Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Manusia Batu


__ADS_3

"Apa kakek tidak perlu bantuanku?" tanya Wong Mo Gei tampak mencemaskan pendekar tua yang berwajah muda itu, namun memiliki hati yang cukup baik itu.


"Tidak apa-apa, anak muda dalam beberapa jam aku bisa mengobati luka dalam aku ini," jawab Pendekar Tang Liau Mie.


Begitu pendekar Tang Liau Mie mundur seseorang bertubuh besar dan hitam keluar dari sebuah kamar batu di ikuti dua orang gadis cantik dengan pakaian sebelah atas hampir terbuka memperlihatkan separuh perhiasannya.


Walau tubuhnya besar hitam, namun pakaian laki-laki yang baru keluar dari kamar batu itu menggambarkan sebuah kemewahan. Sebuah jubah berwarna merah tanpa lengan sedangkan pembalut lengan laki-laki itu berwarna biru batik batik keemasan.


Laki-laki itu tidak berlari atau melompat ke arah depan Wong Mo Gei, tapi laki-laki bertubuh besar itu berjalan pelan ke arah Wong Mo Gei sebuah tongkat pedang tergenggam di tangannya. Dengan pelan di ia menancapkan pangkal tongkatnya


ke lantai.


Crak!


Lantai batu itu berlobang sebesar pangkal tongkat pedang itu. Perlahan laki-laki bertubuh besar hitam itu mengedarkan pandangannya dan pandangannya tertumbuk pada Wong Mo Gei yang masih berdiri di atas batu.


Sedangkan di sekeliling Wong Mo Gei batu-batu hancur berubah menjadi kerikil.


"Siapa orang yang berani menghancurkan gelanggang ini hah? Apakah kau anak muda?" tanya laki-laki itu sambil menatap ke arah Wong Mo Gei.


Maafkan saya, Tuan," ucap Wong Mo Gei, "Ini terjadi karena pertarungan saya dengan Pendekar Tang Liau Mie, Tuan,"


"Ha ha ha...! Berarti kekuatanmu di atas kekuatan Pendekar Tang Liau Mie, Anak muda! perkenalkan aku Mocie, orang-orang menggelariku Manusia Batu. Karena walau sudah mendapat kekuatan batu kekuasaan yang begitu banyak. Namun tubuhku tidak bisa berubah menjadi lebih muda dan berwajah tampan seperti orang yang lain,"


kata Mocie memperkenalkan dirinya.


"Kalau boleh tahu siapa anak muda yang mempunyai kekuatan besar ini?" tambah Manusia Batu.


"Perkenalkan saya yang muda ini, Tuan Mocie, nama saya Wong Mo Gei," jawabnya memperkenalkan diri.


"Apa maksud seorang anak muda, sampai sejauh ini memasuki pulau larangan sehingga menjajah istana bawah tanah?" tanya Manusia Batu lagi.

__ADS_1


"Kami sampai ke sini karena ada suatu misi dari kerajaan untuk mencari tahu apa dan tujuan sebenarnya dari penculikan tujuh gadis perawan dari Negeri delapan mata angin, " jawWong Mo Gei.


"Jadi kalian ke sini bukan untuk menangkapi para perompak dan menangkap para pendekar pelarian anak muda?"


"Tidak pendekar, kami hanya mencari tahu apa yang ingin kami ketahui, tapi kami telah terlibat masalah yang cukup besar yang harus kami tebus karena adik orang nomor satu di Pulau Larangan ini tewas di tangan kami," jelas Wong Mo Gei.


"Jadi kalian telah membunuh Lee Tong?"


"Ya, kami kesal karena dia mengancam akan menyakiti orang-orang dan dia juga begitu semena-mena dengan orang yang tidak berdaya," jawab Wong Mo Gei.


"Ha ha ha.....! Walau ini adalah wilayah kekuasaan kakaknya Lee Tong. Tidak semua orang menyukai sifat dan sikap Perompak Mata Satu itu karena dia terlalu sombong dan pongah dia bertindak semaunya. Dia tidak pernah memikirkan orang lain. Jika dia yang berbuat kesalahan malah orang lain yang akan mendapat hukuman begitulah selama ini yang terjadi, karena dia adalah adik orang yang paling berpengaruh di dalam ruangan ini dan di seluruh Pulau Larangan ini," tutur Mocie si Manusia Batu.


