
Sesampainya di luar istana Bawah tanah, Wong Mo Gei dan Cek Pei, Wa Hua Wa, dan Sin Yin segera melompat turun dari punggung pertapa ular berkepala tiga.
"Sebentar, Tuanku. Hamba, ada keperluan dengan pertapa ular itu," kata raja naga api pada Wong Mo Gei.
"Silahkan," jawab Wong Mo Gei singkat.
Tanpa mengeluarkan kekuatannya, Wong Mo Gei. Raja naga api tiba-tiba keluar dari tubuh Wong Mo Gei dengan membentuk cahaya merah, setelah keluar raja naga api langsung menampakkan diri dalam bentuk naganya.
"Salam hormat hamba, Tuanku," ucap pertapa ular begitu melihat bentuk raja naga api di depannya.
"Ho ho ho...! Pertapa ular, aku punya hadiah untukmu," kata raja naga api, setelah berkata raja naga api tiba-tiba menyemburkan cahaya putih terang dan langsung menyelimuti tubuh pertapa ular.
Beberapa saat cahaya itu menyelubungi tubuh pertapa naga, kemudian asap itu sirna dan pertapa ular telah berubah bentuk menjadi seekor naga yang mempunyai tanduk tiga di kepalanya.
"Terima kasih banyak, Tuanku," ucap pertapa ular yang telah menjadi seekor naga hitam itu.
Tiba-tiba, raja naga api berubah bentuk menjadi seorang manusia dengan di kepalanya terdapat tanduk naga dengan mahkota di kepalanya dan pertapa ular yang telah berubah menjadi seekor naga juga ikut berubah dengan bentuk seorang manusia naga dengan pakaian prajurit naga.
"Naga hitam, mulai saat ini kau adalah prajuritku, jadi kapan aku membutuhkanmu, aku akan memanggilmu," titah raja naga api.
"Semua perintah, Tuanku. Akan hamba taati, hamba dan pasukan ular akan siap menunggu perintah dari Tuanku," jawab naga hitam sambil berlutut memberi hormat.
"Raja naga, rupanya kau bisa membentuk seorang manusia?" Wong Mo Gei cukup terkejut melihat penampilan raja naga api saat ini.
"Tentu saja, Tuanku. Hamba adalah siluman naga, jadi hamba bisa membentuk menjadi seorang manusia naga," jawab raja naga api seraya menunduk di depan Wong Mo Gei.
Tiba-tiba saja, seluruh roh suci ketiga teman Wong Mo Gei juga menampakkan diri dengan bentuk manusia naganya. Ketiga naga itu langsung memberi hormat pada raja naga api.
"Salam hormat kami, Tuanku," ucap ketiga naga itu hampir berbarengan. Wa Hua Wa, Cek Pei dan Sin Yin tampak terdiam melihat wujud roh suci mereka.
"Baiklah raja naga, kita harus kembali ke negeri Yin dan Yang secepatnya, melaporkan semua informasi yang telah kita dapatkan," kata Wong Mo Gei.
"Baik, Tuanku," jawab raja naga api, setelah berbicara pada pasukan naganya yang ada di tempat itu. Setelah merubah bentuk raja naga api kembali ke bentuk naganya, Wong Mo Gei dan ketiga temannya segera meninggalkan tempat itu dengan menaiki roh suci mereka masing-masing dalam bentuk naga mereka.
Lee Tang Yin yang menemui Singa Merah dan Pendekar Rambut Api, tampak terlambat menyusul Wong Mo Gei dan ketiga temannya. Lee Tang Yin yang tampak nya sudah menyadari kesalahannya, memutuskan membawa seluruh pasukannya ke negeri delapan mata angin untuk menjadi pengikut Wong Mo Gei.
__ADS_1
Wong Mo Gei yang mengendarai naga api begitu cepat kembali ke negeri delapan mata angin dan langsung menuju istana Kerajaan Yin dan Yang, Mereka langsung menghadap kepada Maharaja Cong Ming.
"Jadi semua ini adalah ulahnya, Yun Lau?" tanya Maharaja Cong Ming setelah mendengar penuturan Wong Mo Gei yang di dampingi Tian Shan.
