
Kung Lie memegang pangkal gagang pedang naga kayangan dari sebelah depan Kung Lau dan mencoba menarik pedang itu. Tapi yang terjadi di luar dugaannya.
"Aagkh...!"
Kedua Pendekar Pulau Buangan itu tiba-tiba mengeluh kesakitan karena tenaga mereka tersedot oleh pedang naga kayangan. Wajah kedua laki-laki semakin memerah karena hampir kehabisan tenaga dalam.
"Bagaima?"
"Kami menyerah.. Ampun, Pendekar. Ampuni kami...," Kung Lau memelas. Tanpa bicara Wong Mo Gei memegang gagang pedang naga kayangan, kedua Pendekar Pulau Buangan itu langsung jatuh terduduk di lantai dengan tubuh lemas.
"Apa ada lagi?" tantang Wong Mo Gei. Semua pendekar yang ada di ruangan itu menunduk pertanda mereka tidak ada yang menantang Wong Mo Gei lagi.
"Kami menyerah, Pendekar. Ampuni kami, belum pernah kami di kalahkan dengan begitu mudah begini," ucap Kung Lau lembut sambil menunduk tidak lagi berani menatap Wong Mo Gei, "Maafkan kami, karena memandang rendah terhadap, Pendekar," tambahnya lagi.
"Bagaimana? Sam Cong Tieng, bukankah sudah ku katakan tadi. Mulut besarmu itu akan terbungkam melihat yang terjadi di depanmu," kata Singa Merah tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Sam Cong Tieng hanya menunduk dengan wajah memerah menahan amarah dan malu.
"Kalian bisa menuju ruang kedua," kata Sam Cong Tieng pada Singa Merah, "Beri mereka jalan,"
Tanpa di perintah kedua kalinya para pendekar itu menyibak memberi jalan. Wong Mo Gei melompat dari atas panggung gelanggang itu sambil menyarungkan pedang naga kayangan ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya.
Namun baru saja beberapa langkah mereka meninggalkan ruang pertama, seseorang tiba-tiba membentak.
"Kalian yang selama ini bertaruh nyawa ingin mencapai ruang kedua, tapi hari ini kalian begitu bodoh, membiarkan seorang bocah melangkahi kalian semua dan mencapai ruang kedua tanpa rintangan yang berat. Dia bisa mengalahkan kita satu persatu, tapi apakah dia bisa mengalahkan kita yang puluhan orang yang telah lolos dari Pagoda Kematian?!"
Tentu saja suara itu begitu berhasil memprovokasi semua pendekar yang ada di dalam ruangan itu. Tanpa di perintah mereka langsung menutup jalan dan mengepung Wong Mo Gei dan kawan-kawannya.
"Jadi kalian berniat mengeroyok kami?" Singa Merah yang mengeluarkan suara.
"Waduh... Kali ini kita harus terlibat," kata Wa Hua Wa sambil menatap ke arah para pendekar yang mengelilingi mereka. Tatapan para pendekar itu kini tampak penuh kemarahan, mereka terpancing suara seseorang yang memprovokasikan mereka tadi.
"Hmm...! Jangan salahkan kami, jika kami main kasar!" kata Wong Mo Gei datar namun pemuda itu telah mempersiapkan diri untuk menghadapi para pendekar haus darah itu.
Wong Mo Gei tampak diam dan begitu tenang.
"Ayo, jika kalian yang ingin bertarung kami tidak akan segan-segan," kata Wong Mo Gei lagi.
"Bunuh mereka!"teriak salah seorang dari para pendekar itu
"Ayo, Mo Gei!" ajak Cek Pei Seraya melompat ke arah depan dengan berikan sebuah tendangan ke arah para pendekar itu, dengan begitu cepat Wong Mo Gei melentingkan tubuhnya ke udara,
sebuah kibasan jurus cakar naganya melesat dengan cahaya berbentuk cakar naga, belasan orang bermentalan ke kelantai.
Begitupun dengan Wa Hua Wa dan Sin Yin, kedua Gadis itu tidak tinggal diam mereka melompat menyerang para pengeroyok itu. Mereka dalam beberapa saat semua orang hanya terpana kecepatan ke empat pemuda itu di luar di dugaan mereka.
Wong Mo Gei dengan begitu cepat menghajar beberapa orang yang ada di bawahnya dengan tendangan yang
__ADS_1
menggunakan tenaga dalam yang begitu tinggi. Sementara itu Singa Merah juga tidak tinggal diam. Ia merangsek beberapa orang yang mengarah kepadanya.
sementara itu Sam Cong Tieng hanya terdiam melihat puluhan orang itu bergelimpangan dan berterbangan bagai daun dan yang jatuh ke tanah dan tertiup angin.
Sementara Wong Mo Gei dan teman-temannya terus menghajar para pendekar yang bagai tidak mempunyai kemampuan tinggi. Kekuatan Roh suci yang ada di dalam tubuh mereka, mereka gunakan untuk mengimbangi kekuatan para pendekar yang mengeroyok mereka.
Wong Mo Gei menghempaskan tangannya ke depan dua larik Sinar berbentuk cakar melesat ke depan sekitar lima belas orang bermentalan ke tanah istana bawah tanah itu. Sekitar lima belas orang terbanting ke tanah dan memuntahkan darah segar kehitaman.
