Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Kuburan Pedang


__ADS_3

Cek Pei hanya cengegesan di usili oleh Wong Mo Gei lagi ini. Cek Pei hanya senyam senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wa Hua Wa pun ikut tertawa.


"Maaf, maafkan aku Cek Pei," ucap Wong Mo Gei sambil tersenyum.


"Hehehe..! Tidak apa-apa, aku yang mudah terkejut padahal ini adalah siang bolong," jawab Cek Pei sambil tersenyum, "Tumben, sudah hampir setahun, mungkin lebih. Aku tidak melihat candaanmu, Mo Gei, jadi walau aku terkejut, aku cukup senang melihat sepupuku bersemangat lagi. Ya, kan Wa Hua Wa?" tambah Cek Pei lagi.


"Ya, Cek Pei benar," jawab Wa Hua Wa sambil tersenyum.


"Begini teman-teman," kata Wong Mo Gei memulai penuturannya. Wong Mo Gei menceritakan keinginannya mengunjungi Kuburan Pedang.


"Jika itu bisa membuat kau senang tidak apa-apa, Mo Gei. Kami akan menemanimu, mungkin kami juga bisa dapat senjata dari sana. Sekalian hitung-hitung petualangan," sambut Cek Pei mendukung keinginan Wong Mo Gei tersebut.


"Jadi, kapan kita berangkat?" tanya Wa Hua Wa.


"Hari ini," jawab Wong Mo Gei.


"Ya, Bangunan tua tempat Kuburan Pedang itu kan tidak jauh dari sini, hanya setengah hari jalan kaki, jadi kalau kita pakai lari cepat. Tentu kita bisa sampai kesana lebih cepat," tambah Cek Pei lagi. Mereka pun memutuskan pergi pagi itu menuju bangunan tua yang di sebut Kuburan Pedang itu.


Wong Mo Gei berlari cukup kencang di samping Cek Pei dan Wa Hua Wa. Cek Pei melarang Wong Mo Gei duluan takut ada orang-orang jahat yang akan menghadangnya. Mereka berlari menuju tempat bangunan tua yang disebut Kuburan Pedang itu.


Sekitar satu jam lebih mereka bertiga berlari. dan melompat di antara dahan pepohonan. Mereka pun sampai di daerah bangunan tua belas sebuah bangunan megah, namun sudah terbengkalai.


"Kenapa tempat ini begitu seram Mo Gei? Bukankah tempat ini hanya kuburan pedang?" tanya Wa Hua Wa. Tidak terasa bulu kuduk mereka merinding begitu memasuki wilayah bangunan tua yang disebut Kuburan Pedang itu.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin banyak roh pendekar yang bergentayangan di daerah sini dan menjadi penghuni bangunan tua di depan kita," jawab Wong Mo Gei.


"Kalau tidak memikirkanmu, aku tidak sanggup rasanya memasuki daerah ini, Mo Gei," tambah Cek Pei lagi sambil tersenyum.


"Ayo kita lihat ke dalam," ajak Wong Mo Gei sambil berkelebat kearah pintu bangunan tua bak istana yang terbengkalai itu. Cek Pei dan Wa Hua Wa segera menyusul Wong Mo Gei dari belakang.


Mereka baru memperlambat lari setelah di depan pintu bangunan tua itu. Wong Mo Gei masuk terlebih dahulu ke dalam. Begitu mereka menginjak kaki di dalam bangunan tua itu, hawa mistis tempat itu terasa lebih kentara.


Wrrrrr....!


Angin berhembus terasa sejuk, baru beberapa langkah mereka memasuki tempat itu. Terlihat puluhan pedang tertancap di lantai bangunan, yang lebih herannya lagi. Pedang-pedang itu bagai tersusun rapi. Wong Mo Gei masuk perlahan sambil memperhatikan sekitarnya.


Cek Pei meraih sebuah obor bekas yang masih bisa di pakai, dengan sebuah batu api Cek Pei menghidupkan obor itu. Entah mengapa hari masih siang, namun suasana di dalam bangunan sudah gelap bagai malam hari.