"Begitulah informasi yang berhasil hamba dapatkan, Tuanku," jawab Wong Mo Gei sambil menjura memberi hormat.
"Kita harus menyiapkan pasukan, untuk mengantisipasi pasukan Pangeran Yun Lau. Panglima siapkan pasukan kita untuk berjaga-jaga di pinggir hutan larangan!" perintah Maharaja Cong Ming.
"Baik, Maharaja. Segala titah akan hamba laksanakan!" jawab Panglima pasukan Kerajaan Yin dan Yang Tio Bhu Ki, setelah memberi hormat Panglima Tio Bu Ki segera meninggalkan ruangan istana bersama tujuh jendral besar Kerajaan Yin dan Yang.
.
*****
Wong Mo Gei bersama Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin segera kembali ke Sekte Batu membantu para pendekar sekte yang bertugas di sana.
"Ayah, Ibu..!" seru Wong Mo Gei begitu melihat kedua orangtuanya.
"Mo Gei!" sahut Shin Yuan Ma dan Zhang Sin Ming hampir berbarengan begitu melihat putra tunggal mereka. Kedua pendekar ternama Sekte Api itu langsung menghampiri putra mereka itu.
"Kau tidak apa-apa, anakku?" tanya Shin Yuan Ma penuh selidik, wanita cantik itu memeriksa sang putra dari atas sampai bawah, ia menghambur memeluk Wong Mo Gei.
"Ibu mu, begitu mencemaskanmu, anakku," imbuh Zhang Sin Ming sambil memegang pundak Wong Mo Gei.
"Seperti yang Ayah, Ibu, lihat. Mo Gei baik-baik saja," kata Wong Mo Gei menenangkan kecemasan kedua orangtuanya tersebut.
"Syukurlah, bagaimana hasil perjalananmu, anakku?" tanya Shin Yuan Ma setelah melepaskan pelukannya.
"Penculikan itu, di perintahkan oleh Pangeran Yun Lau, Ibu?"
"Pangeran Yun Lau?" Zhang Sin Ming dan Shin Yuan Ma tampak terkejut.
"Ya, Ayah, Ibu," Wong Mo Gei meyakinkan.
"Berarti Pangeran Yun Lau, masih hidup?" Zhang Sin Ming seakan tidak percaya.
__ADS_1
"Menurut salah seorang anggota Sekte Angin yang Mo Gei temukan di Pulau Larangan iya, Ayah. Menurut Lee Tang Yin, Pangeran Yun Lau tinggal di dalam hutan larangan, kabarnya Pangeran Yun Lau berniat membuka portal ke dunia iblis," tutur Wong Mo Gei.
"Apa? Gerbang Iblis?" beberapa orang pendekar dari berbagai sekte tampak tersentak kaget mendengar Wong Mo Gei menyebutkan gerbang iblis.
"Begitulah, informasi yang saya dapatkan. Kemungkinan penculikan tujuh gadis perawan berhubungan dengan rencana untuk membuka segel gerbang iblis atau portal iblis itu," jawab Wong Mo Gei.
"Jika sampai rencana Pangeran Yun Lau berhasil akan ada kiamat kehancuran umat manusia, apa yang di pikirkan Pangeran Yun Lau hingga berencana membuka segel gerbang iblis?" desah Zhang Sin Ming seakan berbicara pada dirinya sendiri.
"Kita harus menghentikan rencana Pangeran Yun Lau itu, Ayah,"
"Tapi hutan larangan bukanlah hutan biasa anakku, memasukinya sama saja mengantar nyawa, banyak hewan buas mau pun mahluk siluman yang tinggal di sana," jawab Shin Yuan Ma, "Lagian Hutan Larangan sangat luas, tidak mungkin kita bisa menemukan tempat persembunyian Pangeran Yun Lau dalam waktu dekat," imbuhnya lagi.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Ibu?"
"Kita menunggu keputusan Maharaja Cong Ming, para pejabat istana tentu akan mencari solusinya," jawab Shin Yuan Ma lagi.
Sementara Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin menemui orang tua mereka, yang juga berada di Sekte Batu untuk menyelidiki kasus penculikan tujuh gadis perawan itu.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.