Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Serangan Dadakan Yang Gemilang


__ADS_3

Serangan dadakan para pendekar yang di pimpin oleh Wong Mo Gei tampak jadi pukulan tersendiri bagi pasukan sekte iblis.


Di saat mereka kebingungan terkena perangkap dan melihat teman-teman mereka terpanggang oleh semburan api para roh suci, mereka di serang. Dalam waktu singkat ribuan prajurit sekte iblis tampak kocar-kacir.


"Serang terus!" teriak Lee Tang Yin menyemangati para pendekar yang lain. Para pendekar dari Pulau Larangan yang mempunyai kekuatan jauh di atas para pendekar biasa tentu membuat mereka dengan mudah mengalahkan dan membunuh prajurit sekte iblis yang ada di depan mereka.


Jendral Kelelawar Hantu dan Jendral Drakula Hitam pun tampak kebingungan mendapat serangan dari ratusan pendekar yang mempunyai kepandaian tinggi.


Dalam waktu singkat ratusan bahkan mungkin ribuan pasukan sekte iblis di bantai para pendekar itu, belum lagi para roh suci yang ikut campur ke dalam pertempuran membuat semakin banyak prajurit sekte iblis yang tewas.


"Berkumpul...!" perintah Jendral Kelelawar Hantu pada anak buahnya yang tampak kacau balau itu.


Mendengar perintah dari jendral mereka, pasukan sekte iblis berusaha mundur dan merapatkan barisan. Namun kepandaian para pendekar yang mereka lawan cukup tinggi, sehingga mereka mengalami kesulitan menghadapi para pendekar itu.


"Jendral, musuh-musuh kita terlalu kuat, Jendral," ucap salah seorang kepala prajurit sekte iblis yang berasal dari Sekte Kelelawar Iblis itu.


"Kurang ajar!" Jendral Kelelawar Hantu tampak kesal melihat pasukannya hampir tidak berdaya menghadapi sergapan itu.


"Hiyaaa...!" Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa melesat menghajar para iblis drakula yang ada di hadapan mereka, pedang baja putih di tangan Wa Hua Wa berkelebat cepat membantai setiap musuh di depannya.


"Hup!"


Wong Mo Gei tampak menyerang musuhnya dengan jurus 'Cakar Naga Kayangan'. jemari tangan Wong Mo Gei yang membentuk cakar itu mampu menembus perisai pasukan iblis.


Srak!


"Orrkk!


"Aaarkk!"


Satu persatu iblis yang ada di depan Wong Mo Gei jatuh ke tanah dan tewas. Di tambah gerakan Wong Mo Gei yang begitu lincah, membuat para prajurit iblis kesulitan menyerang pendekar muda itu.


Wuss!


Tiba-tiba di samping Wong Mo Gei muncul seekor naga dengan wujud seorang prajurit kayangan yang memakai baju zirah perang berwarna emas.


"Tuan Wong Mo Gei," sapa prajurit naga itu.


"Siapa kau?"


"Maafkan hamba, Tuanku. Hamba adalah pertapa ular," jawab prajurit naga itu sambil mengayunkan tongkat dengan pedang besar di ujungnya ke arah pasukan iblis. Sebuah cahaya putih membentuk mata pedang melesat dari senjata prajurit naga itu.


"Dhuaaarrr....!!!


Belasan prajurit sekte iblis langsung bermentalan dan tewas seketika terhantam sinar putih itu.

__ADS_1


"Kau rupanya pertapa ular, rupanya kau sudah menjadi naga," kata Wong Mo Gei sambil terus bertarung.


"Raja naga api telah menganugrahi hamba menjadi seekor naga, Tuanku," ucap prajurit naga itu.


"Bagus, kau memang pantas menjadi naga, Pertapa Ular," ujar Wong Mo Gei lagi.


"Biarkan hamba yang maju Tuanku," kata Pertapa Ular sambil melesat maju, gerakan pertapa ular dalam wujud prajurit naga begitu cepat, gerakannya bagai sebuah lidah petir yang menyambar.


Dalam beberapa gerakan saja para prajurit iblis yang ada di depan Wong Mo Gei sudah bergelimpangan di tanah, rata-rata prajurit iblis itu tewas dengan luka terkena sambaran ayunan tongkat pedang Pertapa Naga.


"Hup!"


Wuss!


Wong Mo Gei tidak ingin menganggur melesat bagai kilat ke arah para pendekar-pendekar yang sibuk membantai dan menghabisi para prajurit iblis.


