
"Apa!"
Semua mulut orang yang ada di sana ternganga hampir tidak percaya. Begitu debu-debu hilang tertiup angin, tampak Wong Mo Gei berdiri tegak tanpa kurang suatu apa pun.
Jlek!
Begitu Xin Er berniat menarik gadanya yang terbenam di tanah Wong Mo Gei menginjak gada itu dengan telapak kaki kirinya.
"Hukh!
Iblis Kembar Dari Neraka itu berusaha menarik gada besarnya, namun tidak kunjung berhasil. Xin Er mencoba mengerahkan tenaga dalamnya, tapi gadanya begitu berat ia rasakan bagai di injak seekor gajah mamout dewasa.
"Hih!"
Xin Er mencoba menyerang ke arah kaki kiri Wong Mo Gei yang menginjak gadanya yang masih terbenam separuh itu. Tapi dengan sangat cepat Wong Mo Gei malah menendang ke arah wajah Xin Er.
"Heh!"
Xin Er tersentak kaget setengah mati, ia cepat menangkis dengan lengan kirinya.
Krak!
"Aaaa..!"
Terdengar jelas suara tulang lengan Xin Er patah ketika berusaha menapaki tendangan kaki Wong Mo Gei, jeritan kesakitan terdengar meraung dari mulut Xin Er sebelum tubuhnya terpental ke belakang hingga jatuh di samping Xin Yuang.
Wajah Xin Er tampak meringis menahan sakit, sedangkan tangan kanannya memegangi lengan kirinya yang patah.
"Kurang ajar! Kau harus membayar dengan nyawamu, bocah!" bentak XinYuang membahana, laki-laki bertubuh besar itu segera berlari cukup kencang ke arah Wong Mo Gei sambil mengayunkan gada besar dengan ujung sebuah belati yang begitu tajam.
Tap!
Begitu gada besar itu hampir mengenai kepalanya dari arah kiri, Wong Mo Gei bergerak begitu cepat. Telapak tangan kirinya langsung menahan laju gada yang melaju deras itu.
"Hah!"
Xin Yuang terperanjat setengah mati begitu gadanya yang diayunkan sekuat tenaga dapat di halangi dengan telapak tangan kirinya.
"Hih!"
Xin Yuang cepat menarik gadanya dan mengubah arah serangannya dengan mengayunkan gada besar itu dari arah atas.
"Huh.. Rupanya kau tidak bisa di beri peringatan," dengus Wong Mo Gei seraya mengepal tinjunya. Pemuda itu lalu mengerahkan ilmu 'Tinju Naga Halilintar Kayangan'. tingkat tiga.
Brak!
__ADS_1
Begitu gada besar di tangan Xin Yuang terkena kepalan tinju tangan Wong Mo Gei, gada besar itu langsung hancur berkeping-keping. Iblis Kembar Dari Neraka itu terhuyung ke belakang sambil memandangi gada di tangannya yang tinggal hanya gagangnya saja.
"Dia manusia.. atau dewa, begitu kuatnya. Si nomor satu pun tidak mungkin sanggup menghancurkan gada Iblis Kembar Dari Neraka itu," ucap Jenggot Api tampak sangat terkejut. Jenggot Api sampai tersurut mundur dua tindak ke belakang.
Semua peserta pertandingan yang tadi hendak menyerang Wong Mo Gei tampak berubah ketakutan, "Dia seorang dewa. Dia bukan manusia," kata salah seorang dari puluhan orang-orang yang ada di belakang Xin Er dan Xin Yuang.
XinYuang tampak tersurut mundur, wajahnya yang tadi memerah menahan amarah kini berubah pucat bak secarik kain kapan. Tanpa banyak bicara lagi kedua Iblis Kembar Dari Neraka itu beringsut mundur.
"Singa Merah, Keluarlah...!"
Tiba-tiba Jenggot Api berteriak nyaring menggema, suaranya menggaung di dalam ruangan itu. Suara yang di barengi dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.
Wuss!
Tiba-tiba sebuah bayangan melesat dari arah ruangan pertandingan bayangan itu langsung berhenti di depan Wong Mo Gei sekitar tiga tombak.
"Tuan memanggilku?"
"Sekarang giliranmu Singa Merah," perintah Jenggot Api.
