
Dua minggu setelah kompetisi berlalu, kehidupan di wilayah negeri Delapan Mata Angin kembali berjalan seperti biasa. Kehidupan rakyat tujuh sekte yang mendiami Kerajaan Yin dan Yang ini, tampsk begitu damai dan tentram.
Kehidupan yang begitu nyaman selama puluhan tahun, membuat orang-orang di Kerajaan Yin dan Yang tidak menaruh curiga kepada siapa pun yang keluar masuk wilayah negeri Yin dan Yang.
Suasana di tengah hutan, tidak jauh dari sebuah perkampungan yang tinggal di pinggir hutan. Tampak bulan purnama remang-remang menyinari malam, Panglima Min Woo San tampak mengendap- endap di tepi hutan dengan tujuh orang anak buah pilihannya.
"Ingat, jangan sampai tertangkap. Karena Pangeran Yun Lau tidak akan menoleransi kegagalan kita, rencana kita malam ini adalah rencana penting selama puluhan tahun pelarian Sekte Angin Barat dan Sekte Angin Timur. Jika kita berhasil malam ini, kita akan dapat membangkitkan sekte kita ke sebuah kejayaan tertinggi," titah Panglima Min Woo San pada tujuh orang prajurit terbaiknya.
"Baik! Panglima. Kami akan mempertaruhkan nyawa kami pada misi kita ini, berhasil atau mati!" jawab salah seorang prajurit yang telah memakai pakaian serba hitam, dengan dua pedang di punggung mereka.
"Baiklah..., usahakan kalian kembali berkumpul sebelum ayam berkokok, ingat target kalian sudah di rencanakan, jangan sampai kalian menangkap gadis yang mempunyai kepandaian ilmu beladiri," tambah Min Woo San lagi.
"Baik Panglima!" jawab ketujuh prajurit berpakaian hitam. Setelah mendengar wejangan dari Ming Woo San ketujuh prajurit itu langsung melesat bagai kilat ke arah tujuan mereka masing-masing. Bulan terang menyinari mayapada ini, tapi orang-orang di negeri delapan mata angin tidak menyadari adanya bahaya yang mengintai putri mereka malam itu.
Semua orang terlelap dalam mimpi mereka masing-masing di tengah malam yang cukup indah itu. Sekelebat bayangan hitam melesat di atas atap rumah para penduduk bagai bayangan kilat yang menyambar. Dengan kepandaian para prajurit khusus itu, tidak ada kesulitan bagi mereka menculik tujuh orang gadis perawan.
Apalagi target yang mereka incar adalah gadis biasa yang tidak mempunyai kemampuan beladiri apalagi kekuatan roh suci. Kehidupan yang damai selama puluhan tahun membuat orang-orang di tujuh sekte itu tidak begitu mempedulikan urusan ilmu beladiri. Hanya yang mau mempelajari ilmu beladiri yang mempunyai kepandaian, dan kedikjayaan.
Semua itu mempermudah rencana Pangeran Yun Lau dan pendukungnya, terbukti belum ayam berkokok. Tujuh orang prajurit khusus telah kembali berkumpul di tepi hutan Sekte Tanah, membawa tujuh orang gadis perawan dalam keadaan tertotok, dan pingsan.
Setelah semuanya lancar, Min Woo San yang mempunyai kekuatan roh suci Phoenix Api merah, dengan hasil semedi bertahun-tahun. Min Woo San berhasil mempelajari sebuah ilmu teleportasi, sehingga mereka bisa mencapai istana Pangeran Yun Lau dalam waktu singkat.
.
******
Pagi udara begitu sejuk di daerah bukit bulan sabit dan bykit bintang. Kicau burung terdengar merdu menyambut pagi. Suasana sejuk tidak menyebabkan tiga orang pendekar muda tampak berlari kencang menyusuri jalan kecil menuju bukit bulan sabit. Tempat dimana Wong Mo Gei, Cek Pei dan Wa Hua Wa berlatih ilmu kedikjayaan.