"Aaaa...!!!"


Jerit kesakitan dan lolongan kematian prajurit iblis terdengar susul-menyusul, setiap sambaran pedang para pendekar itu selalu ada prajurit iblis yang jatuh.


Walau prajurit iblis, sekte iblis itu tidak mempunyai rasa takut. Namun kali ini mereka seakan menghadapi pasukan malaikat maut yang turun dari langit.


Dalam waktu singkat, tidak sampai separuh malam. Hampir separuh pasukan iblis yang datang menuju kota Yang, telah tewas di tangan para pendekar pimpinan Lee Tang Yin dari Pulau Larangan itu.


"Hoaaarrr....! Kurang ajar, kalian manusia..!" murka salah seorang kepala pasukan prajurit drakula hitam sambil melompat ke arah Wong Mo Gei.


"Kau bocah penguasa roh suci raja naga api?" tanya kepala pasukan drakula hitam itu membentak.


"Ya, akulah orangnya," jawab Wong Mo Gei singkat.


"Matilah...!!" kepala pasukan drakula hitam itu membentak langsung melompat menyerang ke arah Wong Mo Gei dengan sebuah serangan memakai pedang besar.


Wuk! Wuk!


"Hiyaaa...!" Wong Mo Gei dengan lincah dan begitu cepat menghindari pedang besar kepala prajurit drakula hitam itu. Wong Mo Gei dengan begitu gesit menghindari serangan pedang besar kepala prajurit drakula hitam itu.


Ayo, iblis. Apa hanya segitu saja kemampuanmu!" tantang Wong Mo Gei sambil tertawa, merasa di permainankan kepala prajurit drakula hitam hitam itu semakin mempercepat ritme serangannya.


Sedangkan Wong Mo Gei hanya berpindah-pindah dengan begitu cepat bagai kilat, sebenarnya Wong Mo Gei belum berniat menghabisi kepala prajurit drakula hitam itu.


Wong Mo Gei memang sengaja memancing kemarahannya, tidak lama kemudian serangan kepala prajurit drakula hitam itu tampak mulai mengendur. Kepala prajurit drakula hitam itu mulai kelelahan.


Set!


Wong Mo Gei bergerak melingkari tubuh kepala prajurit itu yang menyerangnya dari arah atas, sekejap mata Wong Mo Gei sudah berada di samping iblis drakula itu.

__ADS_1


Buak!


"Oorrkh!" jerit kesakitan kepala prajurit drakula hitam itu terdengar lantang sebelum tubuhnya terpental ke tanah.


Setelah bangun dari jatuhnya kepala prajurit drakula hitam itu langsung melompat melarikan diri.


Wong Mo Gei hanya tertawa memandangi kepala prajurit drakula hitam itu lari tunggang-langgang.


"Kau sengaja membiarkan iblis itu hidup, Mo Gei?" Wa Hua Wa sudah berada di samping Wong Mo Gei, pedang baja putih masih tergenggam di tangan kanannya.


"Ya, biarkan dia melapor tentang kita pada pimpinannya," jawab Wong Mo Gei, "Laporan kepala pasukan drakula hitam itu bisa menambah keraguan pada para iblis itu," tambahnya lagi.


"Kau memang cerdas, Mo Gei," puji Wa Hua Wa sambil tersenyum, cahaya penerangan yang berasal dari api itu membuat rambut merah Wa Hua Wa tampak berkilau.


"Aku tidak secerdas itu," jawab Wong Mo Gei merendah.


"Apa aku bisa memiliki hatimu, sahabat kecilku," Wa Hua Wa membatin.


"Tuanku, Kau tau. Gadis di sampingmu itu mempunyai perasaan padamu?" kata roh suci kelinci bulan dari dalam, roh suci bulan mendengar suara hati Wa Hua Wa itu.


"Apa yang kau katakan, Kelinci Bulan. Aku juga menyukainya, tapi begitu sulit menyatakan perasaan pada sahabat sendiri," jawab Wong Mo Gei.


Sementara para pendekar yang lain termasuk para roh suci yang keluar dari tubuh majikannya, terus mendesak pasukan iblis yang hendak menyerang gerbang kota Yang.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa beri rating ya teman-teman sebagai penyemangat author buat terus nulis.


Jangan dukung novel ini ya teman-teman.


Dengan


Hadiah.


Rate.


Like.


Koment.

__ADS_1


Dan Votenya.


__ADS_2