
Si Mata Satu melesat ke arah Wong Mo Gei dengan pedang menusuk dan menikam, begitu cepat ke arah titik mematikan di tubuh pemuda itu. Wong Mo Gei tampak tidak bergerak menunggu serangan Perompak Mata Satu itu.
"Hap!"
Begitu Perompak Mata Satu sadar, ujung pedangnya sudah berada di jepitan telapak tangan Wong Mo Gei. Si Mata Satu tampak terkejut, ia segera berusaha menarik pedangnya dari jepitan tangan Wong Mo Gei.
Beberapa orang anak buahnya yang masih berdiri berniat melompat membokong Wong Mo Gei, tapi rupanya Wa Hua Wa telah melesat lebih dulu menghadang di susul Cek Pei.
"Jangan pernah mencoba, jika kalian masih menyayangi nyawa, kalian," terdengar datar suara Wa Hua Wa, pedang baja merah di acungkan ke arah para perompak itu. Melihat Wa Hua Wa dan Cek Pei tiba-tiba telah berada di samping Wong Mo Gei para perompak itu mengurungkan niatnya.
"Hih...!" Si Mata Satu berusaha menarik ujung pedangnya dengan sekuat tenaga. Laki-laki itu juga mengerahkan tenaga dalam yang ia miliki, namun usahanya belum membuahkan hasil. Wajah si Mata Satu mulai memerah karena memaksakan diri mengeluarkan tenaga.
Ujung pedangnya masih tetap terjepit di tengah telapak tangan Wong Mo Gei. Si Mata Satu mencoba menyerang dengan memberikan sebuah tendangan dari arah bawah, berharap jepitan tangan Wong Mo Gei mengendur. Namun dengan begitu sigap kaki Wong Mo Gei menapaki tendangan si Mata Satu yang cukup cepat itu.
Dik!
"Heh!" Si Mata Satu terkejut Wong Mo Gei berhasil menapaki tendangannya, tanpa mengendorkan jepitan pada pedangnya. Malah Wong Mo Gei sempat membalas dengan begitu cepat dengan sebuah tendangan ke arah perutnya.
Buak!
"Aaakh...!" Si Mata Satu melenguh kesakitan, ketika perutnya terhantam tendangan kaki kanan Wong Mo Gei. Genggaman tangannya, sampai terlepas dari gagang pedangnya. Si Mata Satu langsung terpental ke tanah sejauh satu tombak.
"Siapa kalian ini, apa tujuan kalian?" tanya si Mata Satu begitu bisa bangkit. Karena merasa tidak mungkin menang, si Mata Satu berlutut tidak jauh dari Wong Mo Gei.
"kami utusan dari Kerajaan Yin dan Yang. Kami ingin ke pulau larangan," jawab Wong Mo Gei singkat.
"Kenapa orang-orang dari Yin dan Yang mau menuju Pulau Larangan? Selama tiga puluh tahun ini tidak ada kerajaan yang mencampuri urusan Pulau Larangan," tanya si Mata Satu lagi.
"Heh...! Kau sudah di kalahkan, tapi mulutmu masih cukup pongah. Atau kau memang ingin mati, hah..!" bentak Cek Pei, pemuda itu dongkol mendengar pertanyaan si Mata Satu itu.
"Atau kau memang ingin mata kananmu itu jadi pakai penutup lagi, hah..!" timpal Wa Hua Wa membentak.
"Aku anggota Perompak Pulau Larangan, jika kalian menyakitiku. Para pendekar Pulau Larangan tidak akan mengampuni nyawa kalian," dengus si Mata Satu.
"Hih..!"
Sret!
__ADS_1
Crass!
"Aaa...!"
Tiba-tiba Cek Pei sudah bergerak secepat kilat, pedang baja putihnya terhunus. Tanpa terlihat, hanya jeritan melengking keluar dari si Mata Satu sebelum tubuhnya tertelungkup ke tanah dengan leher mengalir darah segar.
Semua orang tampak terdiam melihat kejadian yang begitu cepat itu. Melihat pimpinannya tewas dalam sekejap mata, para perompak itu langsung berlutut menyerahkan diri.