Siapa lawanku, Tuan?" tanya orang berpakaian serba merah itu. Laki-laki yang baru datang itu memiliki tubuh begitu kekar, rambut serta jambang hingga jenggotnya berwarna merah. Matanya pun berwarna merah.
"Dia," tunjuk Jenggot Api menunjuk ke arah Wong Mo Gei.
"Dia..., ha ha ha......," tawa Singa Merah pecah terbahak-bahak sambil memandang ke arah Wong Mo Gei, "Apa tidak salah, Tuan. Ha ha ha....!"
"Bocah... Sebaiknya kau cepat pulang ke rumahmu, dan ******* pada ibumu. Tempat mu bukan di sini," ejek Singa Merah. Namun begitu melihat ke arah gada Xin Yuang yang tinggal gagangnya yang terletak di lantai, Singa Merah jadi terdiam. Laki-laki berpakaian serba merah itu memandang ke arah Wong Mo Gei.
"Gada Xin Yuang, hancur berkeping-keping. Apakah karena bocah ini? Tidak mungkin?!" desis Singa Merah dalam hati. Orang yang terkenal tidak terkalahkan itu seakan tidak percaya melihat apa yang terjadi di belakangnya.
"Kau yang menghancurkan gada itu, bocah?" tanya Singa Merah sambil menunjuk ke arah gada yang tinggal gagangnya itu.
"Seperti yang kau lihat," jawab Wong Mo Gei singkat.
"Tidak mungkin?!"
"Terserah, tanyakan pada cecunguk-cecunguk itu," jawab Wong Mo Gei sengit.
"Sombong! Jangan salahkan aku jika tulang belulangmu terpisah dari daging mu, bocah!" bentak Singa Merah, setelah berkata tiba-tiba Singa Merah melesat begitu cepat ke arah Wong Mo Gei sambil mengayunkan tinjunya.
Brooll!
"Apa?!"
Singa Merah seakan tidak percaya, melihat pukulannya hanya mengenai lantai Pagoda Kematian itu, selama ini belum pernah ada yang bisa menghindari kecepatan pukulan dan gerakannya.
__ADS_1
"Tuan, manusia itu terlalu sombong dengan kekuatan dan kecepatannya, kita beri dia pelajaran, Tuanku," kata roh suci raja naga api dari dalam tubuh Wong Mo Gei.
"Baik, bantu aku," jawab Wong Mo Gei membatin.
"Apa cuma segitu kecepatanmu, Kisanak?"
"Bangsat! Mati kau....!"
Bentakan menggema di dalam Pagoda Kematian itu, Singa Merah meraung marah seketika itu tubuh nya melesat dengan begitu cepat ke arah Wong Mo Gei. Pukulan tangannya begitu cepat bagai kilat mencerca ke arah Wong Mo Gei.
"Hiyaaa...!"
Wong Mo Gei dengan begitu tenang menghindari setiap cercaan pukulan tangan Singa Merah yang mengarah padanya. Cukup lama Singa Merah mencoba menyerang Wong Mo Gei. Tapi pemuda dari Sekte Api itu dengan begitu gesit dapat menghindari setiap pukulan tinju Singa Merah itu.
Gerakkan kedua orang yang lagi bertarung itu berubah bagai dua bayangan yang tampak saling berpindah-pindah dengan begitu cepat, hanya mata orang yang mempunyai kemampuan tinggi yang bisa melihat ke arah pertarungan itu.
"Tap!
Begitu tenang Wong Mo Gei menangkap kepalan tangan Singa Merah yang mengarah ke arah kepalanya. Merasa kepalan tangan kanannya di tangkap Singa Merah mengayunkan kepalan tangan kirinya ke arah dada kanan Wong Mo Gei. Namun dengan begitu cepat siku kanan Wong Mo Gei menghalangi.
Dik!
"Aagkh..!"
Singa Merah mengeluh tertahan begitu kepalan tinju kirinya beradu dengan siku kanan Wong Mo Gei. Laki-laki berwajah seram dengan pakaian dan rambut berwarna merah itu berusaha menarik kepalan tangan kanannya yang di tangkap Wong Mo Gei itu.
"Hukh!
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Favoritnya ya teman-teman
Terima kasih banyak.