Sekarang mereka baru menyadari jika yang mereka keroyok bukanlah pendekar biasa. Sekarang mereka harus mengakui kalau Wong Mo Gei dan teman-temannya adalah pendekar pilihan dari sekte Api untuk mencari tahu apa yang mereka ketahui dari pulau larangan ini.
Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan dua buah pedang besar di belakang punggungnya, terdiam melihat puluhan pendekar yang siap beradu tanding untuk memasuki ruang kedua kini bergelimpangan di lantai istana bawah tanah itu.
"Aku akui kalian memang hebat. Tapi aku si Mata Elang tidak akan membiarkan kalian memasuki ruang kedua itu tanpa menghadapi aku terlebih dahulu!" kata si Mata Elang dengan tatapan tajam penuh kebencian.
"Majulah jika kau memang ingin bertarung denganku? Kenapa kau harus mengorbankan orang-orang yang tidak ingin bertarung itu? Mereka hanya korban provokasi dari mulut kotormu itu!"geram Wong Mo Gei menatap tajam ke arah si Mata Elang.
"Huh, kau memang mungkin hebat. Mempunyai pedang Naga Kayangan itu Tapi ini adalah istana bawah tanah Pulau larangan, kau tidak akan lolos dari istana bawah tanah ini. Bocah !" kata si Mata Elang.
"Kau kira aku berani datang ke sini, takut akan segala ancamanmu itu, majulah jika itu yang kau inginkan. Menantangku!" jawab Wong Mo Gei dengan begitu tenang.
Sring!
"Ayo! Kau atau aku yang akan mati disini, bocah! Hiyaaa....!" dengan begitu cepat
si Mata Elang melompat bagai kilat ke arah Wong Mo Gei seraya menghunus kedua pedang besar yang ada di balik punggungnya.
sambil memberikan sebuah tendangan ke arah dada si Mata Elang. si Mata Elang terkesiap, ia berusaha menggeser tubuhnya ke samping. Namun tendangan kaki kaWong Mo Gei begitu cepat, sehingga dada si Mata Elang telak terhantam ujung kaki kanan Wong Mo Gei itu
Buak!
"Aagkh!" lenguh si Mata Elang kesakitan,
tubuhnya terpental jauh ke udara hingga menghantam beberapa batang kayu yang ada di atap sebagai penahan atap istana tanah itu.
Belum sempat tubuh SI Mata Elang jatuh ke bawah Wong Mo Gei sudah melompat ke atas dengan begitu cepat Seraya Mengayunkan cakar jemarinya yang membentuk cakar naga. Mata si Mata Elang terbelalak, Ia berusaha menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan kedua pedang besarnya, namun terlambat.
Jemari Wong Mo Gei telah menghantam bagian samping leher di bawah telinga
si Mata Elang. Laki-laki bertubuh besar itu menjerit dan tubuhnya meluncur deras hingga menghantam lantai ruang pertama istana bawah tanah itu.
beberapa orang yang terluka Berusaha beringsut menjauh, jika tidak orang-orang itu akan terkena hantaman tubuh si Mata Elang yang begitu deras menghantam
lantai batu istana bawah tanah itu
Braakk!
__ADS_1
Tubuh SI Mata Elang tepat menghantam
lantai istana bawah itu hingga membuat lobang sebesar kepala gajah mamut berukuran besar.
Tidak lama kemudian si mata elang bangun dengan membuat kedua pedang besarnya sebagai penopang tubuhnya.
"Kau memang hebat anak muda, ku akui itu.
Jika kau mengizinkan aku ingin tahu siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa memiliki Pedang Naga Kahyangan itu? Bukankah selama lima ratus tahun ini tidak ada orang yang sanggup mencabut pedang itu di lantai kuburan pedang, di bangunan tua itu, anak muda?" tanya si mata elang
"Pedang ini ditakdirkan menjadi milikku, kisanak. Aku memang menginginkannya, Tapi dia juga memilihku sebagai pemiliknya.
Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang? melanjutkan pertarungan atau kita sudahi sampai disini," lanjut Wong Mo Gei lagi.
"Aku menyerah anak muda. Semua orang-orang ini sudah terluka karena keinginanku, mengalahkanmu," kata si Mata Elang lemah.
"Orang-orang Sekte Api memang terkenal kekuatannya, kami orang-orang sekte angin barat dan angin timur salah mendukung Pangeran Yun Lau. Anak muda berhati-hatilah karena istana bawah tanah ini. mempunyai seribu monster dari manusia yang siap mati untuk Lee Tang Yin itu," kata
si mata elang memperingatkan Wong Mo Gei.
"Terima kasih, kisanak," ucap Wong Mo Gei sambil menundukkan kepalanya di depan si Mata Elang.
"Kau tidak mendengarkan perkataanku. si Mata Elang, bertarung denganku saja kau belum tentu menang, kau mencoba melawan Wong Mo Gei. Hanya dengan kemampuan luarnya mampu mengalahkanku dengan telak. Kau tahu sendiri kemampuanku sebagai Singa Merah," kata Singa Merah lagi.
"Yah, tampaknya kau memang benar Singa Merah, aku kalah telak hari ini. Aku harap aku masih bisa bertemu dengan Wong Mo Gei dan kembali ke Kerajaan Yin dan Yang menjadi anggota Sekte Api lagi," kata si Mata Elang dengan lemah.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favoritnya ya teman-teman
__ADS_1
Terima kasih banyak.