Mereka memberanikan diri memasuki bangunan tua itu lebih jauh kedalam. Namun hawa panas mulai terasa di dalam sana. Mereka berjalan di antara puluhan pedang, bahkan mungkin ratusan pedang yang ada di sana.


Begitu memasuki sebuah ruangan besar. Tiba-tiba tubuh Wong Mo Gei mengeluarkan cahaya merah menyala bagaikan cahaya api.


"Mo Gei, tubuhmu bercahaya!" seru Cek Pei dalam keterkejutannya. Wong Mo Gei cukup terkejut melihat tubuhnya mengeluarkan cahaya merah bersinar.


"Apa yang terjadi?" guman Wong Mo Gei bagai berbicara pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ada sebuah kekuatan yang menarik tubuh Wong Mo Gei kearah dalam. Kedua kaki Wong Mo Gei tidak bergerak, namun tubuhnya perlahan bergerak masuk kedalam bangunan lebih jauh.


"Mo Gei...! Kau mau kemana?" seru Cek Pei melihat Wong Mo Gei tiba-tiba bergerak masuk kedalam bangunan semakin jauh. Cek Pei dan Wa Hua Wa berusaha mengikuti berjalan di antara ratusan pedang yang tertancap di lantai bangunan itu.

__ADS_1


Wong Mo Gei semakin terseret jauh kedalam bangunan tua itu. Namun karena tubuhnya yang mengeluarkan cahaya, membuat Cek Pei dan Wa Hua Wa bisa mengikuti kemana arah perginya Wong Mo Gei.


"Mo Gei...! Kemana Kau, tunggu kami!" seru Cek Pei dengan lantang, suara Cek Pei menggema di dalam ruangan bangunan itu.


"Cek Pei... Wa Hua Wa.. Aku di dalam, sebuah kekuatan menyeretku kesini..!" sahut Wong Mo Gei dari dalam ruangan. Cek Pei dan Wa Hua Wa berusaha menyusul tanpa mempedulikan kalau mereka juga ingin mencari pedang yang bisa mereka jadikan senjata andalan.


Wong Mo Gei berhenti di depan sebuah pedang yang tertancap di tengah bangunan tua itu. Wong Mo Gei melihat cahaya di tubuhnya semakin bersinar terang. Tiba-tiba pedang yang tertancap di depan Wong Mo Gei itu mengeluarkan cahaya merah mirip cahaya yang menyelubungi tubuh Wong Mo Gei.


"Apa yang terjadi, pedang itu bersinar seperti sinar pada tubuhku?" guman Wong Mo Gei sambil melihat kedua tangannya yang di selubungi cahaya merah tersebut. Cek Pei dan Wa Hua Wa berhasil menyusul Wong Mo Gei sampai kedalam ruangan tengah bangunan itu.


Aura panas bagaikan di dekat tunggu api mendera. Cek Pei dan Wa Hua Wa terpaksa mengerahkan aura dingin melalui tenaga dalam mereka.


"Mo Gei.. Lihat ada pedang yang bersinar di depanku!" seru Cek Pei melihat cahaya merah mirip cahaya yang menyelubungi tubuh Wong Mo Gei.


"Ya. Aku juga melihatnya!" sahut Wong Mo Gei. Perlahan Wong Mo Gei mendekati pedang yang bercahaya merah itu. Wong Mo Gei terkejut dan sekaligus terpana melihay keindahan pedang yang ada di depannya itu. Gagang pedang itu begitu indah, sebuah ukiran kepala naga berwarna hitam, di bagian perisai pedang itu berbentuk dua kepala naga yang menghadap kearah ujung pedang.


Sedangkan mata pedang itu tampak putih kebiruan dan cahaya merah itu menambahkan keindahan pedang itu.


"Apakah ini pedang naga kayangan itu, sungguh indah pedang ini," bisik Wong Mo Gei dalam hati. Bibirnya berdecak kagum melihat kesempurnaan pedang di depannya itu. Sementara itu Cek Pei dan Wa Hua Wa menunggu di depan pintu ruang tengah bangunan tua tersebut. Keduanya menatap tajam kearah Wong Mo Gei yang lagi memperhatikan pedang di depannya itu.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2