol gerbang kota Yin," jawab Jendral Iblis Biru.
"Jendral Iblis Kelelawar Hantu dan Jendral Drakula Hitam, malam ini bawa pasukan kalian menyerbu kota Yang, kita pecah perhatian para roh suci itu," perintah Panglima Naga Merah.
"Baik, Panglima!" jawab Jendral Kelelawar Hantu dan Jendral Drakula Hitam berbarengan.
__ADS_1
.
***********
Suara lolongan srigala malam mulai terdengar, suara jangkrik dan burung malam menyemarakkan malam, purnama sudah tidak ada menghiasi langit.
Suasana senja menjelang malam mulai lengang, kota Yang, yang biasanya ramai dengan segala aktivitas para penduduk. Namun malam ini tampak lengang dan senyap, hanya lampu penerangan di setiap teras rumah yang menghiasi kota Yang.
Hanya prajurit yang hilir mudik melakukan ronda dari gerbang kota ke istana. Para prajurit itu berkuda dengan satu kompi pasukan bergantian, sekitar lima menit selalu ada prajurit berkuda yang melewati jalanan kota.
Iring-iringan pasukan dua jendral pasukan iblis tampak bergerak di tengah malam yang mulai larut, pasukan iblis yang sengaja tidak memakai penerangan bergerak menggunakan mata siluman mereka.
Lebih dari dua puluh ribu pasukan iblis yang di kerahkan menuju kota Yang, salah seorang prajurit khusus pengintai yang berpatroli di luar kota Yang sempat melihat pergerakan para prajurit pasukan iblis.
Sekte Api tentu akan menjadi sasaran pasukan iblis terlebih dulu, tapi Kaisar Cong Ming telah mengambil tindakan lebih cepat, siang tadi pasukan Kerajaan telah mengajak seluruh rakyat yang tinggal di Sekte Api untuk mengungsi ke dalam kota Yang.
Dua Sekte yang berdampingan kini telah mengungsi dari desa mereka, baik Sekte Api dan Sekte Awan Putih.
"Rupanya pasukan iblis bergerak dari sebelah barat, setelah gagal menjebol gerbang Kota Yin," kata salah seorang prajurit khusus pada temannya.
"Kita harus cepat melaporkan hak ini ke istana," jawab prajurit khusus yang lain.
Wuss!
Secepat kilat kedua prajurit khusus pengintai itu berkelebat di tengah kegelapan malam.
Mendapat laporan dari prajuritnya, Panglima Tio Bu Ki dan Penasehat Kerajaan Tian Shan segera berkodinasi dengan para pendekar yang sedang mengatur rencana penyerangan terhadap pasukan iblis.
"Kami mendapat laporan bahwa pasukan iblis ada yang bergerak ke gerbang Kota Yang, bagaimana pendapat kalian?" tanya Tian Shan pada para pendekar.
"Kita harus melindungi gerbang Kota Yang dengan segel dari para roh suci lagi, Paman," yang menjawab adalah Zhang Sin Ming yang menjadi penasehat sekaligus pendamping putranya, Wong Mo Gei.
"Bagaimana, Mo Gei?" tanya Tian Shan pada Wong Mo Gei meminta persetujuan.
"Saya setuju dengan pendapat ayah, Kek," jawab Wong Mo Gei singkat.
"Baiklah, segera kirim pasukan penyegel gerbang kota Yang, Mo Gei, kakek mengandalkanmu," kata Tian Shan sambil menepuk pelan bahu Wong Mo Gei.
__ADS_1
"Terima kasih, Kek, Mo Gei akan berusaha semampu Mo Gei," ucap Wong Mo Gei.
"Kita tidak hanya menyegel gerbang kota Yang, Tuanku. Bawa para pendekar dari Pulau Larangan, kita hadapi pasukan iblis yang menyerang ke arah Kota Yang," suara raja naga api tiba-tiba membahana.
"Aku setuju dengan tuanku, Roh suci raja naga api," tiba-tiba Pertapa ular yang telah menjadi seekor naga muncul di dalam ruangan dengan wujud seorang manusia yang bertanduk naga memakai pakaian perang.
"Kami juga setuju dengan roh suci raja naga api," jawab para pendekar dari Pulau Larangan.
"Bagaimana dengan kami?" tanya ketua aliansi perguruan kungfu yang ada di wilayah negeri Delapan Mata Angin.
"Kalian beristirahatlah dulu, Paman. Jaga gerbang kota Yin bersama dengan beberapa pendekar penguasa roh suci yang lain, Kakek Tian Shan yang akan memimpin para pendekar yang akan ke gerbang Kota Yin," kata Wong Mo Gei.
"Baik... Baik... Kakek akan memimpin pendekar ke gerbang Kota Yin, rupanya cucu kakek sudah mulai bisa menjadi pemimpin," jawab Tian Shan sambil tertawa.
"Maafkan Mo Gei, Kek,"
"Ha ha ha...! Mo Gei, kakek senang kau sudah berani membuat keputusan, apalagi roh suci raja naga api tampaknya mempunyai kebijakan juga," jawab Tian Shan sambil tertawa.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa beri rating ya teman-teman sebagai penyemangat author buat terus nulis.
Jangan dukung novel ini ya teman-teman.
Dengan
Hadiah.
Rate.
Like.
Koment.
__ADS_1
Dan Votenya.