Wong Mo Gei yang mempunyai kepandaian paling tinggi di antara mereka bertiga, tampak melesat paling dulu ke arah bukit bulan sabit. Cek Pei dan Wa Hua Wa menyusul dari arah belakang. Kedua sahabat kecil Wong Mo Gei itu tertinggal sekitar seratus meter lebih di belakang.
__ADS_1
"Mo Gei...., kau selalu menjadi pemenang saat lomba lari di antara kita bertiga. Padahal kekuatan kita sama-sama naga," kata Cek Pei setelah berhasil menyusul Wong Mo Gei yang tiba lebih dulu di puncak bukit bulan sabit.
"Ha ha ha...! Cek Pei, aku tidak memakai kekuatan dari naga api untuk berlari, tapi aku memakai kekuatan dari kelinci bulan, seperti yang kalian ketahui. Kelinci memiliki lari yang cukup cepat," jawab Wong Mo Gei sambil tertawa.
"Ya, ya...., aku tau akan hal itu," kata Cek Pei sambil tertawa lepas, tiba-tiba Cek Pei melompat menyerang ke arah Wong Mo Gei sambil menyarangkan kedua telapak tangannya yang membentuk cakar.
"Heit...!" teriak Wong Mo Gei sambil melentingkan tubuhnya ke udara, sehingga serangan Cek Pei itu hanya mengenai angin.
"Sha...!" begitu cepat Wong Mo Gei kembali meluncur turun dengan sebuah tendangan ke arah dada Cek Pei.
Tap!
Cek Pei cepat menapak tendangan Wong Mo Gei itu dengan telapak tangan kanannya, cahaya putih keluar dari telapak tangan sepupu Wong Mo Gei itu. Merasa tendangannya berhasil di tahan Wong Mo Gei menarik kaki kanannya, dan dengan cepat mengubah tendangannya dengan kaki kirinya.
Dik!
"Hup!"
Wong Mo Gei bersalto dua kali ke arah belakang, sebelum mendarat begitu ringan beberapa langkah di depan Cek Pei.
"Kawan-kawan!" panggil Wa Hua Wa, membuat Wong Mo Gei menghentikan latihan mereka dan berpaling ke arah Wa Hua Wa.
"Ada apa Wa Hua Wa?" tanya Wong Mo Gei. Cek Pei dan Wong Mo Gei menghampiri Wa Hua Wa.
"Lihat ini, kakek Tian Shan, meminta kita berkumpul di aula Sekte Api. Ada hal penting," jawab Wa Hua Wa sambil memberikan secarik kertas yang ia ambil dari seekor merpati pos.
"Ayo! Kita segera kesana!" ajak Wong Mo Gei, " Raja naga api, aku membutuhkanmu!" kata Wong Mo Gei membatin.
"Siap Tuanku!" jawab raja naga api dari dalam tubuh Wong Mo Gei.
__ADS_1
Wuss!
Raja Naga Api langsung muncul di atas kepala mereka bertiga, naga itu tampak masih melingkar dengan kepala di atas ekornya, "Ada apa, Tuanku memanggil hamba?" tanya raja naga api sambil membuka matanya, dan perlahan turun sambil melingkari Wong Mo Gei bersama dua sahabatnya itu.
"Kami membutuhkanmu, membawa kami ke aula Sekte Api dengan cepat!" kata Wong Mo Gei.
"Ho ho ho....! Kecil, Tuanku, cepat kalian naik kepunggung hamba. Hamba akan membawa tuan kesana dengan cepat!"
Tanpa banyak bicara lagi Wong Mo Gei, Cek Pei dan Wa Hua Wa segera naik ke punggung raja naga api.
"Berpegangan Tuan-tuan," kata raja naga api, setelah berkata raja naga api melesat bagai seekor burung phoenix meninggalkan tempat itu dengan begitu cepat. Kecepatan gerakan raja naga itu bagai gerakan kilat yang melintasi cakrawala.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Like
Koment
Favoritnya.
Terima kasih banyak.
__ADS_1