Semua orang yang ada di sana hanya diam tidak mengeluarkan perkataan satu apa pun atau menanggapi ucapan Manusia Batu.


"Jadi tidak semua dari kalian menyukai Perompak Mata Satu itu pendekar?" tanya Wong Mo Gei.


"Karena sifatnya yang begitu semena-mena anak muda, jadi tidak semua dari kami menyukainya,"


Tapi dia adalah orang nomor satu di dalam


"Walau kakaknya adalah orang nomor satu di Pulau larangan ini, namun Tuan Lee Tang Yin itu tetap mempunyai aturan bagi yang ingin memiliki kekuatan batu merah itu, harus menjajal dari Pagoda Kematian hingga sampai ke sini, sedangkan Lee Tong, jangankan untuk mendapatkan batu kekuatan bertarung dengan salah satu orang yang ada di Pagoda Kematian saja dia belum tentu sanggup. Karena dia adik Lee Tang Yin, dia masih hidup di Pulau larangan ini," tutur Manusia Batu menjelaskan.


"Kalian mau bercerita atau mau adu tanding, hah..?!" hardik Sam Cong Tieng merasa kesal dengan Wong Mo Gei dan Manusia Batu.


"Ha ha ha....! Tuan Sam Cong Tieng, maafkan kami. Anak muda ini, entah mengapa aku merasa menyukainya?" jawab Manusia Batu.


"Anak muda walau aku merasa menyukaimu, tapi peraturan tetap harus ditegakkan kau harus melewati ku untuk memasuki ruang ketiga," kata Manusia Batu.


"Baiklah, Manusia Batu. Saya terima tantanganmu," jawab Wong Mo Gei begitu tenang dan tetap berdiri di atas batu lantai gelanggang yang tersisa itu.


"Bersiaplah, anak muda. Aku akan menyerangmu," kata Manusia Batu walau tubuhnya begitu besar sekejap mata, tiba-tiba Manusia Batu sudah berada di depan Wong Mo Gei dengan begitu cepat.

__ADS_1


Manusia batu segera menggerakkan tangan besar sebelah kanan ke arah wajah Wong Mo Gei. Dengan begitu tenang dan sigap Wong Mo Gei menahan serangan Manusia Batu itu.


Cukup kuat dan diluar dugaan Manusia Batu tangan kiri Wong Mo Gei memegang lengan Manusia Batu seraya menarik dan mengangkatnya ke atas bagai sebuah karung kapas dan melintir tangan itu dan menjatuhkannya ke belakang.


Manusia Batu terkejut, namun ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika tubuhnya sudah terangkat dan melayang terbanting ke belakang.


Semua orang yang ada di dalam ruangan kedua itu termasuk Sam Cong Tieng terkejut dan ternganga melihat Manusia Batu yang mempunyai bobot badan seperti seekor badak itu terbanting dengan begitu mudahnya.


Manusia Batu cepat melompat bangun dan menggeram kesal. Sekian lama ia menjadi orang nomor satu di ruangan kedua ini belum pernah ia di kalahkan dengan begitu mudah seperti hari ini.


Manusia Batu bergerak cepat seketika tubuhnya bergerak bagai kilat ke arah Wong Mo Gei pukulan tangannya bergerak begitu cepat bertubi-tubi mencerca ke arah tubuh dan wajah Wong Mo Gei. Namun pemuda itu dengan begitu gesit dan sigap menangkis dan menghindar dari setiap serangan tangan Manusia Batu itu.


Pukulan keras manusia batu cepat menghantam sisa batu yang tersisa tempat Wong Mo Gei berdiri tadi. Batu itu langsung hancur berkeping-keping terhantam kepalan tangan Manusia Batu batu. Manusia Batu cukup terkejut melihat Wong Mo Gei sudah tidak ada di sana, Wong Mo Gei bergerak melebihi kecepatannya dan sudah berada dibelakangnya. Begitu Manusia Batu hendak berbalik arah, telapak tangan Wong Mo Gei yang mengandung tenaga dalam tinggi bergerak cepat menghantam dada sebelah kanan Manusia Batu.


Tidak Ayal lagi Manusia Batu langsung terpental lintang-pukang dan menabrak beberapa orang yang ada di depannya.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment

__ADS_1


Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.


__ADS_2