"Jangan bunuh kami, Tuan. Kami menyerah, ampuni nyawa kami," ucap para perompak itu memelas.
"Jika kalian tidak ingin bernasib sama seperti pimpinan kalian yang cerewet itu, cepat kuburkan mayatnya!" perintah Wa Hua Wa.
"Baik, Tuan!" jawab para perompak itu serentak. Setelah itu mereka langsung membawa mayat si Mata Satu ke pinggir desa dan menguburkannya di dalam hutan.
"Terima kasih, Pendekar. Tapi perbuatan kalian ini akan memancing kemarahan orang-orang Pulau Larangan," ucap pemuda yang di selamatkan Wong Mo Gei tadi.
"Kalian akan membunuh satu desa ini kisanak, mereka pasti datang membalas kematian si Mata Satu," kata pemilik warung itu. Terdengar hujatan dan gerutuan orang-orang desa itu.
"Maaf, Tuan-tuan. Kami kesini memang mau menuju Pulau Larangan, kami adalah utusan Kerajaan Yin dan Yang dari negeri delapan mata angin, jadi bila ada dendam orang-orang dari Pulau Larangan. Kami yang akan menghadapinya, jika kami kalah. Kalian kan tinggal katakan kalian tidak ikut campur urusan kami," ucap Wong Mo Gei dengan sopan.
"Kalian boleh pergi, kemana pun yang kalian mau. Sekarang kalian bebas," kata Wong Mo Gei.
"Tapi Tuan, kami adalah perompak, jika pimpinan kami di kalahkan atau di bunuh. Yang mengalahkannya adalah pimpinan kami, kalian membunuh pimpinan kami, berarti kalian pimpinan kami sekarang," kata salah seorang perompak itu.
"Baik, jika itu mau kalian. Sekarang kembalilah ke kapal kalian, kami nanti akan menyusul," perintah Cek Pei.
"Baik, Tuan," jawab para perompak itu, mereka pun meninggalkan tempat itu. Namun tidak lama kemudian mereka kembali ke arah warung itu.
"Ada apa lagi?" tanya Cek Pei.
"Maafkan kami, Tuan. Kami tadi kesini mau makan," jawab salah seorang perompak.
"Kalian bawa uang?"
"Bawa Tuan," jawab para perompak itu hampir berbarengan.
" Baiklah..., kalian boleh makan di sini, tapi harus bayar," kata Wa Hua Wa.
__ADS_1
"Baik Tuan!"
.
************
Singkat cerita para penduduk desa merasa cukup lega melihat Wong Mo Gei bersama ketiga temannya menjadi kawanan para perompak itu. Berarti mereka tidak akan kena imbasnya jika orang-orang dari Pulau Larangan datang.
Wong Mo Gei bersama Cek Pei dan Wa Hua Wa dengan Sin Yin akhirnya malam itu tidur di kapal para perompak. Wa Hua Wa dan Sin Yin merasa kapal itu kotor, keesokan harinya seluruh perompak di perintahkan untuk membersihkan kapal.
Siang itu matahari bersinar terik. Wong Mo Gei berniat melanjutkan perjalanan ke Pulau Larangan, tapi para perompak itu mengatakan kalau mereka sedang kehabisan stok makanan. Makanya mereka ke pinggir berniat mencari perbekalan.
Wong Mo Gei pun memerintahkan para perompak itu untuk berbelanja perbekalan makanan untuk sebulan, mereka belum tau seberapa lama mereka di lautan.
Para perompak itu menjelaskan untuk mencapai Pulau Larangan, mereka harus berlayar selama tiga hari tiga malam tanpa henti. Itu pun jika tidak ada badai dan ombak besar.
Setelah menyiapkan semua perbekalan perjalanan mereka, Wong Mo Gei dan ketiga kawanannya meninggalkan dermaga desa nelayan itu untuk menuju Pulau Larangan yang terkenal dengan para perompak dan para pendekar pelariannya tersebut.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Like
Hadiah
Koment
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.
__ADS_1